http://indonesia.ucanews.com/2013/05/06/presiden-sby-dinilai-tidak-layak-dapat-penghargaan-sebagai-pejuang-toleransi

Presiden SBY dinilai tidak layak dapat penghargaan sebagai pejuang toleransi

06/05/2013 



Sekitar 30 wakil dari agama-agama minoritas korban kekerasasan atas nama agama 
serta aktivis HAM hari ini, Senin (6/5) menggelar aksi unjuk rasa ke Kedutaan 
Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, mengecam rencana pemberian penghargaan 
oleh sebuah yayasan di AS kepada  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang 
dinilai berjasa dalam memperjuangkan kebebasan beragama dan HAM.

Aksi ini yang diikuti oleh wakil dari 2 Gereja Kristen yang mengalami 
diskriminasi bertahun tahun (GKI Yasmin-Bogor dan HKBP Filadelfia-Bekasi), 
jemaat Ahmadiyah dan Syiah dikordinir oleh forum Solidaritas Korban Pelanggaran 
Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (SOBAT KBB).

Pada 30 Mei, Presiden SBY bersama Louis R. Chenevert, CEO dari United 
Technologies Corporation, AS dijadwalkan menerima penghargaan World Statesman 
dari The Appeal of Conscience Foundation yang berbasis di New York. Appeal of 
Conscience Foundation adalah lembaga yang didirikan pada 1965 serta bergerak 
dalam bidang kebebasan beragama dan HAM di seluruh dunia.

Menurut forum SOBAT KBB, Presiden SBY tidak layak menerima penghargaan ini, 
mengingat ketidakjelasan sikapnya terhadap masalah intoleransi di Indonesia.

”Dengan banyaknya pengalaman kesulitan menjadi kaum minoritas di Indonesa dan 
bagaimana minimnya peran pemerintah dalam menghargai kebebasan beragama, saya 
sangat kecewa dengan terpilihnya Presiden Yudhoyono sebagai penerima 
penghargaan ini”, kata Pendeta Palti Panjaitan, kordinator forum SOBAT KBB, 
yang juga pemimpin jemaat HKBP Filadelfia.

Menurut Panjaitan, penghargaan ini melukai hari kaum minoritas di Indonesia.

”Presiden SBY bukan pemimpin yang toleran, tapi ia adalah pemimpin intoleran. 
Mengapa Amerika Serikat menganggap ia sebagai tokoh yang memperjuangkan 
toleransi. Ini aneh”, lanjutnya.

Pendeta Erwin Marbun dari Forum  Rohaniwan se-Jabodetabek mengatakan, tidak 
memahamai mengapa SBY dipilih.

”Saya curiga, ada motif tersembunyi di balik pemilihan presiden kita. Mungkin 
saja Amerika memiliki kepentingan ekonomi. Jadi agar tujuan tercapai, mereka 
memberikan penghargaan ini untuk SBY, biar SBY meluluskan motif tersembunyi 
mereka”, katanya saat berorasi di depan kedutaan AS.

Ia mengatakan, AS yang mengaku sebagai negara demokratis, seharusnya ikut 
memperjuangkan hak-hak kaum minoritas di Indonesia yang selama ini mengalami 
diskriminasi.

”Bukannya memuji-muji Presiden yang merepsi kaum minoritas”, katanya.

Emilia Az J Rakhmat, wakil dari komunitas Syah mengatakan, atas nama dua juta 
Syiah di Indonesia, ia menyatakan kekecewaan.

”Komunitas Syiah telah menjadi target kekerasan agama selama bertahun-tahun dan 
presiden belum mengambil tindakan untuk menekan, apalagi untuk mencegahnya”, 
katanya dalam surat yang dikirimkan kepada The Appeal of Conscience Foundation 
dan dibacakan di depan massa aksi.

Haris Azhar, Kordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban dan Tindak 
Kekerasan (Kontras), menilai penghargaan ini adalah sebuah ironi dan 
terpilihnya Presiden SBY merupakan sebuah kekeliruan besar yang dilakukan oleh 
AS.

”Bagaimana mungkin Presiden yang diam di tengah maraknya aksi kekerasan, 
pembunuhan kaum minoritas diberikan penghargaan”, katanya kepada ucanews.com di 
sela-sela aksi.

Mereka berharap AS mempertimbangkan kembali keputusan memberikan penghargaan 
kepada SBY. Permintaan itu mereka sampaikan dalam sejumlah surat dari berbagai 
agama minoritas serta dari LSM pemerhati kebebasan beragama, seperti SETARA 
Instiute for Democrazy and Peace yang ditujukan kepada Rabbi Arthur Schneier, 
Pendiri dan Presiden The Appeal of Conscience Foundation lewat Kedutaan AS.

””Kami cemas, penghargaan ini akan menjustifikasi aksi kaum esktremis dan 
intoleran serta di sisi lain Presiden SBY akan menggunakan penghargaan ini 
untuk menghindar dan lari dari tanggung jawab konsititusionalnya dengan 
berargumentasi bahwa sebuah lembaga internasional telah memberinya penghargaan 
sebagai seorang tokoh yang sukses mengembangkan toleransi dan kebebasan 
beragam/berkeyakinan di Indonesia”, tulis SETARA dalam surat mereka.

Sementara itu, pihak Kedutaan tidak bersedia menerima surat-surat tersebut. 
Polisi Tatan Dirsan yang menghubungi pihak kedutaan mengatakan, mereka memiliki 
banyak kegiatan dan minta agar surat-surat tersebut diantar ke pihak 
Kementerian Luar Negeri Indoneisa yang kemudian akan diserahkan ke Kedutaan AS.

Menanggapi hal ini, Jayadi Damanik, juru bicara GKI Yasmin mengatakan, sangat 
kecewa.

”Tidak ada alasan bagi Kedutaan Amerika untuk tidak menerima permintaan kami. 
Kami ragu, apakah surat-surat ini akan sampai di tangan pemerintah Amerika 
Serikat bila harus melewati pihak Kementerian Luar Negeri”, ujarnya.

Laporan lembaga pemerhati HAM internasional, Human Rights Watch (HRW) yang 
dirilis Februari lalu menyoroti soal kegagalan pemerintah Indonesia dalam 
melindungi kelompok minoritas agama. Laporan setebal 120 halaman berjudul ”Atas 
Nama Agama: Pelanggaran terhadap Minoritas Agama di Indonesia” itu merekam 
kegagalan pemerintah dalam mengatasi kelompok-kelompok militan yang melakukan 
intimidasi dan serangan rumah-rumah ibadah serta anggota-anggota minoritas 
agama. Sasaran mereka, demikian HRW, adalah Ahmadiyah, Kristen dan Syiah.

“Kegagalan pemerintah Indonesia dalam mengambil sikap dan melindungi kaum 
minoritas dari intimidasi dan kekerasan, tentu saja, merupakan olok-olok 
terhadap klaim bahwa Indonesia adalah negara demokratis yang melindungi HAM,” 
kata Brad Adams, Direktur HRW Asia dalam acara peluncuran laporan tersebut di 
Jakarta.

Ryan Dagur, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke