http://www.manadonews.com/berita/nasional/anak-muda-mungkin-bilang-pak-harto-lebay-di-film-g--spki.html


Anak muda mungkin bilang Pak Harto lebay di film G 30 S/PKI
Nasional | Sabtu, 11 Mei 2013 | 17:09     42 kali     0 
Oleh : Roland Jo, manadonews.com

Soeharto. rosodaras.wordpress.com

0
Pengajar Prodi Kajian Budaya dan Media Pascasarjana UGM Yogyakarta Budiawan PhD 
menilai film "Pengkhianatan G-30-S/PKI" (1984) yang disutradarai Arifin C Noer 
memang terlalu berlebihan dalam menonjolkan peran Soeharto (almarhum mantan 
presiden yang akrab disapa Pak Harto).

"Kalau anak muda sekarang mungkin bilang Pak Harto terlalu 'lebay' dalam film 
itu, karena film yang berdurasi 4 jam 31 menit itu berdimensi tunggal dengan 
sajian kalah dan menang, sehingga Mbak Nani (Nani Sutojo) menyebut sebagai 
kenangan tak terucap. Dalam psikologi, kenangan tak terucap itu merupakan 
trauma," tukas Budiawan dalam bedah memoar bertajuk "Kenangan Tak Terucap: 
Saya, Ayah, dan Tragedi 1965" karya putri almarhum Mayjen Anumerta Sutojo yang 
terbunuh dalam Tragedi 1965, Dr Nani Nurrachman Sutojo.

Menurut sejarawan itu, penguasa sering mewujudkan sejarah dalam bentuk monumen, 
museum, film, buku teks, upacara peringatan, dan bentuk-bentuk yang tidak 
memberi tempat kepada pengalaman dari korban dan pelaku yang sebenarnya.

"Saya sepakat perlunya rekonsiliasi, tapi rekonsilisasi itu memerlukan upaya 
mendengar dan mengakomodasi pengakuan dari korban dan pelaku yang sebenarnya, 
sehingga sejarah tidak dibaca secara politis, melainkan membaca sejarah secara 
humanis," katanya dikutip antara.

Pandangan yang sama juga dikemukakan pengajar Fakultas Psikologi Ubaya Dr Elly 
Yuliandari Psi. "Saya kira buku ini wajib dibaca oleh pelajar, mahasiswa, dan 
bangsa ini, karena Bu Nani menyikapi trauma dengan dua cara yakni memaafkan 
tanpa melupakan dan menyosialisasikan perlunya rekonsiliasi. Itu luar biasa," 
paparnya.

Sementara itu, Nani Nurrachman Sutojo menegaskan bahwa tragedi penculikan, 
penyiksaan, dan pembunuhan enam jenderal yang dipimpin Komandan Batalyon 
Cakrabhirawa merupakan fakta sejarah yang bersifat sepihak.

"Kita perlu dan butuh untuk menyajikan kembali masa lalu sebagaimana sejatinya 
dialami oleh para korban dan pelaku, dan bukan berdasarkan persepsi dan 
evaluasi sepihak, siapapun pihak tersebut," katanya dalam bedah buku karyanya 
di Gedung Serbaguna Fakultas Hukum (FH) Universitas Surabaya (Ubaya), Jumat.

Dalam bedah memoar bertajuk "Kenangan Tak Terucap: Saya, Ayah, dan Tragedi 
1965" yang juga menampilkan Budiawan PhD (sejarawan, pengajar Prodi Kajian 
Budaya dan Media Pascasarjana UGM Yogyakarta) dan Dr Elly Yuliandari Psi 
(pengajar Fakultas Psikologi Ubaya), ia mengatakan penyajian masalah lalu perlu 
narasi secara intelektual.

"Narasi ulang sejarah sejak Tragedi 1965 hingga kini yang ditulis tidak dengan 
emosional itu harus merupakan jawaban atas pertanyaan yang hingga kini masih 
menggema dalam pikiran saya, yakni dalam bentuk apa masa lampau akan kita 
serahterimakan kepada masa depan?" tuturnya.

Penulis memoar yang juga pengajar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta 
itu menunjuk kemampuan pemimpin bangsa ini yang mampu menjadi mediator dalam 
memfasilitasi penyelesaian konflik yang terjadi pada bangsa lain, bahkan dapat 
berdamai dengan "tetangga" Timor Leste, tetapi tak kunjung selesai dengan 
Tragedi 1965.

"Setiap usaha untuk mengkonstruksi kebenaran tunggal mengenai sejarah akan 
menyebabkan kita terjerembab dalam permainan klaim kekuasaan yang memosisikan 
sebagai 'pemenang' dan pihak lain sebagai pihak yang 'kalah'. Dikotomi yang 
justru mengaburkan sejarah itu sendiri," ujarnya.

Dalam bukunya itu, Nani Sutojo bukan hanya menyinggung tentang sejarah masa 
lalu yang perlu "diluruskan" dengan narasi baru, tetapi juga menawarkan 
penyembuhan bagi luka dan trauma dalam sejarah bangsa ini dengan "memaafkan 
tanpa melupakan" sebagai upaya rekonsiliasi, karena manusia tidak bisa hidup 
tanpa adanya manusia lain.
[ded/merdeka]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke