Ref: Kalau diputuskan bisa disambung lagi, hal pernah terjadi, misalnya kasus 
Lorena Bobit di USA, 1993  ( 
http://www.nytimes.com/1994/01/22/us/lorena-bobbitt-acquitted-in-mutilation-of-husband.html?pagewanted=all&src=pm
 ) beberapa tahun lalu. Entah bagaimana sang isteri potong putus dan dibuang 
lewat jendela, untung saja tidk dibawa lari oleh kucing atau tikus. Bahagian 
yang dihilangkan ditemukan oleh petugas kesehatan dan di rumah sakit disambung 
lagi.  Satu hal dalam cerita dibawah ini ialah bahwa bercadar (jilbab) tidak 
sudi menyeleweng.

http://www.tempo.co/read/news/2013/05/23/064482594/Lelaki-Korban-Potong-Burung-Angkat-Bicara

Kamis, 23 Mei 2013 | 11:21 WIB
Lelaki Korban Potong 'Burung' Angkat Bicara  

Perawat melihat kondisi AM yang mengalami mutilasi alat kelaminnya saat berada 
di rumah sakit umum kota Tangerang, (21/5). Alat kelamin AM di potong hingga 
putus oleh seorang wanita berinisial N. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Tangerang Selatan -- Setelah lama bungkam, Abdul Muhyi, 21 tahun, 
korban pemotongan "burung" akhirnya angkat bicara. Pemuda asal Sawangan, Depok, 
ini membantah telah mencabuli dan memaksa Neng Nurhasanah, 22 tahun, yang telah 
ditetapkan sebagai tersangka kasus ini untuk bersetubuh. 

"Dia (Neng Nurhasanah) yang duluan ngajak ketemu," katanya saat ditemui di 
ruang bedah Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang Selatan, Rabu malam, 22 Mei 2013. 
(Lihat juga: Ini Pengakuan Gadis Bercadar Pemotong 'Burung')

Pada Selasa malam, 13 Mei 2013, saat pertemuan pertama mereka di depan 
Universitas Pamulang, menurut Muhyi, ia mengingatkan Neng agar pertemuannya 
jangan sampai larut malam. "Cukup sampai jam 10 aja karena enggak enak takut 
dicariin orang tuanya," katanya. Akan tetapi, ia meneruskan, peringatannya 
tersebut ditolak. "Neng bilang ingin terus bersama dengan alasan sudah pamit 
menginap di rumah temannya," kata Muhyi.

Kemudian, dengan mengendarai sepeda motor milik Muhyi, kedua muda-mudi itu 
berboncengan berkeliling dari Pamulang menuju Sawangan, Depok. Di Telaga 
Kahuripan, Parung, mereka berhenti dan saling berpegangan. "Itu dilandasi 
perasaan suka sama suka," katanya. 

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan dan berhenti disebuah masjid untuk 
istirahat karena Muhyi merasa lelah setelah seharian bekerja. Anak keempat dari 
pasangan Abdul Karim dan Arah ini juga menyangkal bila di kamar mandi melakukan 
persetubuhan. "Dia ngajakin begitu," ujar Muhyi. Lantaran terus digoda oleh 
Neng, akhirnya perbuatan tak senonoh terjadi lantaran dilandasi saling suka. 
"Itu pun tak sampai masuk, tapi hanya sebatas gesekan," katanya.

Muhyi juga menyangkal telah terjadi lagi persetubuhan paksa di sebuah lorong 
gang di Reni Jaya. Setelah dari masjid di daerah Serua, Depok, bersama Neng, ia 
langsung menuju kembali ke lokasi pertemuan awal, yakni di depan Universitas 
Pamulang untuk makan nasi goreng.

Hingga terjadilah tragedi berdarah "burung" Muhyi dipotong oleh Neng. "Dia 
minta lagi mau pegang-pegang kemaluan saya. Pas di tempat gelap saya diri, dia 
jongkok, tiba-tiba saya rasain sakit dan perih," kata Muhyi. "Enggak tahunya 
'anu' saya sudah dipotong," katanya sambil meringis. (Detik-detik Potong 
'Burung' versi Muhyi)

Penjelasan Muhyi cukup berbeda dengan yang disampaikan tersangka saat diperiksa 
penyidik di Polsek Pamulang, Selasa, 21 Mei 2013. Neng mengatakan pertemuan 
pada malam itu karena Muhyi yang mengajak. "Saya naik angkutan umum dari 
Kosambi ke Pamulang," katanya.

Sepanjang Senin malam, 13 Mei 2013 hingga Selasa, 14 Mei 2013, kata Neng, ia 
dibawa berkeliling oleh Muhyi ke Parung, Sawangan, Pondok Cabe, Cirendeu, dan 
wilayah Pamulang. "Waktu di Kahuripan, ia memasukan tangannya ke dalam rok 
saya, tapi tangannya saya tepis," kata Neng.

Waktu di toilet masjid, kata dia, Muhyi memaksa masuk ke toilet perempuan saat 
Neng berada di dalam toilet. "Di dalam dia maksa dan mengangkat rok saya, lalu 
memasukkan 'anu'-nya hingga beberapa kali. Tapi belum sempat dikeluarin, keburu 
ada orang datang," kata Neng.

Setelah gagal di masjid, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Dan di lorong 
jembatan di Reni Jaya Pamulang, Muhyi meminta Neng melayani nafsunya lagi. "Di 
lorong itu, ia masukkan 'anu'-nya lagi sampai keluar sperma," kata Neng.

Polisi telah menetapkan Neng Nurhasanah sebagai tersangka pemotongan alat 
kelamin Abdul Muhyi, 21 tahun. Sial pula bagi Muhyi. Sudah "burung" hilang, ia 
juga terancam dipidana karena melakukan pemaksaan persetubuhan dan pencabulan.

JONIANSYAH

++++

http://www.tempo.co/read/news/2013/05/21/064482068/Ini-Pengakuan-Gadis-Bercadar-Pemotong-Burung

Selasa, 21 Mei 2013 | 16:49 WIB
Ini Pengakuan Gadis Bercadar Pemotong 'Burung'  

Petugas kepolisian menggiring tersangka N, pemutilasi alat kelamin laki-laki di 
polsek Pamulang,Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/5). TEMPO/Marifka Wahyu 
Hidayat

TEMPO.CO, Tangerang Selatan -- Neng Nurhasanah, tersangka pemotongan "burung" 
Abdul Muhyi, 21 tahun, mengaku mengenal korban lewat missed call di telepon 
selulernya sekitar tiga bulan yang lalu. "Awalnya karena missed call, terus 
berlanjut SMS-an," katanya saat diperiksa penyidik di Polsek Pamulang, Selasa, 
21 Mei 2013.

Saat berkenalan lewat telepon itu, Muhyi selalu memanggil Neng Nurhasanah 
dengan nama Umay. "Saya tidak tahu Umay itu siapa, tapi karena dia terus sebut 
nama Umay, ya udah saya iyakan saja," katanya. Ternyata komunikasi yang intens 
via telepon seluler itu berlanjut dengan ajakan pertemuan.

Menurut Neng, Muhyi sering kali mengajaknya bertemu, tapi ia selalu menolak. 
Namun, ajakan pada Senin malam, 13 Mei 2013, tak bisa ditolak lagi oleh wanita 
berusia 22 tahun itu. "Saya tidak enak karena janjian sebelumnya tidak pernah 
jadi," katanya. Senin malam sekitar pukul 7 mereka janjian ketemu di depan 
kampus Universitas Pamulang (Unpam), Tangerang Selatan.

Untuk menemui Muhyi, Neng mengaku harus naik angkutan umum dari Kosambi hingga 
Pamulang. "Jam 7 saya sampai di depan Unpam, dan di sana Muhyi sudah ada 
menggunakan motor," katanya. 

Setelah itu, Muhyi mengajaknya berkeliling. Sejumlah lokasi yang sepi di 
Sawangan hingga Pamulang disinggahi. "Ia selalu mengajak saya ke tempat yang 
sepi dan mengajak begituan (berhubungan intim)," kata Neng.

Selama perjalanan mereka malam itu, Neng mengaku dua kali dipaksa berhubungan 
badan. Pertama kali Muhyi melakukannya di toilet sebuah masjid. Masjid 
tersebut, kata Neng, mereka singgahi setelah lama berputar-putar di sekitar 
Sawangan dan Pamulang. "Karena saya bukan orang sini (Pamulang), saya tidak 
tahu nama masjid dan lokasinya di mana," katanya. 

Muhyi memaksa ikut masuk ketika Neng sedang di dalam toilet untuk buang air 
kecil. "Di dalam toilet menyingkapkan rok saya dan memasukkan alat kelaminnya 
hingga beberapa kali. Tapi, belum tuntas, keburu ada orang datang," katanya.

Aksi bejat Muhyi tersebut ternyata dicurigai oleh warga setempat. Mereka 
mengusir kedua muda-mudi itu. "Cepat pergi dari sini, kalau tidak kami 
panggilkan ketua RT," kata Neng menirukan warga yang memergoki mereka indehoy 
di area masjid tersebut.

Gagal melampiaskan nafsunya membuat Muhyi penasaran. Ia terus mengajak Neng 
berputar-putar mencari lokasi yang strategis. "Perjalanan kami cukup jauh, saya 
dibawa ke Sawangan, Pondok Cabe, dan Cirendeu," kata Neng.

Di tengah perjalanan yang sepi, kata Neng, Muhyi menghentikan sepeda motor 
Yamaha Vega-nya. Ia mengajak Neng untuk berhubungan intim lagi. Karena dipaksa, 
akhirnya Neng mengikuti kemauan Muhyi tersebut. "Di situ ia melakukannya sampai 
tuntas dan keluar spermanya," kata Neng. 

Setelah selesai, kata Neng, Muhyi malah memberinya uang. "Tapi pemberian uang 
itu saya tolak," katanya. Muhyi sempat mengatakan bahwa Neng sudah tidak 
perawan lagi. "Kamu sudah tidak perawan lagi, yah," kata Muhyi seperti 
ditirukan Neng. 

Mendengar perkataan seperti itu, Neng mengatakan bahwa ia masih perawan dan 
belum melakukan hubungan intim dengan siapa pun. Sekitar pukul 04.00, Muhyi 
mengajak Neng makan nasi goreng di depan Universitas Pamulang. Setelah makan, 
Muhyi meminta agar Neng pulang dengan naik angkutan umum. "Dia beri tahu saya 
naik angkot apa untuk pulang dan memberi ongkos juga," kata Neng.

Menjelang perpisahan pada pagi buta tersebut, Neng berbisik kepada Muhyi ingin 
melihat "burung"-nya untuk terakhir kali. Mendengar permintaan aneh itu, Muhyi 
langsung mengajak Neng masuk ke dalam kantin kosong dan sepi di depan Unpam. 
"Di situ ia membuka celananya, dan ketika "burung"-nya menegang, langsung saya 
potong," kata Neng.

Saat "burung"-nya dipotong, menurut Neng, Muhyi seperti tidak kesakitan. "Dia 
cuma bilang, 'Kok kamu melakukan hal itu? Kamu dendam, yah?'," kata Neng 
menirukan ucapan Muhyi saat itu. 

Muhyi, kata Neng, sempat memakai celana sendiri. "Saat itu saya bingung mau 
ngapain. 'Terus gimana, dong, kita ke rumah sakit aja, yuk'," katanya kepada 
Muhyi. Karena semakin lama, luka di selangkangannya semakin sakit dan perih, 
Muhyi pun meninggalkan Neng dan membawa sepeda motornya sendiri ke Puskesmas 
Pamulang yang ada di depan kampus Unpam tersebut.





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke