http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/05/27/mnfj1y-presiden-berprestasi-dan-presiden-numpang-lewat

Resonansi 
Presiden Berprestasi dan Presiden Numpang Lewat
Senin, 27 Mei 2013, 06:39 WIB 
Komentar : 0  Republika/Daan 
 
Ikhwanul Kiram Mashuri 
A+ | Reset | A- 
REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Dalam beberapa pekan ini, hampir setiap hari terdapat artikel di berbagai media 
Arab mengulas soal Turki. Media itu, antara lain, Al Ahram dan Al Akhbar 
(Mesir), Aljazirah (Qatar), Al Sharq Al Awsat (Saudi), Al 'Arabiyah, dan Al 
Khalij. 

Intinya, mereka ingin membandingkan pemerintahan Perdana Menteri Recep Tayyib 
Erdogan dengan para pemimpin Arab. Utamanya, para pemimpin yang terpilih 
pascarevolusi rakyat yang menjatuhkan rezim diktator-otoriter.

Mengutip pernyataan pengusaha Mesir Ahmad Haikal, kolumnis Afsyin Maulafi 
menulis di Al Sharq Al Awsat, “Kalau kita melangkah dengan benar, dalam 10 
tahun kita akan menyamai Turki. Namun, bila kita salah langkah, kita akan 
seperti Pakistan hanya dalam 18 bulan.”

Haikal, menurut Maulafi, mengatakan, hal itu beberapa hari setelah revolusi 
rakyat Mesir berhasil menggulingkan rezim Presiden Husni Muabarak. Kini, 
lanjutnya, setelah dua tahun revolusi, ekonomi Mesir ternyata lebih mendekati 
Pakistan daripada Turki. Pakistan adalah contoh negara yang ekonominya buruk 
dan diwarnai konflik sektarian. Sedangkan, Turki merupakan contoh negara yang 
berhasil membangun ekonomi dan menyejahterakan rakyat.

Dua tahun setelah revolusi, ekonomi Mesir terus memburuk. Sekitar 80 persen 
lulusan universitas susah mencari kerja. Cadangan devisa negara anjlok dari 36 
miliar dolar AS menjadi kurang dari 15 miliar dolar. Nilai tukar pound Mesir 
terhadap dolar AS juga terus menurun. Begitu juga, angka wisatawan dan 
investasi. Bersamaan dengan itu, harga-harga kebutuhan pokok pun terus 
merangkak yang memberatkan kehidupan rakyat. Kehidupan politik pun terus 
gonjang-ganjing.

Bagaimana dengan Turki? Taufik Bu'isyrin, pengamat Timur Tengah, menyatakan, 
keberhasilan Turki adalah cerita tentang 10 tahun. Tidak lebih. Sepuluh tahun 
itu adalah perjalanan pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan pimpinan PM 
Erdogan. Sejak memerintah, ia telah meletakkan dasar-dasar negara ke arah yang 
benar. Hasilnya, sebelum 10 tahun lalu pendapatan perkapita warga Turki hanya 
3.000 dolar AS dan kini mencapai 11 ribu dolar.

Artinya, taraf kehidupan masyarakat negara itu membaik hingga tiga kali lipat 
hanya dalam tempo 10 tahun. “Pendapatan yang meningkat, berarti pula kesulitan 
hidup yang semakin berkurang,” tulis Bu'isyrin. Dengan kata lain, ia ingin 
mengatakan, kehidupan rakyat Turki di era Erdogan kini sudah lebih sejahtera.

Lalu, ekonomi Turki yang dulu mengandalkan sektor pertanian kini beralih ke 
negara industri dan jasa. Jumlah kunjungan wisatawan asing yang hanya 4 juta, 
sekarang mendekati 35 juta orang/tahun. Sebagian besar mereka datang dari 
negara-negara Islam dan Arab. Sebelum 10 tahun lalu, Turki punya pinjaman pada 
Bank Dunia 23 miliar dolar AS dan hari ini boleh dikatakan tak lagi berutang. 
Bahkan, sekarang ini mereka bisa membantu negara-negara miskin sekitar 3,5 juta 
dolar AS setiap tahun.

Untuk mengubah Turki seperti sekarang tentu tidak semudah membalikkan telapak 
tangan. Apalagi, sebelum 10 tahun lalu Turki dikenal sebagai negara sakit di 
Timur Tengah dengan tiga penyakit kronis. Pertama, dominasi militer di segala 
kehidupan negara. Kedua, korupsi yang merajalela dari pusat hingga daerah. 
Ketiga, perang terbuka dengan suku Kurdi. Yang terakhir ini menuntut pemisahan 
diri dan mendirikan negara Kurdi merdeka.

Erdogan, tulis Bu'isyrin, tampaknya paham betul bahwa untuk memperbaiki ekonomi 
Turki diperlukan stabilitas politik dan keamanan. Karena itu, tiga penyakit 
kronis itu menjadi prioritasnya. Terkait peran militer, ia bersiasat, Turki 
penting menjadi anggota Masyarakat Eropa dan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik 
Utara).

Dan, untuk menjadi anggota di dua organisasi itu, syarat utama negara itu harus 
menerapkan demokrasi dan memberantas korupsi. Salah satu prasyarat demokrasi 
adalah tanpa ikut campur militer alias mereka harus kembali ke barak. Inilah 
yang sukses dilakukan Erdogan. Kini, peran militer Turki sebatas menjaga bangsa 
dan negara dari serangan musuh dan menyerahkan urusan politik kepada para 
politikus, parpol, dan mekanisme pemilu.

Sementara itu, untuk memberantas korupsi Erdogan sangat keras kepada dirinya 
dan partainya sebelum memberlakukannya ke pihak lain. Ia tak segan-segan 
menghukum orang-orang partainya apabila terlibat korupsi. Hasilnya, 
pemerintahan Erdogan dikenal bersih. Bersamaan dengan itu, ia pun memangkas 
birokrasi panjang warisan dari pemerintahan sebelumnya.

Ternyata, korupsi dan birokrasi erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Ini 
terbukti, ketika pejabat tidak korup dan birokrasi semakin tidak bertele-tele, 
ekonomi Turki pun cepat menggeliat. Kini, 10 tahun kemudian, Turki sudah 
menjadi kekuatan ekonomi ketujuh di Eropa. Negara ini juga menjadi partner 
strategis kegiatan ekonomi dengan Cina, Eropa, AS, Brazil, dan negara-negara 
Arab.

Sedangkan, terhadap suku Kurdi di mana militer Turki menghabiskan miliaran 
dolar dari pajak rakyat untuk memerangi mereka, bukan lagi persoalan besar buat 
negara itu. Setelah pemerintahan Erdogan mengakui hak-hak suku Kurdi untuk 
menggunakan bahasa dan budaya mereka, pemimpin Kurdi Abdullah Ocalan pun 
menawarkan perundingan. Dia pun memerintahkan tentaranya untuk meletakkan 
senjara. Apalagi, Erdogan juga telah berjanji menjamin keterwakilan suku Kurdi 
dalam parlemen Turki.

Atas keberhasilan pemerinahan Erdogan itu, sejumlah media di Timur Tengah pun 
mengharapkan agar para pemimpin Arab bisa berkiblat kepada Turki Erdogani. 
Mereka bersepakat, Erdogan adalah pemimpin yang berprestasi.

Ya, pemimpin negara yang berprestasi memang tidak bisa diukur dari berapa lama 
ia berkuasa, tapi seberapa besar ia bisa memajukan bangsa dan negaranya. 
Pemimpin yang hanya berkuasa, tapi tidak berprestasi-baik itu presiden, perdana 
menteri, raja, atau apa pun sebutannya-istilahnya hanya menumpang lewat saja. 
Bagaimana dengan Indonesia? Penilaiannya terserah Anda.


      Redaktur : M Irwan Ariefyanto 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke