*Segmentasi BBM demi Keselarasan Bangsa* ~ suatu konsep**

Setelah otoritas Orba berakhir, karena melibatkan berbagai faktor yang
berorientasi kepada kepentingan rakyat, pemerintah perlu berhati-hati dalam
pertimbangan revisi susunan harga BBM. Selain berbagai dasar yang menjadi
acuan, setiap keputusan pasti mendatangkan dampak signifikan terhadap
kepentingan ekonomi mikro dan makro di Indonesia.

Telah lama saya merancang konsep segmentasi pemasaran BBM DN. Bahkan sejak
awal pemerintahan pak SBY, saya beberapa kali mengusulkannya.  Mungkin
karena sekilas terkesan rumit, pemerintah cenderung menggunaka sistim
kompensasi BLT.  Pada prakteknya, bantuan langsung berbentuk uang tunai
yang sekilas kelihatan praktis, sering tidak tepat sasaran dan kurang
efektif untuk memulihkan perekonomian masyarakat yang terkena dampak
kenaikan BBM. Sebaliknya, dari feedback (baik lisan maupun tulisan) teman2
yang sempat membaca/ mendengar penjelasan proposal konsep segmentasi, semua
(100%) setuju dan mendukung konsep ini.

Bulan April, saya, bu An bersama Elsha, Dona, Jovan menghadiri pameran
lingkungan hidup di JCC (sayang foto-fotonya terhapus). Saat menghampiri
stand Pertamina, saya mengajukan pertanyaan kepada petugas stand. Petugas
itu kemudian meminta staf kepala yang bertugas untuk menjelaskan alasan
mengapa PN Pertamina diganti nama menjadi PT Pertamina serta siapa saja
pemegang sahamnya. Bapak itu menjelaskan bahwa Pertamina adalah tetap BUMN
sedangkan pemilik sahamnya adalah tetap, 100% milik Pemerintah. Adapun
perubahan status dari PN menjadi PT adalah demi profesionalitas dan
efektifitas kinerja supaya Pertamina bisa lebih berorientasikan pada
keuntungan. Walau saya setuju bahwa profit memang penting, tentunya
kepentingan rakyat sebagai owner lebih penting dari profit itu sendiri.

Sebenarnya Pemerintah merencanakan untuk menaikan harga BBM pada tanggal  1
Mei lalu. Tanggal 30 April di RS Siaga Raya (sehari sebelum tulang lengan
dioperasi), sambil menahan rasa sakit saya berusaha mengirim pesan kepada
bapak Presiden mengenai rencana kenaikan BBM itu. Walau tidak tahu apakah
pesan itu sampai atau tidak, saya bersyukur karena pemerintah menunda
kenaikan harga BBM.

14 Juni lalu sambil ngobrol, pak Jaenudin menanyakan pendapat saya mengenai
rencana kenaikan harga BBM tanggal 17 Juni. Kemudian kembali saya jelaskan
pak Jaenudin bahwa penyesuaian harga BBM sebenarnya memang diperlukan.
Namun dengan metode segmentasi, bahkan tanpa kenaikan harga, bukan hanya
pasti meningkatkan laba Pertamina, namun akan menciptakan keseimbangan baru
yang lebih harmonis dalam perekonomian dan kesejahteraan sosial masyarakat.
Ketika saya tanyakan pendapat beliau mengenai pegawai negri dan TNI yang
wajib memakai Pertamax, beliau mengatakan bahwa kewajiban itu memberatkan
TNI yang selama 24 jam sehari harus selalu siap untuk berangkat ketempat
tugas yang memerlukannya. Saya juga mengatakan, walau menggunakan mobil
pribadi, saya juga biasa menggunakan Premium yang Rp 4.500/ liter, karena
memang tidak ada kewajiban untuk menggunakan Pertamax.

Untuk menyiapkan posting hasil analisa ini, saya terpaksa menunda dan
membatalkan beberapa agenda. Namun karena waktunya sudah sangat mepet, agar
tidak membingungkan pemerintah, 17 sore kemarin sementara mata masih
kunang-kunang (jangan-jangan perlu beli kacamata ni.. ), saya putuskan
untuk tidak memposting analisa yang belum tuntas itu. Namun karena
kenyataan tanggal 17 malam belum ada perubahan kebijakan BBM, berarti saya
masih ada kesempatan untuk menyempurnakan analisa sebelum memposting
makalah ini.

* *

*Harga Dasar Minyak Mentah *

Minyak dunia sempat meroket dan mencapai puncak bulan Juli 2008 dengan
harga melewati US$146/barrel (Rp9.060/liter) sebelum kemudian terus jatuh
dimana Desember 2008 mencapai titik terendah dimana harga pasar sempat di
bawah US$38  (Rp 2350/liter). Pada tahun-tahun kemudian, harga ini kemudian
berlanjut dengan relative tenang dan cenderung merangkak naik.

Minggu ini minyak berada pada kisaran = US$98/barrel= 98x9.800/159=
Rp6.040,- /liter.  Tahun 2008, Alfan (UnstoppablePowerWithinIndonesia2006)
menyampaikan info bahwa pak Kwik Kian Gie mengatakan bahwa biaya eksplorasi
(mungkin juga termasuk penyulingan minyak bumi menjadi BBM) hanyalah =
US$10/barrel= Rp620,-/Liter. Begitu murahnyakah? Iya. Karena minyak bumi
yang masih di dalam tanah adalah gratis, tidak ada harganya. Sama seperti
air dalam sumur yang siap kita timba sepuas hati. Perbedaan harga itu bisa
saja terjadi demikian mencolok seperti halnya beda harga air pada pancuran
mata air di Tomohon – di bandara SamRatulangi – di Arab Saudi.

Harga Premium saat ini (Rp 4.500/liter) sebenarnya 25% lebih murah
dibanding harga minyak internasional minggu ini (Rp 6040/liter).  Apakah
dengan menjual Premium dengan harga itu kepada rakyat Indonesia, hasilnya
akan lebih sedikit jika dibanding menjual secara mentah ke pasar
internasional?  Belum tentu begitu, karena dari penyulingan minyak  mentah,
akan dihasilkan aneka produk (Thinner – Avtur/PertamaxPlus/Pertamax/Premium
- Solar – MinyakTanah – Terpentin - Oli – Gemuk - Lilin – Ter – Aspal –
Plastik – dll ) yang umumnya memiliki nilai  jual yang lebih baik lagi.
Bahkan pada saat pasar dunia sedang booming, ekspor minyak ke luar negri
tentu akan meningkatkan laba Pertamina.

* *

*Segmentasi Konsumen BBM DN*

Konsep ini membagi pengguna BBM dalam 3 segmen berdasarkan taraf/ gaya
hidup, efisiensi energi, luas (& berat)kendaraan serta dampak aktifitasnya
terhadap lingkungan (kemacetan lalin, kadar polusi, pemanasan lingkungan):

Ø Segmen 1: Hemat dan Efisien

Kelompok ini kebanyakan justru dari kelompok ekonomi kurang kuat yang
sangat efisien dalam mengkonsumsi bahan bakar. Segmen ini didominasi oleh
buruh, karyawan/ pedagang kecil, serta kelompok yang menghargai efisiensi
bahan bakar. Dengan biaya transportasi hampir mencapai 20% dari upah/
penghasilan, kendaraan yang digunakan adalah kendaraan plat kuning (bus,
mini bus, mikrolet, angkot, bajaj, pick-up omprengan) dan ditambah sepeda
motor (plat hitam) yang sangat efisien menggunakan lahan jalan raya
(sekitar 0,5meter persegi/ penumpang yang mengkonsumsi 0,01 liter
BBM/km).  Kebalikan
dengan populasinya yang mencapai 70% masyarakat kota, segmen ini hanya
menyita sekitar 10% lahan jalan dan hanya menghabiskan 10% BBM dari total
konsumsi pengguna lalin jalan raya perkotaan.



Sesuai karakter Hemat& Efisien, saya berharap mereka bisa dipertahankan
untuk tetap menggunakan BBM dengan harga yang *MURAH/ BERSUBSIDI* (Premium
dan Bio-solar) dengan harga Bio Solar/ Premium pada kisaran Rp. 4.200,-
sampai Rp5.000,- . Adapun besarnya subsidi (selisih harga minyak mentah
internasional dikurangi harga bagi segmen ini) bisa dianggap sebagai supply
modal dalam investasi internal negara untuk meningkatkan taraf hidup dan
usaha masyarakat kecil dan peningkatan pelayanan jasa angkutan umum. Untuk
memudahkan, sebaiknya kelompok ini disediakan pompa bensin khusus di
kompleks terminal/ tempat ngetem ataupun dipinggir kota. Walau berhak
menggunakan BBM bersubsidi, segmen ini juga berkesempatan melakukan
self-up-grading untuk menggunakan BBM non-subsidi ataupun BBM men-subsidi
yang lebih berkwalitas.

Ø Segmen 2: Mampu dan Mandiri

Segmen ini adalah kelompok cukup mampu dan menggunakan mobil pribadi/ taxi
yang kecil/ hemat BBM. Dengan anggaran transportasi sekitar 15% dari
penghasilan, umumnya mereka menggunakan mobil 5 penumpang dengan silinder
bensin maksimum 1500cc, minibus 7 penumpang maksimum 1800 cc,  pick-up/
box/minibus 10 penumpang maksimum 2000cc. Tiap kendaraan mengkonsumsi
sekitar 0,1 liter bahan bakar/km atau setiap penumpang mengkonsumsi 0,04
liter/km atau 0,2meter persegi lahan jalan/ penumpang. Walau populasi
segmen ini hanya sekitar 20% masyarakat perkotaan, namun segmen ini menyita
sekitar 75% lahan lalu lintas jalan umum. Meningkatnya taraf ekonomi/ gaya
hidup, murahnya harga BBM, ditambah buruknya pelayanan transpotasi umum,
kelompok ini adalah sumber utama kemacetan yang terus bertambah dari waktu
ke waktu.

Bagi segmen ini, saya berpendapat agar mereka diwajibkan untuk bisa mandiri
dengan menggunakan BBM  non subsidi (setara Pertamax/SolarMurni dengan
harga per liter pada kisaran Rp 9.000/ Rp 8.000.  Dengan mewajibkan 75%
kendaraan mobil pribadi menggunakan BBM non-subsidi, saya taksir Pertamina
akan mendapatkan keuntungan tambahan 60% lebih banyak dari sebelumnya
Adapun selisih harga antara BBM non-subsidi dengan harga minyak mentah
internasional, bisa dianggap sebagai biaya Pengolahan+ Pemasaran+ Laba
Negara+ Cadangan Laba Ditahan (masih mampu mempertahankan harga ini
seandainyapun harga minyak melonjak melebihi US$146/barel).

Kendaraan segmen ini tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi, namun boleh
menggunakan BBM mensubsidi.

Ø Segmen 3: Mapan& Eksklusif

Kelompok ini ditujukan bagi pengguna mobil mewah yang boros bahan bakar.
Walau mungkin kurang akurat, saya anggap kelompok ini hanya menggunakan 10%
dari incomenya untuk biaya transportasi, menggunakan sedan dengan silinder
di atas 1800cc,  MPV diatas 2000cc, menyita lahan sekitar 2meter
persegi/penumpang, setiap kendaraan mengkonsumsi 0,15 liter BBM/km.
Kelompok ini populasinya sekitar 10% masyarakat perkotaan dan menyita
sekitar 15% lahan jalan raya.

Segmen Ekslusif ini wajib menggunakan BBM dengan kwalitas terbaik setara
Pertamax Plus, yang saya usulkan per liter  Rp 10.000 – Rp 12.000.  Selain
memperoleh BBM kwalitas terbaik, segmen ini adalah kelompok yang perlu
pelayanan istimewa, cepat dan terbaik. Bahkan jika perlu pada masa
mendatang, Pertamina bisa memberikan servis istimewa seperti sistim
pengisian BBM super cepat.

*Strategi Pelaksanaan***

Segmentasi ini adalah mengelompokan para pengguna BBM agar aliran subsidi
akan tepat sasaran. Seandainyapun tidak terjadi perubahan harga, berkat
pengguna BBM subsidi hanya khusus segmen 1, sebagian besar kelompok
menengah dan atas sudah tidak lagi menerima subsidi. Dengan berkurangnya
penerima subsidi, saya taksir pembeli Premium akan mengalami penurunan
hingga 85% karena mereka diarahkan bergeser menjadi konsumen BBM ke kelas
lebih tinggi.  Karena itu, seandainyapun sementara tidak terjadi perubahan
harga, Pertamina akan mengalami peningkatan keuntungan total sekitar 65%
berkat up-grading itu. Tanpa harga naik, profit pasti meningkat signifikan.

Segmentasi harga BBM sangatlah membantu Pemerintah dalam mengalokasikan
dukungan secara tepat sasaran: Bantuan bagi kelompok efisien yang perlu
subsidi; Melatih kelompok mampu untuk mandiri dan berhemat agar semakin
tangguh; Mengajak dan memberi kesempatan kepada masyarakat mapan ikut
prihatin kepada sesama pengguna jalan raya, Pertamina bisa memberikan
kwalitas produk dan pelayanan yang lebih istimewa.

Kita memiliki pompa bensin yang terbatas yang mungkin kurang siap
menghadapi aturan baru ini. Karena itu segmentasi BBM tidak harus
diterapkan secara sekaligus secara serempak. Perubahan harga BBM tanpa
kesiapan pelayanan, bisa membingungkan petugas penjual dan masyarakat.
Walau demikian, sebagai langkah awal di masa transisi ini, kita sudah harus
menerapkan pemisahan yang tegas antara segmen 1(mendapat subsidi) dan
segmen 2& 3 (tidak mendapat subsidi).

Saya usulkan agar dalam masa transisi ini Pertamina tidak melakukan
perubahan harga. Dengan pedoman Premium tetap seharga Rp4.500 (khusus
segmen 1), Pertamax dalam kisaran Rp9.000 dan Pertamax Plus dengan harga
sedikit diatas Pertamax pada kisaran Rp10.000. Sementara masa transisi ini,
kendaraan pada segmen 3, walau tidak dianjurkan namun masih boleh
mendown-grade untuk menggunakan BBM setara Pertamax. Namun sementara masa
transisi maksimum 1 tahun ini, Pemerintah akan menetapkan kendaraan apa
saja yang masuk segmen 2 dan yang masuk segmen 3 secara baku.. Setelah
aturannya jelas, pada tutup tanki kendaraan segmen 3 akan diberi warna
kelas (misal strip warna ACI: merah-putih) yang menunjukkan kewajibannya
untuk menggunakan BBM mensubsidi.

Seandainya pemisahan transisi ini efektif, maka sebagai progress kebijakan.
Tahun depan Pemerintah akan mempertajam pemisahan segmen 2 (non-subsidi)
dan segmen 3 (mensubsidi). Untuk ini saya mengusulkan (boleh dikoreksi
sesuai situasi ekonomi tahun 2014), Pertamax diarahkan menjadi seharga
Rp8.000 sementara PertamaxPlus akan diarahkan menjadi seharga Rp12.000.
Selanjutnya baik petugas Pertamina maupun pengemudi/ pemilik kendaraan yang
melanggar aturan ini akan mendapat sanksi yang tegas.

*Beberapa Pertimbangan Khusus*

Baru 2 bulan setelah saya kecelakaan motor, aktor Ari Wibowo, seorang kawan
IES yang gemar menggunakan sepeda motor, menabrak seorang kakek. Memang Ari
memperlihatkan sikap tanggung jawab dengan membawa korban ke rumah sakit
serta melapor kepada polisi. Namun kecelakaan lalu lintas pengguna sepeda
motor adalah kejadian yang sering kita saksikan sehari-hari.

Walau pengguna sepeda motor memliki resiko kecelakaan yang lebih tinggi
dibanding pengguna mobil, karena efisiensi luas kerampingan dan hemat BBM,
motor plat hitam saya harapkan boleh mengunakan BBM bersubsidi.

Kebalikannya, walau taxi menggunakan plat nomor kuning, saya cenderung
memasukkannya sebagai segmen non-subsidi dan segmen mensubsidi. Alasannya,
karena taxi boros lahan jalan raya, BBM, pemanasan lingkungan yang setara
dengan mobil pribadi yang bersama bergulat dalam kemacetan jalan raya.

Mengenai TNI dan PNS, saya berpendapat sebaiknya disamakan dengan
masyarakat umum. Motor dinas tetap segmen disubsidi. Mobil dinas masuk
dalam segmen non-subsidi dan segmen mensubsidi sama seperti masyarakat
umum. Seandainya dalam tugasnya, TNI (bahkan juga Pegawai Negri Sipil)
sering melakukan aktifitas yang harus menggunakan kendaraan dinas (apalagi
24jam seperti pak Jaenudin), sebaiknya instansi berwenang juga menyiapkan
anggaran  kebutuhan BBM bagi kendaraan dinas setiap anggota sesuai wewenang
dan jabatannya.

Sebagian masyarakat menengah ke bawah pengguna mobil tua (sudah tidak
mewah) bersilinder besar, belum siap mengganti dengan mobil baru namun
merasa berat untuk membeli BBM mensubsidi. Apakah ia harus membuang
kendaraan yang harganya tidak seberapa itu? Saya berpendapat, sebaiknya
kita perlu peraturan transisi selama 5 tahun mendatang ini.

Memang semua kendaraan pribadi berkapasitas besar sudah harus mengenakan
warna pada tutup tanki bensin sebagai tanda wajib pengguna BBM mensubsidi.
Namun para pemilik mobil tua boros BBM mengajukan dispensasi agar boleh
diperpanjang menggunakan Premium. Untuk kasus ini, pada tanki bensinya akan
diberi tanda tanggal berakhirnya dispensasi itu. Misal hingga akhir 2016,
tutup tanki itu sudah harus diberi warna tanda sebagai wajib menggunakan
BBM mensubsidi.  Setiap tahun jumlah izin itu akan dikurangi sampai
sehingga tahun 2018 semua kendaraan boros BBM diatas standar, akan
disetarakan dengan mobil mewah, pengguna warna tanda wajib menggunakan BBM
mensubsidi.



*Berbagi untuk Meningkatkan Kapasitas*

Saya pribadi tidaklah menganggap bahwa penjualan BBM dengan harga
bersubsidi akan merugikan Pertamina. Namun segmentasi harga BBM memang
diperlukan demi keseimbangan aktivitas perekonomian, ekosistem dan reduksi
kemacetan.

Sepulang mengikuti  UPW-Sidney2005 (Anthony Robbins), pak Desvan (LP58/ AW)
mengajak saya berlatih meditasi di Sirnagalih . Latihan meditasi relaksasi
yang diajarkan pak Haris Suhyar (guru kami) melatih membersihkan hal-hal
negatif seperti kecemasan, trauma, karakter negatif serta menyelaraskan
pikiran dengan perasaan, yang secara perlahan membersihkan memori negatif
subconscious mind, meningkatkan rasa tentram dan percaya diri yang secara
bertahap mengurangi kegugupan yang parah.

Selain itu, beliau sering mengajarkan prinsip Terima& Kasih. Teori ini
mungkin bisa diterjemahkan sebagai Thanks& Giving (Bersyukur). Beliau
menggambarkan bahwa kita masing-masing memiliki ‘wadah’ untuk menampung
rejeki yang mampu kita bisa terima. Pada saat ‘wadah’ kita sudah jenuh,
kita sudah tidak mampu lagi menampung tambahan rejeki lagi. Untuk
memperbesar  wadah/ ukuran, kita perlu berbagi rejeki secara benar kepada
pihak yang layak menerima.  Berbagi secara  benar, tepat waktu dan sasaran,
bisa meningkatkan aliran rejeki segar untuk masuk dan melimpah.

Banyak agama mengajarkan prinsip berbagi. Seperti halnya berdhana kaum
Buddhis kepada para bikhu/ bikhuni, 2,5% zakat atas kekayaan umat Islam
sebagai hak kaum duafa,  persembahan wajib perpuluhan dalam agama Yahudi,
umat Kristiani juga disarankan menyisihkan 10% dari penghasilannya untuk
dipersembahkan bagi Tuhan.  Banyak pemeluk agama percaya bahwa ibadah
beramal yang benar secara tulus-ikhlas, akan menghadirkan berkat yang segar
dan berkwalitas.

Dulu ada anggapan bahwa orang yang sering mendonorkan darah akan sakit
kurang darah dan kesehatannya menurun. Padahal kenyataan, justru orang yang
mendonorkan darah secara teratur, darahnya yang lebih likuid dengan sel-sel
sehat dan lebih segar dibanding orang yang tidak pernah mendonor.

Ada pendapat mereka yang hanya menerima dan tidak menyalurkan rejeki, bisa
diibaratkan bagai air yang mengalir ke Laut Mati. Karena pasokan air yang
masuk hanya digunakan untuk penguapan, temperatur dan kadar garam/ toksin
pada air Laut Mati sangatlah tinggi sehingga tidak ada ikan/ biota yang
bisa hidup dilaut itu.

Beberapa tahun terakhir ini, tampak pertumbuhan ekonomi masyarakat menengah
ke bawah mulai bangkit kembali. Saya kira selain stabilitas politik&
keamanan Indonesia, faktor murahnya harga BBM itulah yang sangat berperan.
Gejala positif itu secara progresif perlu kita tingkatkan dengan tindakan
kelanjutan yang diperlukan.

Adalah suatu fenomena umum, menikmati sesuatu yang baik secara berlebih
(seperti konsumsi garam bagi pengidap hipertensi, makanan dengan lemak
jenuh tinggi bagi penderita kolesterol, atau gula bagi diabetes) bisa
menjadi kontra produktif.  BBM yang  murah, pada awalnya akan meningkatkan
perekonomian, taraf dan gaya hidup masyarakat adalah benar. Namun jika
taraf hidup sudah tinggi, BBM terlalu murah, adalah logis jika kemacetan
menjadi semakin parah sementara kendaraan penumpang umum semakin terjepit.
Naik mobil pribadi yang seharusnya nyaman, sudah berbeda saat terjebak
dalam jam-jam kemacetan.

Inflasi yang terkendali adalah suatu dinamika ekonomi yang sehat. Dari
gejala progresif saat ini, sudah saatnya pemerintah mempertajam siapa yang
layak mendapat subsidi, yang tidak usah menerima subsidi dan yang wajib
memberi subsidi. Aturan yang jelas akan mengarahkan yang belum kuat untuk
jadi semakin kuat. Yang cukup kuat, diarahkan supaya makin efisien,
berlatih tumbuh mandiri dan menjadi tangguh. Yang sudah mapan,
berkesempatan mensyukuri dan berbagi nikmat karunia Tuhan bagi sesama dan
bagi negara. Selanjutnya, kita percayakan PT Pertamina untuk makin
mengutamakan kepentingan putra-putri bangsa, para owner yang kepada siapa
mereka layani dengan hasil profit pengelolaan mas-hitam, kekayaan Ibu
Pertiwi, bumi kita bersama.

Teman2,

Kecuali banjir yang menimbulkan kemacetan, seperti kawanua Tomohon, saya
menyenangi hujan yang lebat: Membersihkan udara, menyejukkan tanaman dan
menyuburkan tanah. Demikian menikmati keindahan pelangi seusai hujan yang
lebat. Pelangi tampak indah karena terdapat keserasian antara warna-warni:
Merah – Oranye – Kuning – Hijau – Biru – Ungu. Demikian pula, keberadaan
dan profesi kita yang saling berdampingan dan mendukung secara serasi, akan
menciptakan suasana indah dalam pelangi di masyarakat di bumi Nusantara.

Demikian analisa dan konsep ini saya sampaikan. Semoga wacana ini
bermanfaat bagi kita semua.


Salam Konstruktif,

Mulyadi Dharmadi
Anggota DEMOKRAT

*shared with everyone in the world** ~ **inspiration for goodness*

https://sites.google.com/site/yohanesmulyadiliu/arsip-dokumen




…………………………………………………….…………………………………………………………………………………………



Oya, teman…

Pada posting sebelumnya saya katakan sebagian posting 28 April, ada
kesalahan teknis banyak tidak terkirim.

Karena itu, arsip surat itu saya gabungkan sebagai tambahan di bagian bawah
surat ini. Seandainya beritanya sudah kurang up-to-date, tolong abaikan aja
ya…

*...   …   … ***

*Potensi Demokrat  Dalam  Kendali SBY** ~ suatu proyeksi*

* *

*Failing Forward*



Saya dan bu Ansye tersenyum melihat animasi Mickey lagi nahan tawa dalam
respons bung Taher (GELORA45) yang mengatakan bahwa saya baru melakukan
kampanye terselubung... (anyway, thank you bung Taher…). Memang pada
posting yang mengajak masyarakat Jabar menggunakan hak pilih,  saya juga
menuliskan bahwa saya akan memilih Cagub Dede Yusuf . Walau sempat berharap
kontestan 3 bisa menang, saya sadar bahwa ‘kampanye’ pada H-2 Pilkada,
 efektifitasnya tidak berarti dibanding penurunan elektabilitas Cagub Dede
Yusuf di masa kebingungan ‘dualitas’ kepemimpinan Partai Demokrat. Namun
dalam bersiap menghadapi kegagalan itu, posting itu saya sampaikan
cenderung untuk menyiapkan posisi yang John Maxwell maksud dengan ‘failing
forward’ (sikap jatuh/ gagal tapi tidak sampai terkapar, namun untuk
kembali bangkit dan segera melanjutkan lagi maju ke depan). Maksudnya,
walau tidak berhasil mencapai target utama, saya mempersiapkan posisi
jatuh/ gagal yang baik sehingga sudah siap untuk maju pada etape
selanjutnya.

Bagaimana posisi failing forward yang dimaksud?

Ø  Situasi dualitas yang mendatangkan kebingungan para kader/ pendukung
partai, berdampak pada turunnya wibawa/ elektabilitas partai. Jadi yang
menjadi target saya saat itu sudah bukan lagi untuk kemenangan di pilkada
Jabar, namun mengarah untuk memulihkan kepastian kepemimpinan, kesatuan tim
serta  kejelasan arah kebijakan partai Demokrat. Tidak tercapainya target
Pilkada, adalah batu pijakkan untk terus maju pada etape berikut.

Ø  Saya menyuarakan sikap membangun (konstruktif) untuk meningkatkan
semangat para kader dan simpatisan partai. Dengan kesatuan dan karakter
konstruktif, segala daya dan situasi akan diarahkan demi kemajuan bersama.

* *

*Bak Air Setengah Kosong vs Bak Air Isi Setengah*

Pemisalan ini sering diajarkan saat kami belajar NLP dulu.

Volume bak air yang setengah kosong dan volume bak yang berisi air setengah
adalah sama.  Yang membedakan adalah orientasinya. Untuk menghabiskan, kita
anggap dalam bak masih ada air yang sudah hampir kosong untuk kita
habiskan. Untuk mengisinya, kita  anggap dalam bak sudah ada air yang sudah
berisi setengah untuk kita penuhi.

Dalam hidup, biasanya kita menghadapi situasi yang tidak mutlak sempurna.
Dalam menghadapi setiap situasi, orientasi kitalah yang menentukan sikap
yang akan diambil.

Saya pernah dibantu karyawan yang jika ditegur dan tersinggung, dengan
pura-pura bodoh ia melakukan perilaku yang tidak konstruktif. Walau
demikian, saya juga banyak memiliki karyawan yang bertanggung jawab dengan
karakter yang konstruktif.

Saya ilustrasikan kisah si Ginol yang sakit hati setelah ditegur majikannya
di toko onderdil. Ginol menaruh botol-botol akizir di belakang sela-sela
drum-drum oli. Karena bocor serta uapnya yang bersifat korosif, akisir
menyebabkan karat pada drum itu. Sambil pura-pura membersihkan, bagian
karat itu sering dikorek sehingga menjadi rembesan yang kemudian dilaporkan
kepada majikan. Dengan mandat disuruh membereskan, Ginol ‘dengan bodohnya’
menggeser drum ke tempat pengunjung dan kembali ‘membersihkan’ karat pada
drum sehingga rembesan itu menjadi lubang bocor yang lebih besar. Tumpahan
oli menggenangi lantai, sehingga bukan hanya mengganggu pengunjung , namun
juga semakin meluas dan mengotori beberapa area penyimpanan barang di toko
itu.

Menyaksikan kejadian itu, si Giman (rekan Ginol) berinisyatif untuk segera
memiringkan dan memindahkan drum pada lokasi tidak mengganggu aktifitas
toko.  Kemudian ia menyumbat (darurat) drum bocor, membendung serta
membersihkan ceceran oli agar tidak meluas yang bisa membahayakan
pengunjung…

Situasi yang disaksikan si Ginol dan si Giman adalah sama. Kemampuan
keduanya adalah setara. Perbedaan tindakkan antara mereka disebabkan karena
sebenarnya mereka memiliki perbedaan karakter dan orientasi…



*Life Is An Enrolment Game*

Belum lama ini, atas keputusan Kongres Luar Biasa, pak SBY terpilih menjadi
Ketum Partai Demokrat. Dari keadaan seperti ini, perspektif apa yang bisa
kita pahami?

Ø  Kesan pertama saat bersama pak Eduard Ladasi mengunjungi kantor DPP
Demokrat tahun 2004, saya bilang bahwa Partai Demokrat adalah partai
kelompok intelek. Menurut pengamatan dari kantor-kantor yang pernah saya
datangi, terkesan Partai Demokrat memiliki sistem manajemen yang bagus dan
rapih. Setelah masalah dualitas kepemimpinan usai, Partai Demokrat kembali
menjadi Parpol yang solid dan kuat. Adapun jabatan Ketum yang dipegang oleh
Presiden SBY, memiliki nilai minus dan plus. Pada satu sisi, Ketum tidak
mungkin ful-time mengurusi Partai karena harus bertanggung jawab pada tugas
utama dengan skala nasional. Pada sisi lain, jabatan Ketum yang dipegang
oleh seorang Kepala Negara, memberikan kebanggaan secara internal, serta
kesan istimewa dalam sudut pandang masyarakat luas.

Ø  Sejarah menunjukkan Capres dan Cawapres kebanyakan berasal dari Ketum
Parpol. Istilahnya, jarak Ketum untuk menjadi Capres hanya tinggal satu
langkah. Walaupun Ketum suatu parpol membutuhkan dukungan kader-kader
berkwalitas, kebanyakan Ketum berhati-hati agar jangan sampai potensi
kadernya bisa menyaingi posisinya. Itulah sebab ada beberapa politisi
potensial keluar dari suatu partai karena merasa prospeknya dibatasi.

Ø  Demokrat adalah partai yang didirikan oleh pak SBY bersama para
founders. Dalam waktu singkat, partai yang masih muda itu berhasil membawa
pak SBY menjadi RI-1. Setelah 2 periode jabatan, menurut Konstitusi, pak
SBY tidak bisa dipilih lagi menjadi Presiden RI. Jadi kehadiran pak SBY
sebagai Ketum Demokrat saat ini bukan lagi untuk merebut jabatan Presiden
RI, namun cenderung sebagai bentuk tanggung jawab yang berorientasi untuk
ikut menyiapkan pengganti dalam pemerintahan. Pada LeadershipProgram/
AsiaWorks kami dilatih prinsip “Life is an enrolment game”. Jadi kebaikan
apa yang berhasil kita raih (visi, kepintaran, jabatan, kekayaan…) bukanlah
sesuatu untuk dipertahankan dan disimpan sampai kita mati. Apa yang sudah
kita raih dan miliki saat ini, semata-mata untuk disampaikan secara estafet
kepada pengganti yang layak meneruskan kesinambungannya. Itu bisa diartikan
bahwa kesediaannya untuk menjadi  Ketum, pak SBY sudah bukan untuk
memperkuat kekuasaannya di Indonesia. Parpol kaum nasionalis-religius ini
akan semakin kuat dan berkwalitas dalam kepemimpinan Ketum berwawasan
independen yang mampu memberi kesempatan segenap nasionalis dan intelektual
untuk mengembangkan potensi bagi kemajuan partai dan Indonesia. Karena
setiap anggota partai bebas menyalurkan aspirasi sesuai kemampuan, saya
percaya berkat kebersamaan secara internal, akan terjadi sinergi yang
meningkatkan kekuatan dan kinerja partai secara keseluruhan. Dengan
pemahaman ini, saya proyeksikan keyakinan bahwa Partai Demokrat di bawah
kendali SBY akan menjadi Parpol paling kuat di Indonesia.



Teman2,

Belakangan terjadi trend, dimana banyak Parpol merekrut para aktor dan
artis untuk dijadikan Caleg.  Dengan kekuatan Partai serta nama besar SBY,
saya percaya elektabilitas Demokrat tidak tergantung pada metode pintas
seperti itu, namun lebih mengandalkan kebersamaan segenap personil yang ada.

Selamat bertugas kepada bapak SBY yang kini menjabat Ketua Umum Partai
Demokrat. Semoga dalam kepemimpinan Ketum SBY, Partai Demokrat semakin
berkembang lebih pesat, dipercaya dan dicintai oleh segenap bangsa
Indonesia.



Salam KONSTRUKTIF,

Mulyadi Dharmadi

Anggota DEMOKRAT




------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh

Visit Profit Click Income 
http://profitclickincome.blogspot.com/

NEW Portal and Search Engine for ALL
http://www.synergyprofit.com/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke