ABOUT LEADERSHIP...... } It is Not about WHO is - but rather HOW IS
* Seorang Pemimpin atau Jendral Tidak akan berhasil menjadi Pemenang dan
mencapai suatu kemenangan- apabila Rakyat dan atau Armada yang dipimpinnya
selalu dalam keadaan lapar , kurang tidur , tidak disiplin, Tidak
berpikir [tidak mengerti atau tidak atau kurang memahami situasi ] nota bene
- Kurang berpendidikan ,
mudah marah ,emosionil dan mudah tersinggung sehinga mudah diprovokasi
dan yg lebih parah lagi mudah diadu - domba.....
{ Contoh - sebagai Ilustrasi > Apa yg dilakukan dan ditempuh Ir.Jokowi
dan Ir.Busuki selaku Gub .dan WaGub DKI dengan "POLITIK MAKAN BERSAMA" .
maka setelah sekian
lama akhirnya berkat POLITIK PERUT ini - sedikit banyak PARA PKL
berhasil disadarkan bhw antara DUA KATA ATAU ISTILAH : " DIGUSUR dan
DIPINDAHKAN''
adalah KWALITAIVE PUNYA ARTI YANG SANGAT BERBEDA , baik dari segi Technis
maupun dari segi Hukum dan menurut
Pertauran DKI yang berlaku dan harus ditaati oleh semua warga Penduduk
{ kendatipun Kedua kata ini masih dinyatakan dalam bhs INDONESIA/ blm lagi
jika
harus dinyatakan dlm bhs Arab, Inggris,Perancis atau Italy dan Portugis.
dan atau bhs Mandarin ..dll...........
Dan semua peristiwa ini / telah menunjukkan BAGAIMANA ABSURDNYA
MEMPUNYAI SUATU NEGARA dimana segalanya SERBA SALAH ..... dan dimana
sebagian
besar Masyarakatnya - HIdupnya dan Benaknya MASIH HARUS selalu
terpustakan pada Masalah SEPIRING NASI dan belum sempat menikmati APA
ARTINYA DAN
KELEBIHANNYA { priority / advantage ] dari apa yang dinamakan
CIVILIZED AND EDUCATED nation [people ]........TENTUNYA SEMUANYA SANGAT
TERGANTUNG
PULA BAGAIAMANA MUTU DAN SYSTEM PEMERINTAHANNYA .. SERTA SANGT PULA
TERGANTUNG PADA BAGAIAMANA MUTU KEPROFESSIONALAN
PARA PEJABAT DAN POLITICUSNYA .......
Weleh2 , Nampaknya cukup Repot dan tidak mudah yah.. menjadi Manusia
itu......, tetapi beberapa kalangan dng mudah mengatakkan RIGHT WRONG IS MY
COUNTRY ....
{ Kendatipun Motto tsb bisa lebih nyaman terdengar dan lebih sedap
diartikulasikan sbb > WHAT IS WRONG IS BUT WRONG - AND LET' S MAKE IT
BETTER .... ].
DAN apabila Ia sendiri sebagai
PEMIMPIN dan atau PANGLIMA Tidak yakin dan selalu ragu2 akan
Kepemimpiannya dan Keputusannya sendiri - Hal mana cendrung mengakibatkan
lambatnya
dalam menilai masalah atau situasi , dalam memutuskan dan bertindak ,
Tidak berani bertanggung Jawab dan Tidak berani atau selalu ragu untuk
bertindak
dan atau mengambil suatu Langkah Kebijaksanaan yang diperlukan
sertaTindakan Tegas - tapi Adil [tepat] ... dll, maka SITUASI yang demikian
hanya akan
kembali menciptakan SITUASI YANG LEBIH CHAOS yang berkelanjutan dan
Lebih akan lebih Tragis lagi - jika dibarengi dengan KETIDAK SANGUPAN
atau KETIDAK SERIOUSAN dari para "TEAM LEADERS" dalam membela dan atau
mempertahankan KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGARANYA diatas
Kepentingan Pribadinya dan Kelompoknya {Hal ini sangat penting terutama
dalam segi Kehidupan Politik Praktis / terutama pula dalam mempertahankan
garis
Perjuangan dan Program Politiknya serta Kelincah berargumentasi
[Professionil ]dalam Perundingan Politik dan sanggup setiap saat menilai
dng Kritis dan
bertindak cepat tetapi TEPAT terhadap Sitiuasi yang dihadapinya ..., demi
untuk membela Kedaulatan Bangsa dan Kedaulatan Negara yang dipimpinnya ...
[contoh hidup > SIKAP Pem.RI sejak ORBA sampai dewasa kini terhadap
Pemerintah Kerajaan Belanda yang sampai sekarng sengaja mengulur/ulur waktu
atas Pengakuan
ProklamasiKemerdekaan RI-17.Agus.45]
* ...dan dalam Sejarah Kemanusian { History of Mankind] para Kolonialist dan
Neo-Kolonialist {Penjajah} telah berhasil melaksanakan Politik
Penjajahannya dibanyak Negara2 terbelakang dibumi ini - justru karena Mereka
SANGAT PAHAM akan KEKURANGAN DAN KELEMAHAN tsb diatas dari sementara Bangsa
dan Negara2 Berkembang dan Negara2 terbelakang.....
* Sangat disesalkan bhw Para POLITISI dan ADMINSTRATOR NEGARA INI DEWASA
KINI - SANGAT TIDAK PEDULI akan MUTU KEPEMIMPIANNYA dan
MELUPAKAN PERSYARATAN2 POKOK bagi MUTU ATAU KWALITAS KEPEMIMPINANNYA -
tetapi bahkan sebaliknya ...> JUSTRU SANGAT MENUNJUKKAN
DAN MEMPERTAHANKAN KELEMAHAN DAN KEKURANGANNYA ..........................
A group of Lions which is lead by A SHEEP is GOOD for NOTHING than A group
of SHEEPS lead by A LION...... {Napoleon Bonaparte}
SELAMAT SORE DAN MALAM
Si Ucok,
{Pendekar Pandir dari Perguruan Kung Fu dan Pencinta Tao Fu }
-------Original Message-------
From: k.djie
Date: 5.8.2013 17:12:37
To: k.djie
Subject: [GELORA45] FW: Beda Jauh Antara AHOK dan SBY
Beda Jauh Antara Ahok dan SBY
OPINI | 03 August 2013 | 16:46 Dibaca: 3563 Komentar: 58 12
Antara Ahok (Basuki Tjahya Purnama) dan SBY (Soesilo Bambang Yoedhyono)
ternyata beda banget lho. SBY adalah Presiden Negar Republik Indonesia
sedangkan Ahok hanya Wakil Gubernur DKI Jakarta. Ah, ini sih bukan barang
baru. Lagian siapa sih yang mengira bahwa jabatan Presiden dan Wakil
Gubernur bisa dipadan-padankan. Gak perlu dibahas.
Nah, yang perlu dibahas adalah bagaimana kepemimpinan kedua manusia ini.
Saya menemukan perbedaan antara kedua pemimpin ini dalam hal menghadapi
premanisme. Ternyata perbedaannya sangat, sangat, sangatlah jauh. Berikut
adalah perbedaan yang tampak dari terawangan saya beberapa hari belakangan
ini:
Sikap Konstitusional dan Sikap Demokratis
Perbedaan itu keliatan, saat SBY sebagai Presiden Negara Republik Indonesia
menyikapi bentrok antara massa FPI dengan warga Kendal di satu sisi, serta
di sisi lain saat Ahok yang Wakil Gubernur menyikapi ulah premanisme yang ia
duga berada di balik pembangkangan PKL Tanah Abang.
Pidato SBY yang meliuk-liuk dan mengurai persoalan dari sudut pandang agama,
padahal ia sedang bertanggunjawab mengemban hukum negara, justru dijawab
dengan kata-kata pecundang oleh kubu FPI. Sedangkan Ahok yang dipaksa
(melalui aksi demontrasi) oleh gabungan beberapa ormas yang membela PKL
Tanah Abang dan oknum anggota DPRD DKI, ketika dipaksa minta maaf justru
melawan dan berkata: saya tidak salah.
Saya hanya tunduk pada konstitusi, bukan pada konstituen.
Sikap Ahok itu bukan hanya menunjukkan keberanian menghadapi tantangan dan
resiko (sebagaimana disuarakan para demonstran yang mengatasnamakan Rajjam
Ahok). Melainkan juga ia mengerti di sisi mana ia berdiri serta apa yang
menjadi pegangannya. Pegangan Ahok adalah konstitusi dan ia menyadari bahwa
dalam konstitusi (negara) tersebutlah sesungguhnya intisari amanat rakyat
yang mesti ditunaikannya.
Saat SBY justru berlagak mengambil alih peran imam (pemimpin agama) dan
melupakan perannya sebagai Presiden (pemimpin negara) saat menyikapi gerakan
FPI yang selalu berdalih agama, Ahok justru tanpa ragu menyatakan bahwa ia
adalah penegak konstitusi. Sikap SBY yang mencoba bermain dalam pusaran
lawan, justru menunjukkan kelemahan kepemimpina
n
n
ya. Sedangkan Ahok memperlihatkan ketegasan dan wewenangnya. Sungguh ini
adalah perbedaan yang sangat mencolok, dan perlu diteladani oleh pemimpin di
negeri ini di semua level.
Dalam sikap tegas Ahok ini kelihatan pula secara tersirat bahwa Ahok lebih
meyakini demokrasi di banding SBY. Ahok, dengan ketegasannya dan pegangannya
akan konstitusi, menunjukkan tak ada keraguan sedikit pun untuk bertindak
karena ia telah diberi mandat untuk melakukan itu lewat prosedur demokrasi.
Sedangkan SBY yang pandai bicara dengan kalimat-kalimat panjang dan
bernuansa intelektual, justru tak mengeluarkan perintah apapun kecuali
mengupas nilai amar maruf keislaman. SBY tak salah dengan cara itu, tetapi
ia jauh dari konteks.
Sipil Juga Bisa Tegas, Militer Tak Selalu Tegas
Membanding SBY dan Ahok, ternyata pula bahwa pemimpin militer tidak identik
dengan ketegasan. SBY yang militer justru tak tegas. Sedangkan Ahok yang
sipil jauh lebih tegas. Baik sipil maupun militer adalah sama-sama warga
negara, sebagai sesama warga negara kedudukan juga setara dan punya peluang
sama untuk tampil sebagai pemimpin rakyat. Baik sipil maupun militer adalah
sama-sama manusia, dan mutu seorang manusia ditentukan oleh pilihannya bukan
asal-usul institusinya.
Jadi, kalau kita kembali ke soal demokrasi sebagai prosedur yang kita
sepakati untuk memilih pemimpin dan arah masa depan berasama sebagai sebuah
negara, maka tak perlu lagi melihat apakah ia sipil atau militer. Justru
yang kita butuhkan adalah pemimpin dengan orientasi dan karakternya sebagai
manusia.
Mayoritas dan Minoritas
Tak perlu ditutup-tutupi lagi dan tak perlu sungkan mengatakan bahwa Ahok
adalah etnis China, salah satu etinis minoritas dari segi peran dan sudut
pandang sosial selama ini (walau belum tentu minoritas dari segi jumlah).
Sedangkan SBY yang merupakan putra pribumi dengan latar belakang suku Jawa
adalah etnis mayoritas di nusantara ini. Namun syndrom pribumi - non pribumi
itu telah dipatahkan oleh Ahok. Syndrom mayoritas - minoritas itu telah
dipatahkan oleh Ahok tanpa banyak ceramah, pidato dan tanpa repot-repot
melangkah jauh untuk menjemput piagam penghargaan ke Amerika Serikat.
Beban sebagai minoritas itu tak sedikitpun terlihat dipundak Ahok saat ia
mengambil keputusan penting, walau beberapa gelintir orang mencoba
mendiskreditkannya dengan dalih etnis. Hal ini penting untuk dicatat bahwa
Ahok, berhasil membuang jauh-jauh rasa minder itu.
Ahok berhasil membuang jauh-jauh syndrom minoritas yang dibangun oleh sistem
kolonial dan ditanamkan dalam benak warga negara Indonesia oleh Rezim Orde
Baru. Sedangkan di sisi lain SBY hanya bisa ceramah tentang pluralisme
kehidupan berbangsa dan bernegara serta tergesa-gesa pergi mengambil
penghargaan saat diasongkan lembaga internasional atas klaim (lebih tepat
dugaan) keberhasilannya memimpin masyarakat Indonesia yang majemuk.
Sudah saatnya sebut
an
China sebagai salah satu entitas etnis di Indonesia tak ditabukan lagi untuk
disebut. Justru harus disebut sebagai pengakuan. Karena ternyata seorang
China bisa paham konstitusi, dan lebih paham berbangsa dan bernegara dari
pada warga negara yang mengaku sebagai pribumi. Ahok lebih membakar
nasionalisme dari pada seorang SBY yang notabene militer dan anak pribumi.
Antara Patriot Nusantara dan Patriot Kerajaan Inggris
Singkat cerita tulisan ini ingin mencatat, bahwa Ahok adalah seorang
pemimpin yang memiliki keyakinan (akan konstitusi), prinsip dan keberanian.
Dan ditengah negara yang carut marut dan politik yang semakin jauh dari
amanat, maka perpaduan keyakinan, prinsip dan keberanian itu Ahok suatu saat
dapat dianggap sebagai patriot.
Seorang Ahok telah membebaskan warga ini dari belenggu pikiran dan
nafsu-nafsu jahat tentang politik dan kekuasaan. Ia membebaskan warga bangsa
ini dari belenggu pikiran dikotomi sipil-militer, ia telah membebaskan kita
dari belenggu prasangka etnis dan belenggu dikotomi mayoritas-minoritas, ia
telah membebaskan kita dari oligarki politik atas nama demokrasi, karena ia
yakin akan kontitusi buah tangan para founding fathers kita.
HIDUP BENAR KARENA AGAMA BENAR!!!
KIKIS HABIS FANATISME, FUNDAMENTALISME, DAN TERORISME AGAMA APAPUN
[Non-text portions of this message have been removed]