res: APBN ini biasanya  kurang lebih 70% untuk pulau Jawa. Jadi kalau dibilang 
“hanya” untuk birokrasi maka tentunya birokrasi neo-Mojopahit. Istalah silat 
lidah petinggi rezim neo-Mojopahit yang dipakai untuk menipu rakyat 
daerah-daerah diluar wilayah birokrasi ini, bila dikunjungi olah kaum birokrat 
nan berkuasa dari pusat, ialah pembangunan-pembangunan, tetapi apa yang 
dibangun tidak jelas, karena selama ini tak nampak di daerah-daerah luar pulau 
Jawa, selain pengerukan kekayaan daerah. Siapa  untung dan siapa yang buntung 
dari pengerukan ini, silahkan selidiki.

http://www.shnews.co/detile-23567-apbn-hanya-untuk-birokrasi-.html


APBN (Hanya) untuk Birokrasi 
Caca C/Faisal R | Senin, 19 Agustus 2013 - 14:01:57 WIB

: 21 



(dok/antara)
KEBIJAKAN FISKAL - Menko Perekonomian Hatta Rajasa (tengah) berdiskusi dengan 
Kepala Bappenas, Armida S Alisjahbana (kiri) didampingi Menkeu Chatib Basri 
(kanan) saat memberikan keterangan mengenai ke 
Kenaikan alokasi anggaran justru sebagian besar melenceng dari tujuan utama 
melayani publik. 


Negara dibentuk sebagai sebuah konsensus besar semua penduduk untuk mencapai 
kesejahteraan dan hidup yang lebih baik. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan biaya 
yang tak sedikit. Rakyat pun harus rela berpatungan lewat pajak yang dikutip 
atas nama negara untuk membiayai kehidupan bernegara dan menggapai tujuannya. 

Hasil kontribusi rakyat lewat pajak itulah yang paling besar memenuhi 
pundi-pundi negara, yang oleh pemerintah disusun dalam keranjang berlabel 
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tiap tahun. Hal yang menjadi 
pertanyaan kini, seberapa besar mandat rakyat tersebut disusun dan digunakan 
pemerintah dengan bijak untuk membangun kesejahteraan rakyat? 

Dalam Nota Keuangan RAPBN 2014 yang disampaikan Presiden SBY dalam pidatonya di 
depan anggota DPR, Jumat (16/8), APBN 2014 terdiri dari penerimaan Rp 1.662,5 
triliun dan belanja Rp 1.816,7 triliun. APBN tahun 2014 nanti cukup penting 
untuk dicermati. 

Setidaknya ada dua hal yang menjadi alasan yang mendasarinya. Pertama, tahun 
depan adalah tahun politik di mana bakal ada pergantian rezim lewat pemilu 
presiden dan parlemen yang dilaksanakan. 

Kedua, tahun 2014 merupakan babak akhir dari pelaksanaan pembangunan jangka 
menengah tahap kedua (2010-2014). Di tahun itu, setengah dari Rencana 
Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 yang membawa visi Indonesia 
mandiri, maju, adil, dan makmur sudah dijalankan. 

Jika dilihat dari fungsinya selain sebagai penyedia kebutuhan dan layanan 
publik, APBN juga digunakan untuk membayar aparatur negara, belanja subsidi dan 
lainnya. Sayangnya, kenaikan alokasi anggaran belakangan justru sebagian besar 
melenceng dari tujuan utama melayani publik. Belanja birokrasi naik lebih 
mendominasi kebutuhan rakyat banyak. 

Jika pun teranggarkan, pelaksanaan anggaran-anggaran kesejahteraan rakyat masih 
diragukan. Ini karena tak ada terobosan pada program-programnya selain 
melanjutkan program yang ada dan sedikit memodifikasinya. Padahal, sudah kerap 
terbukti program sebelumnya tak efektif jika dilihat dari hasilnya. 

Anggota Komisi XI DPR, Dolfi OFP mengatakan, Program Pengentasan Kemiskinan 
yang dijalankan pemerintah dari 2009-2013 telah menghabiskan anggaran Rp 470 
triliun. Secara kasatmata bisa dilihat, kendati kemiskinan diklaim menurun, 
namun tetap menyisakan masyarakat yang miskin dan rentan miskin yang relatif 
tetap. 

Menurut catatannya, jika pada 2009 ada 53 juta penduduk tak sejahtera hanya 
menjadi 52 juta penduduk pada 2013. Kata Dolfi, pada RAPBN 2014 tidak ada 
pendekatan baru dalam pengentasan kemiskinan. Visi keadilan tidak tergambarkan, 
terutama strategi penurunan gini ratio yang saat ini telah mencapai 0,41. 

“Apalagi, program MP3EI yang tidak diimbangi dengan alokasi anggaran untuk 181 
daerah tertinggal dan hanya akan menciptakan kesenjangan baru," kata Dolfi 
kepada SH di Jakarta, Minggu (18/8). 

Transfer Daerah 

Ia melanjutkan, kebijakan Transfer Daerah Pemerintah pun hanya bersifat 
reguler. Sementara itu, dari sisi Pengalihan Dana Dekonsentrasi dan Tugas 
Pembantuan menjadi DAK kurang mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah 
pusat. 

"Padahal, hal ini diamanatkan UU No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan 
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pasal 108,” ujarnya. 

Secara makro, kendati tahun depan perekonomian dunia diyakini mulai membaik, 
APBN tak didesain untuk menghadapi tekanan dari internal maupun eksternal. Jika 
ada gejolak langkah paling mudah adalah kembali mengorbankan pos anggaran untuk 
rakyat, seperti pemangkasan anggaran subsidi pada tahun ini. 

Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan menilai pemerintah telah gagal 
menciptakan pertumbuhan yang inklusif melalui pemerataan pembangunan di seluruh 
wilayah Indonesia. Ia menilai APBN selama ini disusun sekadar menjalankan 
ritual tahunan tanpa orientasi untuk memperkuat fondasi ekonomi. 

Menurutnya, APBN gagal berperan optimal untuk mendorong perekonomian, karena 
yang didorong bukan sektor-sektor tradable yang dihuni tenaga kerja, melainkan 
sektor non-tradable yang minim menyerap tenaga kerja dan sangat rentan dengan 
gejolak eksternal. Untuk sektor pertanian saja pada tahun lalu hanya bertumbuh 
3,97 persen, sedangkan sektor-sektor non-tradable rata-rata berada di atas 5 
persen. 

“APBN yang ada selama ini belum sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 
karena tidak menyantuni konstitusi, tapi lebih ke elite politik. Makanya APBN 
tahun 2014 harus didesain sebagai instrumen untuk melaksanakan amanat 
konstitusi, yaitu mewujudkan kedaulatan rakyat," tuturnya. 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi memang tinggi, tapi tidak dinikmati masyarakat 
Indonesia, faktanya gini ratio mengalami peningkatan menjadi 0,41 persen. 

"Jadi, kinerja pertumbuhan ekonomi pemerintah itu fatamorgana, hanya 
menghasilkan kesenjangan individu maupun wilayah di Indonesia,” ucapnya. 

Ruang Fiskal 

Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meyakini postur 
RAPBN 2014 lebih baik dibanding sebelumnya dengan ruang fiskal (fiscal space) 
yang lebih luas. "Postur RAPBN 2014 ini dengan ruang fiskal yang lebih luas 
tentu akan lebih sehat dibandingkan dengan 2013, terutama pada bagian spending 
(pengeluaran)," seru Hatta. 

Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 18 triliun untuk 
ruang fiskal yang lebih luas. Sebagian besar dari anggaran tersebut akan 
diarahkan pada belanja kementerian dan lembaga untuk pembangunan infrastruktur. 
Menurutnya, ruang fiskal lebih longgar yang dapat digunakan untuk ekspansi 
ekonomi nasional itu dampak positif dari pengurangan subsidi bahan bakar minyak 
(BBM). 

Postur RAPBN 2014 dinilainya akan semakin baik juga karena belanja modal untuk 
infrastruktur yang semakin meningkat dibandingkan pada 2013, yaitu menjadi Rp 
208 triliun. 

"Angka itu untuk pembangunan infrastruktur besar sekali, ditambah lagi dengan 
belanja infrastruktur daerah yang juga cukup besar," ujarnya. 

Selain itu, ia menegaskan, alokasi anggaran dalam RAPBN 2014 pun akan 
diprioritaskan untuk program perlindungan sosial, temasuk untuk program Badan 
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang akan mulai dilaksanakan pada Januari 
2014. 

"Kami menilai alokasi anggaran untuk program-program perlindungan sosial juga 
paling penting," ia melanjutkan. 

Pemerintah, kata Hatta, berjanji akan lebih menyeimbangkan proporsi belanja 
barang dan belanja modal. Belanja barang yang tidak terkait langsung dengan 
belanja modal pun akan dihemat. 

Tapi sayang, pemerintah tetap tak menyadari sebagai negara yang katanya menuju 
kemajuan, harusnya ada dana cadangan nasional yang besar. Ibarat rumah tangga, 
selalu ada tabungan atau simpanan untuk berjaga-jaga di situasi darurat. 

Tapi apa lacur, alih-alih memiliki cadangan, APBN selalu didesain defisit 
setiap tahun. Tahun ini saja defisit dirancang hampir Rp 154,2 triliun atau 
1,49 persen terhadap PDB. Ironisnya sebagian besar dana utangan digunakan juga 
untuk menambal utang lama yang jelas tak produktif mendorong perekonomian. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kata Dani, defisit anggaran ini dilakukan di 
atas inoptimalisasi penerimaan dan inefisiensi belanja. 

"Ini jadi tidak berimbang, sehingga utang-utang baru yang ditarik tidak 
memberikan stimulus kepada perekonomian dalam negeri. Harusnya dengan adanya 
pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan pemerataan pembangunan, tidak ada 
ruang bagi pemerintah untuk menambah utang-utang baru," katanya. 

Tapi, sekali lagi, pemerintah tampaknya memang sudah cukup puas dengan 
klaim-klaim pencapaian ekonomi makro yang kinclong. Pertumbuhan ekonomi yang 
tetap tinggi dan berkualitas amat diperlukan untuk mengatasi tingkat 
pengangguran yang ada dan menampung angkatan kerja baru. Persoalan yang ada, 
pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama ini belum menciptakan lapangan kerja 
yang berkualitas. 

Investasi yang masuk faktanya belum menyentuh sektor riil yang merupakan sektor 
formal. Alhasil, dari 118 juta tenaga kerja per Agustus 2012, sebanyak 44,2 
juta orang (39,86 persen) bekerja di sektor formal, sementara 66,6 juta orang 
(60,14 persen) di sektor informal. 

Dari data ini dapat diartikan bahwa sebagian besar pekerja belum memiliki 
tingkat kesejahteraan yang memadai. Padahal, peran APBN bisa dianggap berhasil 
jika output-nya kebutuhan rakyat bisa terpenuhi dan kesejahteraan tak hanya 
retorika yang manis di bibir. 

Sumber : Sinar Harapan

+++++
http://www.shnews.co/detile-23537-sang-merah-putih-kini-tak-berkibar-lagi.html

Sang Merah Putih Kini Tak Berkibar Lagi 
Muhamad Nasir | Jumat, 16 Agustus 2013 - 17:48:19 WIB

: 550 



(SH/Muhamad Nasir.)
M Adjis (kiri), veteran (99) yang tak bisa melihat Merah Putih berkibar di 
halaman rumahnya. 
Sejak perayaan 17 Agustus beberapa tahun silam, mata tuanya jarang melihat 
Merah Putih.


Masa perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia yang penuh kepahitan, 
terkadang sampai mengorbankan jiwa dan raga, mungkin sulit untuk dibayangkan 
anak-anak muda masa kini. Sejak beberapa tahun lalu, tiap menjelang peringatan 
Hari Ulang Tahun (HUT) RI 17 Agustus, di beberapa tempat banyak orang yang 
tidak mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumah mereka. Sang Merah Putih 
agaknya hanya dibiarkan terlipat rapi dalam lemari, tanpa pernah berkibar di 
angkasa. 

M Adjis, seorang pejuang veteran berusia 98 tahun, kini telah berkurang 
kemampuan fisiknya. Pandangan dan pendengarannya tak begitu sempurna lagi, tapi 
semangat juangnya masih seperti ketika masih muda.

Dia mengungkapkan, dulu ketika berjuang keluar masuk hutan, berhari-hari bahkan 
berminggu-minggu mereka tidak makan nasi. “Untuk mengganjal perut, kami hanya 
makan daun-daunan,“ ungkapnya memulai cerita. 

Memang tidak mudah mengorek keterangan dari para pejuang veteran. Selain suara 
yang keluar dari bibir yang renta itu terlalu pelan, jawaban yang dikemukakan 
terkadang tak  nyambung dengan pertanyaan yang dilontarkan. 

Ketika ditanyakan kabarnya, Adjis menjawab, “Aku dari Bengkulu, dulu aku bawa 
pistol panjang rampasan dari tentara Belanda, pistol itu sekarang dak tahu lagi 
ke mana. Setelah merdeka, kami tidak memegang lagi senjata.” Lucu memang, 
menghadapi mereka yang sudah renta ini, kita yang lebih muda yang harus 
menyesuaikan diri dan memadankan pertanyaan dengan jawaban yang sering kali 
tidak sinkron.

Satu hal yang sangat disesalkan Adjis adalah sejak perayaan 17 Agustus beberapa 
tahun silam, mata tuanya sangat jarang melihat Sang Merah Putih berkibar di 
depan halaman rumah. Padahal bendera merupakan simbol kemerdekaan Indonesia 
yang diakui dunia. 

Demikian pula bendera kecil yang terbuat dari kertas minyak. Dulu, setiap 
perayaan HUT RI, bendera kecil ini menghiasi setiap lorong, bahkan warga bahu 
membahu menghias daerah sekitar mereka dengan bendera yang diikatkan dengan 
selembar benang. Kini, hanya segelintir kampung yang meramaikan HUT RI dengan 
hiasan-hiasan bernuansa perjuangan, bendera dan umbul-umbul.

“Dulu, waktu melihat bendera Merah Putih pertama kalinya berkibar, rasa lelah 
oleh perang hilang seketika. Kami langsung mengucapkan takbir seraya bersujud 
di depan bendera Merah Putih,” kenang Adjis, yang kini menetap di Desa 
Tebingabang, Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin, Sumatera Selatan. 

Sekarang, bukannya bendera Merah Putih, yang banyak dipasang justru umbul–umbul 
berbagai warna, yang dipasang baik di depan rumah maupun di depan 
kantor–kantor. “Tidak ada rasa cinta Tanah Air, padahal harga umbul-umbul 
tersebut lebih mahal dari harga sebuah bendera Merah Putih. Sebenarnya ini yang 
ingin saya tanyakan, bangsa kita ini sekarang sedang sakit parah yang tidak 
akan pernah kunjung sembuh,“ sahutnya. 

Lalu bagaimana dengan perhatian pemerintah? Adjis mengangap pemerintah sudah 
cukup baik memperhatikan nasib para veteran. Setiap bulan, Adjis bersama 
beberapa rekannya yang masih hidup mendapat bantuan dari pemerintah.

Memang para veteran tidak pernah berharap imbalan, rupiah demi rupiah yang 
diberikan pemerintah tidak akan pernah bisa menutupi biaya hidup mereka. Ini 
berbeda drastis dengan wajah para wakil rakyat, yang ingar bingar dengan segala 
kemewahan. Mereka yang duduk di kursi dewan selalu mengklaim dirinya sebagai 
wakil rakyat, namun perjuangan yang mereka lakukan sama sekali belum pernah 
dirasakan oleh masyarakat. 

Ironisnya, para wakil rakyat inilah yang justru menikmati "kue kemerdekaan’’. 
Mereka berlomba membeli barang mewah, mobil yang bagus dan rumah yang megah. 
Bahkan dana aspirasi yang diberikan oleh pemerintah kepada wakil rakyat 
mencapai miliaran rupiah. 

“Kami cukup senang, ada perhatian dari pemerintah. Kalaupun tidak ada, kami 
tidak akan marah. Masih ada anak dan cucu yang bisa memberikan kami makan, 
meski hanya ikan asin dan nasi putih,” tuturnya sembari mengangkat tangan, 
“Sekali merdeka, tetap merdeka!” 
Sumber : Sinar Harapan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke