Prinsip, saya banyak yang setuju dengan pikiran Sdr.Sugih Liawan. Pertama, rakyat harus disedarkan dan dipintarkan agar mereka bisa memilih sendiri jalan revolusi mana yang harus dipilih karena jang akan melakukan revolusi adalah rakyat itu sendiri dibawah pimpinan sebuah Partai pelopor yang akan mempanglimai mereka. Revolusi di Mesir dan juga di beberapa negeri-negeri Arab belum mencapai kemenangan yang sempurna karena tidak adanya sebuah Partai Pelopor yang memimpin rakyat beserta program politik yang disetujui oleh rakyat sebagai progran mereka sendiri. Akibatnya lebih banyak jatuh korban daripada kemenangan dan anarkisme selalu mewarnai gerakan revolusi rakyat. Kita tak usah terburu-buru membicarakan sosialisme yang mana yang akan kita tempuh karna yang terpenting adalah pembebasan rakyat terlebih dahulu dari penindasan dan penghisapan penguasa. Rakyat harus dididik politik dan disedarkan agar tidak terpengaruh oleh reklame dan propaganda besar-besarann dari luar negeri melalui terompet-terompet mereka yang menyebarkannya melalui berbagai media(dalam bahasa Indonesia dan oleh orang Indonesia). Mereka hanya mereklamekan kejayaan "sosialisme" yang dibangun dengan kapitalisme yang mereka sebut sebagai "mengkomuniskan para kapitalisme yang baik budi". Sedangkan ratusan juta rakyat miskin dan masih miskin di negerinya tidak tersibak dari kenyataan. Perbedaan antara kaya dan miskin yang semakin besar dan berkembang terus tidak pernah diurus dengan semestinya. Kita menolak sosialisme palsu bikinan luar negeri yang dijajakan melalaui para agen-agen yang diberi "honorarium" kecil kecilan tapi efektif bagi pembuat reklame. Kita punya sejarah dan pengalaman yang kaya raya akan kegagalan dan kebinasaan yang harus ditanggung oleh rakyat dan sebagian besar dari kegagalan dan malapetaka itu adalah juga datang dari luar negeri dalam bentuk propaganda politik mereka yang pernah kita mamah biak secara membabi buta di waktu yang lalu. Hal itu tidak boleh terjadi lagi. Kita harus selalu kritis terhadap semua propaganda dan reklame politik dari luar negeri yang pernah menyengsarakan rakyat Indonesia hingga saat ini.Yang kita tuju adalah revolusi rakyat Indonesia dan bukan revolusi yang dipindah-pindahkan dari negeri lain dan juga sosialisme di Indonenesia bukan sosialisme berciri khusus negeri lain. Salam, ASAHAN.
----- Original Message ----- From: Sugih Liawan To: [email protected] Sent: Sunday, October 13, 2013 11:47 PM Subject: Re: Fw: #sastra-pembebasan# Melihat Jalan Tiongkok Sosialisme yg kemungkinan cocok dilakukan di Indonesia adlh sosialisme marhaen,karna,itu diambil dr kondisi rakyat Indonesia sndr. Penjiplakan sosialisme dr negara lain adlh membawa petaka,krn keadaan masing2 negara berlainan,berbeda dgn Tiongkok,yg merupakan dataran besar dan begitu mudah u/melakukan mobilisasi umum,negara kita merupakan kepulauan yg terpisah oleh lautan,membutuhkan wkt u/mobilisasi ke suatu tmpt. Pertama kali yg hrs dilakukan adlh meng-edukasi rakyat apakah sosialisme tersebut,membuka pikiran yg selama ini ditutupi tabir oleh kaum imperalisme,di tutupi oleh pembodohan scr menyeluruh,maka dr itu awal dr revolusi adlh pemintaran rakyat,hingga rakyat menjadi pintar u/memilih mana yg baik dan mana yg buruk. Mungkin bila ada kata yg tdk berkenan mohon di maafkan . On 10/15/13, ASAHAN <[email protected]> wrote: > Indonesia masih terlalu dini untuk memikirkan memilih jalan Tiongkok atau > bukan. Indonesia hanya membutuhkan revolusi dan itu tidak bisa ditukar > dengan jalan lain. Bagaimana revolusi harus dijalankan, itu harus berunding > dengan rakyat. Di masa lalu PKI telah menentukan terlebih dulu bahwa > revolusi Indonnesia harus menempuh jalan revolusi Tiongkok yang ahirnya > gagal total dan bahkan revolusi a la Tiongkok tidak pernah dimulai. > Selebihnya merebak perdebatan intern Partai dan perdebatan Internasional > (GKI). Hasilnya, baik yang pro maupun kontra pendapat PKI, tidak ada yang > membela PKI di saat PKI dibasmi kaum reaksioner dalam negeri yang bekerja > sama dengan kaum Imperialis Amerika dan sekutunya. Ini sebuah pelajaran > besar dan tidak boleh tertjadi lagi. Pertama Indonnesia harus belajar dari > pengalamannya sendiri lalu belajar dari yang lain-lainnya. Mengekor sebuah > Partai atau negara lain adalah malapetaka besar. Sebelum membebaskan rakyat, > pertama harus membebaskan diri sendiri dari ideologi Oportunis kanan kiri > dan pragmatisme yang tidak berprnisip. "Sosialisme berciri Tiongkok" juga > berarti sosialisme yang tidak bisa ditiru di tempat lain dan itu logis saja. > Karenanya jauhkan pikiran untuk meniru sesuatu yang berciri khas dari tempat > lain untuk dipraktekkan di tempat sendiri. Dan juga harus tetap nuchter, > mawas diri terhadap reklame dan propaganda besar-besaran dari luar negeri. > Kita tidak perlu memamerkan mulut besar dalam keadaan kita sendiri belum > punya apa-apa. > ASAHAN. > > > > > > ----- Original Message ----- > From: Chan CT > To: GELORA_In > Sent: Sunday, October 13, 2013 11:02 AM > Subject: #sastra-pembebasan# Melihat Jalan Tiongkok > > > > > Melihat Jalan Tiongkok > > ChanCT > > > > Bagaimana seharusnya kita melihat “JALAN TIONGKOK”, setelah reformasi dan > keterbukaan, dengan menyatakan Jalan Sosialisme bercirikan Tiongkok dan > sudah berlangsung 30 tahun terakhir ini? Sementara orang menyatakan rasa > pesimis dengan mempertanyakan “Jalan Tiongkok bisa bertahan berapa lama > lagi?”, begitu tulisan Yang Jisheng, Wk. Redaktur “Yan Huang Chun Qiu” dan > ada juga yang menyanggah seperti tulisan Indarto Tan “Jalan China” dibawah. > > > > > Pada prinsipnya saya sependapat dengan Indarto Tan, Jalan Sosialisme > bercirikan Tiongkok ini akan terus lebih lanjut membawa Rakyat Tiongkok > membangun masyarakat adil dan makmur menjadi kenyataan, ... > > > > 1) Melihat sejarah budaya bangsa Tionghoa yang sudah berlangsung 5 ribuan > tahun itu. Dia akan menemukan jalan untuk meluruskan dirinya, kembali > mengatur dan menyempurnakan diri untuk terus maju lebih baik! Jalan bisa > saja berliku-liku, ... tapi tetap akan maju lebih baik dari tahun ketahun! > > Kalau boleh saya juga akan menumpangi, atau menambahkan apa yang saya > ketahui dan menjadi pemikiran saya akhir-akhir ini dalam melihat “Jalan > Tiongkok” yang banyak dikiritik dari kiri maupun dari kanan, ... mengingat > didalam PKT, Partai Komunis Tiongkok ini jelas nampak ada 3 faksi, pertama > faksi Ekstrimis Mao, yang menentang “Baratisasi”, “Demokratisasi, > Liberalisasi”, “Kapitalisasi” atau bahkan menuding PKT sudah “Menempuh jalan > KAPITALIS”. Katanya, Bo Xilai ini tergolong atau mewakili faksi Mao ini, > yang cukup kuat dukungannya di Da Lian dan Chong Qing, dimana Bo pernah > menjadi walikota-nya. Salah satu Web. Wu You Zhi Xiang 乌有之乡yang menjadi > trompetnya: ( http://www.wyzxsd.com/ ) > > Kedua Faksi Sosial-Demokrat, tapi mereka tetap tidak hendak disamakan > deengan Partai Sosial Demokrat di Eropah sekarang ini. BERBEDA tegas mereka. > Faksi ini antara lain, Li Rui, mantan sekretaris Mao dan dalam pengamatan > saya, Web. Yuan Huang Chun Qiu 炎黃春秋(http://www.yhcqw.com/index.html) inilah > trompet aliran faksi ini. Termasuk tulisan “Jalan Tiongkok bisa Bertahan > Berapa lama lagi?” adalah tulisan Yang Jisheng, Wk. Redaktur Web. ini. > > Dan Faksi ketiga, tentunya yang berkuasa sampai sekarang ini, yang katanya > mewakili pikiran Deng, sampai Xi Jinping. > > > > Bagaimana melihat “Jalan Tiongkok” yang sedang berlangsung ini, tentu saja > akan terjadi perbedaan pendapat. Sementara orang memandangnya hanya segi > negatif dan jatuh pesimis dari sudut pandang Faksi Pertama ekstrim kiri > maupun Faksi kedua ekstrim kanan. Perbedaan pendapat boleh saja terjadi, > bersuara dan didiskusikan setiap saat dengan baik-baik, ... Masalahnya > bagaimana Faksi ketiga, yang berkuasa sekarang ini bisa menemukan jalan > tengah yang masih bisa diterima kedua faksi lainnya. Yang lebih penting > lagi, janganlah karena berkuasa, lalu gunakan pentung kekuasaan menindas > faksi-faksi yang beda pendapat. Syukurlah, nampaknya dibeberapa tahun > terakhir ini, tokoh-tokoh faksi-faksi yang ada dalam PKT itu masing-masing > mempunyai kesadaran MEMPERTAHANKAN PERSATUAN dan HARMONISASI. Sama-sama > berpendapat, jangan melakukan perubahan yang berakibat kekacauan! Jadi, > faksi-faksi itu nampak masih bisa duduk bersama berdiskusi, sekalipun > berdiskusi cukup sengit, ...! Begitu mereka belajar menjalani DEMOKRASI, > ...! > > > > Dan, oleh karenanya dalam pemikiran saya, untuk menjawab “Jalan Tiongkok ini > bisa bertahan berapa lama?” tentunya melihat kemampuan faksi yang berkuasa > bisa menengahi kedua faksi yang lain sampai berapa lama? Selama faksi yang > berkuasa berhasil menengahi dan menyatukan kedua faksi yang ada untuk terus > memimpin rakyat membangun masyarakat adil dan makmur, selama itu PKT akan > tetap diterima dan dihormati 1,4 milyar Rakyat Tiongkok menjadi Partai > pemimpin yang berkuasa. Dan itu yang utama, mengkonsekwenkan reformasi > dibidang politik, yaitu kran DEMOKRASI itu bisa dibuka berangsur-angsur > lebih besar sesuai dengan peningkatan kesadaran dan tuntutan rakyat. > Menjadikan DEMOKRASI RAKYAT satu kenyataan yang sesuai dengan arti > sebenarnya. Dari Rakyat untuk rakyat dan dirasakan betul DEMOKRASI itu oleh > rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri! > > Dan untuk itu, ada betulnya juga, sementara orang menyatakan lebih dahulu > menemukan pelaksanaan DEMOKRASI yang lebih baik didalam PKT! Tidak mesti > harus jalankan multi partai. Bukankah dengan adanya faksi-faksi dalam PKT, > dan kalau demokrasi bisa berlangsung baik, hakekatnya sama sama dengan multi > partai diluar? Bahkan rasanya jangan berlakukan lebih lanjut PKT berada > diatas segalanya, bahkan diatas HUKUM yang berlaku! Berlakukanlah NEGARA > HUKUM, Partai juga harus TUNDUK pada HUKUM yang berlaku! Harus dilaksanakan > pemisahan kekuasan pemerintah dan PKT harus dipisah, begitu Mao sejak tahun > 1956 menetapkan, ... Dan tahun 1959 cukup memegang Ketua PKT dan Presiden > RRT dipegang Liu Shaochi. > > > > Berusaha menemukan sistem dan mekanisasi yang lebih baik dalam > menentukan/memilih pejabat berbagi tingkat, sehingga setiap pejabat > mendapatkan kontrol langsung dari massa yang dipimpin. Massa itulah yang > mengamati setiap kebijakan dan tindak tanduk pejabat, dan massa itulah yang > diberi kuasa menentukan/memilih pejabat yang dianggap paling baik. Mungkin > hanya dengan manajemen keterbukaan, tidak lagi segalanya tertutup dan cukup > ditentukan ketua seperti yang berlaku selama ini, bisa menutup lubang-lubang > berkorupsi-ria disetiap Departemen atau BUMN, ... Karena selama ini pejabat > ditunjuk dari atasan dan mempunyai kuasa terlalu besar untuk menentukan > sendiri, massa hanya bisa nurut “PERINTAH” atasan saja. > > > > 2) Dibidang ekonomi. Saya tidak paham ekonomi, tapi dari beberapa tulisan > yang mengulas masalah ekonomi Tiongkok sekarang ini, saya sependapat dengan > pemikiran yang menyatakan sistem ekonomi pasar bisa dipadu dengan sistem > ekonomi sosialis berencana. Yang seringkali disebut Ekonomi Pasar-Sosialis. > Justru perpaduan sistem Ekonomi pasar-sosialis inilah yang berhasil > mendorong pertumbuhan ekonomi nasional Tiongkok begitu dahsyatnya! Sekalipun > jelas sistim pasar dari sistem kapitalis yang akan menjurus bebas liberal, > merupakan KONTRADIKSI dengan sistem sosialis berencana yang diatur, kesatuan > dari 2 segi yang bertentangan. Bukankah segala hal ihwal didunia ini > merupakan kesatuan dari segi-segi yang bertentangan. Kalau Rencana yang > dibuat ternyata bertentangan dengan gerak PASAR saat itu, ya tentu rencana > itu akan kandas, harus dilakukan perubahan dan diperbaiki. Sebaliknya, > membiarkan gerak PASAR secara liberal, akhirnya meluncur berakibat krisis > yang menyulitkan Pemerintah yang berkuasa! Merupakan satu KESALAHAN yang > serius, harus diatasi! Begitu, terjadi krisis yang dihadapi AS dan berbagai > negara di Eropah, dan kesulitan untuk memulihkan ekonomi. Sedang di RRT yang > memadukan PASAR dan RENCANA, membuat ekonomi nasional Tiongkok maju dengan > dahsyatnya di 30 tahun terakhir ini! Yang penting jangan kebablasan saat > mengutamakan di-atur Pemerintah, jangan memutlakan RENCANA terlalu ketat > seperti dimasa Mao dengan samasekali mengabaikan PASAR. Itu seringkali bisa > terjadi kesalahan subjektive yang merusak jalan pertumbuhan ekonomi > nasional! Padukan PASAR dan RENCANA secara bijaksana saja, ... > > > > 3) Sebetulnya mana lebih unggul BUMN atau Kapitalis perorangan? Saya > perhatikan, satu Departemen atau Perusahaan, Bank atau Pabrik-industri, baik > itu swasta maupun milik negara, ... yang sangat menentukan adalah > manajemennya, CEO yang menjalankan kuasa eksekutif. Jadi, bukan “Hak-milik” > ditangan siapa, ditangan NEGARA atgau Kapitalis perseorangan. BUMN bisa > berhasil dengan baik, maju dengan pesat selama dipegang CEO yang baik, > sebaliknya Perusahaan Kapitalis juga bisa bankrut karena ketidak mampuan dan > kesalahan CEO nya! > > Diawal pelaksanaan politik Deng, Reformasi dan Keterbukaan tahun 1980, suara > sangat keras menuntut agar BUMN dilepas menjadi milik kapitalis > perseorangan, ... Pemerintah tetap memegang perusahaan vital yang menentukan > saja. Tapi setelah BUMN banyak berubah menjadi swasta, ... dalam persaingan > yang terjadi belasan-duapuluh tahunan, dalam 10 tahun terakhir ini, > khususnya setelah digempur krismon 2008, banyak perusahaan swasta itu > bankrut, ... menunjukkan BUMN itulah yang akhirnya tetap berjaya! Tentu saja > bukan hanya karena kekuatan kapital yang lebih besar, tapi juga ada > manajemen yang memang cukup bagus! Sementara orang menyatakan, setelah > banyak perusahaan-swasta bankrut, dan untuk melanjutkan usaha kembali > menjadi milik NEGARA, jadi BUMN lagi. > > > > > 4) Yang lebih menarik menurut saya harus diperhatikan dan TIDAK disinggung > oleh tulisan Yang Jisheng “Jalan Tiongkok bisa bertahan sampai kapan?” itu, > adalah ditetapkannya titik berat tugas PKT setelah Kongres-18 yl., membangun > kemakmuran desa-desa. Meningkatkan kesejahteraan PETANI didesa, menjadikan > desa-desa jadi Perkotaan, 城鎮化, boleh dikatakan “perkotaan” atau ada istilah > lain dalam bhs. Indonesia yang lebih pas? Dan sebagaimana dinyatakan target > pada pokoknya akan selesai tahun 2020 ini berhasil, artinya ditahun 2020 > berhasil meningkatkan kemakmuran desa menjadi perkotaan, mewujutkan > masyarakat sedikit lebih adil, maka saya yakin kepemimpinan PKT akan > diterima dengan baik oleh 1,4 milyar Rakyat Tiongkok dan dengan demikian > bisa dikatakan “Jalan Tiongkok Sosialisme bercirikan Tiongkok” akan > BERLANJUT dengan BERHASIL lebih baik! > > > > > -- -- Best regards, Sugih Liawan, S.T. CV. Margawana Jalan Syech Nanawi No.3, Rangkasbitung, Banten, INDONESIA Phone: 62 821 2513 8718 e-mail: [email protected] DISCLAIMER: This email and any information and/or attachment transmitted with it are confidential in all respects and may contain privileged material. As such, they are intended solely for the use of the individual or entity to whom or which they are addressed. Any review, retransmission, dissemination or other use of, or taking of any action in reliance upon this email, any information and/or attachment by individuals or entities other than the intended recipient is prohibited.
