Saya kira ,Guruh Soekarno Putra lebih matang berpolitik daripada kakak sulungnya yang baru-baru ini diangkat jadi "Professor Doktor"dalam ilmu politik oleh salah seorang pengagumnya. Guruh benar bila mengatakan rakyat Indonesia belum terdidik baik dalam berpolitik. Media Indonesia tidak hanya tidak membantu secara aktif mempertinggi kesedaran politk rakyat, tapi juga turut menyebarkan kenaifaan politik, menyebarkan retorika politik, membabi buta terhadap hasil survey dan kurang rasa tanggung jawab terhadap code etik Pers dan juga kepada masyarakat. Hasil survey yang tidak terkontrol obyektivitasnya mestinya cuma dimuat dalam format kecil saja di media dan bukan selalu dijadikan baliho sebagai berita pers. Guruh Soekarno Putra berani mengutarakan pendapat yang tidak menggembirakan bagi keluarga Soekarnao sendiri, tapi dia obyektif dan juga menetang politik dinasti dan kultus individu yang sedang dihidupkan dalam PDIP. Dalam soal pencalonan Presiden, Megawati tidak pernah bicara soal Budiman Sujatmiko. Saya pribadi secara politik berseberangan dengan Budiman Sujatmiko. Tapi secara kepantasan untuk capres, saya pikir Budiman Sujatmiko adalah yang paling pantas dari semua jajaran capres yang pernah disebut-sebut dan akan diusung PDIP. Budiman Sujatmiko(BS) mempunyai pengalaman politik praktis dan teoritis yang cukup panjang, pernah masuk penjara yang juga karena mendukung Megawati ketika itu dan dia jelas seorang yang cerdas yang dia buktikan dalam banyak tulisan-tulisannya. Seandainya saya punya hak pilih, saya tidak memilih BS bila dia resmi calon Presiden tapi saya tetap mendukung dia sebagai capres karena dialah capres yang pantas dan dibutuhkan saat ini. Beranikah Megawati berpikir sampai ke sana?. Jawabannya sudah pasti tidak. Megawati belum mampu untuk sampai berpikir ke Budiman Sujatmiko. Dan itulah masyarakat Indonesia sekarang. Politik masih diartikan survey, retorik dan segala macam rentetan kenaifan lainnya. ASAHAN
----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; 'Djoko Suyanto ; A Dahana ; A. Rahman Tolleng ; A.H. Amparita ; Abdillah Toha II ; Abidin Abidin ; Abuprijadi Santoso (Tosi) ; achmad Mubarok ; Achmad Sujudi Dr. ; Agus Abubakar ; Agus Widjojo ; Ahmad W. Pratiknya ; Ahmad Yani Basuki ; Ahmad Zen Umar Purba ; alfan alfian ; Ali Mohamad Sungkar ; AM Hendropriyono ; amran nasution ; Amris F. Hassan ; Andi Wijayanto ; Anwar Nasution,Prof. ; ASAHAN ; Asahan Aidit ; Astrid Suryo ; August Parengkuan ; B. J Habibie ; Bahtiar Effendy ; Bambang Harimurty ; Burhanuddin Abdullah ; Burhanuddin Muhtadi ; Chan ; chappy hakim ; Christianto Wibisono ; Daud Sinjal ; Dedy Jamaludin Malik ; Dewi Fortuna Anwar ; Dharmawan Ronodipuro ; Didik Rachbini, Professor Dr. ; Dinna Wisnu ; Donny Gahral Adian Dr. ; Dr. Joe Sulaiman ; Dr. Saafroedin Bahar ; Dr. Taufik Abdullah ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; Dr.Priyono Chpto Heriyono ; Endriartono Sutarto ; Endriartono Sutarto ; Erry Ryana Harjapamekas ; Fahmi Idris ; Fahrul Razi Jenderal ; Farid Prawiranegara ; Farouk Muhammad. ; ferry baldan ; Freddy Tulung ; Ganjar Pranowo ; halim perdanakusuma ; Handojo Priopranoto ; Hendri Saparini, Dr. ; HS Dillon ; Ibrahim Isa/Holland ; Ichsan Loulembah ; Ikrar Nusa Bhakti ; Indria Samego ; Ir. A.M. Luthfi ; ishaq iskandar ; Jayadi Hanan ; Joseph Daves ; Juwono Sudarsono ; Kiki Syahnakri ; Kusnadi Kardi ; Liddle, Bill ; Makmur Makka ; Mangadang Napitupulu ; Mar. Norman ; Mohamad Sobari ; mohtar Mas'oed ; Mustafa Kamal ; Pro.Dr. Bungaran Saragih ; Prof. Dr. Djoko Rahardjo ; Prof. Hikmahanto Yuwono ; Prof.Dr. Amir Santoso ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; R.M.A.B Kusuma ; Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms ; Retno L Marsudi ; Rizal Sukma ; RODON PEDRASON ; Rusadi Kantaprawira ; sabam sirait ; Salahuddin Wahid ; Salim Said ; sayidiman suryohadiprojo ; Sinansari Ecip ; sjafrie sjamsoeddin ; Syamsul Maarif ; Teddy P. Rachmat ; teddy sunardi ; Usep Setiawan ; Zaenal Muttaqin ; [email protected] ; Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] ; Harry Tjan Silalahi ; Sofyan Hasdam Sent: Friday, October 25, 2013 10:27 PM Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] Guruh: Jokowi, Puan, Megawati Tidak Layak Nyapres ---------- Forwarded message ---------- From: Salim Said <[email protected]> Date: 2013/10/26 Subject: Fw: [GELORA45] Guruh: Jokowi, Puan, Megawati Tidak Layak Nyapres To: "[email protected]" <[email protected]> On Saturday, October 26, 2013 2:09 AM, Sunny <[email protected]> wrote: http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/10/25/mv7u3f-guruh-jokowi-puan-megawati-tidak-layak-nyapres Guruh: Jokowi, Puan, Megawati Tidak Layak Nyapres Jumat, 25 Oktober 2013, 15:26 WIB Komentar : 4 Antara/Widodo S. Jusuf Guruh Soekarnoputra A+ | Reset | A- REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guruh Soekarnoputera menegaskan sikapnya menolak Joko Widodo sebagai calon presiden (capres) murni sikap pribadi. "Iya benar (tidak mau Jokowi nyapres). Tapi itu murni pendapat saya pribadi lho. Jangan dibuat seolah-olah ada yang mengendalikan saya. Tidak ada satu partai pun atau organisasi atau pihak mana pun yang bisa mengendalikan saya," katanya di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (25/10). Kapasitas dan kapabilitas Jokowi belum memenuhi syarat menjadi capres. Guruh mengatakan Jokowi masih perlu banyak hal yang harus dipelajari Jokowi. Dia mengatakan Jokowi sebaiknya menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. "Apalagi kalau jadi presiden itu kan harus tahu semua masalah. Harus tahu permasalahan internasional juga," ujarnya. Tingginya elektabilitas Jokowi dalam survei bukan ukuran dia layak menjadi pemimpin. Hal ini karena, menurut Guruh, mayoritas masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami politik. "Ya itu kan masalah survei. Hanya karena sering muncul di media kemudian jadi dipilih?," kata Guruh. Guruh mengatakan, pemahaman politik yang rendah di masyarakat terjadi karena selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru masyarakat hanya diajak berpikir pada hal-hal yang bersifat materialistis. Pemerintahan Orde Baru tidak pernah berupaya memberikan pendidikan politik yang baik ke masyarakat. Dia menilai, tidak ada satu pun figur nasional yang saat ini pantas diusung menjadi capres. "Tidak ada. Bahkan Puan pun menurut saya belum cocok untuk jadi capres. Masih banyak yang harus dia pelajari," katanya. Bagaimana dengan Megawati? Guruh mengatakan Megawati sudah tidak cocok lagi maju menjadi capres. "Juga tidak cocok. Sudah bukan zamannya lagi buat dia. Saya ini kan yang paling mengerti Ibu Mega," ujarnya. Guruh mengatakan, yang penting dilakukan di PDI Perjuangan sekarang adalah menguatkan konsolidasi di tingkat internal. Menurutnya perlu ada upaya keras untuk menjadikan ideologi Pancasila hidup dalam sikap politik partai maupun perilaku kader. "Kalau dari PDIP saat ini masih belum ada nama lah. Di partai lain juga," katanya. Reporter : M Akbar Wijaya Redaktur : Dewi Mardiani -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
