Kalau Gus Dur masih hidup barangkali Gus Dur akan bikang: "GITU AJA KOK REPOT"
Emangnya pekerjaan seorang dokter itu tidak boleh dikritik karna dianggap 
paling berjasa bagi semua pekerjaan kemanusiaan lainnya. Di Belanda (dan juga 
di negeri Barat lainnya) tidak jarang atau cukup sering para  dokter yang 
membikin pasien mati atau cacad seumur hidup karena kesalahan kecil hingga 
besar atau bahkan karena kebodohan dan keteledoran. Bahkan di Belanda, di jaman 
krisis ekonomi sekarang ini, rakyat yang berpengahasilan kecil meskipun sudah 
masuk asuransi kesehatan tidak berani ke dokter gigi karena tidak mampu 
membayar ongkos tambahan yang melonjak tinggi( dengan istilah apa yang 
dinamakan"eigen risiko"). Para dokter gigi memanfaatkan profesianya untuk 
memasang tarif tinggi hingga banyak pasien yang sakit gigi tidak lagi berani ke 
dokter gigi dan membiarkan giginya pada bolong-bolong atau ompong .Di kalangan 
rakyat, banyak yang mengeluh dan bilang: "Enak ya jadi dokter gigi, pada 
kaya-kaya". Dan itu memang kenyataan. Itu pendapat umum. Mengapa di Indonesia 
yang namanaya negeri"demokrasi", baru dibilang begitu saja kok, segolomgan 
intelektuil pada ngambek. Saya kira bukan sekedar mereka tidak tahu humor, tapi 
 memang justru di kalangan intektuil itulah yang belum matang hidup dalam alam 
demokrasi dan bukan rakyat Indonesia yang sering-sering dituduh belum matang 
untuk berdemokrasi. Namun bagaimanapun harus berhati-hati. Para dokter yang 
mudah tersinggung pernya itu punya pisau operasi yang sangat tajam. Kalau naik 
pitam   piso operasi bisa dijadikan belati. Masih banyak yang "intelektuil"nya 
masih tumpul.
ASAHAN

----- Original Message ----- 
  From: setYanto 
  To: [email protected] ; 'Ahmad Syafii Maarif' ; 
[email protected] ; 'Zainal Bintang' ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
'Wiryono Sastrohandoyo' ; [email protected] ; ''Djoko Suyanto' ; 'A Dahana' 
; 'A. Rahman Tolleng' ; 'A.H. Amparita' ; 'Abdillah Toha II' ; 'Abidin Abidin' 
; 'Abuprijadi Santoso (Tosi)' ; 'achmad Mubarok' ; 'Achmad Sujudi Dr.' ; 'Agus 
Abubakar' ; 'Agus Widjojo' ; 'Ahmad W. Pratiknya' ; 'Ahmad Yani Basuki' ; 
'Ahmad Zen Umar Purba' ; 'alfan alfian' ; 'Ali Mohamad Sungkar' ; 'AM 
Hendropriyono' ; 'amran nasution' ; 'Amris F. Hassan' ; 'Andi Wijayanto' ; 
'Anwar Nasution,Prof.' ; 'ASAHAN' ; 'Asahan Aidit' ; 'Astrid Suryo' ; 'August 
Parengkuan' ; 'B. J Habibie' ; 'Bahtiar Effendy' ; 'Bambang Harimurty' ; 
'Burhanuddin Abdullah' ; 'Burhanuddin Muhtadi' ; 'Chan' ; 'chappy hakim' ; 
'Christianto Wibisono' ; 'Daud Sinjal' ; 'Dedy Jamaludin Malik' ; 'Dewi Fortuna 
Anwar' ; 'Dharmawan Ronodipuro' ; 'Didik Rachbini, Professor Dr.' ; 'Dinna 
Wisnu' ; 'Donny Gahral Adian Dr.' ; 'Dr. Joe Sulaiman' ; 'Dr. Saafroedin Bahar' 
; 'Dr. Taufik Abdullah' ; 'Dr. Yuddi Chrisnandi' ; 'Dr.Priyono Chpto Heriyono' 
; 'Endriartono Sutarto' ; 'Erry Ryana Harjapamekas' ; 'Fahmi Idris' ; 'Fahrul 
Razi Jenderal' ; 'Farid Prawiranegara' ; 'Farouk Muhammad.' ; 'ferry baldan' ; 
'Freddy Tulung' ; 'Ganjar Pranowo' ; 'halim perdanakusuma' ; 'Handojo 
Priopranoto' ; 'Hendri Saparini, Dr.' ; 'HS Dillon' ; 'Ibrahim Isa/Holland' ; 
'Ichsan Loulembah' ; 'Ikrar Nusa Bhakti' ; 'Indria Samego' ; 'Ir. A.M. Luthfi' 
; 'ishaq iskandar' ; 'Jayadi Hanan' ; 'Joseph Daves' ; 'Juwono Sudarsono' ; 
'Kiki Syahnakri' ; 'Kusnadi Kardi' ; 'Liddle, Bill' ; 'Makmur Makka' ; 
'Mangadang Napitupulu' ; 'Mar. Norman' ; 'Mohamad Sobari' ; 'mohtar Mas'oed' ; 
'Mustafa Kamal' ; 'Pro.Dr. Bungaran Saragih' ; 'Prof. Dr. Djoko Rahardjo' ; 
'Prof. Hikmahanto Yuwono' ; 'Prof.Dr. Amir Santoso' ; 'Prof.Dr. Ryaas Rasyid.' 
; 'R.M.A.B Kusuma' ; 'Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms' ; 'Retno L Marsudi' ; 'Rizal 
Sukma' ; 'RODON PEDRASON' ; 'Rusadi Kantaprawira' ; 'sabam sirait' ; 
'Salahuddin Wahid' ; 'Salim Said' ; 'sayidiman suryohadiprojo' ; 'Sinansari 
Ecip' ; 'sjafrie sjamsoeddin' ; 'Syamsul Maarif' ; 'Teddy P. Rachmat' ; 'teddy 
sunardi' ; 'Usep Setiawan' ; 'Zaenal Muttaqin' 
  Sent: Sunday, December 01, 2013 1:32 AM
  Subject: RE: [alumnas-OOT] Fwd: Melecehkan Profesi Dokter, Wakil Ketua MK 
Dikecam


  Bangsa ini sedang menghadapi penyakit parah, stress berat, tidak ada sense of 
humor nya lagi... kata2 Wakil Ketua MK tersebut kan bernada humor dalam suatu 
acara yang tidak terlalu formal.. Kok selalu dikaitkan dengan penghinaan. 
walaupun substansinya ada benarnya juga...kayaknya ada yang salah dalam 
kurikulum di perguruan tinggi Indonesia, silahkan para ahlinya membincangkannya.

   

  Sps

  +++

   

  From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of Salim Said
  Sent: Sunday, December 01, 2013 7:05 AM
  To: alumnas-oot; Ahmad Syafii Maarif; [email protected]; Zainal 
Bintang; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
Wiryono Sastrohandoyo; [email protected]; 'Djoko Suyanto; A Dahana; A. 
Rahman Tolleng; A.H. Amparita; Abdillah Toha II; Abidin Abidin; Abuprijadi 
Santoso (Tosi); achmad Mubarok; Achmad Sujudi Dr.; Agus Abubakar; Agus Widjojo; 
Ahmad W. Pratiknya; Ahmad Yani Basuki; Ahmad Zen Umar Purba; alfan alfian; Ali 
Mohamad Sungkar; AM Hendropriyono; amran nasution; Amris F. Hassan; Andi 
Wijayanto; Anwar Nasution,Prof.; ASAHAN; Asahan Aidit; Astrid Suryo; August 
Parengkuan; B. J Habibie; Bahtiar Effendy; Bambang Harimurty; Burhanuddin 
Abdullah; Burhanuddin Muhtadi; Chan; chappy hakim; Christianto Wibisono; Daud 
Sinjal; Dedy Jamaludin Malik; Dewi Fortuna Anwar; Dharmawan Ronodipuro; Didik 
Rachbini, Professor Dr.; Dinna Wisnu; Donny Gahral Adian Dr.; Dr. Joe Sulaiman; 
Dr. Saafroedin Bahar; Dr. Taufik Abdullah; Dr. Yuddi Chrisnandi; Dr.Priyono 
Chpto Heriyono; Endriartono Sutarto; Erry Ryana Harjapamekas; Fahmi Idris; 
Fahrul Razi Jenderal; Farid Prawiranegara; Farouk Muhammad.; ferry baldan; 
Freddy Tulung; Ganjar Pranowo; halim perdanakusuma; Handojo Priopranoto; Hendri 
Saparini, Dr.; HS Dillon; Ibrahim Isa/Holland; Ichsan Loulembah; Ikrar Nusa 
Bhakti; Indria Samego; Ir. A.M. Luthfi; ishaq iskandar; Jayadi Hanan; Joseph 
Daves; Juwono Sudarsono; Kiki Syahnakri; Kusnadi Kardi; Liddle, Bill; Makmur 
Makka; Mangadang Napitupulu; Mar. Norman; Mohamad Sobari; mohtar Mas'oed; 
Mustafa Kamal; Pro.Dr. Bungaran Saragih; Prof. Dr. Djoko Rahardjo; Prof. 
Hikmahanto Yuwono; Prof.Dr. Amir Santoso; Prof.Dr. Ryaas Rasyid.; R.M.A.B 
Kusuma; Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms; Retno L Marsudi; Rizal Sukma; RODON 
PEDRASON; Rusadi Kantaprawira; sabam sirait; Salahuddin Wahid; Salim Said; 
sayidiman suryohadiprojo; Sinansari Ecip; sjafrie sjamsoeddin; Syamsul Maarif; 
Teddy P. Rachmat; teddy sunardi; Usep Setiawan; Zaenal Muttaqin
  Subject: [alumnas-OOT] Fwd: Melecehkan Profesi Dokter, Wakil Ketua MK Dikecam

   

    

   

  ---------- Forwarded message ----------
  From: barata media <[email protected]>
  Date: 2013/11/30



  Home ยป Hukum

  Melecehkan Profesi Dokter, Wakil Ketua tMK Dikecam
  Photo Gallery1 PhotoBy Sawerigading - Sat Nov 30, 10:31 am

    a.. 0 Comments
    b.. 5 views


  ARIEF HIDAYAT

  JAKARTA, BARATAMEDIA -  Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat 
membuat masalah dan mengundang reaksi protes keras dari tokoh akademisi. 

  Hal itu terjadi lantaran Arief Hidayat dianggap melontarkan sebuah pernyataan 
yang dianggap kurang arif bahkan tidak bermutu. 

  Arief Hidayat yang baru sebulan memangku jabatan sebagai Wakil Ketuja MK 
tanpa sadar telah membuat blunder. Terkait dengan adanya reaksi para dokter 
yang menolak dakwaan malpraktik yang dilakukan dr Ayu saat bertugas menangani 
pasien, tiba - tiba  Wakil Ketua MK Arief Hidayat berkomentar, bahwa 
"penanganan yang dilakukan dokter terhadap pasien lebih mudah daripada 
pekerjaan montir". 

  Komentar Arief Hidayat yang disiarkan sejumlah media online Sabtu pagi 
(30/11) kontan mengundang reaksi Prof. Bachtiar Effendi. Melalui pesan pendek 
kepada BARATAMEDIA Sabtu (30/11) Bachtiar mengatakan, "di tengah masalah 
kredibilitas MK yang belum terpulihkan, Wakil Ketua MK, Arief Hidayat justru 
berkomentar secara tidak bermutu", kata Bachtiar.

  Pernyataan Wakil Ketua MK yang menyebutkan, profesi montir jauh lebih sulit 
daripada profesi dokter, dinilai Bachtiar jelas-jelas adalah komentar yang 
sangat tidak bermutu, dan merendahkan profesi tertentu. "Tidak selayaknya 
seorang hakim MK, apalagi wakil ketua, mengeluarkan pernyataan seperti itu", 
tukasnya. 

  Lebih jauh dekan UIN (Universitas Islam Negeri) itu mengatakan, semestinya, 
para hakim MK itu fokus saja pada tugasnya, "yang untuk saat ini termasuk 
memperbaiki citra institusi MK yang sudah hancur-hancuran", ujar Bachtiar 
mengunci pernyataannya.

  Seperti diketahui, Arief Hidayat ketika berbicara dalam seminar 'Dekonstruksi 
Gerakan dan Pemikiran Hukum Progresif' di Hotel Patra Jasa, Semarang Semarang, 
Jawa Tengah, Jumat (29/11). mengatakan "penanganan yang dilakukan dokter 
terhadap pasien lebih mudah daripada pekerjaan montir". 

  "Jadi, profesi montir itu lebih sulit daripada profesi dokter," kata Arief 
setengah berseloroh. Komentar Arief disambut tawa sekitar 500 akademisi hukum 
yang memenuhi ruangan.

  Arief menyimpulkan pekerjaan dokter lebih mudah daripada montir lantaran 
hasil kerja dua profesi itu direspon berbeda oleh orang-orang. Montir lebih 
sering menerima respon tak mengenakkan dibandingkan dokter.

  "Dokter itu profesi paling enak. Yang menyembuhkan pasien itu Tuhan, tapi 
yang dapat honor malah dokter. Lalu kalau pasien sampai meninggal padahal sudah 
ditangani, dokter gampang saja tinggal bilang, 'Ini sudah nasib, saya sudah 
berusaha sekuat tenaga'," tutur Arief agak melucu.

  "Sedangkan montir mobil, kalau hasil kerjanya bagus maka kita bayar. Tapi 
kalau mobilnya malah tambah rusak, orang nggak akan bisa bilang, 'ini sudah 
jadi takdir'," sambung Arief disambut tawa seisi ruangan.

  Dr.Hilmi Rachman Ibrahin dosen FISIP Universitas Nasional Jakarta, termasuk 
yang menyesalkan ucapan Arief Hidayat. "Tidak pada tempatnya seorang akademisi 
melecehkan profesi seorang akademisi lainnya", kata Hilmi dalam percakapan 
dengan BARATAMEDIA, Sabtu (30/11). 

  "Pernyataan Arief Hidayat itu wajib hukumnya dikecam. Apalagi kasus yang 
seserius itu dijadikan sebagai guyonan. Itu jelas tidal etislah..", pungkasnya. 

  (Editor :Eko Yulianto)

   

  

ri emua pekerjaan kemanusiaan lainnya

Kirim email ke