http://wartaekonomi.co.id/berita19834/kisah-orangorang-miskin-yang-pergi-haji-bagian-i.html


Kisah Orang-Orang Miskin Yang Pergi Haji (Bagian I)
Oleh Cipto - Rubrik Nasional

17 November 2013 13:01:00 WIB

 
WE.CO.ID - Orang-orang miskin yang pergi beribadah haji ke Tanah Suci agaknya 
bukan hanya ada dalam sinetron seperti "Mak Ijah Pengen ke Mekkah" atau "Tukang 
Bubur Naik Haji".

Bahkan, di Jawa Timur pada musim haji 2013 ada tukang becak, juru parkir, 
pemulung, pedagang rongsokan, loper koran, dan sebangsanya yang menunaikan 
ibadah haji.

Agaknya, cara yang ditempuh orang-orang miskin untuk bisa bertandang "Rumah 
Allah" (Baitullah) di Masjidilharam atau ke "Rumah Nabi" di "Roudloh" (Masjid 
Nabawi) itulah yang menarik direnungkan.

Misalnya, Abdullah bin Saiful Hadi (57), bapak dua anak serta tiga cucu asal 
Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang berangkat bersama Kloter 62/Surabaya pada 
tanggal 8 Oktober 2013.

Abdullah yang hanya lulusan SD itu bisa mewujudkan niatnya menyempurnakan Rukun 
Islam yang kelima dalam kurun waktu hampir 26 tahun.

Sejak remaja, dia memang sudah terbiasa dengan kehidupan yang cukup keras sebab 
orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya walau Abdullah akhirnya bisa 
sekolah dengan gratis karena ada yang membiayainya.

Sepulang sekolah, Abdullah mencari "rupiah" dengan menjadi pengayuh becak. 
Namun, sejak 1987 selalu menyisihkan uangnya hasil jerih payahnya sebagai 
pengayuh becak dan kuli panggul di Pasar Mangli Jember untuk mewujudkan 
keinginannya ke Tanah Suci itu.

Bayangkan, setiap hari uang yang disisihkan Abdullah dalam tabungannya hanya 
sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000, kecuali hari Minggu karena toko-toko yang ada 
libur.

Dengan kesabaran dan ketekunannya, Abdullah mendaftarkan dirinya ke bank untuk 
mendapatkan nomor porsi pada tahun 2009 kendati sejumlah rekannya sering 
mengolok-olok dirinya.

"Penghasilan sebagai tukang becak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan 
keluarga. Namun, saya bersama almarhumah istri tetap menyisakan uang receh sisa 
dari belanja kebutuhan keluarga untuk ditabung," paparnya.

Saat itu, hanya tersisa sekitar Rp17 juta karena sering diambil untuk kebutuhan 
yang mendadak, termasuk menikahkan anaknya.

Untuk bisa mendapat porsi haji pada tahun itu harus tersedia dana Rp20 juta, 
maka akhirnya ditambahi tabungan milik istrinya Rp3 juta sehingga mencukupi.

Guna memenuhi kekurangan biaya haji diikhtiarkan dengan mengikuti arisan di 
kampungnya, yaitu Dusun Klanceng, Kecamatan Ajung, Jember.

"Saya sangat bersyukur akhirnya bisa berangkat haji. Di depan Kakbah, saya 
doakan almarhumah istri yang telah meninggal dunia pada tahun 2011, serta 
memohon rezeki lancar dan barokah serta haji yang mabrur," tuturnya.

Menabung Sejak 2008 Cerita yang tak jauh berbeda juga dialami Djumain, seorang 
juru parkir motor di pertokoan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang 
tergabung dalam Kloter 44 yang berangkat ke Tanah Suci pada tanggal 2 Oktober 
2013.

Dengan meneteskan air mata seolah tak percaya, dia menceritakan tentang 
bagaimana mewujudkan niatnya untuk bisa menunaikan Rukun Islam yang kelima.

Keseharian dirinya sebagai seorang juru parkir motor tentu sangatlah sulit 
dibayangkan bisa berangkat haji walaupun dibantu istrinya, Sulismani, yang 
menerima pesanan kue-kue.

"Akan tetapi, Allah berkehendak lain, tiba-tiba saya tergerak untuk selalu 
menyisihkan penghasilan saya yang sekitar Rp700 ribu setiap bulan untuk 
sebagian dimasukkan tabungan haji sejak 2008," ucap penderita polio sejak kecil 
itu.

Selang setahun, dengan bantuan saudara-saudaranya, dia pun langsung 
mendaftarkan diri untuk bisa mendapatkan nomor porsi berangkat haji, sampai 
pada saat pelunasan pun mampu terpenuhi walaupun cukup bersusah payah untuk 
semua itu.

Padahal, pada tahun 2011, Djumain yang bapak dari empat anak itu mengalami 
kecelakaan saat mengendarai motor akibat tertabrak mobil. Dia pun tidak 
sadarkan diri dan siuman saat sudah berada di RSSA Malang.

"Kaki dan tangan saya patah dan kaki kanan saya harus dipen serta tangan kiri 
dengan perawatan selama 20 hari. Alhamdulillah, saya tetap bisa berangkat 
bersama istri walaupun harus menggunakan tongkat penyangga untuk berjalan," 
tukasnya.

Di Mekah, dia berdoa untuk rumah tangga yang sakinah mawadah wa rohmah, 
rezekinya lancar dan barokah, dan pendidikan anak yang masih kuliah lancar 
serta ilmunya bermanfaat bagi keluarga dan negara.

Ikhtiar yang tidak jauh berbeda juga dilakukan seorang waria asal Jember, Jawa 
Timur, Sutika bin Marwapi (42), yang berangkat menunaikan ibadah haji pada 
tahun 2012.

Waria asal Desa Cangkring Baru, Kecamatan Jenggawah, Jember yang berprofesi 
sebagai pedagang di Pasar Jenggawah itu mengaku dirinya berasal dari keluarga 
miskin, lalu dirinya merantau ke Bali untuk bekerja.

"Di Bali, pikiran saya terbuka untuk berdagang dan saya mengumpulkan uang untuk 
menunaikan ibadah haji agar saya tidak malu di hadapan keluarga, lalu saya 
mendaftarkan haji pada tahun 2008 dan akhirnya ditakdirkan berangkat pada hari 
Senin (15/10/2012)," ujarnya.

Takdir yang membanggakan dirinya itu membuatnya untuk bersemangat mengingatkan 
kaumnya (waria) untuk tetap menjalankan ibadah secara maksimal, termasuk 
beribadah haji.

"Saya mengajak teman-teman waria yang belum punya uang untuk umroh," papar 
waria yang sempat kesulitan mendaftar haji sebagai wanita sesuai perasaan 
hatinya hingga akhirnya ke Tanah Suci dengan identitas sebagai laki-laki.

Ya, Sutika bin Marwapi tidak hanya mampu menanggulangi kebutuhan dana pergi 
haji yang tidak murah, tetapi dia pun mampu menaklukkan perasaan hatinya 
(sebagai wanita), karena keinginannya naik haji justru lebih kuat dari perasaan 
hatinya. (Ant/Edy M. Ya'kub) BERSAMBUNG

Redaksi

Foto: jatim.kemenag.go.id



+++++
http://wartaekonomi.co.id/berita19835/kisah-orangorang-miskin-yang-pergi-haji-bagian-ii.html

Kisah Orang-Orang Miskin Yang Pergi Haji (Bagian II)
Oleh Cipto - Rubrik Nasional

17 November 2013 14:01:00 WIB

 
WE.CO.ID - Tidak hanya tukang becak, juru parkir, dan pedagang pasar, tetapi 
orang-orang miskin yang lebih miskin dari mereka dan bisa menunaikan ibadah 
haji ke Tanah Suci juga ada.

Adalah Kariyati binti Halil (69) contohnya. Janda empat anak dan 11 cucu asal 
Desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jatim, itu tergabung 
dalam Kloter 42/Probolinggo.

Perjuangan Kariyati untuk mewujudkan niatnya ke Tanah Suci berlangsung cukup 
lama, yakni kurang lebih 20 tahun. Selama itu, dia berupaya menyisihkan 
penghasilannya dari memungut barang-barang bekas.

Ya, nenek Karyati adalah pemulung yang setiap hari mengumpulkan gelas plastik 
bekas air mineral, kardus, dan kertas yang dipungutnya dari beberapa tempat 
sampah di Wuluh, Leces, probolinggo.

Pekerjaan itu terkadang dilakoni hampir seharian, yaitu pagi siang sore dan 
malam dan hasilnya pun sekitar Rp20 ribuan, meski terkadang ada orang yang 
berbelas kasihan dengan memberinya uang antara Rp100 ribu.

Recehan demi recehan dikumpulkan Kariyati dan ditabungkan ke bank sampai 
puluhan tahun hingga akhirnya terkumpul dana cukup untuk mendaftarkan dirinya 
guna mendapatkan porsi berangkat haji.

Sisanya, dia belikan sapi untuk persiapan pelunasan, bahkan pekerjaan sebagai 
pemulung masih dilakoni hingga beberapa saat menjelang keberangkatannya ke 
Tanah Suci.

"Selama mengikuti manasik haji, Kariyati juga masih selalu membawa peralatan 
sebagai pemulung, bahkan gelas bekas air mineral dan kardus bekas snack setelah 
manasik pun masih dipungut satu per satu," tutur ketua rombongan 7, Hadi.

Idem dito, perjuangan yang cukup berat dan panjang juga dilakukan Kusdi Jainem 
beserta istrinya, Sutini, yang tergabung dalam Kloter 30 asal Magetan.

Selama kurang lebih hampir 10 tahun lalu, Kusdi dengan modal pas-pasan memulai 
usaha sebagai pedagang rongsokan berupa besi-besi yang tidak layak pakai atau 
sudah dibuang.

Sebagai pedagang rongsokan, dia menerima rongsokan itu dari para pengepul 
barang rongsokan dari desa ke desa, lalu barang rongsokan itu dipilah-pilah dan 
selanjutnya disetorkan ke pengepul besi langganannya.

Nah, hasil dari itu dikumpulkan sediki demi sedikit, lalu dia belikan hewan 
ternak berupa sapi yang masih kecil, kemudian dipelihara.

Setelah sapi itu besar, lalu dijual untuk dibelikan lagi sapi ukuran sedang 
tetapi jumlahnya dua ekor, kemudian dipelihara lagi hingga besar dan layak jual 
dengan harga tinggi.

Begitu seterusnya hingga akhirnya Kusdi beserta istri mampu mendaftarkan 
dirinya untuk berangkat haji, bahkan pelunasan biaya haji pun dipenuhi dengan 
terus menjalankan usaha rongsokan dan memelihara sapi itu.

Tantangan juga datang dari warga sekitar. "Kan kerjanya hanya sebagai pedagang 
rongsokan saja, kok bisa berangkat haji?" begitu olok-olok tetangganya.

Namun, setelah dia mampu membuktikan bisa melunasi biaya haji, Kusdi dan Sutini 
pun berbalik menjadi inspirasi bagi warga sekitarnya hingga ada delapan orang 
tetangga yang juga turut mendaftar berangkat haji.

"Saya sengaja tidak menyimpan atau menabung uang hasil usaha ke bank karena 
kalau disimpan di bank tidak akan mendapatkan hasil sebesar hasil dari 
berternak sapi sehingga saya tidak akan mungkin bisa berangkat haji sekarang 
(2013)," ucap Kusdi.

67--95 Persen Rasanya, tidak hanya pemulung dan pedagang rongsokan yang sulit 
dipercaya bisa menunaikan ibadah haji, tetapi perginya seorang loper koran juga 
tidak bisa dinalar.

Adalah warga Dusun Juwet, Kelurahan Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten 
Jombang, Jawa Timur, Mohammad Anwar yang bisa mewujudkan cita-citanya ke Tanah 
Suci berkat ketekunan dan kesungguhannya.

Bapak tiga orang anak dan empat cucu itu sehari-hari menjadi loper koran sejak 
1992 dengan pelanggan kurang lebih 60 pelanggan.

Setiap bulan, dia menyisihkan penghasilannya sebesar Rp300 ribu hingga Rp500 
ribu untuk ditabung. Cara itu dilakukan setelah mendapat saran dari seorang 
kiai di kampungnya.

"Sekitar lima tahun lalu, saya mampu membeli sepeda motor Supra Fit, tetapi 
Kiai Haris Munawir (pengurus MWC NU Perak) memberi saran 'nek awakmu pengin 
lungo kaji, dolen sepedamu' (kalau kamu ingin berangkat haji, jual saja sepeda 
motormu)," ungkap Anwar.

Tentu, saran Kiai Haris Munawir itu memicu perdebatan yang cukup panjang antara 
dirinya dan sang kiai. Namun, sang kiai mampu memberi motivasi hingga akhirnya 
dirinya merelakan motornya dijual untuk segera mendaftarkan haji ke bank.

Setelah mendapatkan nomor porsi, Anwar bersama ketiga anaknya yang semuanya 
menjadi guru di Jombang itu pun menabung untuk bisa melunasi biaya hajinya pada 
tahun 2013.

"Alhamdulillah, saya akhirnya bisa melunasinya, malah ada kelebihan sekitar 
satu jutaan yang bisa jadi uang saku, selain living cost dari pemerintah," 
tukas anggota Kloter 12/Jombang itu.

Agaknya "orang miskin pergi haji" itu bukan fakta yang kecil sebab Panitia 
Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi/Debarkasi Surabaya mencatat 
mayoritas haji asal Jawa Timur dari kalangan miskin.

"Mungkin yang bisa dianggap dari kelompok kaya adalah kalangan BUMN, tetapi 
jumlahnya hanya 1,13 persen, sedangkan mayoritas justru dari kalangan petani, 
ibu rumah tangga, PNS, pelajar, pedagang, swasta, anggota TNI/Polri, dan 
lainnya," kata Sekretaris PPIH Embarkasi/Debarkasi Surabaya H.M. Asyhuri di 
Surabaya (3/11).

Ia menjelaskan bahwa haji asal Jatim pada tahun 2013 berjumlah 28.448 orang 
yang meliputi swasta sebanyak 9.060 orang atau 31,85 persen, lalu ibu rumah 
tangga yang mencapai 5.390 orang atau 18,95 persen.

Selanjutnya, petani sebanyak 5.118 orang atau 17,99 persen, PNS sebanyak 4.685 
orang (16,47 persen), pedagang 2.231 orang (7,84 persen), dan pelajar 519 orang 
(1,82 persen).

Dari kalangan TNI/Polri mencapai 304 orang atau 1,07 persen dan kelompok 
lain-lain sebanyak 820 orang atau 2,88 persen. "Satu lagi dari kalangan BUMN 
sebanyak 321 orang atau 1,13 persen," katanya.

Menurut dia, data haji di Jatim dari tahun ke tahun juga menunjukkan data yang 
hampir sama dengan dominasi kalangan swasta, petani, PNS, ibu rumah tangga, dan 
pedagang.

"Kalangan swasta itu bisa nelayan, tukang becak, dan sejenisnya, sedangkan 
pedagang juga umumnya pedagang kecil di pasar, pracangan (pedagang kelontong). 
Jadi, 95,09 persen orang tak mampu," tandasnya.

Namun, katanya, jika kalangan swasta dianggap mampu dan ditambah dengan 
kalangan BUMN, jumlahnya pun mencapai 9.381 orang atau 32,98 persen.

"Artinya, haji Jatim berasal dari kalangan yang tidak mampu masih berjumlah 
67,02 persen orang atau hampir 70 persen, padahal kalangan swasta umumnya juga 
bukan swasta kelas atas," kilahnya. (Ant/Edy M. Ya'kub)


Redaksi

Foto: jatim.kemenag.go.id

Kirim email ke