Para tokoh dan Pemimpin PKI yang digambarkan seperti bandit, algojo atau 
bajingan dalam film "Pemberontakan G30SPKI" tidak pernah diprotes dan dituntut 
agar film itu dilarang beredar yang bahkan hingga era "Reformasi" sekarang ini. 
Apakah "demokrasi" di jaman Orba lebih baik dari sekarang?.
Persoalannya bukan dengan maksud mempromosi suharto dan memerosotkan bung Karno 
tapi adalah soal kultus individu yang tak boleh disentuh serta pemeliharaan 
sistim dinasti dalam sistim perpolitikan Indonesia yang ingin terus 
dilanggengkan.
Masyarakat Indonesia bukannya masih mentah dan memberikan apresiasi yang 
positif terhadap film "Soekarno". Justru sebaliknya, rakyat Indonesia sudah 
cukup kritis terhadap sesuatu yang nampaknya kontraversil. Mereka tidak 
berdemonstrasi menuntut agar film "Soekarno"dilarang dan dikutuk. Mereka diam 
atau menyuarakan pendapatnya dari mulut ke mulut dan justru yang ribut-ribut 
cuma kaum elite-nya dan pihak yang langsung bersangkutan. Tapi dengan telah 
campur tangannya pihak Kapolri (polisi) atas desakan keluarga Soekarno, itu 
membuktikan bahwa demokrasi Indonesia lagi-lagi mengalami cobaan dan lagi-lagi 
gagal: dari budaya bakar buku dan sekarang menjalar ke budaya larang film. Ini 
bukan contoh yang baik terutama dari keluarga Soekarno. Protes dan bertentangan 
pendapat adalah hak setiap orang tapi main larang dengan memaksa polisi campur 
tangan hingga pelarangan, itu sudah jauh melampaui  batas pelanggaraan 
demokrasi.  Apa lagi yang diperbolehkan di Indonesia sekarang ini: rok mini 
masuk 
 Parlemen dilarang(korupsi tidak) apa saja yang dianggap porno dilarang, buku 
yang ditulis tapi beda selera dengan Penguasa, dilarang, film dilarang, belum 
lagi soal halal dan haram. Memberikan ucapan selamat hari Natal, dilarang (bila 
muslim). Apakah sudah begitu berat rindunya untuk kembali ke jaman suharto 
tanpa suharto. Kalau sistim demokrasi sudah penuh dengan segala macam larangan 
lantas apanya yang  demokrasi. Dan kalau Pemerintah MEMBIARKAN alat negaranya 
(polisi) membeslah atau melarang peredaran film "Soekarno" apakah ini PEMBIARAN 
yang positif?. Rakyat Indonesia semakin tidak bisa membedakan yang mana yang 
"kiri"dan mana yang kanan. Warna baju dan suara hatinya kok sama.
ASAHAN.



----- Original Message ----- 
From: Chalik Hamid 
To: Perhimpunan Persaudaraan ; Jaringan Kerja Indonesia ; 
[email protected] ; [email protected] 
Sent: Saturday, December 21, 2013 6:23 AM
Subject: [wahana-news] Trs: [GELORA45] Puteri Bung Karno: Film Soekarno 
Menyesatkan!





Pada Sabtu, 21 Desember 2013 5:11, Chan CT <[email protected]> menulis:

  
Miris, Masyarakat Terima Film Soekarno Layaknya FilmG30S/PKI
http://www.rmol.co/read/2013/12/15/136622/Miris,-Masyarakat-Terima-Film-Soekarno-Layaknya-Film-G30S/PKI-
 
Minggu, 15 Desember 2013 , 20:03:00 WIB
Laporan: Hendry Ginting

       
      FOTO/NET    
     
     
RMOL. Pikiran masyarakat Indonesia masih dangkal dalam menyikapi film-film 
sejarah yang penuh pelintiran. Film Soekarnogarapan sutradara Hanung Bramantyo 
misalnya. Meski jauh dari fakta sesungguhnya dan penuh dengan pelintiran, namun 
masyarakat memperlihatkan apresiasi yang positif.

Begitu dikatakan Guruh Soekarnoputra kepada wartawan di Jakarta (Minggu, 
15/12). Ia mengaku miris dengan kemunculan film Soekarno yang menurutnya 
bertolak belakang dengan karakter Bung Karno dan fakta sejarah.

Kondisi ini, lanjut putra Bung Karno tersebut, sama seperti saat masyarakat 
menerima secara mentah-mentah ketika sejarah bangsanya sendiri yang sarat 
dengan pelintiran di filmG30S/PKI yang dibuat di masa Orde Baru. 

"Nah akibatnya kita rasakan saat ini. Buah pahit yang ditanam Orba sekarang 
kita nikmati," ujar Guruh.

Dia mengatakan, Bung Karno diturunkan dari jabatannya sebagai presiden oleh 
rezim Orba yang didalangi pihak luar. Nah, di saat itulah kuku kaum neolib 
menyusup masuk menguasai bangsa Indonesia. Bahkan reformasi 1998, kata dia, 
merupakan grand design mereka.

"Bagi saya film itu seperti bermakna to kill Soekarno," tegas Guruh 
Soekarnoputra. [ian]


Baru Diputar Dua Hari, Master Soekarno Disita Pengadilan
Jum'at, 13 Desember 2013 , 12:03:00 WIB
Laporan: Ade Mulyana

       
      ARIO BAYU/NET     
     
     
RMOL. Konflik antara Rachmawati Soekarnoputri dan Raam Punjabi mengenai 
pembuatan film Soekarno berujung pada keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 
yang meminta Raam Punjabi menghentikan penyiaran dan pemutaran film itu di 
bioskop-bioskop. 

Konflik ini terjadi karena Raam Punjabi dianggap melanggar pokok-pokok 
kesepakatan sebelum film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu diproduksi. 
Rachmati memasang pengumuman di harian Kompas mengenai keputusan PN Jakarta 
Pusat yang memenangkan gugatannya. 

"Hari ini Jurusita Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyita master film Soekarno 
di kantor Multivision di kawasan Kuningan, Jakarta," ujar Sekretaris Yayasan 
Pendidikan Sukarno, Ristiyanto, dalam pesan yang diterima redaksi beberapa saat 
lalu. 

Film Soekarno adalah film komersial pertama tentang Bung Karno dan peristiwa 
menjelang pembacaan Proklamasi Kemerdekaan. Sementara kalangan menilai film 
yang baru diputar dua hari di bioskop-bioskop itu lebih mengutamakan aspek 
komersial tanpa memberikan perhatian yang cukup pada aspek kesejarahaan dan 
national character building. 

Film ini dibintangi antara lain oleh Ario Bayu, Maudy Koesnaedy, Lukman Sardi, 
Tanta Ginting, Tika Bravani dan Budiman Sudjatmiko. [dem]

Ajaran Bung Karno Ingin Dikubur Lewat Film Soekarno
Minggu, 15 Desember 2013 , 18:26:00 WIB
http://politik.rmol.co/read/2013/12/15/136614/Ajaran-Bung-Karno-Ingin-Dikubur-Lewat-Film-Soekarno-
Laporan: Hendry Ginting

       
      GURUH SOEKARNO/NET     
     
     
RMOL. Di republik ini ada kelompok yang menginginkan agar ajaran Soekarnoisme 
dikubur selama-lamanya. 

Film Soekarno garapan sutradara Hanung Bramantyo yang dinilai banyak pihak jauh 
dari fakta sesungguhnya dan terkesan tak menghormati Bung Karno sebagai Bapak 
Bangsa, membuat senang hati kelompok tersebut.

Demikian dikatakan putra Bung Karno, Guruh Soekarnoputra, kepada wartawan di 
Jakarta, Minggu (15/12).

"Di bangsa ini ada gerakan de-soekarnoisasi. Mereka ingin ajaran Bung Karno 
terkubur," kata Guruh Soekarnoputra.

Dia mengatakan dengan pemutaran film tersebut, sadar atau tidak sadar, 
orang-orang yang selama ini getol melakukan desoekarnoisasi bisa masuk dari 
film Soekarno tersebut. [ian]


Guruh Soekarnoputra: Film Soekarno Kejar Tayang
http://politik.rmol.co/read/2013/12/15/136611/Guruh-Soekarnoputra:-Film-Soekarno-Kejar-Tayang-
 
Minggu, 15 Desember 2013 , 17:56:00 WIB
Laporan: Hendry Ginting

       
      GURUH SOEKARNOPUTRI/NET     
     
     
RMOL. Presiden Soekarno termasuk  ke dalam golongan orang-orang yang mendapat 
kelebihan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena itulah pembuatan film tentang 
sosok Bung Karno tak boleh sembarangan. 

Hal ini dikatakan salah seorang putra Bung Karno, Guruh Soekarnoputra, merespon 
kontroversi film Soekarno garapan produser Raam Punjabi dan sutradara Hanung 
Bramantyo. 

Guruh mencermati banyak hal yang tak sesuai dengan fakta sejarah juga karakter 
Bung Karno sendiri dalam film yang mulai 11 Desember kemarin, resmi diputar dan 
beredar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia tersebut. 

Dari segi sinematografi, diakuinya film Soekarno digarap cukup baik. Tapi dari 
sisi sejarah, ia miris melihat penggambaran karakter Bung Karno yang jauh dari 
sesungguhnya. Bahkan cenderung tidak menghormati Soekarno. 

Sebagai salah seorang pemimpin besar dan tokoh yang turut mempersiapkan segala 
sesuatu untuk melepas bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, menurut Guruh, 
tidak selayaknya sutradara sekaliber Hanung membuat film tentang sosok Soekarno 
secara sembarangan dan tanpa riset sejarah yang utuh. Ia menangkap ada kesan 
dipaksakan pembuatannya di tengah sengketa hukum. 

"Terkesan kejar tayang. Sebab yang saya dengar pihak produser dan sutradara 
menggarap film itu tanpa diketahui Rachma (yang memiliki ide awal pembuatan 
film)," kata Guruh kepada wartawan di kediamannya di Jalan Sriwijaya V No 27, 
Jakarta Selatan, Minggu (15/12). [wid]


Jika Kapolri Serius, Stop Putar Film Soekarno di Bioskop-bioskop!
Minggu, 15 Desember 2013 , 15:31:00 WIB
Laporan: Widya Victoria

       
      FOTO/RMOL     
     
     
RMOL. Laporan pelanggaran hak cipta dalam pembuatan film Soekarno yang 
dilayangkan Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri 
tak bisa dianggap sepele. 

"Kapolri harus melihatnya sebagai sesuatu yang serius," tegas Ketua Presidium 
Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu 
(15/12). 

Keseriusan Kapolri dalam melihat kasus itu, menurut Neta penting agar tidak 
dipolitisasi yang justru bisa merusak atau menghancurkan nama baik Presiden RI 
pertama, Soekarno. Selain itu, dengan diprosesnya laporan Rachmawati akan 
menunjukkan bahwa Kapolri tak pandang bulu dalam menegakkan hukum di negeri 
ini. 

Kendati pada kenyataannya, ia nilai sangat ironis jika Polri masih membiarkan 
film Soekorno garapan produser, Ram Punjabi dan Hanung Bramantyo diputar di 
bioskop-bioskop. Hal ini tentu membuat publik bertanya-tanya apakah oknum 
kepolisian mendapatkan sesuatu hingga membiarkan film Soekarno masih diputar 
sampai hari ini padahal sedang dalam proses hukum. 

"Pertanyaan itulah yang harus dijabat Kapolri dengn sikap tegas, yakni 
memproses kasus ini dan menghentikan penayangan film Soekarno," demikian Neta. 
[wid]


Neta S Pane Desak Kapolri Tindaklanjuti Laporan Rachmawati
Minggu, 15 Desember 2013 , 14:52:00 WIB
Laporan: Widya Victoria

       
      NETA S PANE/NET     
     
     
RMOL. Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane mendesak 
Kapolri Jenderal Sutarman untuk menindaklanjuti laporan dari Ketua Pembina 
Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri atas pelanggaran hak 
cipta yang dilakukan produser Ram Punjabi dan Hanung Bramantyo dalam pembuatan 
film Soekarno. 

"Laporan Rahmawati harus ditindaklanjuti Kapolri agar kasus ini cepat 
diselesaikan dengan tuntas," kata Neta saat dihubungi Rakyat Merdeka Online, 
Minggu (15/12). 

Menurut Neta, setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan Kapolri dalam 
laporan Rachmawati tersebut. 

Pertama, sebut dia, kasus ini menyangkut nama baik dan nama besar tokoh 
proklamator RI, Soekarno yang seyogyanya dijaga segenap bangsa Indonesia. 
Kedua, laporan ini dilakukan oleh putri kandung tokoh proklamator RI yang 
senantiasa selalu menjaga nama baik dan nilai-nilai perjuangan ayahandanya, 
Soekarno.

Terlebih lagi, laporan itu menyangkut pelanggaran hak cipta dan pengingkaran 
terhadap kesepakatan tentang kerja sama pembuatan film berjudul Soekarno. Hal 
keempat yang juga harus diperhatikan Kapolri adalah masih diputar film Soekarno 
sampai sekarang di bioskop, padahal kasusnya sedang ditempuh  ditempuh oleh 
Rachma. Neta mengingatkan, jika masa putar film tersebut sudah habis maka 
tuntutan dan kasus hukum menyangkut film ini akan kehilangan nilai. 

"Untuk itu Polri harus segera memerintahkan agar bioskop-bioskop menghentikan 
pemutaran film Soekarno," desak Neta. 

Seperti diketahui, kasus pelanggaran hak cipta ini telah dilaporkan ke Polda 
Metro Jaya yang telah memeriksa tiga saksi ahli yang membenarkan unsur 
pelanggaran karya cipta. Selain itu, Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri 
Jakarta Pusat dalam surat bernomor 93/Pdt.Sus-Hak Cipta/2013/PN. Niaga Jkt.Pst 
telah memerintahkan penyitaan master film serta melarang Ram Punjabi dan Hanung 
Bramantyo melanjutkan pemutaran film itu di bioskop.[wid]

Rachmawati Minta Perlindungan Hukum dari Mabes Polri
Minggu, 15 Desember 2013 , 10:36:00 WIB
Laporan: Ruslan Tambak

       
      RACHMAWATI SOEKARNOPUTRI/NET     
     
     
RMOL. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, 
telah mengirimkan sepucuk surat kepada Kapolri Jenderal Sutarman. Dalam surat 
yang dikirimkan Sabtu siang kemarin (14/12/2013), Rachmawati meminta 
perlindungan hukum berkaitan dengan pelanggaran hak cipta yang dilakukan 
produser Ram Jethmal Punjabi dan Hanung Bramantyo dalam pembuatan film 
Soekarno. 

Di dalam surat itu, Rachma menjelaskan kronologi kasus pencurian karya cipta 
yang sedang ditangani Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 
ini, dan Polda Metro Jaya. 

"Ide pembuatan film mengenai Bung Karno ini berasal dari Mbak Rachma. Beliau 
menyutradarai opera Dharma Githa Maha Guru mengenai Bung Karno pada tahun 2011 
dan 2012 di Taman Ismail Marzuki. Selain opera, Mbak Rachma punya obsesi lain 
mengangkat kisah kehidupan Bung Karno dan perjuangan bangsa Indonesia ke layar 
lebar," ujar jurubicara Rachma, Teguh Santosa, dalam keterangan yang 
disampaikan hari Minggu (15/12). 

"Lalu Mbak Rachma dipertemukan dengan Ram Punjabi dan Hanung Bramantyo. Tapi 
dalam perjalanannya Mbak Rachma ditinggalkan," sambungnya.

Dalam perjalanannya, setelah membedah dua naskah skenario, pihak Ram Punjabi 
dan Hanung Bramantyo meninggalkan Rachmawati dan memulai produksi. 

Kasus pelanggaran hak cipta ini telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya yang telah 
memeriksa tiga saksi ahli yang membenarkan unsur pelanggaran karya cipta. 
Selain itu, Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam surat 
bernomor 93/Pdt.Sus-Hak Cipta/2013/PN. Niaga Jkt.Pst telah memerintahkan 
penyitaan master film serta melarang Ram Punjabi dan Hanung Bramantyo 
melanjutkan pemutaran film itu di bioskop.

"Mbak Rachma juga bertanya kepada Kapolri apakah Ram Punjabi dan Hanung 
Bramantyo kebal hukum karena faktanya hingga hari ini film itu masih 
ditayangkan di bioskop," demikian Teguh.[rus]

Puteri Bung Karno: Film Soekarno Menyesatkan!
Jum'at, 13 Desember 2013 , 13:58:00 WIB
Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi

       
      RACHMAWATI/NET     
     
     
RMOL. Film Soekarno yang disutradarai Hanung Bramantyo benar-benar menyesatkan. 
Hampir semua cerita dalam film itu justru memutarbalikkan fakta sejarah.

"Semua cerita diputarbalikkan di skenario film, bukan menceritakan kebesaran 
Soekarno, tapi ketokohan Syahrir," kata puteri Bung Karno, Rachmawati 
Soekarnoputri, dalam keterangannya Kamis malam (12/12).

Di antara cerita itu, misalnya salah satu adegan yang  menggambarkan pada malam 
16 Agustus 1945. Di malam itu, naskah proklamasi disusun bersama-sama antara 
Soekarno dan Hatta. Rachmawati menolak adegan ini.

Rachmawati, yang juga pendiri Yayasan Bung Karno, juga tidak menyetujui adegan 
saat Soekarno ditempeleng tentara Jepang. Saat ditempeleng tentara Jepang 
karena menolong warga yang ditembak, Soekarno dibela pimpinan tentara Jepang.

"Banyak informasi dan cerita dalam film Soekarno yang menyesatkan. Saya 
keberatan," kata Rachmawati, yang sejak awal tak setuju Ario Bayu sebagai 
Soekarno.

Sejak awal, Rachmawati Soekarnoputri merasa dilangkahi Hanung Bramantyo dan 
Raam Punjabi yang tidak menepati kerjasama. Sejak awal proses persiapan film 
pula, Rachmawati menilai film ini telah melecehkan Soekarno. [ysa]







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke