Kalau orang mengemis "penghargaan" pada senibudayawan borjuis Neoliberal lalu 
ternyata cuma dipermainkan saja tentu yang berjiwa pengemis memang dongkol, 
penasaran dan bringas. Tapi kalau yang akan diberi penghargaan sedar bahwa itu 
bukan haknya karna tidak sesuai dengan keyakinan yang dimilikinya dan 
menganggap bila menerima hadiah atau penghargaan demikian adalah keliru, maka 
bukan makian dan umpatan yang akan dilontaarkan tapi kebanggaan  atas 
kepribadian diri yang kuat dan tidak bisa disogok .Seniman itukan biasa 
dianggap orang sebagai manusia biasa saja tapi istimewa dalam menjaga dan 
mempertahankan kepribadian karakternya. Berani membedakan yang palsu  dari yang 
murni dan sedar bahwa sastra dan seni itu bukan hanya semata fiksi tapi fiksi 
yang menyebarkan kenyataan dan kebenaran ledalam hati ummat manusia. 
Tidak ada tempat untuk kebanggaan palsu.
ASAHAN.
  ----- Original Message ----- 
  From: isa 
  To: Salim Said ; Bismo Gondokusumo ; [email protected] ; 
alumnas-oot ; Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] ; Fadli Zon 
; [email protected] ; Wiryono Sastrohandoyo ; 
[email protected] ; Djoko Rahardjo ; [email protected] ; 'Djoko 
Suyanto ; A Dahana ; A. Rahman Tolleng ; A.H. Amparita ; Abdillah Toha II ; 
Abidin Abidin ; Abuprijadi Santoso (Tosi) ; achmad Mubarok ; Achmad Sujudi Dr. 
; Agus Abubakar ; Agus Widjojo ; Ahmad W. Pratiknya ; Ahmad Yani Basuki ; Ahmad 
Zen Umar Purba ; alfan alfian ; Ali Mohamad Sungkar ; AM Hendropriyono ; amran 
nasution ; Amris F. Hassan ; Andi Wijayanto ; Anwar Nasution,Prof. ; ASAHAN ; 
Asahan Aidit ; Astrid Suryo ; August Parengkuan ; B. J Habibie ; Bahtiar 
Effendy ; Bambang Harimurty ; Burhanuddin Abdullah ; Burhanuddin Muhtadi ; Chan 
; chappy hakim ; Christianto Wibisono ; Daud Sinjal ; Dedy Jamaludin Malik ; 
Dewi Fortuna Anwar ; Dharmawan Ronodipuro ; Didik Rachbini, Professor Dr. ; 
Dinna Wisnu ; Donny Gahral Adian Dr. ; Dr. Joe Sulaiman ; Dr. Saafroedin Bahar 
; Dr. Taufik Abdullah ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; Dr.Priyono Chpto Heriyono ; 
Endriartono Sutarto ; Erry Ryana Harjapamekas ; Fahmi Idris ; Fahrul Razi 
Jenderal ; Farid Prawiranegara ; Farouk Muhammad. ; ferry baldan ; Freddy 
Tulung ; Ganjar Pranowo ; halim perdanakusuma ; Handojo Priopranoto ; Hendri 
Saparini, Dr. ; HS Dillon ; Ichsan Loulembah ; Ikrar Nusa Bhakti ; Indria 
Samego ; Ir. A.M. Luthfi ; ishaq iskandar ; Jayadi Hanan ; Joseph Daves ; 
Juwono Sudarsono ; Kiki Syahnakri ; Kusnadi Kardi ; Liddle, Bill ; Makmur Makka 
; Mangadang Napitupulu ; Mar. Norman ; Mohamad Sobari ; mohtar Mas'oed ; 
Mustafa Kamal ; Pro.Dr. Bungaran Saragih ; Prof. Dr. Djoko Rahardjo ; Prof. 
Hikmahanto Yuwono ; Prof.Dr. Amir Santoso ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; R.M.A.B 
Kusuma ; Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms ; Retno L Marsudi ; Rizal Sukma ; RODON 
PEDRASON ; Rusadi Kantaprawira ; sabam sirait ; Salahuddin Wahid ; Salim Said ; 
sayidiman suryohadiprojo ; Sinansari Ecip ; HUSEIN R ; SALIM SAID ; Tjing Siauw 
; teddy sunardi ; Usep Setiawan ; Zaenal Muttaqin 
  Sent: Friday, January 10, 2014 6:51 PM
  Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- MANIFESTASI KEBOBROKAN DAN KEBEJATAN,,<Skandal 
Kebudayaan Di Penghujung Th 2013>,,Pelaku: Akademi Jakarta (AJ)


  Kolom IBRAHIM ISA

  Jum'at, 09 Januari 2014
  -------------------------------- 



  MANIFESTASI KEBOBROKAN DAN KEBEJATAN 

  <Skandal Kebudayaan Di Penghujung Th 2013>

  Pelaku: Akademi Jakarta (AJ)




  * * *




  Salah satu siaran di e-mail dan juga di Facebook tampil dengan berita 
mengenai peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Jakarta. Suatu SKANDAL 
kebudayaan. Pelakunya adalah sebuah lembaga di Jakarta bernama AKADEMI JAKARTA. 
Ketua Akademi Jakarta (AJ) adalah Taufik Abdullah. 




  Sekali tempo ada diberitakan bahwa Taufik Abdullah sebagai intelektuil budaya 
dan sastra, pernah “menganalisis” bahwa seorang penyair (dulunya Lekra) bernama 
Mawi Ananta Joni, sudah mengetahui sebelumnya akan meletusnya peristiwa yang 
kemudian terkenal sebagai G30S. Sungguh suatu “analisis” yang lebih banyak 
berbau fitnah ketimbang suatu hasil pemikiran seorang cendekiawan.. . . . 
Diberitakan bahwa Taufik Abdullah memperoleh gelar kesarjanaannya dari Jurusan 
Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM Yoyakarta(1961). . . . .Bayangkan . . 
Taufik Abdullah adalah sarjana jurusan Sejarah dan Sastra & Budaya . . .




  Yang ditulis di pers sebagai SKANDAL KEBUDAYAAN itu pasalnya adalah 
“pembatalan” oleh Akademi Jakarta (AJ), atas keputusan Dewan Juri Memberikan 
Penghargaan AJ 2013 pada Martin Aleida , bersama seorang lagi, I Gusti Kompiang 
Raka. Tanpa penjelasan AJ menentukan I Gusti Kompiang dan membatalkan putusan 
Dewan Juri yang dibentuknya sendiri, dan menolak Martin Aleida.




  * * *




  APA IYU YANG PASANG MEREK “AKADEMI JAKARTA”

  Akademi Jakarta (AJ) adalah suatu Dewan Kehormatan bagi Seniman dan 
Budayawan, juga sebagai Dewan Penasihat bagi Gubernur DKI Jakarta di bidang 
seni dan budaya. AJ didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 1970 untuk 
jangka yang tidak ditentukan. 




  Rapat Dewan Juri yang diadakan pada tanggal 15 November 2013 di Kantor AJ di 
TIM, mengambil keputusan secara bulat memilih Martin Aleida sebagai penerima 
Penghargaan AJ 2013. Nah, keputusan bulat Dewan Juri yang memilih MARTIN ALEIDA 
sebagai penulis yang diberikan Penghargaan AJ 2013, inilah yang “dicoret”, 
“dibatalkan” secara sewenang-wenang tanpa alasan ataupun penjelasan apapaun.




  Berhubung ulah-polah sementara piminan AJ yang berlawanan dengan “visi dan 
misinya”,maka konon, tahun 2011 Ignas Kleden pernah terdengar mau mengundurkan 
diri, tahun 2012 kabarnya Goenawan Mohamad telah mengundurkan diri. Dan yang 
lebih dahulu mengundurkan diri adalah Tatiek Malayati.




  Dalam sebuah analisisis dinyatakan bahwa: .. “Aktualisasi pemberian 
Penghargaan AJ ini tidak memperlihatkan kepedulian pada pemikiran-pemikiran 
yang aspiratif dalam mendorong kesadaran masyarakat pada nilai-nilai sejarah, 
perlawanan, dan pembelaan atas pencapaian karya yang membawa pencerahan dalam 
perkembangan kesenian dan kebudayaan”.




  Sesungguhnya dengan skandal yang dilakukannya itu pentolan-pentolan tertentu 
di AJ, seperti Taufik Abdulah dengan gamblang mencerminkan keboborokan dan 
kebejatan moral mereka.







  * * *




  Salah satu sumber media mengenai karya-karya MARTIN ALEIDA, a.l menulis:




  “Cerpen-cerpen karya Martin Aleida kerap mengangkat tema tentang 
kejadian-kejadian tahun 1965 dengan penekanan pada pengalaman-pengalaman para 
korbannya. Kini Martin Aleida menjadi salah satu anggota dari Komite Sastra 
Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.




  * * *




  Salah seorang kritikus sastra, cendekiawan budayawan bernama DR Katrin 
Bandel, dosen pada Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta, menulis tentang 
penulis MARTIN ALEIDA, a.l sbb: 




  “Di Indonesia masa kini spanduk bertuliskan “Waspadai Bahaya Laten Komunis” 
dan slogan sejenisnya tetap bermunculan di jalan-jalan raya. Media massa dan 
buku pelajaran kembali menggunakan singkatan “G30S/PKI”. 





  “Sastra tampaknya sampai saat ini masih relatif bebas dari “penertiban” 
ideologis semacam itu. Tapi sampai kapan? Dan bagaimana kita mesti menilai 
kenyataan bahwa tema 65 begitu jarang dijadikan fokus utama dalam karya sastra 
Indonesia seperti yang saya katakan di awal tulisan ini? Sebagai tanda 
ketidakpedulian? Tanda ampuhnya brainwashing yang dilakukan Orde Baru? Atau 
sebagai tanda terjadinya usaha terselubung untuk mengesampingkan pelurusan 
sejarah?





  “Bagi saya karya-karya Martin Aleida sangat berarti sebagai bagian dari 
perjuangan melawan pemalsuan sejarah Indonesia yang terus berlangsung, 
sekaligus sebagai alternatif terhadap mainstream sastra Indonesia yang 
cenderung mengutamakan sensasi, seks, dan permainan bahasa tanpa makna dan 
tujuan yang jelas. Semoga karyanya tidak akan pernah mengalami penyensoran, dan 
mendapat penghargaan yang sepantasnya.***(cetak miring dan tebal, oleh I.I.)





  * * *





  Kesewenang-wenangan, kecerobohan tindakan Akademi Jakarta telah memperoleh 
kritik keras dari Dewan Juri yang pembentukannya adalah oleh AJ. Dewan Juri 
dengan tegas menyatakan bahwa AJ sepantasnya mensahkan pilihan Dewan Juri yang 
dibentuknya sendiri. Bila AJ bersikeras dengan ksewenang-wenangananya maka 
Dewan Juri akan mengundurkan diri keseluruhannya, sebagai pernyataan protes 
keras.





  Berikut ini a.l. Pernyataan Dewan Juri, sbb:





  “Kami menyadari bahwa kami diberi tugas sebagai juri, jadi kami melaksanakan 
tugas kami mengajukan dua nama tersebut sebagai penerima penghargaan. Jikalau 
Akademi Jakarta ternyata menganggap hanya boleh satu penerima penghargaan maka 
tim juri memilih sdr. Martin Aleida, karena nama inilah yang kami sepakati 
secara bulat sejak awal. Mengingat surat dari pihak AJ telah menetapkan 
pemberian penghargaan pada tanggal 28 Desember, kami memohon agar keputusan ini 
dikembalikan kepada pilihan awal kami yaitu sdr. Martin Aleida. Jika AJ 
menganggap pilihan kami tidak tepat, maka kita bersepakat untuk tidak sepakat 
dan dengan sangat menyesal tim juri mengundurkan diri dari ajang penghargaan 
ini dan meminta agar nama kami tidak dicantumkan sama sekali sebagai juri.

  Semoga pihak AJ bisa saling menghormati keputusan kami. Terima kasih atas 
kerjasama dan perhatiannya.



  Hormat kami,




  Sri Astari Rasjid (Ketua Juri)

  Leila S. Chudori (Anggota Juri)

  Ardjuna Hutagalung(Anggota Juri)

  Marselli Sumarno(Anggota Juri)

  Jamal D. Rahman (Anggota Juri)




  * * *




  Kasus penolakan, pencoretan nama penulis MARTIN ALEIDA sebagai penerima 
Penghargaan Akademi Jakarta 2013, bukanlah semata-mata merupakan masalah 
pelanggaran terhadap hak seseorang penulis untuk memperoleh penghargaan sesusai 
keputusan Dewan Juri. Soalnya jauh l;ebih besar. Masaalahnya menyangkut 
pertanyaan sbb .. . . mau diarahkan kemana perkembangan sastra dan budaya 
kita?? Mau kembali ke periode rezim Orde Baru?




  Tidakkah peristiwa skandal kebudayaan ini membangunkan, membangkitkan dan 
menggugah para sastrawan dan budayawan, jurnalis dan krtitikus sastra “kita” 
untuk meremungkan dalam-dalam dan mengambil sikap yang tegas. . . . melawan 
tindakan sewenang-wenang Akademi Jakarta terhadap penulis MARTIN ALEIDA. 




  Dengan demikian mendorong maju perkembangan sehat dan kritis kehidupan dunia 
sastra dan budaya kita.




  * * *

Kirim email ke