FPI dan polisi(kekuatan bersenjata negara) melakukan pembubabaran demi 
pembubaran terhadap setiap kumpul-lumpul dari eks tapol atau korban 65. Sudah 
waktunya untuk menarik pengalaman dan juga pelajaran dari tindakan pembubaran 
yang dilakaukan  oleh FPI/Polisi tsb. Negara itu punya mata-mata atau dinas 
rahasia yang selalu siang malam memantau setiap kegiatan,  gerak para bekas 
tawanan suhartO dan korban 65 pada umumnya. Setiap kumpul-kumpul yang mereka 
anggap legal atau setengah legal akan selalu  menjadi sasaran pembubaran 
(sementara ini masih begitu, selajutnya mungkin pemenjaraan atau terror). Orang 
dewasa apalagi yang sudah lansia semestinya sanggup berpikir kalau sesuatu 
terjadi berulang-ulang dan merugikan diri sendiri mengapa harus diulangi dan 
bukannya dipikirkan dan berbuat dan bertindak secara lain agar pengulangan yang 
bisa berbahaya itu tidak  akan semakin berbahaya. Hidup bersama rezim  yang 
sekarang ini tidak bisa mengandalkan akal sehat apalagi adu otak dengan mereka. 
Bukannya mereka bodoh tapi justeru  mereka terlalu pintar untuk main tangkap, 
main bubarkan, main ancam dan ahirnya mengarah ke terror dan pemenjaraan. Apa 
yang masih diharapkan untuk berdialog "cerdas"dengan mereka?. Itu tindakan 
bunuh diri atau "ksatria non intelektual": menantang harimau lapar berdialog.
Percaya pada UU "demokratis" mereka? .Itu namanya naif. Apa tidak cukup 
pengalaman terror yang dilakukan oleh suhartO terhadap PKI? ,Kumpul-kumpul 
legal atau setengah legal bagi eks tapol dan korban 65,  itu tidak ada dalam 
kamus rezim yang sekarang dan bila terus saja dilakukan atau diulangi itu 
namanya bunuh diri perdata. Kalau mau kumpul , kumpullah di tempat yang aman 
dan kalau mau diskusi diskusilah tentang nasib rakyat bangsa ini dan carilah 
tempat yang aman dan jangan sok ksatria yang ahirnya diganyang FPI dan polisi. 
Alasan kumpul kangen dan bicara soal-soal kehidupan tidak akan masuk ke otaknya 
FPI dan polisi dan mengapa harus diulang-ulang terus? Ini bikin gemes rakyat 
dan orang-orang yang besimpati ahirnya jadi benci. Rakyat itu lebih benci kader 
yang bodoh daripada kader yang korupsi. Kader yang bodoh selalu menyeret rakyat 
ke jurang terror dan penangkapan. Kader korupsi makan uang negara dan negara 
adalah koruptor terbesar. Rakyat tidak punya uang, tidak ada yang bisa dikorup, 
yang dikorup adalah harta benda negeri dan sogokan modal asing yang mereka 
terima. Di masa lalu kader-kader bodoh PKI telah begitu banyak menyeret rakyat 
ke lembah kesengsaraan. Jangan ditambah-tambah lagi. Kalau ingin berjuang, 
berjuang yang betul. Tapi kalau cuma ingin kumpul-kumpul arisan, minta surat 
izin yang legal dan undang para intel turut serta menikmati hidangan pertemuan 
arisan. Dan ingat TAP MPRS/25/1966 selalu menyeringai dan bisa diberlakukan 
setiap detik atau dibiarkan bila mereka mau. Setiap kelalaian adalah satu 
kebodohan dan setiap kebodohan akan langsung mencelakakan rakyat.
ASAHAN. 

  ----- Original Message ----- 
  From: MiRa 
  To: sastra pembebasan 
  Sent: Monday, February 17, 2014 6:34 PM
  Subject: [wahana-news] “Rapat” Eks Tapol Dibubarkan? Simbiosis FPI dan 
Aparat? Oleh Matakucingku


    



  “Rapat” Eks Tapol Dibubarkan? Simbiosis FPI dan Aparat?

  Oleh Matakucingku

  REP | 17 February 2014 | 02:31 

  Siang, Minggu [16/2/2014] sekitar pukul 13.00 WIB, saya mendapat telepon dari 
ibu. Beliau mengabarkan bahwa ayah saya, Ngunandar, bersama 10 orang kawannya, 
sekitar pukul 11.00 WIB dibawa oleh “intel” kepolisian di Semarang, karena 
dianggap mengadakan rapat ilegal. Selain intel, menurut penjelasan kakak saya, 
Dyah Bintarini, yang juga sempat dibawa ke kantor polisi, ada anggota FPI yang 
sebelumnya mengancam “menyerbu” kalau pertemuan tidak dibubarkan.

  Ada beberapa hal menarik dari peristiwa yang dialami ayah saya dan 
kawan-kawannya, yang notabene memang mantan tahanan politik dari Nusakambangan 
dan Pulau Buru. Benar, ayah saya dulu adalah anggota Partai Komunis Indonesia 
[PKI]. Dan itulah yang kemudian “dibesar-besarkan” oleh beberapa media yang 
entah kebetulan atau tidak, sudah standby di rumah keluarga kami, di Srondol 
Kulon, Banyumanik Semarang.

  Menurut penjelasan ayah kepada saya, kumpul-kumpul –betul, istilahnya memang 
begitu yang dipakai—dengan beberapa kawan dan sahabat, yang kebetulan memang 
eks tapol ini, sudah dirancang jauh-jauh hari. Dan bukan kali pertama hal itu 
dilakukan. Ibarat kekerabatan, nyaris setiap bulan mereka bergiliran menjadi 
tempat untuk sekadar ngobrol, makan bareng dan diskusi ringan soal kenegeraan. 
Oh ya, beliau yang saya maksud adalah ayah dan teman-temannya yang rata-rata 
sudah berusia 70 tahun ke atas. Jadi ngumpul sudah seperti klangenan saja buat 
mereka.  Apalagi kemudian kondisi ayah saya sedang sakit, jadi sekaligus 
membezuk ayah.

  Dan inilah “keanehan” yang kemudian muncul. Sekitar pukul 11.00 Tiba-tiba 
muncul dua orang berjubah putih, berjanggut dan mengaku anggota FPI. Mereka 
datang diantar anggota kepolisian [intel], dan meminta kumpul-kumpul ini 
dibubarkan. Kalau tidak, kata dua orang ini, akan diserbu oleh kawan-kawannya 
–mungkin anggot FPI lainnya—yang sudah siap meluncur ke lokasi.  Jelas-jelas 
ancaman “penyerbuan” itu dilontarkan oleh anggota FPI itu, tapi yang terjadi 
adalah ayah dan 10 kawannya diminta ikut ke mobil polisi yang sudah menunggu 
diluar. 3 orang –termasuk ayah dan kakak saya—dibawa ke Poltabes Kalisari, 
sisanya dibawa ke Polsek Banyumanik.  Dan saya tidak tahu, kemana anggota FPI 
yang tampaknya merasa “berjasa” sudah membubarkan acara kumpul-kumpul priyayi 
sepuh itu.

  Ternyata pula, sudah ada beberapa wartawan yang ikut dalam kejadian itu. 
Nanti akan saya ulas beritanya. Dan ternyata pula, beberapa jam sebelumnya, 
sudah ada angota polisi yang ngetem di dekat rumah “menunggu” anggota FPI 
datang. Lucu bukan? Bukan FPI yang diamankan, apalagi ada embel-embel menyerbu, 
tapi para pinisepuh yang sedang kumpul yang dibawa dan diinterogasi. 
Beruntunglah kakak saya yang ikut dibawa adalah salah satu caleg dapil 1 Jawa 
Tengah, seorang yang bekerja di lembaga bantuan hukum di Jakarta. Paling tidak, 
punya kapabilitas menjelaskan kepada polisi-polisi dan FPI itu,  hak dan 
kewajiban aparat ketika melakukan aksinya.

  Saya sangat yakin, polisi dan FPI tentu akan kebingungan kalau diajak diskusi 
tentang komunisme, marxisme atau leninisme. Patokan saya adalah diskusi, karena 
kumpul ini dianggap sebagai gerakan baru dari eks tapol, khususnya PKI. Dalam 
wacana dialog –kalau masih mampu berdialog—tentu ada penjelasan ilmiah tentang 
apa yang menjadi kekuatiran dari polisi dan FPI itu. Tapi lagi-lagi keyakinan 
saya adalah, “mampukah polisi dan FPI itu berdialog dengan cerdas?”. Dan kumpul 
itu juga bukan diskusi aneh-aneh.

  Sorotan Media

  Karena ada beberapa media yang ikut dalam kejadian itu, saya mencoba 
menganalisa bagaimana jurnalis di Semarang memberitakan kejadian itu.

  Liputan6.com - Pertemuan Eks Tapol di Semarang Dibubarkan Polisi

  Dalam reportasenya, wartawan media online ini mengutip Kasat Intelkam 
Polrestabes Semarang, AKBP Amad Sukandar yang menjelaskan, pihaknya membubarkan 
pertemuan tersebut karena mendengar adanya informasi dari warga bahwa ada 
pertemuan yang dihadiri mantan tapol yang diduga sebagai Liga Komunis Indonesia 
(LKI). Sungguh, saya yang dekat dengan ayah pun baru kali ini mendengar ada 
LKI. Dan itu amat menggelikan buat saya. “Hanya 10 yang dibawa, sisanya lari,” 
begitu kalimat pak polisi itu. He..he..he, mau lari kemana pak? Kalau 
mengeluarkan statemen, mbok iyao yang rada cerdas dan masuk akal. Mereka sudah 
di atas 70 tahun semua, santai, dan dibawa.

  Merdeka.com - FPI bubarkan rapat di rumah eks tapol PKI, 10 orang diperiksa

  Media online ini jelas-jelas menyebut FPI. Dan seperti yang sudah saya tulis 
di atas, dua orang yang datang awal, mengaku FPI [dan diantar aparat]. Dalam 
salah satu kalimatnya, media ini menuliskan: “Dalam penggrebekan yang dilakukan 
oleh petugas, ada beberapa dokumen yang dibawa.” He..he..he, saya harus tertawa 
lagi. Siapa yang digrebeg ya? Agak rancu dan bias artinya. Karena datang dan 
dibawa karena ada ancaman. Dan dokumen apalagi? Kalau buku-buku yang mengupas 
tentang peristiwa G 30 S memang ayah saya punya banyak, tapi itu juga banyak 
dijual di Gramedia atau toko buku lainnya. Yang agak pintarlah.

  Republika.co.id - Polisi Bubarkan Rapat di Rumah Eks Tapol

  Kasat Intel Poltabes Semarang mengatakan: “Kami memperoleh laporan tentang 
akan digelar rapat di tempat tersebut.” Memperoleh laporan atau pura-pura nabok 
nyilih tangan dengan menggelindingkan FPI dulu sebagai tameng? Apakah salah 
kalau saya kemudia berasumsi, ada “kerjasama” FPI dan aparat? Maaf ya, kalau 
rapat kok kesannya ada sesuatu yang luarbiasa akan dilakukan dan dibicarakan. 
Kalau pun toh mereka eks tapol ini bernostalgia tentang masa lalu, bercerita 
soal pengalaman ditahan, disiksa aparat dan nyaris dibunuh ketika itu,  apakah 
itu menjadi dosa besar dan kesalahan fatal?

  Detik.com - 
diduga-bahas-paham-terlarang-10-lansia-diamankan-polisi-di-semarang

  Kali ini membahas sesuatu yang dianggap terlarang, adalah kesalahan dan perlu 
diamankan. Agak aneh buat saya karena membicarakan sesuatu yang sebenarnya bisa 
jadi dialog cerdas, malah masih dijejali dengan ketakutan-ketakutan yang tidak 
penting.

  Diluar bahasan di atas, di Semarang sedang ramai diskusi Buku tentang Tan 
Malaka yang –kabarnya—juga ditolak FPI dan Pemuda Pancasila. Saya kembali 
yakin, kalau penolak-penolak riset ilmiah ini tidak tahu apa yang mereka tolak. 
Tapi kalau otak sudah mampet, pikiran sudah cupet, kemampuan mencerna dengan 
cerdas, nol besar, penjelasan apapun akan jadi sia-sia. Dan yang harus kita 
lawan adalah “ketidakcerdasan sia-sia” itu.

  Sumber: 
http://politik.kompasiana.com/2014/02/17/rapat-eks-tapol-dibubarkan-simbiosis-fpi-dan-aparat-635700.html



  ***

  Usai Bubarkan Reuni Eks PKI, Polisi Selidiki Diskusi Tan Malaka
  Tema diskusi 'Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid 4'

  Senin, 17 Februari 2014, 13:07 Eko Priliawito, Puspita Dewi (Semarang)

  VIVAnews - Petugas Intelijen Keamanan Kepolisian Resor Kota Besar Semarang, 
Jawa Tengah, menyelidiki diskusi yang membedah sosok Tan Malaka, Senin malam, 
17 Februari 2014. Diskusi yang dengan tema "Tan Malaka, Gerakan Kiri dan 
Revolusi Indonesia Jilid 4" digelar di Jalan Stonen 29 Semarang.

  Sebelumnya aparat Polrestabes Semarang membubarkan pertemuan beberapa mantan 
tahanan politik di Jalan Potrosari Tengah No 10 RT 4 RW 1, Kelurahan Srondol 
Kulon, Banyumanik, Semarang. Dalam pembubaran itu, sepuluh orang dibawa ke 
kantor polisi.

  Kepala Satuan Intelkam Polrestabes Semarang, Ajun Komisaris Besar Amad 
Sukandar, menyebutkan, awalnya ia mendapat informasi bahwa ada pertemuan yang 
dihadiri mantan tapol eks PKI. Informasi itu juga menyebutkan adanya aktivis 
Liga Komunis Indonesia (LKI).

  Namun saat diinterogasi, tak seorangpun yang mengakui bahwa mereka tengah 
berdiskusi tentang komunisme. "Mereka belum mengakui isu (komunis) itu," kata 
Sukandar di Mapolrestabes Semarang.

  Informasi dari warga menyebutkan sebelum dilakukan penggerebekan, terdapat 
belasan orang di dalam rumah Munandar itu. Mereka ngobrol dan berdiskusi. Di 
tengah diskusi itu, datang Mustofa dan seorang temannya yang mengaku dari FPI 
Temanggung.

  Karena tak berani membubarkan sendiri, akhirnya anggota FPI itu bersama 
petugas keamanan, anggota TNI dan polisi membubarkan pertemuan tersebut.

  "Saat penangkapan, memang ada pertemuan yang diikuti sekitar 15 orang. Tapi 
10 yang dibawa," kata Sukandar.

  Dari penangkapan para manula ini, tiga orang diinterogasi di Mapolsek 
Banyumanik. Sedangkan tujuh lainnya dibawa ke Mapolrestabes Semarang. Hasil 
interogasi menyebutkan mereka hanya kangen-kangenan. Ada pula yang mengaku 
menghadiri sosialisasi anak dari pemilik rumah yang menjadi caleg DPR RI Dapil 
Jateng I.

  Menurut Sukandar, mereka yang ditangkap antara lain Stien (73) warga Manado 
dan suaminya, Bambang Ruseni, orang Indonesia yang tercatat sebagai warga 
negara Jerman dan bekerja sebagai dosen. Selain itu ada pula Semaun Utomo.

  "Dua dari 10 orang yang diamankan merupakan mantan tapol," kata Sukandar. 
Setelah menjalani interogasi intensif, para manula mantan aktivis komunis itu 
dilepaskan. 

  
http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/481961-usai-bubarkan-reuni-eks-pki--polisi-selidiki-diskusi-tan-malaka


  ***

  http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
  List of books, click:  http://sastrapembebasan.wordpress.com/






  

Kirim email ke