TERLEPAS dari pendapat pro dan kontra terhadap film "Jagal" (Act of killing") namun sikap Pemerintah Indonesia yang menilai film ini sebagai ingin memperburuk citra Indonesia adalah satu sikap yang tidak bijaksana dan bahkan memalukan diri sendiri di tengah arena Internasional. Dunia sudah tidak bisa ditipu bagaimana citra Pemerintah Indonesia sejak rezim suhartO hingga sekarang ini(kecuali Pemerintahan Gus Dur) yang berkeras kepala tidak mau mengakui dan bahkan membenarkan tindakan genosida dan pelanggaran HAM maha berat yang dilakukan oleh rezim suhartO semasa berkuasa. Dan Pemerintah-Pemerintah sesudahnya tidak melakukan satu tindakan maupun sikap yang PALING MINIMUMPUN dalam mengakui pelanggaran HAM yang berupa pembunuhan massal yang begitu dahsyat yang pernah dilakukan oleh rezim suhartO. Tidak dengan minta maaf, tidak bermaksud untuk mengadakan rekonsiliasi, tidak dengan rehabilistasi para korban 65 dan bahkan bermaksud mengangkat suhartO jadi pahlawan nasional karena telah melakukan tindak pembunuhan massal dan penghinaan terhadap kemanusiaan. Sikap pembangkangan dan keras kepala dan berkepala dingin terhadap kekejaman masa lalu yang dilakukan oleh pewaris mereka dan penerusnya sekarang ini akan selalu menuai rasa hina oleh rakyat-rakyat sedunia dan bahkan juga oleh sebagian Pemerintahan negeri Barat sekalipun , terhadap Pemerintah Indonesia.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya bila sikap pembangkangan dan tidak tahu malu ini diteruskan? Salah satunya film-film semacam "Act of killing" akan terus diproduksi atau dibuat secara yang lebih mengsankan lagi. Buku Pramoedya Ananta Toer tentang penghidupan para tapol di pembuangan Pulau Buru sedang antri untuk dipikirkan pembuatannya yaitu "Nyanyi sunyi seorang bisu" dan yang lainnya lagi dan yang lainnya lagi dan yang lainnya lagi. Bisakah sejarah gelap dan berdarah masa lalu dihadapi dengan sikap membangkang keras kepala dan bersikukuh bahwa semua itu omong kosong dan meng ada-ada?. Perang film dan perang buku bisa diteruskan entah hingga kapan. Namun kenyataan sejarah yang sesungguhnya tidak bisa ditutup-tutupi, tidak bisa dihapus dengan kebohongan ataupun dengan kemunafikan. Kepala batu akan hancur dan musnah terbentur pada tembok kebenaran dan keadilan. Kemenangan pada ahir-ahirnya akan dimenangkan oleh pihak yang benar dan bukan oleh pihak yang salah. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Djoko Rahardjo ; Jimly Asshiddiqie ; [email protected] ; Achmad Sucipto, Admiral ; chandra motik ; [email protected] ; Syafiuddin Makka ; Amir Santoso ; hamid awaludin ; Muhammad Basri ; [email protected] ; Harjono Kartohadiprodjo ; Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] ; Taufiq Ismail Sent: Saturday, March 01, 2014 3:38 AM Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] Tanggapan Ko-Sutradara Filem Jagal terhadap Pernyataan Pemerintah ---------- Forwarded message ---------- From: Salim Said <[email protected]> Date: 2014-03-01 9:33 GMT+07:00 Subject: Fw: [GELORA45] Tanggapan Ko-Sutradara Filem Jagal terhadap Pernyataan Pemerintah To: Salim Said <[email protected]> On Friday, February 28, 2014 9:17 AM, Chan CT <[email protected]> wrote: Tanggapan Ko-Sutradara Filem Jagal terhadap Pernyataan Pemerintah 31 Jan 2014 Jagal, Oppenheimer, The Act of Killing by Jurnal Footage Pengantar Editor Lebih dari satu tahun filem The Act of Killing (Jagal) telah ditayangkan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Filem ini pun telah menuai berbagai macam tanggapan dari masyarakat internasional. Mulai dari pujian atas kualitas bahasa sinema yang baik dan juga isu kemanusiaan yang dibicarakannya, mendapatkan penghargaan di berbagai festival filem internasional, hingga berbagai tuduhan dan hujaman kritik pedas yang diberikan oleh berbagai pihak, salah satunya pemerintah Indonesia. Pada tanggal 16 Januari 2014 lalu, filem ini menjadi nominasi The Best Documentary pada perhelatan 86th Academy Awards. Peristiwa ini tentu menjadi catatan tersendiri bagi perkembangan sejarah sinema Indonesia. Namun, beberapa saat kemudian, prestasi itu kembali mendapat kritik tajam dari pemerintah Indonesia.[1] Jurnal Footage merasa perlu memuat kembali dan menyebarluaskan jawaban kawan-kawan anonimous terhadap kritik pemerintah Indonesia yang pernah dimuat di sosial media beberapa hari lalu. Wacana kekerasan yang selama ini 'tersimpan' dalam sejarah kebudayaan Indonesia terutama tragedi 1965-1966 yang diangkat oleh filem The Act of Killing (Jagal) menjadi sebuah perjuangan kemanusiaan dan membangun kesadaran untuk melihat kembali bagaimana sejarah bangsa ini dibangun. Selain itu, kami juga berpendapat bahwa filem ini memiliki bahasa sinema (estetika) yang sangat kuat dan layak untuk diberikan tempat sebesar-besarnya bagi pembelajaran apa itu sinema. - - [1] Baca: http://www.thejakartaglobe.com/news/indonesia-reacts-to-act-of-killing-academy-nomination/ 30 Januari 2014 pada 01:46 Membaca reaksi pemerintah Indonesia terhadap filem Jagal atau The Act of Killing kami merasa perlu memberikan tanggapan. Filem yang kami buat berlokasi di Indonesia, berbahasa Indonesia, dengan tema yang berkait erat dengan babak gelap dalam sejarah Indonesia, namun demikian filem kami sesungguhnya bercerita tentang manusia; tentang sebuah pembantaian massal yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia lainnya. Filem kami bercerita mengenai dunia yang dibangun oleh imajinasi dan penyampaian cerita; tentang dunia yang dibangun dengan imajinasi penguasa dan penyampaian cerita berupa propaganda cuci otak. Tentang sebuah dunia yang dibangun untuk menjustifikasi kekerasan massal sebagai sebuah perjuangan heroik yang terus dipertahankan sampai hari ini. Tentang sebuah dunia yang menghasilkan kekosongan moral dan kematian budaya-semati hewan awetan walau diusahakan kelihatan dan berpose hidup. Tentang sebuah dunia yang dibangun diatas kuburan massal yang disembunyikan agar terlupakan. Filem kami adalah sebuah kisah mengenai apa yang terjadi di manapun jika manusia membangun normalitas sistem ekonomi dan politik berdasarkan kekerasan, kebohongan, dan ketakutan. Menghindari membicarakan pokok persoalan yang diangkat di dalamnya, filem Jagal dituduh sebagai upaya asing untuk memperburuk citra Indonesia di dunia. Kami, pembuat filem Jagal, sama sekali tidak pernah berniat memperburuk citra Indonesia, karena bagi kami citra buruk bukanlah dari apa yang digali dan diungkap dari kejadian di masa lampau tetapi apa yang dikerjakan saat ini. Bagi kami citra bukanlah persoalan bagaimana dan seberapa baik kejahatan terhadap kemanusiaan disembunyikan dari pengetahuan rakyatnya. Citra buruk adalah melanggengkan ketidakadilan dan impunitas bagi mereka yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Citra buruk adalah tidak meminta maaf kepada penyintas dan keluarga korban kejahatan terhadap kemanusiaan. Citra buruk adalah tidak merehabilitasi dan memberikan mereka rekompensasi atas segala yang telah dirampas dari mereka selama ini. Citra buruk adalah terus-menerus menyembunyikan fakta yang penting, walaupun pahit, pada buku teks yang dibaca jutaan murid sekolah dan pada akhirnya mencetak berlapis generasi yang tak mengenal sejarahnya sendiri. Citra buruk adalah mengangkat arsitek pembunuhan massal sebagai pahlawan. Citra buruk adalah ketiadaan upaya untuk memulai sebuah proses rekonsiliasi yang sejati dan menampilkan rekonsiliasi pura-pura yang berinti proses pelupaan sebagai satu-satunya hal yang mungkin dilakukan. Tidak satupun kerja memperburuk citra Indonesia kami lakukan lewat filem Jagal. Menuduh filem Jagal sebagai suara 'asing' adalah upaya usang sekadar memancing sentimen sempit untuk mendirikan pagar pemisah tinggi-tinggi antara yang 'kita' dan yang 'mereka'. Jika ada yang bisa diambil pelajarannya dari filem kami, maka pembedaan yang melupakan semua kesamaan itulah yang menjadi salah satu faktor mengapa sebuah kebencian dan kekerasan massal menjadi mungkin dibayangkan dan dilakukan oleh sekelompok manusia terhadap sekelompok manusia yang lainnya. Berbicara mengenai intervensi asing, kami ingin mengajak semua untuk melihat berbagai investasi asing, proyek, dan utang yang menggelontor Indonesia sejak 1965 dan dibukakan gerbangnya selebar-lebarnya oleh pemerintah, masuk sebagai kelanjutan pembantaian massal yang disembunyikan itu dan pada akhirnya menggusur, mempermiskin rakyat, mengeruk segala kekayaan alam sambil meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang berkelanjutan dari Aceh sampai Papua. Pembunuhan massal 1965-1966-dan bukannya filem ini-yang justru adalah sebuah intervensi asing. Justru pemerintahan yang menuduh bahwa filem ini adalah sebuah intervensi asing yang sesungguhnya adalah produk dari puluhan tahun intervensi asing. Filem Jagal bukan semata-mata ekspresi dari pendapat dan pandangan awak filem berkebangsaan selain Indonesia, tetapi juga adalah pandangan kami, awak filem berkebangsaan Indonesia. Filem ini mewakili pandangan kami semua sebagai manusia penghuni bumi melintasi batas-batas negara, kebangsaan, ras, etnis, dan bahasa. Filem Jagal dibuat oleh orang-orang dari berbagai bangsa, dengan awak filem paling banyak berasal dari Indonesia, dengan semangat kemanusiaan dan solidaritas kepada semua korban pelanggaran hak azasi manusia di dunia. Jika filem Jagal (The Act of Killing) secara resmi terdaftar sebagai produksi Denmark, Inggris, dan Norwegia-negara tempat perusahaan produksi filem Jagal berkedudukan-itu semata-mata karena keputusan kami untuk menjadi Anonim-awak filem tak bernama-karena dalam pendapat kami, negara kami belum bisa menyediakan perlindungan yang memadai. Kami tak bisa mendaftarkan filem kami sebagai filem Indonesia karena kami yang tak bernama tak mungkin mendirikan perusahaan dan tak ada jaminan bahwa perusahaan produksi yang mewakili filem kami akan aman dari tindakan kekerasan. Kami tidak ingin menciptakan risiko baru di dalam negara yang gagal melindungi pertemuan keluarga penyintas dan korban kekerasan massal 1965, yang tidak hadir ketika kekerasan terjadi pada saat orang menyampaikan pendapat dan berekspresi dengan damai, yang tidak mengusut tuntas dan menghukum orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Munir, wartawan Udin, dan jutaan korban kekerasan politik serta pelanggaran HAM lainnya sejak 1965 di seluruh Indonesia dan Timor Leste. Hal-hal seperti inilah yang bisa-dan sepatutnya-dilakukan oleh negara jika negara sungguh-sungguh ingin memulai memperbaiki citranya, pertama kali, kepada rakyatnya sendiri. Kami adalah generasi muda yang berusaha untuk menjadi sadar sejarah dan kami tahu bahwa banyak terjadi pelanggaran di luar Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah negara lain. Kami tidak membuat filem mengenai pelanggaran HAM yang dilakukan negara lain, seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Israel, Afrika Selatan, Rwanda, Serbia, dan lainnya karena, tanpa mengurangi arti penting dari filem tentang pelanggaran HAM di manapun oleh siapapun, hal utama yang memotivasi pembuatan filem Jagal adalah solidaritas kami kepada sesama rakyat Indonesia yang menjadi korban penindasan negara selama ini, dan karena bagi kami yang terpenting adalah membuat negeri kami menjadi negeri yang terhormat di antara negara lain di dunia. Untuk bisa menjadi negara yang terhormat, kami yakin, negara harus menyadari bencana moral akibat pembantaian massal-dan bencana moral hari ini akibat impunitas, korupsi, dan ketakutan. Itu sebabnya kami membuat filem Jagal. Solidaritas terhadap penyintas dan keluarga korban ini juga yang kami bawa bersama awak filem dari bangsa lain dan ingin kami tularkan kepada penonton di seluruh Indonesia dan di luar Indonesia. Kami sepenuhnya sadar bahwa sebanyak dan sebesar apapun pelanggaran HAM yang dilakukan negara lain tidak pernah memberi pembenaran bahwa kita bisa melakukan hal yang sama. Seperti kami yang melalui filem ini menggugat negara kami, awak berkebangsaan lain pun menuntut hal yang sama lewat filem The Act of Killing kepada pemerintah negaranya. Awak filem berkebangsaan Amerika Serikat, sutradara filem Joshua Oppenheimer, lewat filem ini menuntut agar pemerintah Amerika Serikat mengakui perannya dalam genosida, dan berharap penonton Amerika mengenali The Act of Killing sebagai sebuah filem mengenai dampak kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang mengutamakan hak perusahaan-perusahaan Amerika untuk menjarah dengan perlindungan impunitas di atas hak hak azasi manusia di negara-negara tempat perusahaan tersebut beroperasi. Sebagaimana telah berkali-kali disampaikan oleh pembuatnya di berbagai kesempatan di banyak negara, filem ini menyampaikan sebuah pesan bahwa kita lebih mirip dengan para pelaku pelanggaran HAM daripada yang selama ini kita bayangkan. Pesan yang dimengerti dengan jelas oleh para penonton di banyak negara. Kami bekerja dan memberikan sumbangsih untuk membuat filem yang sebaik-baiknya dengan kesadaran bahwa kamilah yang berbahasa Indonesia paling baik di antara semua awak filem Jagal (The Act of Killing), kamilah yang paling dekat dengan sejarah yang menjadi tema filem ini, kamilah yang merasakan tumbuh dan hidup di dalam sebuah dunia fantasi yang dipaksa menjadi rumah dan tanah air kami, serta kamilah yang akan menjalani segala konsekuensi dari perubahan atau ketiadaan perubahan di tanah air kami. Kami menempuh segala risiko yang tak tertebak sampai saat ini, dengan kesadaran tidak akan pernah dikenal dan menerima langsung penghargaan setelah bekerja dan bekerja sama selama delapan tahun untuk menghasilkan karya kami, dari Indonesia untuk Indonesia dan dunia. Mari menengok kembali tanggung jawab kita bersama membuat dunia yang lebih manusiawi. Mari kita mulai dengan membuat Indonesia menjadi lebih manusiawi. Anonim Ko-Sutradara filem Jagal E: [email protected] www.final-cut.dk www.jagalfilm.com www.facebook.com/filmjagal @Anonymous_TAoK - Sumber: https://www.facebook.com/notes/jagal-the-act-of-killing/tanggapan-ko-sutradara-film-jagal-terhadap-pernyataan-pemerintah/461898967266600 Go To Top Jagal (The Act of Killing) Unduh filemnya di sini: www.actofkilling.com -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dari grup ini dan berhenti menerima email dari grup, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi selengkapnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
