Pertentangan antara Rusia dan pihak Barat adalah pertentangan antara dua blok kapitalis yang saling bersaing. Rusia sebagai kekuatan kapitalisme yang baru tentu masih punya rasa nasionalisme mereka disamping persaingan ekonomi. Menyaksikan pihak Barat yang semakin dalam mencampuri urusan-urusan negeri lain, terutama di Asia, Rusia semakin terangsang dan juga rendah diri sebagai negara kapitalis klas tiga. Rasa rendah diri ini lalu mendapatkan overkompensasinya di Ukraina dan mendapatkan alasan cukup bagus untuk sebagai melindungi warga Rusia yang mayoritas di semenanjung Krimea dan bukanlah berlebihan kalau tindak tanduk Rusia yang sekarang ada yang menyebutnya sebagai "perjudian" yang bukannya tanpa risiko besar. Hasil penjualan gas yang cukup strategis pada negara-negara Barat bukannya bisa dikesampingkan begitu saja dan masih ada soal lain lagi yaitu konfrontasi Rusia dengan pihak Barat tidak dibekali dengan muatan ideologi dan semata nasionalisme dan rasa rendah diri.Tapi pihak Barat yang terlalu pongah dengan senjata "ampuh" mereka yang sedikit sedikit main boikot (sanksi ekonomi) cukup membikin muak Rusia yang lalu ingin membuktikan sanksi Barat akan sulit berhadapan dengan Rusia. Satu hal, memang ancaman sanksi Barat perlu dipatahkan karna bentuk dan cara sanksi Barat ini tidak lain dari bala tentara Imperialisme yang bersenjatakan modal dan uang yang yang mengancam-ancam ke seluruh dunia pada siapa saja yang berani melawan pengaturan mereka.Tapi bagaimanakah mematahkannya? Apakah Rusia akan menjawab pertanyaan ini?. Kita tunggu saja. ASAHAN.
----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Djoko Rahardjo ; Jimly Asshiddiqie ; [email protected] ; Achmad Sucipto, Admiral ; chandra motik ; [email protected] ; Syafiuddin Makka ; Muhammad Basri ; Institut Peradaban ; Ichsan Loulembah ; [email protected] ; [email protected] ; halim perdanakusuma ; Amir Santoso ; Budiarman Bahar, MA ; [email protected] Sent: Sunday, March 09, 2014 7:32 AM Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] Mengapa Rusia tak lagi takut pada Barat ---------- Forwarded message ---------- From: Salim Said <[email protected]> Date: 2014-03-08 17:24 GMT+07:00 Subject: Fw: [GELORA45] Mengapa Rusia tak lagi takut pada Barat To: Salim Said <[email protected]> On Saturday, March 8, 2014 5:30 AM, awind <[email protected]> wrote: http://www.antaranews.com/berita/422724/mengapa-rusia-tak-lagi-takut-pada-barat Mengapa Rusia tak lagi takut pada Barat Jumat, 7 Maret 2014 15:37 WIB | 7271 Views Orang-orang bersenjata lengkap yang diyakini pasukan Rusia mengepung Krimea, Ukraina (Reuters) Berita Terkait a.. Polisi: 65 ribu pendukung Krimea berunjuk rasa di Moskow b.. Kapal perang AS melaju menuju Laut Hitam c.. Kanada tidak akan akui referendum Krimea d.. Amerika Serikat siapkan sanksi untuk Rusia e.. Rusia sambut Krimea dalam bayangan sanksi Barat Galeri Terkait APEC Leaders Dinner KTT APEC - Putin Ultah Video Terkait Rusia Mulai Proses Oposisi Barat terkesima, tak percaya Vladimir Putin menginvasi Ukraina. Semua diplomat Jerman, birokrat euro Prancis dan intelektual Amerika tertegun bertanya-tanya, mengapa Rusia memilih mempertaruhkan hubungan bernilai triliunan dolarnya dengan Barat? Para pemimpin Barat terpaku tak mengira para penguasa Rusia tak lagi menghormati Eropa seperti mereka perlihatkan usai Perang Dingin. Rusia tidak lagi menganggap Barat aliansi pembebas. Rusia kini menganggap semua yang ada di benak Barat melulu uang. Para tangan kanan Putin tahu sekali soal ini. Selama bertahun-tahun para penguasa Rusia telah membeli Eropa. Orang-orang Rusia mempunyai mansion dan flat mewah dari West End di London sampai Cote d'Azure di Prancis. Anak-anak Rusia belajar di sekolah-sekolah khusus nan elite di Inggris dan Swiss, sedangkan uang mereka diparkir di bank-bank Austria dan ditampung sistem pajak rendah Inggris. Lingkaran terdalam kekuasan Putin tak lagi takut terhadap sikap Eropa. Mereka kini tahu betul siapa Eropa. Mereka bisa langsung melihat betapa penjilatnya para aristokrat dan konglomerat Barat itu yang matanya berubah berbinar setiap kali miliaran dolar uang Rusia dimainkan. Rusia sekarang menganggap Barat munafik karena elite-elite Eropalah yang justru membantu orang-orang Rusia menyembunyikan kekayaannya. Sekali waktu Rusia menyimak saat kedubes-kedubes Eropa mengutuk korupsi di BUMN-BUMN Rusia. Tapi sekarang tidak lagi. Karena Rusia tahu sekali bahwa para bankir, pengusaha dan pengacara Eropa justru melakukan kerja kotor bagi orang-orang Rusia untuk menyembunyikan uang hasil korupsi mereka di Antila Belanda dan Kepulauan Virgin, Inggris. Kita tidak sedang membahas uang yang banyak, melainkan uang yang sangat banyak. Bank sentral Rusia memperkirakan dua pertiga dari 56 miliar dolar AS uang yang ada di Rusia pada 2012 ada kaitannya dengan kegiatan-kegiatan ilegal, hasil berbagai kejahatan seperti pungli, uang narkotika atau penggelapan pajak. Ini adalah uang yang digulungkan para bankir kaya raya Inggris sebagai karpet merah demi masuknya orang Rusia ke London. Di balik korupsi Eropa, Rusia melihat kelemahan Amerika. Kremlin tak yakin negara-negara Eropa, kecuali Jerman, benar-benar independen dari Amerika Serikat. Rusia kini melihat Eropa tak lebih dari negara-negara klien yang bisa dipaksa Washington, untuk tidak berbisnis dengan Kremlin. Namun ketika Rusia menyaksikan Spanyol, Italia, Yunani dan Portugal saling menyisihkan dalam tender menjadi mitra bisnis terbaik Rusia dalam Uni Eropa, mereka melihat kontrol Amerika atas Eropa perlahan memudar. Di Moskow, Rusia menyimak kelemahan Amerika di luar Kedubes Moskow. Suatu waktu Kremlin khawatir petualangan asing akan memicu sanksi ekonomi ala Perang Dingin yang merugikannya seperti larangan ekspor komponen-komponen kunci bagi industri minyaknya atau bahkan diputusnya akses ke sektor perbankan Eropa. Kini kekhawatiran seperti ini tidak ada lagi. Rusia melihat Amerika bingung karena perjudian Putin di Ukraina menggoyahkan kebijakan luar negeri AS yang lebih memilih membicarakan China atau berpartisipasi dalam perundingan damai Israel-Palestina. Rusia melihat Amerika rentan: di Afghanistan, di Suriah dan di Iran di mana Amerika Serikat kini amat sangat memerlukan dukungan Rusia untuk melanjutkan pengapalan pasokan-pasokannya, menuanrumahi konferensi perdamaian atau menguatkan sanksi Barat ke Iran. Moskow tidak gugup. Para elite Rusia telah mengekspos Barat dengan cara luar biasa dengan menawan properti-properti dan rekening-rekening bank Eropa. Secara teoritis, ini membuat Barat rentan mengingat penarikan dana secara tiba-tiba oleh adanya investigasi pencucian uang dan larangan visa, bisa memangkas kekayaan mereka. Dari masa ke masa Rusia menyaksikan betapa pemerintah-pemerintah Eropa menolak meloloskan undang-undang yang mirip dengan UU Magnistky AS yang mencegah para pemimpin kriminal memasuki Amerika Serikat. Semua ini membuat Putin percaya diri, sangat percaya diri, percaya bahwa elite Eropa lebih tertarik pada uang ketimbang menghadapinya. Ini buktinya. Setelah pasukan Rusia mencapai pinggiran Tbilisi, ibukota Georgia, pada 2008, rangkaian pernyataan dan gertakan keluar dari Barat, namun saat dihadapkan pada miliaran dolar dana Rusia, mereka menjadi ciut. Lalu, setelah para tokoh oposisi Rusia diadili, Uni Eropa mengirim surat keprihatinan, tapi sekali lagi mereka bungkam saat miliaran dolar uang Rusia tersaji di hadapan mereka. Kremlin kini tahu rahasia perang kotor Eropa. Kremlin tahu pasti sikap Eropa. Orang-orang bermuka masam yang mengendalikan Rusia di era Putin melihat Barat seperti para politisi di akhir masa Soviet. Menengok era 1980-an, USSR (Uni Soviet) berbicara soal Marxisme internasional padahal Soviet tak lagi mempercayainya. Kini, Brussels, menurut Rusia, berbicara soal hak asasi manusia tapi mereka sendiri tidak lagi mempercayainya. Eropa sungguh sudah dikendalikan oleh elite bermoralitas hedge fund (pengelola dana atau pialang): Keduk uang dengan cara apa saja, lalu parkir uang itu di luar negeri. - Disadur dari tulisan Ben Judah berjudul "Why Russia No Longer Fears the West" pada Politico Magazine dalam Politico.com - Ben Judah adalah pengarang buku "Fragile Empire: How Russia Fell In And Out Of Love With Vladimir Putin" Editor: Jafar M Sidik COPYRIGHT © 2014 -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dari grup ini dan berhenti menerima email dari grup, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi selengkapnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
