MELIHAT Putin sebagai tokoh politik dan Presiden Rusia saya sendiri tidak 
bersimpati padanya. Dia generasi penerus yang menghancurkan Sosialisme di 
Soviet Uni yang kemudian mendirikan Rusia yang kapitalis dan membawa Rusia 
mengembangkan kemakmuran kapitalis yang meminggirkan rakyat Rusia menjadi 
bertambah miskin. Namun konfrontasi Rusia dengan pihak Barat sekarang ini bukan 
semata persaingan antara dua blok kapitalisme tapi menyinggung keras 
rakyat-rakyat dunia ke tiga atas sepak terjang Amerika-Eropah di mana saja yang 
menyUlut kekacauan dan pecah belah untuk mereka kendalikan bagi negara-negara 
lain menurut peraturan mereka. Dan sekarang mereka harus menghadapi Rusia yang 
sudah lama bungkam sejak jatuhnya Soviet Uni, mulai ada benturan yang cukup 
keras bagi dunia Barat yang selama ini arogant dan dominant memberlakukanm 
semua peraturannya dan tata tertibnya ke seluruh dunia bagi membawahi semua 
bangsa-bangsa lainnya. Gas Rusia yang akan tidak laku akibat sanksi Barat akan 
menggugah rakyat Rusia bahwa Barat adalah Barat sebagaimana adanya, kapitalisme 
monopoli yang tidak akan pernah membuang tekadnya untuk mendominasi dunia. 
Kapitalisme yang sekarang dibangun di negeri-negeri bekas Sosialisme tidak akan 
pernah hidup tenang dengan kapitalisme Barat. Kalau mereka kalah di bidang 
ekonomi mereka akan bangkit di bidang militer dan politik intervensi. 
Kapaitalisme monopoli atau Neoliberalisme Barat harus selalu mendapat 
perlawanan dan untuk sementara tidak terlalu penting kapitalis yang mana yang 
berani melawan mereka. Alasan kecemasan akan kecelakaan ekonomi yang memaksa 
sebuah negara harus kompromi dengan pihak Barat adalah mental yang tidak baik, 
mental menyerah dan akan dijajah selamanya oleh dominasi kapitaalisme monopoli 
Barat. Sanksi dan peraturan pemaksa Barat harus dipatahkan yang bila perlu 
dengan mengorbankan apa saja.

Bahwa Putin menggunakan cara-cara KGB dalam menghadapi Eropah-Amerika, itu 
sudah bagus. Bahkan lebih bagus daripada menggunakan cara-cara KGB kepada 
rakyatnya sendiri. Dengan menggunakan cara-cara KGB, Putin bisa menemukan 
elemen-elemen fasis, kaum nasionalis ekstrim, para provokator penembak gelap 
dan para demonstran yang dibayar lainnya yang disusupkan pihak Barat ke dalam 
demontrasi berdarah di Maidan.

SebagaI kepala negara bekas KGB dan pernah turut serta dalam penghancuran 
Sosialisme di Sviet Uni Putin mamang  musuh sosialisme dan musuh rakyat Rusia. 
Tapi karna dia berani berhadapan dengan Imperialisme Amerika dan sekutunya di 
Eropah, Putin lebih baik dari semua yang anti komunis dan para bekas komunis 
pemuja kapitalisme. Senjata SANKSI kaum kapitalis monopoli adalah bom nuklir 
yang tidak meledak tapi menyebarkan radio aktif ke smua negara yang tidak mau 
takluk dibawah komando Amerika. Putin berani melawan semua itu.
ASAHAN.
  ----- Original Message ----- 
  From: TS 
  To: Group Diskusi Kita 
  Cc: mimbar-bebas 
  Sent: Tuesday, March 18, 2014 8:57 PM
  Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [GELORA45] Rusia Umumkan Crimea "Negara 
yang Berdaulat dan Merdeka"


  Saya melihatnya lain, dikarenakan Putin yang praktis mantan agen KGB sengaja 
bermain api dengan Eropah yang betu-betul bisa mengguncang perekonomian RUsia. 
Cukup dengan tidak mengambil gas Russia dijamin dalam beberapa bulan 
perekonomian Russia akan merana. Kelakuan Putin saat ini megingatkan saya 
kepada kelakuan Stalin yang juga merupakan tokoh yang tidak memikirkan 
perekonomian negaranya. Genocida Ekonomi di Rusia yang dilakukan oleh Stalin 
membunuh banyak rakyat Russia pada saat itu. Seharusnya Putin sadar bahwasanya 
era cara-cara KGB sudah selesai saat ini. Bahkan pendapat Gorbacev juga saya 
sesalkan hari ini yang mendukung keluarnya Crimea dari Ukraine, mengapa? karena 
secara teori sebentar lagi  Carpathian Ruthenia yang sebelumnya merupakan 
bagian dari Cekoslowakia diambil oleh Stalin pada 29.06.1945 dan di"tempel" ke 
Ukraine bisa berteriak untuk kembali menjadi bahagian dari Slovakia. Hal ini 
semua atas kebijakan Putin yang memang dengan sengaja melakukan kekacauan saat 
ini. Memang sulit kalau mental KGB menjadi kepala negara..... 



  2014-03-19 19:17 GMT+01:00 ASAHAN <[email protected]>:

        BILA konfrontasi antara Rusia dan pihak Barat (Eropah-Amerika) 
berkembang sampai ke titik terpanas, maka pertentangan yang masih bersifat 
"lokal"ini akan berubah menjadi pertentangan antara pihak Barat dan pihak 
Timur. Itu dikarenakan sikap Barat yang sudah sangat memuakkan yang sudah 
diluar toleransi politik yang mungkin diberikan. Perbuatan pihak Barat dengan 
metode intervensi dan bergerilya gelap dalam demonstrasi-demonstarasi anti 
Pemerintah yang tidak disukai pihak Barat dan membiayainya dari uang hingga 
perlengkapan senjata, adalah campur tangan kasar yang menempuh jalan "halus" 
terhadap negara-negara lain yang berdaulat. Intervensi hitam mereka yang 
berdarah meskipun gagal di negara-negara seperti Afganistan, Mesir, Lybia. Irak 
dan di beberpa negara-negara lainnya termasuk di Siria yang sedang macet tidak 
membuat Barat berhenti  dan bahkan masih terus dilakukannya hingga di Ukraina 
sekarang ini.
    Ukraina adalah beban baru  dan beban tambahan bagi negeri-negeri Eropah 
yang sedang babak belur memperbaiki ekonomi mereka dari krisis global dan 
sekarang menghadapi ancaman untuk lebih diperas lagi kantong belanja rakyat 
mereka dengan berbagai macam politik penghematan, kenaikan pajak dan 
pemotongan-pemotongan kemudahan minimum hingga ke angka nihil. Pemerintah 
Belanda telah mengucurkan milyardan euro ke Griekenland yang tak akan kembali 
yang dalam pada itu Pemerintah Griekenland menghabiskan uang hasil pinjamannaya 
(pemberian gratis) unttuk membeli senjata modreren, sedangkan rakyat 
Griekenland tetap saja dibangkrutkan dan miskin hingga sekarang ini. Semua itu 
hanya untuk memenuhi skenario Amerika di Eropah.

    Tidaklah mengherankan kalau Rusia tidak bergidik  menghadapi sanksi pihak 
Barat. Rusia memang terlalu besar untuk diperlakukan seperti Kuba, Korea Utara, 
Iran dan negara mana lagi. Orang tidak perlu berpihak pada Rusia untuk tidak 
memberikan simpati kepada pihak Barat Eropah dan Amerika yang tidak 
henti-hentinya memperlihatkan dan memeperagakan kesombongan dan  gertak 
sanksinya serta keangkuhannya terhadap negara yang tidak mereka sukai dan 
selalu dengan modal yang itu-saja: SANKSI. Kuba dan Korea Utara telah puluhan 
tahun menderita akibat sanksi tapi mereka tetap tetap ujud dan mengapa Rusia 
yang begitu besar dan jauh lebih kaya mesti takut akan sanksi Amerika-Eropah?
    Brussel yang semakin dibenci oleh sebagian rakyat negara-negara Eropah 
karena kediktatoran Eropah, akan semakin menjadi antipati karena campur tangan 
mereka yang semakin kasar terhadap Ukraina. Penguasa Ukraina yang sekarang 
hanya memburu dollar dan euro Eropah dan untuk itu mereka dengan gigihnya untuk 
merasa dirinya Eropah, bagian dari Eropah dan berbudaya Eropah. Ucapan-ucapan 
perdana Mentri Ukraina yang sekarang  semakin penuh nafsu ingin menjual dirinya 
dengan harga semurah-murahnya untuk sampai ke pangkuan Eropah. Ideologi mereka 
satu-satu-satunya adalah untuk tenggelam dalam pelukan Eropah, di dalam dollar 
dan euro-nya Eropah. Perasaan anti Eropah justru diciptakan oleh Eropah 
sendiri. Gert Wilders ketua PVV yang rasialist sangat membenci Uni Eropah dan 
semakin didengarkan rakyat Belanda dan dia bertekad mengeluarkan keanggotaan 
Belanda  dari Brussel. Setiap sen hingga milyardan uang rakyat Belanda 
disalurkan ke Brussel dan dari sana lalu dibagi bagikan ke semua negara-negara 
Eropah yang bangkrut akibat korupsi para penguasanya. Sekarang datang Ukraina 
dan belum apa-apa Eropah sudah mengucurkan 11 milyard dollar untuk Ukraina dan 
akan masih berpuluh kali lipat lagi. Dan yang menjadi korban tidak lain dari 
rakyat-rakyat negara anggota Uni Eropah.  Sudah tentu rakyat Belanda sedang 
dipersiapkan untuk lebih dimiskinkan lagi karna harus menanggung dan membiayai 
Ukraina yang terjepit dan bangkrut.
    ASAHAN.





      ----- Original Message ----- 
      From: Chalik Hamid 
      To: Jaringan Kerja Indonesia ; Sastra Pembebasan ; 
[email protected] 
      Sent: Tuesday, March 18, 2014 12:52 PM
      Subject: #sastra-pembebasan# Trs: [GELORA45] Rusia Umumkan Crimea "Negara 
yang Berdaulat dan Merdeka"


        




      Pada Selasa, 18 Maret 2014 11:33, awind <[email protected]> menulis:

        
      
http://us.dunia.news.viva.co.id/news/read/489490-rusia-umumkan-crimea--negara-yang-berdaulat-dan-merdeka-



      DUNIA 
      Rusia Umumkan Crimea "Negara yang Berdaulat dan Merdeka"
      AS dan Uni Eropa telah jatuhkan sanksi atas pejabat Rusia dan Crimea
      ddd
      Selasa, 18 Maret 2014, 12:06 Renne R.A Kawilarang 
       
      Presiden Rusia, Vladimir Putin (REUTERS/Michael Klimentyev/RIA 
Novosti/Kremlin)
      BERITA TERKAIT
       
      AS dan Eropa Mulai Jatuhkan Sanksi ke Pejabat Rusia dan Crimea 
        a.. Kisruh Crimea, Seberapa Besar Efeknya Terhadap Ekonomi Dunia 
        b.. Crimea Pilih Gabung ke Rusia, Barat Siapkan Sanksi 
        c.. Tolak Referendum di Crimea, AS Ancam Rusia dengan Sanksi 
        d.. Mayoritas Rakyat Crimea Pilih Lepas dari Ukraina, Bergabung ke 
Rusia 
      Follow us on  VIVAnews - Rusia kini mengakui Crimea sebagai negara yang 
berdaulat dan independen setelah minta lepas dari kendali Ukraina lewat 
referendum Minggu kemarin. Sebaliknya, Amerika Serikat dan negara-negara Barat 
mengencam langkah Moskow itu sebagai muslihat untuk menguasai Semenanjung 
Crimea dan mengancam sanksi tambahan atas para pejabat Rusia dan Crimea. 

      Menurut Russia Today, pengakuan Moskow atas status baru Crimea itu 
dinyatakan secara tertulis oleh Presiden Vladimir Putin. "Menurut keinginan 
rakyat Crimea pada referendum tertanggal 16 Maret 2014, [saya perintahkan] 
untuk mengakui Republik Crimea, di mana kota Sevastopol memiliki status khusus, 
sebagai negara yang berdaulat dan independen," demikian dekrit tertulis 
Presiden Putin. 
       
      Parlemen Crimea juga menyatakan wilayah mereka itu tidak lagi berstatus 
otonomi khusus milik Ukraina melainkan sebuah negara berdaulat. Ini menyusul 
hasil referendum yang menyatakan bahwa lebih dari 96 persen suara menyatakan 
Crimea setuju bergabung ke Rusia. Ketua Komisi Referendum, Mikhail Malyshev, 
mengklaim pemungutan suara itu diikuti 81,37 persen dari total pemilih di 
Crimea.  

      Bagi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan pemerintahan sementara Ukraina di 
Kiev, pengakuan negara berdaulat dari Moskow itu merupakan bagian dari skenario 
Rusia untuk menjadikan Crimea sebagai bagian dari wilayahnya setelah berhasil 
mendukung referendum.
      Sejak akhir Februari lalu, Rusia menempatkan pasukan tanpa atribut ke 
Crimea untuk mendukung milisi setempat menduduki posisi-posisi strategis 
Ukraina menyusul tergulingnya Presiden Viktor Yanukovych yang pro Moskow. 

      Sementara itu, AS dan Uni Eropa Senin kemarin sudah menjatuhkan sanksi 
kepada sejumlah pejabat dan politisi Rusia dan Crimea terkait referendum 
kontroversial itu. Sanksi berupa larangan bepergian ke dan pembekuan aset di AS 
dan Uni Eropa.  

      Menurut kantor berita Reuters, Presiden Barack Obama dari AS bahkan 
mengancam bakal meningkatkan bobot sanksi bila muncul provokasi lebih lanjut 
dari Rusia dan Crimea. "Bila Rusia terus ikut campur di Ukraina, kami siap 
menjatuhkan sanksi lanjutan," kata Obama.





      

    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi selengkapnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.




  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi selengkapnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke