http://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/03/08/17797/17797.html

Agar Politik Islam Menang
Sabtu, 8 Maret 2014 - 10:15 WIB 
Dalam berjuang, kita perlu yakin dengan pertolongan Allah, jika kita benar; 
tidak perlu menjadi terlalu pragmatis, terlalu mengejar kekuasaan jangka pendek


Oleh: Dr. Adian Husaini

JUMAT (07/03/2014), usai khutbah Jumat di sebuah Masjid di kawasan Cibubur, 
seorang anak muda mendekati saya, dan bertanya, “Ustad, apakah benar ikut dalam 
pemilu ini haram hukumnya. Bahkan, ada yang mengatakan, ikut pemilu  itu 
hukumnya kufur, karena berarti terlibat dalam demokrasi, yang merupakan sistem 
kufur?”

Berulang kali pertanyaan seperti ini saya terima. Benarkah seperti itu? Untuk 
menjawabnya, ada baiknya kita ikuti dialog fiktif antara guru dan murid berikut 
ini. Mudah-mudahan dialog ini bisa kita ambil hikmahnya.  Silakan mengikutinya.

Murid: Guru, saya dengar dari berita-berita, partai Islam diramalkan akan kalah 
dalam Pemilu 2014, bahkan mungkin akan semakin kecil perolehan suaranya. Apa 
benar begitu, Guru?

Guru:   Baik kita sepakati dulu definisi partai Islam adalah partai yang 
berasaskan Islam. Memang, kalau hanya mendasarkan pada pemberitaan media massa 
pada umumnya,  nasib partai-partai Islam seolah-olah kurang menggembirakan. 
Suara mereka kalah jauh dibandingkan dengan partai-partai sekuler. Banyak sebab 
yang diungkapkan. Kalau tidak ada perubahan yang signifikan dalam pembangunan 
citra partai Islam di tengah masyarakat – entah bagaimana caranya – bukan tidak 
mungkin perkiraan suara partai-partai Islam itu akan menjadi kenyataan.  Dan 
nanti, akan dikampayekan, “ Lihat tuh… partai Islam sudah tidak laku!  
Masyarakat sudah lebih memilih partai sekuler!”

Murid:  Lalu, apa yang harus dilakukan oleh partai Islam, Guru, agar selamat?

Guru:  Saya mengusulkan, sebagai bagian taushiyah sesama Muslim, partai Islam 
perlu melakukan terobosan besar, tetapi semua itu tetap dilakukan dalam 
batas-batas etika Islam. Sebab, bagi Muslim, menjadi anggota legislatif itu 
bukan tujuan utama dan bukan segala-galanya. Saya minta maaf, menurut saya, 
kurang patut membuat iklan politik dengan bintang yang mengumbar aurat. Tujuan 
untuk meraih suara dari kalangan tertentu, menurut hemat saya, tidak harus 
dilakukan dengan cara menampilkan wakil dari kalangan tersebut. Saya paham, 
salah satu “ironi” dalam demokrasi, adalah tidak adanya penilaian kualitas 
suara. Yang dinilai hanya kuantitas. Suara kyai sama nilainya dengan suara 
penjahat. Suara pelacur sama hitungannya  dengan suara wanita shalihah.  
Meskipun begitu, jika kita ingin menarik suara para pelacur tidak sepatutnya 
menampilkan sosok pelacur aktif sebagai bintang iklan partai Islam. Menurut 
saya, dan saya yakin, semua aktivis partai Islam sepakat, bahwa keridhaan Allah 
lebih penting ketimbang jumlah suara.

Murid: Guru, kalau partai Islam tidak dengan tegas menyuarakan Islam, apa masih 
perlu didukung?

Guru:    Mendukung itu banyak bentuknya. Jika kita rajin memberikan taushiyah 
kepada tokoh-tokoh partai Islam, itu juga suatu dukungan. Begitu juga dengan 
dukungan doa. Dalam kaitan pemilu, pilihan kita hanya dua saja, ikut pemilu 
atau tidak. Jika ikut pemilu, maka kita harus memilih. Kita harus memilih yang 
ada; bukan yang kita inginkan keberadaannya. Nanti, kalau ada pilihan 
capres-cawapres, kita juga dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mungkin saja 
semua calonnya tidak ideal. Misalnya, calon yang satu tidak rajin solat, tetapi 
memiliki pandangan positif terhadap aspirasi Islam. Calon yang lain, kelihatan 
cukup rajin shalat, tetapi dikelilingi orang-orang yang sangat tidak aspiratif 
terhadap cita-cita Islam. Calon yang lain, rajin shalat, tidak korup, tetapi 
sangat lemah kemampuan intelektual dan leadershipnya sehingga peluang terpilih 
sangat kecil.

Murid: Kalau seperti itu, siapa yang harus didukung, Guru?

Guru:  Sebenarnya, di sinilah tugas partai Islam untuk berjuang menampilkan 
calon-calon legislatif atau calon presiden yang ideal, sehingga laku dijual di 
tengah masyarakat. Calon seperti itu perlu disiapkan jauh-jauh sebelumnya. Saya 
yakin, masih ada tokoh yang layak dicalonkan, meskipun mungkin sekarang belum 
kelihatan. Dalam hal ini, perlu dipadukan aspek pragmatis dan idealis. Menurut 
saya, sudah saatnya partai Islam berani untuk mencalonkan sendiri calon 
presidennya. Pilih orang yang betul-betul mendekati kriteria pemimpin yang 
ideal dalam Islam. Bukan hanya karena tampan, kaya, atau populer. Ini semua 
perlu persiapan, perlu perencanaan, perhitungan, kesungguhan, dan yang 
terpenting, keyakinan akan kemenangan yang diraih dengan pertolongan Allah. Di 
partai-partai Islam sekarang, banyak orang-orang pintar, dan jika berpikir 
sunguh-sungguh, insyaAllah mampu mencari rumusan strategi yang baik.

Murid:  Guru, saya sering mendengar sekarang, perjuangan melalui sistem 
demokrasi, lewat parlemen tidak membuahkan hasil. Bahkan, FIS di Aljazair dan 
juga Al Ikhwan al Muslimun di Mesir, setelah memenangkan Pemilu, akhirnya belum 
berhasil juga?

Guru: Kalau kita menilai sesuatu, harus dengan standar yang jelas. Apa yang 
dimaksud dengan “belum berhasil”?  Apakah kalau belum berhasil meraih kekuasaan 
yang sempurna, lalu berarti perjuangan itu tidak ada hasilnya sama sekali?  
Banyak perjuangan para Nabi yang akhirnya berujung pada kekalahan melawan 
penguasa zalim, seperti Nabi Ibrahim. Apakah kita mengatakan, dengan begitu, 
bahwa  perjuangan Nabi Ibrahim tidak ada hasilnya dan sia-sia? Tentu tidak!  
Ada juga gerakan-gerakan Islam yang berjuang tidak lewat pemilu dan mencitakan 
berdirinya negara Islam (khilafah Islamiyah), tapi sudah puluhan tahun belum 
juga terwujud khilafah tersebut, apakah lalu dikatakan, perjuangan mereka tidak 
ada hasilnya sama sekali alias sia-sia juga?

Di sinilah perlunya kita memahami masalah secara mendalam, meneliti secara 
hati-hati, sebelum menjatuhkan vonis, bahwa perjuangan tersebut adalah sia-sia 
atau bathil. Sebab, kadangkala yang kita nilai itu adalah orang-orang bahkan 
tokoh dan ulama yang juga bersungguh-sungguh dalam menegakkan cita-cita Islam. 
Bahkan, mungkin apa yang kita kerjakan sekarang ini, belum ada apa-apanya 
dibandingkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. Lahum a’maaluhum, wa-lanaa 
a’maalunaa. Bagi mereka amal mereka, dan bagi kita amal kita sendiri.

Murid: Guru, partai-partai Islam itu kenapa sulit bersatu? Guru pernah bilang, 
mereka sedang dikeroyok untuk dimusnahkan?

Guru:    Sebenarnya, yang berpecah belah itu bukan hanya partai Islam. 
Partai-partai sekuler juga terpecah belah. Inilah dunia manusia. Kita tidak 
bisa menemukan sosok atau kelompok ideal yang 100 persen sempurna. Pasti ada 
kekurangan dan kelemahannya. Betapa pun kondisinya, yang tetap perlu dijaga 
adalah silaturrahim-nya. Tapi, itu bukan berarti membenarkan perpecahan dalam 
Islam.

Sebab, jelas sekali, dalam QS Ali Imran:103, kita diperintahkan untuk berpegang 
pada “ikatan Allah” dan jangan berpecah belah, wa-laa tatafarraquu!  Lebih 
jelas, dalam QS ash-Shaff: 4, bahwa Allah mencintai orang-orang yang berjuang 
di jalan-Nya dalam barisan yang rapi, laksana bangunan yang kokoh. Tentu, 
mafhum-mukhalafah-nya, Allah tidak cinta kepada kita, jika kita berjuang di 
Jalan Allah, tidak dalam barisan yang rapi; apalagi saling bermusuhan satu sama 
lain, saling jegal, saling caci, saling mengintai kelemahan saudara sendiri; 
yang lebih celaka, jika bersekutu dengan musuh untuk memerangi saudara sendiri. 
Jadi, berjuang di jalan Allah saja tidak cukup. Berjuang harus dalam barisan 
yang rapi; dalam ikatan yang kokoh. Lebih parah lagi, jika tidak berjuang; atau 
berjuang tetapi tidak berjuang di jalan Allah, tetapi di jalan thaghut atau 
jalan setan. Mari kita introspeksi, apakah kita berjuang di jalan Allah, karena 
Allah, untuk memperjuangkan kebenaran, demi tegaknya kalimah Allah; atau 
berjuang untuk kebanggaan diri sendiri atau lebih untuk kebanggaan kelompok!? 

Dalam berjuang, kita perlu yakin dengan pertolongan Allah, jika kita benar; 
tidak perlu menjadi terlalu pragmatis, terlalu mengejar kekuasaan jangka pendek

Murid:  Guru, faktor apa saja yang bisa mendasari terbentuknya persatuan antar 
kekuatan politik Islam?

Guru:     Ada dua syarat, jika ingin partai Islam ingin bersatu. Pertama, harus 
ada kondisi internal yang kondusif, berupa kejelasan tujuan, strategi, taktik, 
dan juga keikhlasan dalam berjuang. Kedua, aspek eksternal, yaitu kemampuan 
merumuskan “ancaman bersama” (common threat).

Partai-partai Islam itu harus menemukan pedoman dasar dalam beberapa masalah, 
sehingga nantinya tidak menjadi kontraproduktif bagi perkembangan partai. 
Misalnya, mereka perlu menyepakati konsep pembangunan yang berbasis ajaran 
Islam itu seperti apa.

Dalam soal utang luar negeri, misalnya, bagaimana seharusnya penanganannya 
sesuai ajaran Islam. Dalam pendidikan nasional bagaimana menyusun dan 
menerapkan konsep pembangunan yang menghargai perkembangan sains  dengan 
kurikulum berbasis al-Quran. Begitu juga dalam urusan seni, maka baiknya 
partai-partai Islam itu memahami benar fenomena seni dan konsep seni Islami 
yang harus dikembangkan ditengah masyarakat. Sebagai contoh, dalam lagu 
Indonesia Raya, jelas sekali diperintahkan: bangunlah jiwanya, bangunlah 
badannya! Nah, sekarang harus dirumuskan, bagaimana pembangunan jiwa manusia 
Indonesia yang ideal menurut ajaran Islam?  Tugas para Nabi juga mensucikan 
jiwa umat Islam. Kita juga diperintahkan oleh Allah melakukan tazkiyyatun nafs; 
qad aflaha man zakkahaa, wa-qad khaaba man dassaahaa; sungguh beruntung orang 
yang mensucikan jiwanya dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya.

Nah, perintah Allah untuk membersihkan jiwa itu kan sangat jelas. Maka, tugas 
partai Islam menjabarkan konsep dan strategi pembangunan jiwa itu di level 
kemasyarakatan dan kenegaraan. Itu yang antara lain membedakan partai Islam 
dengan partai sekuler. Bukan hanya aspek keadilan ekonomi yang diurus, bukan 
hanya cari suara dengan segala cara, tetapi juga urusan pembangunan jiwa, 
bahkan urusan akhirat.

Partai Islam harus tampil cerdas, canggih, dan piawai dalam berdiplomasi, tanpa 
rasa minder menghadapi berbagai intimidasi pemikiran. Ketika seorang tokoh 
partai Islam ditanya, apakah Anda akan menegakkan syariat Islam jika menang 
Pilkada, maka jawablah dengan tegas: “Pertayaan itu kurang tepat. Kita sebagai 
bangsa Indonesia, wajib menegakkan aqidah dan syariat!  Saat ini syariat Islam 
sudah berlaku. Ratusan tahun lalu, syariat Isam sudah berlaku di negeri ini, 
kenapa itu Anda tanyakan? Pertanyaan Anda itu aneh!”

Kita berharap, elite-elite partai Islam punya rasa percaya diri terhadap 
keagungan aqidah dan syariat Islam!

Murid:  Maaf Guru, kalau partai Islam bersikap tegas-tegasan seperti itu, apa 
akan ada yang milih?

Guru:    Kalau sudah pakai nama Islam, pakai identitas Islam, jangan bersikap 
“sok tidak Islam!”  Malah kelihatan lucu!  Menurut saya, sikap seperti itu 
justru menjatuhkan martabat dan mungkin juga perolehan suara partai Islam itu 
sendiri. Karena orang sekuler tidak mau milih partai Islam, dan aktivis Islam 
pun akan lari, dan enggan memilih!  Tugas utama partai Islam itu berdakwah, 
menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Tidak perlu 
plintat-plintut.  Halal-haram jangan dikalahkan oleh prtimbangan pragmatis 
perebutan kekuasaan.  Ini memang perlu sikap yakin, percaya diri, isyhaduu 
bi-anna muslimun!  Yang penting, ditunjukkan, bahwa tokoh-tokoh partai Islam 
itu terdiri atas orang-orang yang pintar, jujur, sederhana, zuhud, istiqamah; 
mereka tidak culas, tidak mudah ingkar janji, tidak munafik, lain yang 
dikatakan lain pula yang di hati, dan sejenisnya.

Di sinilah faktor keteladanan menjadi hal yang utama dalam meraih kepercayaan 
masyarakat.  Jika sudah melaksanakan hal yang ideal sesuai ajaran Islam, tetapi 
rakyat tidak mau milih mereka, maka perlu dilakukan analisis pada 
masyarakatnya. Berarti, dakwah Islam kepada masyarakat perlu terus digalakkan. 
Yang perlu lebih kita risaukan saat ini, bukan soal partai Islam itu kalah atau 
menang; apa kursinya sedikit atau banyak; tapi yang merisaukan adalah jika 
urusan aqidah sudah dikalahkan dengan pertimbangan pagmatisme. Jika  mental 
ketakutan menyampaikan aspirasi dan nama Islam menjadi semakin dominan di 
tengah masyarakat, itu sangat memprihatinkan.

Murid:  Apa berpolitik seperti itu tidak terlalu ideal Guru?

Guru:  Dalam berjuang, kita perlu yakin dengan pertolongan Allah, jika kita 
benar; tidak perlu menjadi terlalu pragmatis, terlalu mengejar kekuasaan jangka 
pendek. Perjuangan politik ini sebenarnya bersifat jangka panjang, tidak cukup 
pada satu atau dua generasi. Mungkin bisa tiga atau empat generasi, bahkan 
lebih. Apa yang kita lakukan sekarang sebenarnya tetap ada kaitannya dengan 
perjuangan para pendahulu kita. Begitu pun, yang kita lakukan sekarang akan 
dikenang, dipelajari, dan diambil hikmahnya oleh generasi yang akan datang. 
Kita berharap, para politisi Muslim bisa meletakkan pondasi perjuangan yang 
baik bagi generasi yang akan datang. Konsep dan langkah-langkah mereka 
didasarkan pada ilmu dan perilaku yang shaleh.

Murid: Ini penting Guru, apa partai Islam perlu sejak dini mengumumkan calon 
Presiden 2014-2019?

Guru:    Menurut hemat saya, sebaiknya sudah sejak dulu-dulu, partai Islam 
menyiapkan calon Presidennya sendiri, sesuai dengan kriteria ideal kepemimpinan 
dalam Islam. Bahkan, sekarang, menurut saya, sebaiknya, sebelum pemilu 9 April 
2014, partai Islam perlu memunculkan secara resmi calon presiden 2014-2019 yang 
benar-benar seorang yang memiliki pribadi yang taqwa, berkualifikasi ulama yang 
paham agama dengan mendalam, dikenal luas oleh umat sebagai sosok yang shalih 
dan hidup sederhana.

Saatnya, semua pihak, khususnya para elite partai Islam berlaku jujur dan 
ikhlas dengan dirinya sendiri. Carilah figur-figur ideal di tengah umat, 
laksanakan istikharah dan musyawarah untuk memilih pemimpin Islam sejati. Apa 
kita tidak malu, begitu banyak ulama, profesor, doktor, profesional Muslim yang 
hebat-hebat, tapi memilih satu saja yang terbaik tidak mampu!  Bukankah kita 
yakin, bahwa Indonesia hanya bisa menjadi negeri yang adil dan makmur di bawah 
naungan ridho Ilahi, jika dipimpin orang yang shalih dan berkemampuan.

Sekali lagi, inilah salah satu tugas utama partai Islam, yakni memunculkan 
calon pemimpin Islam yang ideal. Sedih rasanya jika antar tokoh partai Islam 
justru saling bersaing untuk menonjol-nonkolkan dirinya sendiri, bahwa dia yang 
paling hebat dan paling layak; tanpa mengukur dirinya secara objektif. 
Bertanyalah kepada semua orang yang kita kenal ilmu dan keshalehannya, apa saya 
pantas mencalonkan diri jadi Presiden, apakah masih ada orang yang lebih baik 
dari saya, dan lebih mampu? Itu pribadi pemimpin umat Islam yang sejati!

Murid: Maaf, Guru, apakah Guru sadar bahwa Guru sedang hidup di dunia nyata 
bernama Indonesia?

Guru: Ya, muridku, kata seorang pengusaha yang dianggap sukses: Dream the 
impossible! Saatnya, kita berani bermimpi sesuatu yang orang mengatakan tidak 
mungkin! Kita boleh kalah. Tapi, kita jangan menyerah, apalagi bangga berbuat 
salah! Wallahu a’lam bish shawab!./Bogor, 8 Maret 2014.*

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas 
Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM 
dan hidayatullah.com

Kirim email ke