res: Siapa pun yang menjadi presiden harus  bisa menyelesaikan banyak hal-hal 
buruk yang ditinggalkan oleh rezim SBY,  antara lain pelanggaran HAM, hutang 
luarnegeri yang bertumpuk, keterbelakangan dan kemiskinan penduduk daerah di 
luar pulau Jawa, menjamin hak-hak kaum minoritas (etnik dan agama), masalah 
TKI, pemberantasan korupsi dikalangan penguasa, harta hasil korupsi penguasa 
yang disembunyikan diberbagai pelosok dunia ( misalnya harta Soeharto) . 
Sudikah mereka yang berlomba-lomba menduduki kursi  empuk DPR dan sang presiden 
serta wakilnya menyelesaikan masalah-masalah ini?

http://sinarharapan.co/news/read/140325043/Jangan-Dosa-Itu-Dijadikan-Beban-Jokowi


Jangan “Dosa” Itu Dijadikan Beban Jokowi
25 Maret 2014 Isaac Sinjal* OPINI dibaca: 328 

Dukungan kepada Jokowi begitu kuat menjelang pileg.
Akhirnya, Joko Widodo atau yang akrab dipanggil Jokowi resmi mendapat restu dan 
mandat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, untuk maju sebagai calon presiden 
pada Pemilihan Umum (Pemilu) 9 Juli 2014.

Mandat yang sudah lama ditunggu-tunggu para relawan Jokowi calon presiden 2014 
(Bara JP ) terjawab sudah. Ini langsung dinyatakan Jokowi setelah satu hari 
sebelumnya ia sempat menghilang dari Jakarta, menemui Megawati Soekarnoputri 
untuk nyekar ke makam Bung Karno (presiden pertama RI).

Dukungan kepada Jokowi yang saat ini menjabat Gubernur DKI Jakarta, begitu kuat 
menjelang pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) yang 
akan diselenggarakan pada 9 April 2014 dan 9 Juli 2014.

Bahkan, bukan sekadar dukungan dari masyarakat dengan membentuk Barisan Relawan 
(Bara) Jokowi for Presiden 2014 di sebagian besar provinsi di Indonesia, 
melainkan juga datang dari kader-kader PDI. Kemudian beberapa waktu lalu 
(Minggu, 9 Maret 2014) di Lapangan Monumen Nasional (Monas) juga dideklarasikan 
adanya Srikandi Pendukung Jokowi for Presiden 2014.

Bukan hanya itu, salah satu sesepuh PDIP, Sabam Sirait, walaupun tidak 
menyatakan langsung mendukung Jokowi sebagai calon presiden (capres) 2014, ia 
mengatakan baru-baru ini di Jakarta, apabila PDIP menjadikan Jokowi menjadi 
capres, partai tidak perlu lagi membentuk timses (tim sukses). Itu karena 
Jokowi sudah sangat populis, baik di internal maupun eksternal partai. 

Jokowi pernah menjabat sebagai Wali Kota Solo periode 2005-2010 dan terpilih 
lagi untuk periode kedua 2010-2015. Namun, tidak diselesaikan karena ia 
dicalonkan PDIP untuk ikut Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012-2017. Jokowi 
berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mantan Bupati Belitung 
periode 2005-2006 dari partai Gerindra. Mereka kemudian terpilih sebagai 
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Kepemimpinan pasangan yang dilantik pada Oktober 2012 itu kerap mengeluarkan 
kebijakan fenomenal. Jokowi dalam menjalankan tugasnya lebih banyak turun ke 
bawah (blusukan) serta bersifat merakyat. 

Hal-hal yang dilakukan kedua pemimpin DKI Jakarta itu menyebabkan mereka berdua 
menjadi populis dan disenangi rakyat Jakarta. Khususnya Jokowi, dengan 
penampilan yang sederhana serta merakyat, membuatnya tidak hanya oleh kalangan 
pangamat politik, tetapi sebagian besar rakyat Indonesia menjadikan "contoh" 
seorang pemimpin Indonesia masa datang. 

Akibat kepemimpinan SBY yang ternyata dirasakan hanya menampilkan pencitraan 
dan lebih banyak curhat ketimbang memperhatikan rakyat, sementara itu pula 
menjelang Pemilu 2014, partai peserta pemilu yang telah menampilkan para calon 
mereka yang akan maju menjadi Presiden, ternyata oleh sebagian besar rakyat 
melihatnya "kurang berkualitas". Hal ini menjadikan Jokowi yang semula hanya 
"contoh" akhirnya didukung masyarakat sebagai capres 2014.

Relawan Jokowi juga sudah mendesak agar PDIP segera mendeklarasikan capres, 
yang mana dimaksudkan oleh mereka adalah Jokowi. Boni Hargens dari Lembaga 
Pemilih Indonesia (LPI) menyatakan pada Minggu (9/3), pencapresan Jokowi oleh 
PDIP adalah faktor penentu apakah dalam pemilu nanti, elektabilitas partai 
meningkat. 

Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP, dianggap sebagai sosok yang 
sukses mengusung Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.

"Jika Jokowi diusung setelah Pileg 9 April 2014, PDIP memang tetap menang, 
meskipun mengantongi sedikit suara. Sementara itu, jika Jokowi dicalonkan 
sebelum tanggal tersebut, PDIP akan lebih banyak mengantongi surat suara", kata 
Boni Hargens pada kesempatan diskusi yang diselenggarakan Relawan Jokowi for 
Presiden, dengan tema "Jokowi Effect dan Pemilu Berkualitas". Jadi, kita tunggu 
benar tidaknya pernyataan Boni Hargen.

Dosa

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, 
memberikan komentarnya. Partai politik (parpol) seharusnya mengantisipasi 
rencana Jokowi untuk menjadi peserta pemilihan presiden. 

Terlebih lagi, kalau keduanya maju karena ini masih menjadi bagian tanggung 
jawab atas sikap mereka. Menurut Siti Zuhro, dalam politik di Indonesia memang 
kalau kemungkinan, apa saja bisa. 

DKI bisa pilkada ulang, tetapi di mana tanggung jawab partai? Di mana tanggung 
jawab jabatan karena mereka berdua sudah bersumpah. Mekanismenya, Jokowi maupun 
Ahok harus mundur dari jabatannya untuk bisa maju dalam pilpres. 

Masa ditinggal begitu saja, katanya, ini Ibu Kota. Malah menjadi preseden buruk 
bagi dunia politik dan demokrasi di Indonesia. Siti Zuhro mengungkapkan, pemilu 
di Indonesia pada era Reformasi memang memunculkan ambisi-ambisi oportunistis. 
Namun, partai harus mempertimbangkan efek negatifnya, etika pemerintahannya, 
roda pemerintahan, dan perhitungan lainnya.

Hal yang serupa disampaikan pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat 
Supriyatna. Menurutnya, pencalonan Jokowi menjadi capres itu menyangkut etika 
politik. Kalau berpindah-pindah, komitmennya tidak dijalankan. 

Ia mengatakan agar tolong dikembalikan janji yang belum terpenuhi bagi warga, 
itu yang harus diselesaikan. Jadi, kalau Jokowi maju sebagai capres, berarti 
tidak memiliki etika politik. Dulu, katanya, menambahkan, pas jadi gubernur, ia 
tidak pernah janji untuk menjadi presiden.

Igor Dirgantara, pengamat politik Universitas Jayabaya menilai, video soal 
janji Jokowi dan pasangannya Ahok, semasa kampanye mereka dan beredar melalui 
YouTube di jaringan sosial media adalah hal yang baik. 

Video itu untuk mengingatkan Jokowi dan Ahok untuk menepati janji yang sudah 
mereka ucapkan di depan masyarakat. Itu karena salah satu dasar pemimpin yang 
baik adalah harus bisa merealisasikan janji-janji itu.

Terlebih lagi, Jokowi saat ini sudah dianggap baik dalam memimpin DKI Jakarta, 
walapun belum dua tahun. Dengan penampilan yang sederhana, ia mau bekerja keras 
dan dekat dengan rakyat.
Jadi, sangat disayangkan jika hal-hal yang sudah baik selama ini dilakukan, 
dirusak dengan ingkar janji tersebut. Jadi, kalau tidak selaras antara janji 
dengan realisasi itu, akan dipertanyakan masyarakat. 

Dalam video itu diperlihatkan, di mana Jokowi dengan kemeja kotak-kotak 
menyampaikan kata-kata janjinya di hadapan para pendukung dan masyarakat 
Jakarta, dengan kata-kata, "Katanya saya tidak ingin menyelesaikan lima tahun. 
Diisukan gitu, untuk apa? Itu biar masyarakat ragu. Oleh sebab itu, dalam 
gerakan ini saya sampaikan, Jokowi dan Ahok komit untuk memperbaiki DKI dalam 
lima tahun". Akhir dari video itu ditutup dengan kalimat, "Selamat bertugas, 
Bapak Jokowi. Kami pegang janji Anda untuk membenahi Jakarta lima tahun".

Penulis sangat setuju dan mendukung, apabila kepemimpinan Jokowi, baik semasa 
Wali Kota Solo dan kini menjadi Gubernur DKI Jakarta, dijadikan "contoh" 
perlunya Indonesia dipimpin seorang pemimpin yang merakyat, jujur, tegas, dan 
berpenampilan sederhana. 
Namun untuk menjadi capres, kenapa harus dia? Ada apa di balik "kehebohan" 
dukungan kepada Jokowi menjadi capres? Apakah ada “bisikan” saat nyekar di 
makam Bung Karno, yang memastikan Megawati Soekarnoputri (yang juga salah satu 
anak dari almarhum Bung Karno) untuk menetapkan Jokowi menjadi capres dari PDIP.

Jadi, kalau janji atau sumpah yang disampaikan selama kampanye maupun setelah 
dilantik menjadi gubernur dan Ahok dilanggar itu adalah dosa, janganlah "dosa" 
tersebut dibebankan kepada Jokowi.

Rumor

Sebagai wartawan, penulis sempat mendengar rumor menyangkut Jokowi ini, yang 
memang sudah meramalkan, ia (Joko Widodo) salah satu pemimpin Indonesia pada 
masa datang. Itu sebabnya, pada waktu kampanye untuk menjadi Gubernur DKI Jaya 
telah beredar rumor itu, yang dibantah Jokowi seperti yang diperlihatkan dalam 
video di YouTube.

Ternyata, rumor itu datangnya dari kalangan para jenderal purnawirawan yang 
ingin mengembalikan angkatan bersenjata atau tentara nasional Indonesia (TNI) 
kepada saptamarga, tidak berpolitik. Melalui upaya mereka yang seperti biasanya 
keikutsertaan Amerika Serikat "bermain" dalam kehidupan politik beberapa negara 
ketiga termasuk Indonesia, begitu cepat dukungan Jokowi untuk menjadi presiden 
dengan hadirnya kelompok-kelompok masyarakat Indonesia mendeklarasikan "Jokowi 
for Presiden 2014".

Hal ini juga memengaruhi Megawati Soekarnoputri, direstuilah Jokowi untuk maju 
menjadi presiden mewakili partai banteng moncong putih dengan mengeluarkan 
mandat resmi, seperti yang disampaikan Jokowi kepada pers.

Namun, setelah dipastikan Jokowi mendapatkan untuk maju sebagai capres dari 
PDIP, yang mengherankan justru wakilnya disebut-sebut nama dua nama jenderal 
purnawirawan, yang kemungkinan salah satunya menjadi wakil presidennya, yaitu 
Jenderal (purn) Ryamizard Ryacudu dan Jend (purn) Djoko Suyanto. Apakah sudah 
terjadi kompromi antara saptamargais dengan dwifungsi ABRI.

Ini politik di Indonesia. Semua kemungkinan bisa saja terjadi karena (kecuali 
Soekarno atau Bung Karno) sampai periode presiden yang keenam, Indonesia belum 
mempunyai standar yang bisa dijadikan bahan baku untuk menciptakan presiden 
yang benar-benar berkualitas bagi bangsa Indonesia. Semua terjadi secara 
"dadakan", mulai dari Soeharto (karena terjadi G30S/PKI 1965), Habibie 
(menggantikan Soeharto karena "lengser", 21 Mei 1998), KH Abdurrahman Wahid 
atau Gus Dur (adanya Reformasi mengganti Habibie, 1999), dan Megawati 
Soekarnoputri (mengganti Gus Dur).

Kehadiran Susilo Bambang Yudoyono (SBY) menjadi Presiden keenam melalui Pemilu 
2004 diakibatkan kejenuhan masyarakat terhadap pemimpin bangsa yang "itu-itu" 
lagi setelah Reformasi dan hasil permainan kalangan intelijen dibantu dari AS 
membawa SBY terpilih menjadi presiden.

Berdasarkan sebagian besar lembaga survei menyatakan, Jokowi berada di tempat 
teratas dibandingkan para capres yang sudah lebih dulu dideklarasikan partainya 
masing-masing, seperti Wiranto dari Partai Hanura, Prabowo Subianto (Gerindra), 
termasuk RH Oma Irama, Mahfud MD, Gita Wirjawan. Bahkan, dinyatakan pula, 
Jokowi “disandingkan” dengan siapa pun yang akan menjadi wakil presidennya, 
tetap unggul di peringkat teratas.

Sah-sah saja dan tentunya penulis mendukung terpilihnya Jokowi menjadi presiden 
2014 karena dari sebagian besar calon yang "ditampilkan" belum ada yang punya 
"pengalaman" memimpin rakyat. Jokowi, dimulai dari Wali Kota Solo periode 
2005-2010, kemudian 2010-2012 (dari masa jabatan 2010-2015), Gubernur DKI 
Jakarta untuk periode 2012-2017. 

Ia belum terlihat cacatnya selama menjalankan pemerintahannya, malahan 
selanjutnya dideklarasikan rakyat untuk menjadi presiden 2014. Tidak melihat 
lagi masalah etis atau tidaknya cara-cara yang dilakukan ini, kecuali tidak 
melanggar undang-undang ataupun aturan yang berlaku terhadap tata cara 
pencalonan presiden.

Jokowi kemungkinan besar bisa dipastikan menjadi presiden (periode 2014-2019), 
tetapi dengan "keikutsertaan Paman Sam" dalam pemilihannya menjadi capres yang 
dideklarasikan rakyat.

Apakah Jokowi dalam menjalankan pemerintahannya sebagai presiden akan tetap 
"bertahan" dengan kejujuran/transparan setiap mengeluarkan kebijaksanaan, tidak 
menuju negara kapitalis, berpenampilan sederhana, antikorupsi dengan 
melanjutkan, dan lebih meningkatkan kinerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), 
menjadikan Indonesia sebagai negara hukum, juga perekonomian rakyat sebagai 
primadona.

Kekhawatiran lain dari penulis terhadap Jokowi apabila menjadi presiden apakah 
dia bisa memisahkan dirinya selaku kader PDIP dan Presiden yang memimpin rakyat 
Indonesia. "Tentunya, tidak ada lagi kata-kata suatu kebijakan atau keputusan 
dari dirinya dengan 'terserah Ketua Umum DPP PDIP' seperti apa yang disampaikan 
setiap ditanyakan soal ia akan mencalonkan diri menjadi presiden atau tidak".

Last but not least, Jokowi yang lebih merakyat dengan panggilan "Bung Joko" 
sebagai Presiden pada Pemilu 2014 hasil pilihan sebagian besar rakyat 
Indonesia, akan sesuai keinginan dan harapan rakyat dalam menjalankan 
pemerintahannya. Semoga.

*Penulis adalah wartawan. Tinggal di Jakarta.

Kirim email ke