res  Negara penakut ataukah negara penipu rakyat bin koruptor?

http://harianrakyat.co.id/pejuang-devisa-dari-negara-penakut/bin 

“Pejuang Devisa ” Dari Negara Penakut
Posted by admin 

 
Feb 5, 2014

B. P. H. TAMBUNAN :  KOMITE Pengawas dan Pelindung Tenaga Kerja Indonesia 
(KPPTKI) serta jaringan-jaringannya di Jakarta dan di berbagai kota di seluruh 
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), secara khusus kerap memberi 
informasi pada penulis. Informasi yang sering disampaikan itu,  berkenaan 
peristiwa-peristiwa konyol yang menyedihkan, dan mengenaskan, terkait nasib 
suram buram para Tenaga Kerja Indonesia (TKI), terlebih lagi Tenaga Kerja 
Wanita (TKW) yang pergi jauh-jauh dari kota-kota tingkat Kabupaten, Kecamatan, 
bahkan dari desa-desa terpencil di seluruh bumi Garuda, untuk mengais devisa ke 
negara-negara lain di Asia, di Eropa, bahkan Amerika Serikat.

Salah satu dari banyak informasi terkini ialah menyangkut kasus meninggalnya 
seorang lagi TKW di Arab Saudi. TKW yang meninggal itu bernama Ngantini binti 
Karto, kelahiran tanggal 29 Juni 1975. Berangkat ke Arab Saudi dengan paspor 
AB461091 ID TKI 5889939, dari alamatnya di Ngampel, Kebon Romo, Sragen, 
Provinsi Jawa Tengah. Sejak meninggal beberapa hari lalu setelah sepekan 
dirawat di sebuah rumah sakit setempat, hingga detik ini pada 4 Pebruari 2014, 
baik Duta Besar (Dubes) RI, atau pun salah seorang  pejabat tinggi dalam 
jajaran Kedutaan Besar (Kedubes) RI di Arab Saudi, belum pernah sejenak 
menampakkan batang hidungnya melakukan aksi pengurusan jenazah almarhumah 
Ngantini. Bahkan, pihak orangtua, atau keluarga-keluarga almarhumah Ngantini di 
Sragen hingga sejauh sekarang, juga belum mendapat kontak dari pihak Kedubes RI 
di Arab Saudi. Meniru Dubes atau petinggi-petinggi Kedubes RI di Arab Saudi 
yang passif itu, perusahaan  pemberangkat Ngantini bekerja ke Arab Saudi, yakni 
Agency Al Musharraf Man Power Service dan PT Amri Margatam menghilang tak 
bertanggung-jawab.

Ikhwal para TKI atau TKW yang didera masalah dari majikan-majikan yang 
menampungnya bekerja, nyaris setiap hari menjadi berita di berbagai media 
massa. Tidak cuma di media cetak, tapi juga media online. Masih segar dalam 
ingatan, kasus 2 (dua) orang TKI asal Kerinci, Provinsi Jambi, Iweldo Putra dan 
Pondri Neriko, divonnis hukuman mati atas dakwaan pencurian sebuah kotak 
sumbangan dari sebuah mesjid. Begitu pula, azab sengsara yang nyaris saja 
menghilangkan nyawa TKW bernama Sihatul Alfiah asal Banyuwangi, Provinsi Jawa 
Timur, akibat siksaan majikannya di Taiwan, yang memaksanya terus bekerja tanpa 
sempat beristirahat, apalagi tidur pulas. Akhirnya, Sihatul harus masuk rumah 
sakit dalam kondisi koma. Dan, tak kurang pahit getirnya penderitaan TKW 
bernama Erwiana Sulistyaningsih, asal Ngawi, Provinsi Jawa Timur yang terpaksa 
menghilang dari rumah majikannya yang setiap hari menyiksanya di Hong Kong. 
Dengan berbagai usaha, Erwiana bisa kembali ke Ngawi. Boro-boro memboyong 
sejumlah besar devisa sebagai yang sebelumnya sangat diimpi-impikannya. Malah, 
hanya sekujur tubuhnya yang justru bisa pulang. Itu juga penuh bilur-bilur, 
bukti atau bekas siksaan-siksaan  yang mengazabnya selama kurun berbulan-bulan.

KEHARUSAN, DAN MUDARATNYA

ADALAH suatu kenyataan, betapa dari waktu ke waktu, untuk tak mengatakan nyaris 
setiap hari, para TKI dan TKW mengalir pergi keluar dari bumi Garuda, mencari 
pekerjaan ke berbagai negara. Para TKI dan TKW itu pergi, bisa secara resmi 
lewat mekanisme dan prosedur yang ditetapkan rezim pemerintah Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono, dengan mengandalkan perusahaan-perusahaan jasa pengiriman 
TKI dan TKW. Tapi, karena mahalnya biaya yang perlu dan mesti disiapkan, 
sedangkan kepapa-miskinan tak memungkinkan para TKI dan TKW memenuhinya, 
membuat para TKI dan TKW menempuh jalan illegal, beresiko tinggi yang pasti    
tidak menyenangkan. Jalan untuk pergi menuju ke luar negeri dilakukan darI  
Tanjungbalai, Asahan, Provinsi Sumatera Utara, dari Bengkalis, Provinsi Riau, 
dari Batam dan Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), dari Entikong, 
Provinsi Kalimantan Barat, dari Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur, dan dari 
Sangir, Provinsi. Sulawesi Utara.

Banyak masalah yang memaksa para pria dan wanita merasa pergi dari bumi Garuda 
untuk mengadu nasib ke  negara-negara lain sebagai suatu keharusan. Meski untuk 
itu resikonya dan konsekuensinya mungkin lebih mengenaskan. Masalah-masalah 
yang mengharuskan itu antara lain, ialah lapangan kerja yang masih sangat 
terbatas, upah buruh tani dan buruh nelayan yang relatif tak layak,  begitu 
pula upah buruh di dunia usaha industri yang senyatanya cuma cukup untuk 
sekedar makan 2 (dua) kali sehari.  Ditambah lagi sesak pengabnya dan beratnya 
tekanan kemiskinan. Bahkan, kepapaan hidup rakyat termarjinalkan yang bermukim 
di pinggiran kota- kota Provinsi,  Kabupaten, Kecamatan. Terlebih pula di 
desa-desa yang jauh di pedalaman-pedalaman terpencil, yang sepanjang era 
kekuasaan rezim pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nyaris tak pernah 
mendapat perhatian serius dan fokus. Artinya, bukan saja  Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono sendiri yang tidak ingin ber”blusukan”  menyambangi rakyat di 
desa-desa pedalaman terpencil itu. Melainkan juga Menteri Dalam (Mendagri), 
Gumawan Fauzi, Gubernur dan Bupati, bahkan Camat tidak pula meninjau 
daerah-daerah yang merupakan kantong-kantong kepapaan.

Kecuali berbagai nestapa, berupa petaka kematian atau maut jiwa dan raga, 
divonis hukuman mati, dan azab sengsara karena disiksa semena-mena para 
majikannya, yang secara langsung  menimpa diri TKI dan TKW, tak kalah 
mengharukan, atau menyedihkan pula resiko terkait dampak sosial atas kepergian 
pria dan wanita menjadi TKI atau TKW. Bisa disaksikan, betapa amat banyak 
anak-anak di bawah umur yang sebetulnya masih harus diasuh dan dirawat, menjadi 
terlantar — malahan  gentayangan seperti gelandangan dipaksa pihak-pihak 
tertentu untuk mencuri, atau  mengemis di jalanan di berbagai kota, setelah 
ditinggal ibunya yang TKW ke luar negeri. Rupanya, para keluarga yang lain, 
termasuk suami TKW bersangkutan, memang mustahil mampu mengurus dan merawat 
anak-anak tersebut, seperti dilakukan ibu kandungnya sendiri. Masalah lain, 
yang juga timbul ketika pria harus pergi meninggakan istrinya dan anaknya guna 
menjadi TKI, ialah perpecahan rumahtangga. TKI yang setiap harinya tak bersua 
dengan anak istri yang ditinggalnya di desa, lambat laun didera  kesepian. 
Lantas berhubungan dengan wanita lain penduduk setempat atau TKW yang baru 
dikenalnya di luar negari. Itu juga belum lagi termasuk dengan dampak sosial 
lainnya yang kerap mencuat ke permukaan, sebagai konsekuensi logis menjadi TKI 
dan TKW ke luar negeri. Tegasnya, pergi ke luar negeri hanya untuk menjadi TKI 
dan TKW, sangat banyak mudaratnya.

PEJUANG DEVISA

MESKI dapat dikatakan para TKI dan TKW merupakan bagian rakyat yang paling 
termarjinalkan, sehingga harus rela menerima resiko dan konsekuensi logis yang 
terburuk di negara lain, TKI dan TKW tetap berpredikat pejuang devisa bagi 
kepentingan bangsa dan NKRI.

Perlu disadari, sangat tidak mudah bagi para pria dan wanita untuk mengambil  
suatu keputusan berupa keharusan pergi menjadi TKI atau TKW ke negara-negara 
lain. Dalam ini TKI dan TKW, suka atau tidak suka, dengan terpaksa meninggalkan 
istri atau suami dan anak-anak, yang masih membutuhkan pembinaan, pengawasan, 
dan kasih sayang suami dan istri bersama-sama. Lagi negara tempat bekerja yang 
dituju selain jauh,  juga berbeda masyarakat dan budaya.

Kepergian, atau keberangkatan menjadi TKI dan TKW ke berbagai negara terkait 
dengan kebijakan pembangunan nasional. Satu dan lain, karena sejak era  orde 
baru, hingga rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum benar-benar fokus 
mengentaskan masalah kemiskinan rakyat. Begitu pula masalah kebodohan, yang tak 
terpisahkan dari kemiskinan dan pendidikan.

Menurut catatan, hingga dewasa ini NKRI telah memobilisasikan sekitar sebanyak 
6.8 juta TKI dan TKW di berbagai negara. Khusus di Malaysia saja bekerja 
sebanyak 2.5 juta TKI dan TKW, sedangkan di Arab Saudi sebanyak 1.5 juta TKI 
dan TKW. Sisanya, sekitar sebanyak 2.8 juta TKI dan TKW bekerja di Taiwan, di 
Hong Kong, di Korea Selatan, dan di negara-negara Timur Tengah lainnya. Walau 
terbilang sedikit, bahkan juga di negara-negara Eropa, dan Amerika Serikat. 
Seluruh TKI dan TKW tersebut mampu mendulang devisa sebesar Rp 72 trilyun per 
tahun, yang dikirimkan pada para keluarga di berbagai desa di bumi Garuda ini. 
Kiriman devisa para TKI dan TKW sebesar Rp 72 trilyun itu, senyatanya mampu 
menggerakkan ekonomi keluarga, atau sektor riil pedesaaan, malah nasional. 
Ketimbang koruptor-koruptor pembancak harta serta kekayaan bangsa dan NKRI, 
jelas jasa para TKI dan TKW sebagai pejuang-pejuang devisa, jauh lebih layak 
untuk harus dihargai.


NEGARA PENAKUT


MENGINGAT peran dan jasa para TKI dan TKW selaku pejuang-pejuang devisa, yang 
justru sangat dibutuhkan bangsa dan NKRI, seyogianya rezim pemerintah Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono bersama dengan segenap jajarannya harus secara 
konsisten dan sinergis senantiasa siap melindungi, membela, dan menyelamatkan 
setiap TKI dan TKW yang tengah menghadapi masalah, bahkan kematian di luar 
negeri.


Berbeda dengan pemerintah Philipina. Jika sampai terjadi masalah dan petaka 
terhadap warganegaranya yang bekerja di luar-negeri, pemerintah Philipina  
tidak pernah membuang -buang waktu, Dengan secepat kilat, pemerintah Philipina  
segera melakukan langkah-langkah yang diperlukan dalam upaya menolong, dan atau 
membebaskan warganegaranya. Bahkan, Presiden atau Wakil Presiden Philipina 
sendiri pernah langsung turun ke Kualalumpur, Malaysia, ketika seorang 
warganegara Philipina akan dihukum gantung.


Maka sungguh sangat disesalkan sikap  yang diekspresikan rezim pemerintah 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menghadapi para TKI dan TKW yang sedang 
menghadapi masalah besar terkait dengan pekerjaannya di luar negeri. Ketika 
kematian TKI atau TKW pun sudah terjadi yang mendera Ngantini binti Karto 
akibat siksaan majikannya di Arab Saudi, apalagi sekadar hanya sakit berat dan 
harus masuk rumah sakit, jangankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, atau 
Wakil Presiden Boediono yang datang nongol menjenguknya. Menteri Tenaga Kerja, 
Muhaimin Iskandar, dan Menteri Luarnegeri, Marty Natalegawa, bahkan Dubes RI di 
Arab Saudi, saja pun tidak peduli. Terhadap beragam persoalan yang kerap 
menimpa para TKI dan TKW lainnya, rezim pemerintah Presiden Susila Bambang 
Yudhoyono tidak pernah tampak langsung segera mengambil tindakan perlindungan, 
pembelaan, pertolongan, dan penyelamatan yang berarti. Dengan kata lain, 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kapasitas sebagai Kepala Negara, 
sekaligus Kepala Pemerintahan bangsa dan NKRI, seakan tidak perduli terhadap 
nasib malang para TKI dan TKI. Sikap yang kerap diperlihatkan rezim pemerintah 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk jajaran Kedubes RI di berbagai 
negara, di mata bangsa-bangsa lain di dunia, dilihat sebagai watak negara 
penakut. Mungkin, itu sebabnya kenapa berbagai bangsa dan negara di dunia tidak 
lagi menghormati bangsa dan NKRI. Apalagi bangsa-bangsa dan negara-negara 
penerima para TKI dan TKW. ***


B. P. H. TAMBUNAN, salah seorang Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aliansi 
Nasionalis Indonesia (ANINDO).

Kirim email ke