SAYA kira disamping kemungkinan meleset dan "tidak becus" masih ada 
kemungkinan lain yang lebih serius yaitu  motif politik yang pada gilirannya 
akan menimbulkan efek psikologis. Tentu kita tidak bisa atau sukar mengetahui 
siapa-siapa saja yang mungkin bermaian dibalik penyelenggara survei.  Apa yang 
diharapkan banyak orang terhadap "Jokowi efect" menurut Ganjar Pranowo ternyata 
lumpuh atau kabur. Terlalu percaya akan hasil survei bisa menimbulkan efek 
psikologis yang berakibat negatif. Umpamanya karna terlalu optimis akan menang 
karna memiliki hasil survei yang tinggi akan mudah berlenggang kangkung tidak 
merasa perlu buang uang banyak untuk kampanye atau harus kerja keras, 
menyampingkan pemasangan baliho, kurang gigih menerobos media, sedikit kampanye 
mulut dsb.dsb. Lalu harus dilihat juga efek Partai-Partai lain yang merosost 
dan  mengalami kejatuhan populraritas. Saya kira, efek Jokowi lebih banyak 
disedot oleh menurunnya popularitas  Partai Demokrat  dan Golkar dan lebih 
sedikit oleh kepopuleran Jokowi sendiri. Tentu tidak bisa dibantah kepopuleran 
Jokowi memang cukup tinggi tapi tidak cukup merata dalam skala seluruh 
Indonesia. Dan juga soal waktu menetapkan Jokowi sebagai capres. Jauh sebelum 
Pileg 9 April saya telah menulis bahwa Megawati akan melakukan kesalahan besar 
bila dia menunggu hasil Pileg baru menetapkan capresnya. Toh, Mega tetap saja 
terlambat meskipun belum sama sekali terlamnat.Target 27 persern tidak tercapai 
dan hanya 17 persen. Tampaknya perbedaan tidak terlampau besar, namun jelas 
bukan kemenangan yang diharapkan dan tidak cukup alasan untuk bergembira. Dan 
bila tidak menarik pengalaman dan pelajaran secara drastis, bukan tidak 
mungkion Partai Mega akan mengaalami kekecewaan besar dalam pemilihan capres 
bulan Juli nanti. Tapi untuk menang besar sudah hampir hilang dari  harapan. 
Juga PDI-P terlalu cepat mengumumkan bahwa Presiden mereka harus tunduk pada 
perintah Partai yang ini sebuah kesalahan taktis yang dilancarkan sebelum 
Pemilu berahir seluruhnya.Dengan demikian PDI-P telah mensahkan sendiri bahwa 
bahwa capres Jokowi memang akan semata jadi Presiden boneka. Kesalahan taktis 
ini hampir sudah tidak mungkin diperbaiki.

GOLPUT.
Kita tidak bisa mengenyampingkan atau melihat sebelah mata faktor pengaruh 
Golput. Golput terlalu banyak dicela dari berbagai segi. Tentu golongan ini 
akan marah, tersingung atau merasa terhina bila mereka dicela atau diabaikan 
ujudnya. Logis saja kita tidak bisa mengharapkan orang lain akan mengikuti kita 
kalau  sikapnya yang bertentangan dengan sikap kita,  kita cela atau kita 
kucilkan karna  mereka akan semakin menjauh dan bahkan hingga mencari teman 
lebih banyak untuk mengikuti sikap mereka untuk ber-golput. Untuk menang Pemilu 
orang harus pandai merayu. Bagaimanapun cantiknya dan gantengnya seorang pemuda 
atau gadis bila mereka  mencela orang lain yang tidak merayunya, tentu tidak 
akan berhasil merebut cinta orang lain dan bahkan akan semakin dijauhi. 
Bagaimanpun  ber-golput adalah salah satu hak berdemokrasi yang juga harus 
dihormati namun boleh dirayu. Di Belanda sendiri setiap ada Pemilu. yang 
bergolput bisa mencapai hingga 45 persen dan mereka tidak pernah dicela, tidak 
disinggung perasaan dan kehormatannya sebagai kaum Golput. 
Kalua MUI mengeluarkan fatwa haram pada kaum Golput,sangat mungkain semua 
Partai yang berlatar belakang Islam tidak akan tambah suara seperti sekarang 
ini dan untunglah MUI tidak  mengharamkan Golput yang itu berarti dia tidak 
menambah musuh yang tidak perlu.
ASAHAN. 

  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; Djoko Rahardjo ; 
Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] ; 
[email protected] ; Zainal Bintang ; Taufiq Ismail ; [email protected] 
; dinsyamsuddin ; Syafiuddin Makka ; hamid awaludin ; Muhammad Basri ; 
[email protected] ; Harjono Kartohadiprodjo ; halim perdanakusuma ; Makarim 
Wibisono ; [email protected] ; Danipurwanegara /PPSN ; chandra 
motik ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; Fadli Zon ; Liddle Bill ; Mangadang Napitupulu ; Jayadi 
Hanan ; Saiful Mujani ; Saiful Mujani 
  Sent: Friday, April 11, 2014 5:03 AM
  Subject: Fwd: Daftar Nama Lembaga Survei Yang Meleset Hasilnya


  Mengapa melesetnya jauh? Tidak becus atau sengaja  untuk kepentingan 
komersial?



  ---------- Forwarded message ----------
  From: barata media <[email protected]>
  Date: 2014-04-11 9:25 GMT+07:00
  Subject: Daftar Nama Lembaga Survei Yang Meleset Hasilnya




  Daftar Nama Lembaga Survei Yang Meleset Hasilnya
  By Sawerigading - Fri Apr 11, 9:11 am

    a.. 0 Comments 
    b.. 3 views

  JAKARTA, BATATAMEDIA - Sejumlah lembaga survei terbukti meleset hasil 
surveinya terkait perolehan suara partai politik (Parpol) yang ikut Pemilu 
Legislatif (Pileg) 2014.

  Namun dalam hal ini, ada kekecualian yaitu Lingkaran Survei Indonesia 
pimpinan Denny JA.

  Sebelum Pileg 2014, lembaga survei ini menjagokan partai tertentu sebagai 
pemenang atau di papan atas namun terbukti hasil hitung cepat (quick count) 
sejumlah lembaga survei kredibel ternyata hasilnya berbeda signifikan.

  Berikut sejumlah lembaga survei yang surveinya meleset :

  1. Lembaga Survei Jakarta (LSJ)

  Hasil survei LSJ yang dilansir 3 April 2014 atau 6 hari sebelum pencoblosan 
Pileg 9 April 2014 memperlihatkan lembaga survei itu masih menempatkan Hanura 
dan Gerindra   di urutan teratas.

  LSJ mengaku melaksanakan survei 18 - 30 Maret 2014 dan jika Pemilu diadakan 
saat itu maka  Hanura akan dipilih oleh 15,1% publik. Sedangkan partaiGerindra  
memiliki elektabilitas sebesar 13,5%.

  Namun ini jauh bertolak belakang dengan quick count sejumlah lembaga survei 
yang menempatkan Hanura posisi terbawah parpol yang lolos ke parlemen dengan 
perolehan suara 5,11 persen berdasarkan perhitungan cepat Kompas. Yang agak 
mendekati adalah Gerindra   dimana hasil perhitungan cepat sekitar 11,5 persen.

  2. Indonesia Research Centre (IRC)

  Survei IRC sebelum Pemilu melansir pada Pileg 2014 elektabilitas partai 
politik berbasis Islam  seperti PKS, PAN, PKB dan PPP hanya diminati kurang 
dari 3.5% masyarakat. Namun terbukti bahwa PKS, PAN, PKB, dan PPP perolehan 
suaranya cukup signifikan serta naik kecuali PKS yang turun perolehan suaranya 
di Pileg 2014.

  Pada 1 Februari 2014 IRC juga menyebutkan bahwa perolehan suara PDI P bisa di 
atas 30 persen di Pileg jika segera menetapkan Jokowi sebagai Capres.

  3. Lembaga Klimatologi Politik

  Merilis hasil survei terkait elektabilitas partai politik per 13 Maret 2014 
menetapkan PDIP dan Golkar duduk di peringkat teratas sedangkan Partai Demokrat 
dikalahkan oleh Hanura dan Gerindra   .  

  "Ada 4 partai politik yang elektabilitasnya di atas 1 digit yaituGerindra   , 
Golkar, Hanura, dan Gerindra.Yang lain di posisi menengah," kata CEO Lembaga 
Klimatologi Politik Usman Rachman di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta 
Pusat, Kamis (13/3/2014).

  Partai ini menempatkan Hanura di tiga besar. Survei LKP dilaksanakan pada 
tanggal 26 Februari-6 Maret 2014 di 34 provinsi dengan mengambil 1240 responden 
melalui teknik multi stage random sampling. Populasi dari survei adalah seluruh 
penduduk Indonesia yang sudah memiliki hak pilih atau minimal telah berusia 17 
tahun dan/atau belum 17 tahun tetapi sudah menikah.

  Padahal Hanura di urutan buncit nomor 10 sesuai quick count sejumlah lembaga 
survei di Pileg 2014 dengan perolehan suara sekitar 5,11 persen sesuai hitung 
cepat Kompas.

  4. Indonesia Network Elections Survei (INES)

  INES merilis hasil survei elektabilitas partai politik jelang Pemilu 2014. 
Hasilnya PDIP di nomor 1 beda 0,1% dengan Gerindra   .
  Pada Kamis (20/2/2014) atau 7 hari menjelang Pileg INES merilis hasil 
surveinya yakni :
  1. PDIP: 26,7%
  2. Gerindra  : 26,6%
  3. Golkar: 14,8%
  4. Hanura: 7,5%
  5. NasDem: 6,9%
  6. Demokrat: 4,3%
  7. PPP: 3,6%
  8. PAN: 2,6%
  9. PKB: 2,6%
  10. PKS: 2,1%
  11. PBB: 1,2%
  12. PKPI: 1,1%
  Terlihat perolehan suara partai berbasis Islam seperti PAN, PPP, PKB, PKS dan 
lainnya melorot namun terbukti di quick count perolehan suara partai berbasis 
Islam justru naik. Gerindra   yang dimasukkan oleh INES di nomor dua dengan 
perolehan suara 26,6 persen sangat jauh dibandingkan perolehan quick count 11,7 
persen sejumlah lembaga survei. (nanang)




  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke