BERKOALISI dengan Golkar, PartaiDemokrat maupun Gerinfra bukanlah 
berita gembita. Namun hasil Pemilu 9 April lalu telah menunjukkan realitas 
Indonesia sekarang ini. PDI-P menang tipis. "Jokowi effect' sesungguhnya telah 
menolong PDIP- menang meskipun hanya menang tipis saja., Sebaliknya "Mega 
effect" justru telah membatasi kemenangan Jokowi/PDI-P. Tindakan Mega yang 
kadang terlambat dan kadang terlalu cepat mengingatkan kita akan sifat bapanya, 
Soekarno yang berakibat kegagalan demi kegagalan. (terlalu cepat menggagas 
"Sosialisme ala Indoneai"dan terlalu lambat menaggapi dan menjawab tantangan 
suhartO dalam peristiwa G30S).Begitu pula putrinya Megawati disaat menghadapi 
kampanye Pemilu( terlalu cepat mengumumkan bahwa Presiden usungan PDI-P harus 
tunduk pada perintah Partai tapi terlalu lambat melancarkan kampanye dan semua 
atribut-atributnya).
Dengan kemenangan tipis, tidaklah realis untuk membentuk kabinet yang hanya 
"se-ideologi"dengan PDI-P. Dan kalau dipaksakan risiko jatuhnya kabinet yang 
kurang mendapat dukungan dalam Parlemen sangatlah besar, mungkin dalam hitungan 
bulan atau paling lama dalam beberapa tahun saja, kabinet Jokowi/PDI-P (bilapun 
menang) akan jatuh.

Mau tidak mau koalisi dengan Golkar atau Demokrat atau  Gerindra harus 
dilakukan. Dan memang bigitu saja  kalau ingin berkuasa dengan jalan Pemilu 
dengan kemenangan tipis. Realitas Indonesia sekarang ini tidak bisa diabaikan. 
Sebagian rakyat masih "merindukan Orba suhartO" yang itu memang akibat logis 
karna sisa-sisa Orba suhartO belum bisa dikalahkan secara menyeluruh dan mereka 
tidak bisa dikalahkan semata dengan retorika, semboyan-semboyan atau Pemilu 
demi Pemilu.
ASAHAN.

  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; Djoko Rahardjo ; 
Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] ; 
[email protected] ; Zainal Bintang ; Taufiq Ismail ; [email protected] 
; Syafiuddin Makka ; hamid awaludin ; Muhammad Basri ; [email protected] ; 
Harjono Kartohadiprodjo ; halim perdanakusuma ; Makarim Wibisono ; 
[email protected] ; Danipurwanegara /PPSN ; chandra motik ; 
[email protected] ; Baitul Muslimin ; Mangadang Napitupulu ; Budiarman 
Bahar, MA ; Budi Soepandji ; [email protected] ; Institut Peradaban ; 
Jaya Suprana ; [email protected] ; dinsyamsuddin ; [email protected] ; 
Saiful Mujani ; Rizal Sukma ; Anwar Nasution,Prof. ; Nazaruddin Nasution, MA. ; 
Ichsan Loulembah ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; Eko Oswari ; [email protected] ; 
[email protected] ; Liddle Bill ; [email protected] ; 
[email protected] ; Don Emmerson ; Bahtiar Ef
 fendy ; Effendi gazali ; Dewi Fortuna Anwar 
  Sent: Sunday, April 13, 2014 4:15 AM
  Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] Bangun Koalisi Seideologi


  Ideologi dan koalisi.


  Di sekitar kesibukan menjajagi koalisi hari-hari ini, tiba-tiba muncul cerita 
idelogi sebagai dasar yang disarankan menjadi pertimbangan pembentukan koalisi. 
Pertanyaan yang penting mengenai ideologi dalam perpolitikan Indonesia sejak 
reformasi: Apakah memang ideologi masih penting dan karena itu membedakan corak 
dan program berbagai partai?"   Di masa demokrasi parlementer dahulu, ketika 
partai-partai menghadapi pemilihan anggota Kostituante (1955) ideologi sangat 
penting. Golongan Islam (mereka bersatu) waktu itu memperjuangkan dijadikannya 
syariat Islam menjadi dasar negara. Di pihak lain adalah kaum sekular  yang 
menolak agenda golongan Islam tersebut. Isyu ideologi itulah yang  menjadi 
wadah bagi berkembangnya pengelompokan aliran dalam politik dan perpolitikan 
Indonesia.


  Melewati tragedi Gestapu dan pemerintahan otoriter Soeharto/Orde Baru, 
ideologi berangsur tersingkir  dari panggung politik Indonesia. Lewat proses  
pemaksaan maupun kesadaran sendiri, perlahan kita semua menjadi Pancasilais. 
Dalam Pancasila perbedaan kita sebagai bangsa plural terwadahi secara saksama. 
Artinya, tidak ada lagi isyu ideologis seperti yang kita saksikan dan alami di 
masa demokrasi parlementer dahulu.Tidak ada lagi usaha signifikan menjadikan 
Indonesia sebuah negara berdasarkan syariah, seperti juga tidak adanya ancaman 
Marxisme-Leninisme terhadap  ideologi jalan tengah (esensi Pancasila) yang 
secara perlahan kini kita terima bersama.


  Persoalan yang kita hadapi sekarang , terutama bagi yang menguasai 
pemerintahan adalah soal ketrampilan dalam menafsirkan dan menjalankan 
pemerintahan negara  berdasarkan Pancasila.Contoh: ketika secara singkat (tiga 
tahun) Mega menduduki kursi kepresidenan, kebijakan dan keputusan 
pemerintahannya sulit untuk dinilai sebagai Pancasilais.Bagi banyak ahli tata 
negara serta pakar eknomi, berbagai kebijakan Presiden SBY juga mereka kecam 
sebagai tidak Pancasilais.


  Dari pengalaman masa pemerintahan Megawati dan SBY kita tidak sulit  
menyimpulkan bahwa persoalan kita sudah bukan lagi pada perbedaan ideologi. 
Masaalah yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana menafsirkan Pancasila dan 
berapa trampil pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan tafsiran tersebut. 
Kompetisi penafsiran adalah hal yang tidak berbahaya dan itu yang harus kita 
galakkan.  Perbedaan tafsiran yang berakibat dalam pelaksanaan Pancasila 
seharusnya menjadi wacana hari-hari ini. Hanya dengan itulah kita bisa bicara 
mengenai agenda dan program parta-partai.Terlihat dengan jelas sejak lama bahwa 
penafsiran Pancasila sama sekali "asing" dari wacana  perpolitkan kita. Atas 
dasar inilah saya merasa agak aneh jika masih ada anjuran agar menjadikan 
kesamaan ideologi  syarat dalam membangun koalisi. Ideologi yang mana, dan 
kongkritnya bagaimana dalam bentuk agenda dan program? Di atas segalnya, 
perbedaan partai-partai kita pada pasca Orde Baru lebih mengekspressikan ambisi 
dan kep
 entingan  para elitnya dan sama sekali bukan perbedaan ideologinya. Ideology 
is not the issue anymore.The point is how to interprete and to implement 
Pancasila. Diskusi harus berkisar di sana. Dan sama sekali bukan sibuk saling 
mengkalim diri sebagai paling Pancasilais.


  Isyu ideologi beberapa hari ini membayang juga pada seruan bersatunya 
partai-partai Islam  dalam membangun semacam poros tengah untuk secara bersama 
mencalonkan Capres tersendiri.Pada sidang-sidang Konstituante di tahun 
limapuluhan, partai-partai Islam  bahkan "terpaksa" bersatu, sebab elit politik 
Islam masa itu merasa "terancam" dan karena itu harus dan legal memperjuangkan 
syariat Islam sebagai dasar negara. 

  Sekarang,  apakah partai-partai Islam secara ideologis terancam? Lagi pula 
dalam keadaan terancam saja partai-partai  Islam  gemar berpecah-belah apa lagi 
kalau kepentingan Islam sebagai agama dan ummat aman-aman saja. Poros tengah 
gagasan Amin Rais yang berhasil menjadikan Gus Dur sebagai Presiden adalah 
sesuatu yang by default, dan sama sekali bukan by design. Default dimungkinkan 
oleh lambannya Megawati (partai terbesar waktu itu) untuk bertindak 
memanfaatkan kemenangannya. 


  Perbedaan tafsiran terhadap Pancasila (perbedaan tekanan terhadap berbagai 
sila) sebenarnya bisa dipandang sebagai memungkinkan munculnya soal ideologi 
dalam perpolitikan Indonesia. Tapi kenyataanya sekarang, partai-partai  politik 
kita kebanyakan dibentuk dan dikembangkan sebagai hanya alat untuk berkuasa 
bagi pribadi atau kelompok tertentu. Agenda ketika berkuasa nanti adalah bahan 
langka dan hanya diperdengarkan secara sepintas lewat iklan menjelang pileg dan 
pilpres. Soal ideologi dan atau tafsirannya sama sekali tidak diwacanakan. 
Karena itu sulit menghindar dari kesan adanya kesinambungan antara 
partai-partai pada masa pasca Orde Baru dengan partai-partai dan perpolitkan di 
masa Orde Baru. Partai (khususnya Golkar) adalah hanya alat melegitimasi 
kekuasaan Soeharto pada masa Orde Baru. Adapun partai-partai sekarang sebagian 
besar tidak lebih dari sekedar alat untuk berkuasa bagi pribadi dan  
kelompok-kelompok  yang berambisi.Ideologi sama sekali tidak terlibat pada 
kedua masa 
 itu.


  Bung Salim





  From: Salim Said <[email protected]>
  Date: 2014-04-13 7:50 GMT+07:00
  Subject: Fw: [GELORA45] Bangun Koalisi Seideologi
  To: Salim Said <[email protected]>



  On Saturday, April 12, 2014 11:51 PM, Sunny <[email protected]> wrote:

    
  res : Partai mana  yang sama ideologi untuk  berkoalisi?

  
http://www.mediaindonesia.com/hottopic/read/315/Bangun-Koalisi-Seideologi/2014/04/11

  Bangun Koalisi Seideologi
  Jum'at, 11 April 2014 Penulis: Yahya Farid Nasution/Tim/X-8 
   
  REUTERS/Dwi Oblo
  SEBAGAI pemenang Pemilu Legislatif 2014 versi hitung cepat tetapi gagal 
menjadi single majority, PDIP mulai menjajaki koalisi ber dasarkan kesamaan 
ideologi dan platform, bukan dengan parpol yang hanya berorientasi kekuasaan.

  Komunikasi politik pun mulai dibangun ketika Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo yang 
ditemani Wasekjen Hasto Kritianto dan tim sukses Jokowi for President bertemu 
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di Kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, 
kemarin. Itu merupakan pertemuan pertama PDIP dengan partai lain setelah 
pemungutan suara, Rabu (9/4).

  Tjahjo mengatakan kunjungan ke Partai NasDem atas perintah Ketua Umum PDIP 
Megawati Soekarnoputri untuk membangun kesepa katan bersama dalam membangun 
bangsa ke depan.

  ''Kita membahas perihal bangsa Indonesia ke depan, yakni bangsa berdaulat di 
bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian. Pikiran Ibu 
Megawati dan Pak Surya memiliki kesamaan. Kesepakatan akan dilanjutkan nanti,'' 
ujarnya seusai pertemuan.

  Saat ditanya apakah pertemuan tersebut bentuk ajakan koalisi kepada Partai 
NasDem, Tjahjo menyatakan belum ada pembicaraan ke arah itu.

  Pertemuan semata didasari kesamaan visi dan misi serta platform antara PDIP 
dan Partai NasDem. ''Implementasinya, kita lihat nanti.'' 

  Surya mengatakan Partai NasDem dan PDIP punya kesamaan pandangan, yakni 
kemajuan bangsa ditentukan pemerintahan yang kuat dan didukung parlemen solid. 
Indonesia yang menganut sistem presidensial pun butuh pemimpin tangguh, 
konsisten, dan berani melaksanakan kebijakan.

  ''Soal koalisi, saya ingin melihat kesempatan, peran yang lebih berarti bagi 
NasDem menjalankan politik gagasan. NasDem membutuhkan kerja sama yang baik 
dengan siapa pun yang duduk di pemerintahan yang mendukung restorasi,'' kata 
Surya.

  Contoh buruk 

  Koalisi berlandaskan ideologi dan platform partai dinilai ideal demi 
terbentuknya pemerintahan yang kuat. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 
Komaruddin Hidayat menegaskan koalisi yang kuat berawal dari kesamaan visi dan 
misi. Hal itu dapat dilihat dari platform partai sebagai acuan komitmen selama 
menjalin koalisi.

  Komaruddin mencontohkan Kabinet Indonesia Bersatu II yang dibangun Partai 
Demokrat di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai 
koalisi buruk. Berbagai perbedaan dan keberagaman tujuan partai hadir sehingga 
menyulut ketidakharmonisan dan ujungujungnya roda pemerintahan kerap tersendat 
akibat konflik internal.

  ''Ke depan, koalisi harus berdasarkan platform. Partai yang berhaluan 
nasionalis dan Islam sulit dipertemukan karena berangkat dari arah berbeda. 
Jangan sampai koalisi merupakan kumpulan partai, bukan kumpulan satu visi dan 
misi,'' tegasnya.

  Partai Gerindra yang juga menjadi salah satu poros koalisi siap bekerja sama 
dengan partai mana pun yang sejalan dan mengusung cita-cita sama. ''Harus 
berdasarkan Pancasila, berpihak pada kesejahteraan rakyat, dan mendukung 6 
Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra,'' tandas Ketua Umum Partai 
Gerindra Suhardi. 
  






  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke