SAYA sangat setuju dengan pemikiran bung Salim tentang bung Karno. 
Mengapa? Karna saya berpikiran bahwa bahwa bung Karnao itu memang seorang 
pemikir revolusioner yang mendahului jamannya. Sebuah kwalitas yang hanya 
dipunyai oleh orang- orang genial seperti bung Karno. Tapi bung Karno bukan 
seorang  "revolusioner lapangan", dia  seorang revolusioner birokrat yang 
ide-ide revolusinya dia lontarkan dari meja kerjanya. Sedangkan suhartO adalah 
seorang kontrarevolusioner lapangan karnanya dengan mudah dia mengalahkan 
Soekarno. Konsep bung Karno  tentang TRISAKTI memang terdengar revolusioner 
namun sudah tidak bisa digunakan di abad moderen kita sekarang yang juga sudah 
diglobalisasi dimana kita tidak mungkin menentangnya dan hanya membatasi 
kerugian yang ditimbulkannya. Kita harus berpandangan realis tapi juga bukannya 
pragmatis tanpa prinsip.
Saya juga berharap Jokowi akan mengadakan perubahan tapi perubahan yang bukan 
retorik tapi perubahan realistik yang mungkin diterima sebagian terbesar 
masyarakat Indonesia terutama sebagian terbesar rakyat Indonesia. Kita memang 
tidak mau menggantungkan diri pada ekonomi, kebudayaan maupun politik  kekuatan 
asing. Kita ingin berdikari dan ingin punya kepribadian sendiri di tiga bidang 
itu. Tapi satu kenyataan kita masih belum kuat untuk itu. Jadi keinginan baik 
itu menunjukkankr pada kita bahwa kita belum sanggup melakukannya. Tapi kalau 
kita  akan melaksanakannya sekarang juga, itu berarti kita harus punya kekuatan 
dan kesanggupan yang keduanya itu belum kita miliki. Atau menurut bung Salim, 
peradaban kita masih belum mencapai tahap demikian, belum cukup tinggi.
Bukti cukup banyak. Umpamanya, bukankah baru-baru ini Pemerintah telah 
mengeluarkan peraturan yang cukup revolusioner: melarang mengekspor hasil 
tambang( metal) Indonesia ke luar negeri. Itu tentu saja merugikan para penanam 
modal asing. Dan perusahaan mega Amerika FREEPORT merasa amat dirugikan dan 
naik banding yang menghasilkan malah kontraknya diperpanjang masih puluhan 
tahun lagi. Itu membuktikan kita masih belum mampu berdikari dan masih 
membutuhkan kerja sama dengan modal asing. Persolannya bagaimana kita 
merngelola modal asing itu agar saling menguntungkan yang ternyata amat 
merugikan Indonesia karena ketololan Indonesia sendiri yang menelorkan bagi 
keuntungan yang sangat tidak adil, tidak masuk akal. Tapi begitu saja menyesal 
dan lalu bikin peraturan baru  yang merugikan penanam modal, bukankah tidak 
sederhana dan bahkan kalah?. Retorika politik tidak akan menyelesaikan soal 
apalagi dalam menghadapi kekuatan ekonomi asing. Kasihan Jokowi nantinya harus 
diadu dengan mereka (TRISAKTI lawan modal asing)dengan hanya bermodal omongan 
dan teori yang sudah tidak mungkin dipakai.
Tapi yang lebih kita kuatirkan Jokowi akan macet di tengah jalan sebelum 
"pertempuran" yang sesungguhnya sempat terjadi... dengan lawan politik 
Indonesianya sendiri  dan juga dengan para pemilih yang emoh TRISAKTI. Sekali 
lagi kita berharap, pikirkanlah sesuatu yang baru, yang bersifat "Jokowi 
achtig" sesuai dengan kepopulerannya sekarang ini yang menimbulkan kesan Jokowi 
itu Presidennya Indonesia dan bukan semata Presidennya PDI-P saja. Lupakan itu 
TRISAKTI  dan tak usahlah main sakti-saktian atau pilar-pilaran di jaman 
SAMSUNG yang sudah S5 sekarang ini.

ASAHAN.



  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; 
[email protected] ; Djoko Rahardjo ; Achmad Sucipto, Admiral ; 
Budiarman Bahar, MA ; halim perdanakusuma ; [email protected] ; Fadli Zon ; 
Ahmad Syafii Maarif ; Syafiuddin Makka ; Sofyan Hasdam ; 
[email protected] ; Anwar Nasution,Prof. ; Bahtiar Effendy ; Effendi 
gazali ; Faisal Basri ; [email protected] ; Christianto Wibisono ; Dr. Yuddi 
Chrisnandi ; Amir Santoso ; [email protected] ; [email protected] 
; Danipurwanegara /PPSN ; Baitul Muslimin ; [email protected] ; 
[email protected] ; Jayadi Hanan ; Jaya Suprana ; Kusnadi Kardi ; Ichsan 
Loulembah ; [email protected] ; [email protected] ; Zainal Bintang ; 
[email protected] 
  Sent: Monday, May 05, 2014 3:27 AM
  Subject: Fwd: Fw: [wahana-news] Fw: Tiga Pilar Utama Jokowi Untuk Negeri



  Trisakti,Pancasila,Demokrasi, PDIP dan Jokowi.
   
  Generasi saya masih remaja pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Presiden 
Sukarno (Demokrasi Terpimpin). Selain NEKOLIM, Jargon yang sering kami dengar 
masa itu lewat sejumlah  pidato Bung Karno adalah GOTONG ROYONG ( inti 
Pancasila setelah diperas menjadi Trisila dan akhirnya diperas lagi menjadi 
GOTONG ROYONG). Diatas GOTONG ROYONG itulah Sukarno "memaksakan"  NASAKOM. 
Praktek dan  kegunaan NASAKOM adalah memberi ruang hidup kepada Partai Komunis 
Indonesia. (PKI). Sukarno bukan seorang Komunis, tapi PKI dilindunginya untuk 
menjadi penyeimbang kepada Angkatan Darat sebagai salah satu kekuatan politik 
resmi di Indonesia sejak konsep functional groups (GOLKAR) diperkenalkan Bung 
Karno bulan November 1958.

  Yang juga banyak muncul dalam pidato Presiden Sukarno dan para "pendukungnya  
masa itu adalah TRISAKTI.
  Pada dasarnya tidak  ada yang salah dalam gagasan-gagasan   itu sendiri. 
Hidup BERGOTONG ROYONG  memang bagus dan konon itu sesuai dengan tradisi nenek 
moyang kita.Tapi untuk sampai ke sana pada masa itu juga , Pancasila harus 
diperas Sukarno menjadi satu sila. Dalam proses pemerasan itulah hilangnya 
banyak prinsip yang menjadi landasan persatuan serta filosofi yang mendasari 
kehidupan bersama kita sebagai bangsa pluralistik. Jelas sekali  Pancasila 
dikorbankan untuk Nasakom yang dikemudian hari membawa bencana berdarah bagi 
bangsa kita (pembantaian pasca 30 September 1965).Sekarang tidak sulit bagi 
kita dan anak cucu kita untuk menjawab pertanyaan,  siapa sebenarnya yang 
mempelopori penyelewangan Pancasila, dan apa akibatnya?



  TRISAKTI adalah gagasan yang bagus. Tapi di tengah bangsa yang menderita 600 
% inflasi, bisakah kebijakan yang bagus itu dijalankan? Tapi karena dipaksakan 
juga, penderitaan dan kemiskinan rakyat makin menjadi-jadi. Dalam keadaan 
miskin dan ekonomi morat marit, satu bangsa mustahil mencapai  tingkat  
pemikiran yang terumus dengan cantik dalam kata TRISAKTI. Lebih mustahil lagi 
adalah implementasinya. Kesimpulannya, gagasan Trisakti bagus sebagai impian, 
cita-cita dan  agenda perjuangan, tapi memerlukan waktu dan perjuangan panjang 
untuk sampai di sana.


  Kekeliruan almarhum Presiden Sukarno, bertekad melaksanakan impiannya 
sekarang juga (semasa berkuasa beliau). Pancasila adalah gagasan mulia dan 
tinggi yang juga sesuatu yang tidak mungkin dicapai pada masa kini ketika 
peradaban kita masih rendah karena kemakmuran kita sebagai bangsa juga masih 
rendah.Demokrasi juga demikian. Kita jangan bermimpi Demokrasi kita akan 
sempurna jalannya sekian tahun setelah Jenderal Besar TNI Soeharto bersemayam 
di pegunungan di sekitar kota Solo sana.Demokrasi, Pancasila dan pelaksanaan 
gagasan  TRISAKTI adalah ekspressi  dari peradaban yang tinggi. Untuk sampai ke 
sana kita perlu kerja keras dan waktu yang lama, kesebaran dan ketekunan.


  PDIP, khususnya Jokowi, sangat bagus jika  mereka menyempatkan waktu 
mempelajari pengalaman tragis Sukarno.


  Bung Salim.








  : ASAHAN <[email protected]>
  Date: 2014-05-05 19:26 GMT+07:00
  Subject: Fw: [wahana-news] Fw: Tiga Pilar Utama Jokowi Untuk Negeri




       KALAU memang Tri saktinya bung Karno yang akan menjadi program pokok 
Jokowi dalam kampanye Pemilu Juli yad, saya sangat ragu Jokowi akan banyak 
merebut suara pemilih. Sebagian terbesar rakyat Indonesia akan mudah mencibir: 
"Program sih memang bagus, tapi semua itukan barang lama yang gagal 
dipraktekkan  bung Karno sendiri".
  Tapi di segi lain, dengan lahirnya program Jokowi(baca program Soekarno) itu, 
otomatis telah menutup kemungkinan bagi semua cawapres Golkar untuk mendampingi 
Jokowi yang itupun sangat terdengar logis. Tapi yang mungkin dramatis adalah 
Jokowi tidak akan mendapatkan nilai tambah yang  sangat, sangat dia perlukan, 
hal baru dari Jokowi yang diharapakan sebagian terbesar masyarakat Indonesia. 

  Dan bukan tidak mungkin, nilai tambah itu akan berpindah ke Prabowo yang 
meskipun lebih kurang populer tapi dia bisa memikat kaum tani dengan 
janji-janji naif yang dilontarkannya. Ingat, Indonesia adalah desa besar yang 
berpenduduk mayoritas tani. Trisakti-nya bung Karno adalah program orang-orang 
kota, terutama penduduk Jakarta. Masyarakat tani tidak akan tergiur dengan 
"berpribadi di bidang kebudayaan" dan dua macam yang lainnya. Mungkin mereka 
mengerti tapi tidak mudah mereka mamah karena tidak langsung menyangkut 
kepentingan mereka.

  Lalu "berkepribadian di bidang ekonomi". Dan kalau toh, Jokowi bisa menang, 
dia akan masih berhadapan dengan Amerika dan Eropah atau dengan semua modal 
asing yang akan tersumbat bila Jokowi menegakkan kepribadian ekonominya. 
Sedangkan "Berkepribadian di bidang politïk", kan Indonesia sudah punya Panca 
Sila yang itulah kepribadian politik Indonesia jadi tidak perlu memikirkan 
kepribadian politik yang lain.  Hal-hal yang mungkin baik itu masih terlalu 
mentah untuk dilaksanakan sekarang dan hanya mungkin dilaksanakan dengan jalan 
revolusi dan bukan dengan Pemilu. 

  Ingat juga Golput, mereka paham akan hal tsb dan mereka akan memperlipat 
gandakan usahanya memutihkan blanko surat suara atau tinggal di rumah menikmati 
kopi kental. Perobahan Indonesia  a la kadarnya bisa diharapkan dari Jokowi 
tapi perubahan mendasar sudah pasti belum , dan tidak mungkin dipaksakan dan 
dilaksakan saat ini. "Alon-alon asal kelakon" dan inilah kebijaksanaan Jawa 
klasik yang harus dicengkram Jokowi yang kedengarannya "reaksioner" tapi jauh 
lebih realis meskipun di luar kehendak kita. Tapi juga sebuah kenyataan kasar 
bahwa bukankah Jokowi tidak sulit untuk menjadi Presiden? 

  Apa sulitnya, dia dipuji, diangkat-angkat, ditunjuk, diberi kepercayaan dan 
langsung dicalonkan sebagai capres oleh sebuah Partai besar. Dan kalau gagal 
terpilih dia masih mengantongi kursi Gubernur ibu kota. Jadi untuk apa menempuh 
jalan yang tidak mungkin? yang ahir-ahirnya akan memberi jalan lapang bagi 
Prabowo. Buanglah itu TRISAKTI dan itu tidak sulit asalkan jangan disebut-sebut 
lagi, lalu katakan sesuatu yang baru yang lebih realis. lebih disukai oleh 
mayoritas terbesar rakyat Indonesia. Ini Pemilu bukan revolusi. Dan pilihlah 
Jendral Ryamizal Ryacudu sebagai cawapres. Makkelijker kan niet!


  ASAHAN.


  ----- Original Message ----- 
  From: K. Prawira 
  To: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] 
  Sent: Saturday, May 03, 2014 11:59 PM
  Subject: [wahana-news] Fw: Tiga Pilar Utama Jokowi Untuk Negeri


    





  Tiga Pilar Utama Jokowi Untuk Negeri

       
         Tiga Pilar Utama Jokowi Untuk Negeri  
        View on www.youtube.com Preview by Yahoo 
       





  

  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.




  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke