KALAU kita mementingkan disiplin dan mengarah pada kedisiplinan yang perlu 
dipunyai oleh seorang Presiden (pemimpin), maka asosiasi kita pertama-tama 
adalah disiplin militer yang terkenal ketat atau biasa kita katakan sebagai 
DISIPLIN BAJA. Prabowo sebagai seorang yang pernah jadi militer, tentunya lebih 
dipercayai banyak orang sebagai calon Presiden  yang punya kwalitas disiplin 
baja atau disiplin milter itu ketimbang Jokowi yang pengusaha yang biasa 
membawa budaya  tawar menawar dalam bidangnya. Apa bukan begitu? Atau Ryamizal 
Ryacudu yang jendral pensiunan bisa diaharpkan sebagai pemegang disiplin baja  
pendamping Jokowi (kemungkiannya sudah habis) atau yang  lainnya lagi seperti 
Luhut Panjaitan(tidak terpilih). Sedangkan Jusuf Kalla (Jeka) adalah juga 
seorang pedagang besar yang juga punya kebiasaan tawar menawar sebagai 
dunianya. Kita tahu disiplin baja tidak mengenal budaya tawar menawar. Jadi 
kalau dalam soal disiplin, Prabowo lebih akan dilihat banyak orang untuk 
mengharapkan kedisiplinannya (militer) dan ketegasannya (politik). Apa bukan 
begitu?
ASAHAN.
  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; Djoko Rahardjo ; 
Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] ; 
[email protected] ; Zainal Bintang ; Taufiq Ismail ; [email protected] 
; dinsyamsuddin ; Syafiuddin Makka ; hamid awaludin ; [email protected] ; 
[email protected] ; Margarito Kamis ; A. Irmanputra sidin ; Achmad Sucipto, 
Admiral ; achmad Mubarok ; [email protected] ; Anwar Nasution,Prof. 
; Nazaruddin Nasution, MA. ; Institut Peradaban ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; 
renville Alatsier 
  Sent: Thursday, May 22, 2014 4:16 AM
  Subject: Fwd: PILPRES DAN DISIPLIN BANGSA


  Ada yang berminat berkomentar?



  ---------- Forwarded message ----------
  From: Renville Almatsier <[email protected]>
  Date: 2014-05-22 8:30 GMT+07:00
  Subject: PILPRES DAN DISIPLIN BANGSA
  To: [email protected]



  Bung Salim,

  Saya mau numpang ikut memberi masukan. Mudah-mudahan ada

  manfaatnya.

  Salam,

  renville almatsier


  PILPRES:  MEMILIH PELOPOR DISIPLIN BANGSA 

  Oleh Renville Almatsier




  Tidak peduli apakah dia prajurit atau tukang mebel, disiplin cuma dapat 
dilihat dari tindakan. Ini satu faktor pembangun bangsa yang terlupakan.




  Kini sudah jelas bahwa Pemilu Presiden 9 Juli 2014 akan diikuti oleh hanya 
dua pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla  JKW-JK) dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa 
(PS-HR) yang akan berkompetisi dalam Pilpres 9 Juli mendatang. Siapa yang akan 
terpilih biarlah rakyat Indoneia yang menentukan. Tulisan ini hanya ingin 
mengingatkan apa yang terlupakan oleh para capres ini, serta juga mereka yang 
sudah masuk kotak.




  Berbagai harapan dan kriteria diajukan masyarakat yang peduli kepada calon 
pemimpin bangsa ini. Ada yang memimpikan sosok seperti Gandhi, Mandela Khomeini 
atau Soekarno. Bahkan banyak yang mengharap calon presiden mendatang harus yang 
berani perang.




  Kalau  mau mengingat petuah mantan Presiden Soeharto, menjadi pemimpin apa 
pun kita harus selalu tegas dan berani mengambil keputusan. Bila ingin maju 
harus pandai mendengar, melihat dan mengambil hikmahnya. Begitu menurut Pak 
Harto.

  Tapi, belajar dari Pak Harto pula, kejatuhan dan keruntuhan rezimnya antara 
lain adalah kebijakan liberalisasi keuangan yang tidak dibarengi dengan 
disiplin penerapan  tata kelola (clean and good governance), bahkan diwarnai 
korupsi dan nespotisme yang kronis. 





  Jejak Pendapat Kompas dua tahun lalu merinci kemampuan calon presiden yaitu 
harus mampu menangani kemiskinan, karut marut pelayanan publik, perusakan 
lingkungan, konflik tanah, kekerasan di dunia pendidikan, kekerasan terhadap 
kelompok minoritas agama, pelanggaran HAM masa lalu, dan korupsi.

  Padahal memberantas korupsi tak cukup hanya dengan pidato, meneriakkan slogan 
secara lantang lewat layar televisi atau menyerahkan kasus-kasus ke ranah 
hukum, tetapi harus dengan tindakan nyata.




  Nah inilah kuncinya. Bertindak membutuhkan keberanian mengambil resiko dan 
kesanggupan berinovasi. Sedangkan untuk mengambil keputusan yang senantiasa 
mengandung resiko besar atau kecil,  harus digunakan pikiran dan perasaan 
secara teratur dan terarah. Ini tidak mungkin tanpa adanya disiplin.

  Dari sekian banyak janji, visi, misi para capres yang disampaikan melalui 
acara khusus, wawancara atau konvensi menjelang Pilpres 2014 ini, tidak ada  
atau  semua balon capres lupa   menempatkan disiplin sebagai salah satu 
landasan program kerjanya.  Sekalipun mungkin bukan hal yang terpenting atau 
satu-satunya yang penting untuk menjamin hari depan bangsa, disiplin termasuk 
faktor yang harus diperhatikan dalam kehidupan bangsa kita. Memang ada capres 
yang memperkenalkan program Big Push Development Strategy atau pun Revolusi 
Mental, tapi untuk keberhasilannya semua itu tetap harus didukung oleh adanya 
disiplin.




  Mari kita menengok ke belakang, tak usah jauh-jauh, sejak awal era reformasi 
hingga beberapa bulan  terakhir ini. Semua ketidak beresan  terjadi  akibat 
diabaikannya disiplin. Para wakil rakyat, gubernur dan bupati,  maupun ketua 
mahkamah  tergelincir berbuat korupsi karena mereka tidak memiliki disiplin 
sehingga mengambil yang bukan haknya.




  Kejadian-kejadian itu membuat kita khawatir,  masihkah kita memiliki stok 
kepemimpinan nasional yang kuat moral akhlaknya, visioner, tangguh dan 
berdisiplin?




  Pada sisi yang lain,  kita lihat berbagai kejadian, pertikaian, malapetaka 
dan musibah  sedikit banyak berawal dari tindakan yang tidak berdisiplin.  Kita 
melihat jembatan ambruk, kereta terbakar, pelanggaran  dan kemacetan lalu 
lintas, penebangan hutan, banjir,  batalnya ujian nasional. Semua adalah bentuk 
pelanggaran disiplin tingkat rendah yang bila menjadi kebiasaan akan berkembang 
ke arah yang lebih besar lagi.




  Menurut Koentjaraningrat, guru besar antropologi budaya, banyak orang 
Indonesia hanya bertingkah laku disiplin berdasarkan ketaatan kepada atasannya, 
kepada orangtua, senior, orang berpangkat atau yang disegani.  Dalam konsep 
disiplin mereka tidak, atau kurang tercakup ketaatan kepada norma, kepada 
peraturan atau kepada hukum.




  Konsep “disiplin” di sini kurang dikaitkan dengan upaya pengendalian diri, 
kecuali kadang-kadang dengan hal makan, minum dan kebutuhan-kebutuhan fisik 
lain selama bulan puasa.

  Oleh karena itu orang Indonesia hanya berdisiplin bila ada pengawasan dari 
atas. Faktor pengawasan itu hanya merupakan bagian kecil dari berfungsinya 
disiplin. Ketidak-disiplinan, pada gilirannya berdampak pada penerapan hukum.




  Self discipline amat penting dalam penegakan disiplin sosial (good 
citizenship). Karena itulah kini saatnya  kita perlu disiplin dalam rangka 
mentalitas pembangunan. Apalagi ke depan kita menghadapi era digital, di mana 
presisi, ketepatan  dan disiplin termasuk dalam soal waktu, sangat menentukan.

  Rendahnya tingkat kepastian hukum dalam masyarakat, tercermin dari 
kepercayaan yang rendah terhadap penegakan  hukum yang dilakukan. Publik 
melihat pengingkaran terhadap penegakan hukum dalam berbagai kasus terjadi di 
semua lapisan, mulai dari masyarakat umum, hingga pejabat baik sipil maupun 
militer. 

  Sulit diingkari  bahwa berbagai kasus hukum dan bentrokan terkait oknum TNI 
dan Polri tak pernah diatasi dengan tuntas. Selama ini pengertian disiplin 
sudah salah kaprah. Kompak menjaga esprit de corps dianggap disiplin.    
Akibatnya kita lihat peristiwa Cebongan dan kasus “polisi gendut” yang hilang 
tak berbekas.  Kesalahan ini lalu ditiru oleh  kalangan yang lebih muda, kita 
lihat peristiwa STPDN dan baru-baru ini di STIP. 





  Bagaimana mungkin tindakan hukum tidak pernah diarahkan untuk membongkar akar 
dan dasar masalah. Perusakan tempat ibadah, perusakan kampus, dan praktek main 
hakim sendiri hingga kini masih berjalan terus. Masih ada kelompok yang bisa 
(dan berani)  menolak ketentuan atau peraturan yang sah seperti pengemudi bus 
atau angkot yang menolak dialihkan trayeknya atau pedagang kaki-lima yang ogah 
ditertibkan. Pelanggaran lalulintas (kebiasaan melawan arus dan parkir 
seenaknya) dan pembuangan sampah ke sungai yang sudah jelas-jelas menjadi 
penyebab kesengsaraan orang banyak, tetap saja berlangsung tanpa sanksi yang 
bisa menyadarkan disiplin para pelaku.




  Disiplin yang kuat mengarahkan pemimpin untuk berani bertindak. Menindak 
semua bentuk pelanggaran, mulai dari pelanggaran lalu lintas, pelanggaran 
peraturan K-3, menindak yang salah termasuk korupsi di tingkat atas. 





  Karena itu sudah waktunya disiplin dijadikan masalah nasional. Presiden lah 
yang kita harapkan memimpin semua baik anak sekolah, PNS, jaksa, TNI untuk 
berdisiplin.

  Ketika kita memasuki era pemerintahan baru pada bulan Oktober 2014, itulah 
saatnya presiden yang terpilih memulai era baru pula. Masuk ke era kedisiplinan 
bangsa Indonesia yang baru dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama.




  Seorang presiden harus menjadi pelopor. Penegakan kebiasaan memerlukan dua 
macam tindakan: pendidikan dan kepemimpinan. Pendidikan mempunyai dampak yang 
lebih mendasar tetapi hasilnya biasanya baru dapat dipetik dalam jangka waktu 
panjang. Karena itu diperlukan pula kepemimpinan yang secara langsung berusaha 
memberikan motivasi dan kalau perlu “memaksa” (enforce) terwujudnya  sifat dan 
perilaku yang akan membentuk kebiasaan. Di sini peran pemimpin sangat 
berpengaruh.




  Dengan kepemimpinan yang baik orang-orang yang berada dalam lingkungan 
kepemimpinan itu akan lebih mudah hidup berdisiplin. Yaitu patuh kepada 
ketentuan dan peraturan yang ada dengan mengembangkan prakarsa atau inisiatif 
yang bermanfaat untuk lingkungannya.

  Pada masyarakat yang berdisiplin tinggi seperti bangsa Jepang atau Jerman, 
kita temukan bahwa itu merupakan  satu hal yang menjadi kebiasaan pada anggota 
masyarakatnya.




  Kita memerlukan presiden yang berdisiplin dan sadar akan pentingnya membangun 
disiplin bangsa. Dan sikap berdisiplin, tegas dan menerapkan hukum tidak 
ditentukan oleh apakah dia seorang prajurit yang dibentuk dalam disiplin 
kemiliteran yang keras atau dia hanya seorang pengusaha mebel yang ringkih. 
Disiplin cuma dapat dilihat dari tindakan.***



  Ciputat, 20 Mei 2014






  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke