Pertama-tama, revolusi harus bertolak realitas realitas. Revolusi bisa mngubah dunia bila bertolak pada realitas yang ada. Dunia bisa berubah dengan cepat atau lambat tapi realitas tidak bisa segra dirubah karena realitas memerlukan proses tertentu. Dan untuk mengubah realitas perlu perhitungam panjang dan perspektif yang lebih nyata. Realitas yang kita hadapi sekarang tidak menggembirakan setiap orang, tidak memenuhi harapan setiap orang dan kita tetap ingin merubahnya. Bagaimana caranya? Dengan revolusi?.Untuk itu kita belum siap, semua kita belum siap: fisik dan mental.Tapi dengan sebuah perhitungan yang panjang dan perspektif yang rasional dan nyata kita akan bisa memulai sesuatu. Kita tidak meninggalkan revolusi tapi juga kita tidak mencampakkan realitas yang ada dan kita tetap ingin perubahan, sebesar dan sekecil manapun perubahan itu. Kita tak perlu berilusi tapi juga kita tidak membuang seluruh harapan. Dibalik awan murung kita menyingkap udara terang.
Indonesia adalah sebuah mesin pemanas tanpa regulasi. Dalam dunia tehnik, energi yang tanpa regulasi adalah ,kecelakaan, bukan tehnik, bukan karya. Sekarang regulasi itu sudah kita temukan. Kita akan menggunakan energi kita semaksimal mungkin dengan kendali regulasi yang selalu terkontrol agar rumah kita tidak terbakar, tidak meledak. Dan energi itu adalah juga ekonomi kita yang perlu pengembangan hingga maksimum dengan rem (regulasi) canggih, secanggih tehnik yang kita capai. Dengan demikian kita berdiri tegak di bumi kita sendiri, energi kita sendiri tapi dengan kemampuan bersinergi dengan kekuatan canggih lainnya di luar rumah kita. Tidaklah terlalu penting dengan siapa kita berkoalisi. Tiongkok menggunakan kepandaian memilih kucing penangkap tikus tanpa memperhatikan warna bulunya. Kita juga akan begitu tapi dengan kemampuan seorang pawang yang mengerti dan menguasai psikologi gajah yang akan menjadi partner koalisi kita. Seorang pawang adalah yang mengemudikan dan bukan dikemudikan, betapapun banyak yang kita urusi bersama partner kita. Kita tahu semua ciri-ciri partner koalisi kita, riwayat mereka di masa silam, teman-teman dan sekutu mereka. Tapi sekarang mereka ingin bekerja sama dengan kita. Apakah kita harus merasa takut? Kita tidak takut karena mereka telah menjadi partner kita betapapun dan siapapun mereka dahulu karena mereka juga telah mau bersinergi dengan kita. Kalau mereka bisa berkepala dingin mengapa kita tidak bisa lebih dingin lagi. Regulator ada di tangan kita. Kita adalah seorang pawang yang mengerti bahaya tapi tidak lalu berlari ketakutan. Kita berani maju bersama meninggalkan gurun gersang menuju oase bersama mereka dan bersama berkebun di sana. ASAHAN. Salam, P.S. Pada mulanya memang terpikir begitu : (JOKOKALLA) Tapi saya lalu kuatir kalau Kalla akan diteruskan orang menjadi Kalajengking... Yang di Barat sangat ditakuti dan dijauhi. Kita perlu arus balik dan arus balik kita sekarang adalah Arus Barat. Tidak bisa lain, paling tidak, untuk sementara. JOKOJEKA terdengar lebih akrab dan sedikit lucu meskipun tidak mengurangi keseriusannya. ----- Original Message ----- From: Chan CT To: GELORA_In Sent: Friday, May 23, 2014 4:16 AM Subject: Re: INDONESIA HEBAT Satu pendapat dan sikap yang baik dalam melihat masalah, bung Asahan! Kali ini saya SETUJUUU, ... INDONESIA HEBAT akan dimulai dari tangan Kokowi-Jusuf Kala! Mudah-mudahan saja Jokowi-JK dengan kembali mengibarkan panji TRISAKTI ini berhasil memenangkan PILPRES yad! Dan dengan demikian berkesempatan berjuang mewujudkan perubahan dan perbaikan, sebagaimana seruannya INDONESIA HEBAT! Tapi kenapa disingkat jadi JOKOJEKA? Atau mungkin maksudnya JOKOJUKA? Apa nggak disingkat jadi JOKOKALLA saja lebih mudah dan enak didengar, ... Kalau boleh saya ingin menambah bagaimana seharusnya BELAJAR pada Tiongkok dengan baik. BELAJAR sikap BERDIKARI Tiongkok dalam segala hal, itulah menuraut saya inti-sari yang harus dipegang kuat. Tidak main jiplak, tidak menentang segala yang dianggap baik dan BERANI berpikir untuk disesuaikan dengan kondisi, kepeentingan dan kebautuhan bangsanya sendiri. Coba saja perhatikan, PKT dengan Mao yang sejak semula mengikuti jejak PKUS/Lenin, begitu Kruschove dianggap serong, revisionisme, Mao berani dengan tegas melawan dan menentang, sekalipun seluruh “BANTUAN” PKUS yang sudah ditandatangni jadi dibatalkan dan dicabut. Itu terjadi setelah Stalin meninggal tahun 1953, Kruschove naik panggung terjadi beda pendapat dengan Mao. Mao berkeras mempertahankan jalan Lenin, dan hubungan dengan PKUS/Kruschove jadi tegang ditahun-tahun 1956-1980, ketika itu banyak proyek berhenti 1/2 jalan dan itu membuat lebih sulit diteruskan. Padahal RRT yang baru tegak berdiri 1 Oktober 1949, masih menghadapi kemiskinan parah akibat perang belasan tahun yang tidak henti-hentinya, ... harus blokade sejagade AS. Mao betul-betul menunjukkan pimpinan yang keras, bertulang punggung kuat, untuk tetap mempertahankan prinsip BERDIKARI. TIDAK TUNDUK dengan tekanan untuk mempertahankan apa yang dianggap jalan Lenin itulah yang benar! Sekalipun rakyat Tiongkok, lebih 600 juta ketika itu harus mengencangkan ikat tali-pinggang, bahkan saat menghadapi 3 tahun bencana alam-berat tahun 1959-1961, kabarnya jutaan rakyat mati kelaparan. Tapi, justru dengan TEGUH dipertahankannya prinsip BERDIKARI itulah rakyat Tiongkok tidak hanya berhasil tegak berdiri, tapi juga berhasil membangun negaranya mengejar ketertinggalan salama ini, menjadi negara kuat ke-2 didunia! Sekarang coba kita perhatikan bagaimana RRT sekalipun mengundang masuk modal asing, termasuk IMF, tapi tidak membiarkan dirinya tercocok-hidung oleh asing manapun, sebaliknya RRT berhasil menguasai teknologie dan manajemen modern yang dikehendaki. Perhatikan saja bagaimana pergulatan RRT dalam menghadapi IMF, dan akhirnya berhasil memasukkan pejabat-pejabatnya menguasai posisi yang cukup penting, juga di Bank Dunia. Sekalipun belum berhasil merebut posisi ikut menentukan suara, ... Juga pertarungan di WTC, yang semula hendak mencekik mati ekonomi RRT dengan persaingan bebas, malah sekarang mereka kewalahan kebanjiran barang Made In China. Bagaimana dengan prinsip BERDIKARI dibidang teknologie modern? Saya hanya bisa mengajukan kulitnya saja yang saya ketahui dari beberapa tulisan. Ambil saja contoh KA-Peluru, KA tercepat didunia, semula RRT hanya memasukkan teknologi Jerman, yang gunakan Magnit dipasang di Shanghai, dari Airport Shanghai ke kota pada awala tahun 1990-an, dengan kecepatan 350Km/h. Tapi Tiongkok tidak hendak menjiplak teknik KA-Peluru Jerman ini, dianggap terlalu sulit dan mahal, lalu RRT memadu dengan teknik Jepang, mengambil keunggulan kedua teknik KA itu dan menentukan sendiri teknik baru yang dianggap lebih baik dan sesuai untuk TIongkok sendiri. Jalur pertama yang dibuat RRT, tahun 2008 dari Beijing sampai Shanghai, sepanjang 1300 Km. Baru setelah itu, jaringan KA-Peluru dikembangkan diseluruh negeri, dan sekarang menjadi negara pertama didunia yang mempunyai jaringan KA-Peluru terpanjang, terluas didunia. Bahkan merencanakan bikin jalur KA-Peluru itu dari Yun Nan, Tiongkok selatan nyambung turun sampai Thailand dan Malaysia. Ini yang membuat AS berang, dan cepat-cepat menjegal PM Linglu sekrang yang dianggap terlalu dekat dengan RRT. Jadi, menurut saya, BELAJAR pada kemajuan orang lain itu tidak berarti harus menjiplak mentah-mentah, tidak boleh beda dengan aslinya, ... tapi harus selalu dengan pikiran kritis berusaha mengembangkan, menyingkirkan kekurangan ataupun yang dianggap kurang baik, hanya dengan berani melakukan perubahan-perubahan yang dianggap lebih baik dan sesuai deengan kondisi dan kebutuhan sendiri itulah kita bisa mengejar ketertinggalan dengan orang lain. Menjadi INDONESIA HEBAT! Mudah-mudahan saja Jokowi-JK bisa memulai langkah pertama! Salam, ChanCT From: ASAHAN Sent: Saturday, May 24, 2014 3:22 AM To: [email protected] ; SASTRA PEMBEBASAN ; SANTRI KIRI ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Group Diskusi Kita ; [email protected] ; AKSARA SASTRA Subject: INDONESIA HEBAT ASAHAN: INDONESIA HEBAT Justru akan lahir dari tangan Jokowi-Jusuf Kalla MESKIPUN terasa kelesuan dalam merespon resminya capres-cawapres Jokowi-Jusuf Kalla (JOKOJEKA) namun realitas yang sekarang sudah tak bisa diubah lagi. Kekecewaan tidak harus mengakibatkan apatisme. Dan kita mesti tetap menatap sinar terang yang masih ada meskipun dengan antusiasme yang tereduksi. Sinar terang itu adalah bayangan Indonesia Hebat yang akan dilaksanakan dengan pelaksanaan TRISAKTI. Bayangkan, Hanura saja setuju Trisakti bahkan menuntut dilaksanakan secepatnya. Beberapa tokoh penting Golkar dan prominent lainnya, juga menyetujui Trisakti sampai-sampai terjadi perpecahan dalam intern Golkar sendiri. Singkat kata Trisakti dan Indonesia Hebat akan menjadi motor bertenaga tinggi untuk perubahan Indonesia. Semua mendambakan perubahan termasuk Prabowo sendiri. Hanya saja Prabowo tidak punya Trisakti, tidak punya Indonesia hebat. Nah, di sinilah perbedaan besar antara Prabowo dan Joko. Bahkan Prabowo berniat menasionalisasi perusahaan asing yang bahkan SBY sangat keberatan. Beberapa tahun lalu, PDI-P mengadakan studi banding ke Tiongkok. Sudah pasti itu bukan improvisasi politik tapi paling tidak punya persiapan sebuah ide. Kader-kader PDI-P belajar atau kursus singkat di Tiongkok mempelajari tentang pembangunan ekonomi Tiongkok yang mengguncang dunia itu. Setiap orang tahu Tiongkok membangun ekonomi yang mereka sebut "SOSIALISME DENGAN CIRI TIONGKOK" berhasil gemilang menjadikan Tiongkok bahkan menjadi TIONGKOK TER-HEBAT. Dan Indonesia sekarang dengan Jokowi-nya ingin pula membangun INDONESIA HEBAT. Meskipun belum ke tingkat terhebat, tapi itu sudah luar biasa bila terlaksana nantinya. Dan untuk membangun Indonnesia hebat, Indonesia perlu belajar pada Tiongkok. Bukan hanya belajar tapi juga menempuh jalan Tiongkok. Tapi tunggu dulu. Itu tidak berarti lalu mengikuti jalan yang pernah ditempuh PKI: "menempuh jalan revolusi Tiongkok". Ini sama sekali lain. Dan menempuh jalan Tiongkok sudah pasti bukan berarti KIRI atau MERAH. Bahkan banyak orang menilai Tiongkok sekarang sebagai kanan. Membuka selebar-lebarnya pintu masuk modal asing dan penanam modal asing ke Tiongkok. Inilah inti keberhasilan ekonomi Tiongkok dan juga jangan dilupakan yang menurut Tiongkok: dibawah kontrol Partai dan Pemerintah Tiongkok yang maksudnya bukanlah perkembangan kapitalisme tanpa rem. Ada rem, meskipun laju ekonomi begitu derasnya namun tetap terkendali. Indonesia meng artikulasikan kaptalisme dengan rem itu sebagai "berdikari di bidang ekonomi" (salah satu kesaktian dari Trisakti). Jadi tidak ada yang salah bila nantinya Jokowi telah memenangkan kursi Presiden dan wakilnya Jeka dalam melaksanakan :berdikari dibidang ekonomi sambil membuka lebar-lebar modal asing dan penanam modal asing ke Indonesia. Jokowi akan menjadi Teng siauw Ping-nya Indonesia, sedangkan Jusuf Kalla adalah seorang direktur besar pelaksana dan hanya dengan demikian Indonesia hebat bisa terlaksana. Free Port tidak perlu dinasionalisasi namun harus menerima kendali Indonesia dan bagi untung secara masuk akal, fatsoenlijk, karena yang berdiri di Indonesia adalah kaki Indonesia dan bukan sepenuhnya kaki Amerika. Tapi bila dipertanyakan: siapakah yang sesungguhnya akan menikmati Indonensia hebat itu nantinya? Sebelum menjawab pertanyaan itu perlu dulu dipertenyakan: apakah pertanyaan demikian sudah perlu diajukan sekarang juga? ASAHAN. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
