ASAHAN AIDIT:
MEMBACAI SAJAK- SAJAK GOENAWAN MOHAMAD (3)
3.
Kutipan berikutnya:
Maka bangkitlah: kehangatan pasar lepas lelap
Dan tersenyum. Kini rumah-rumah telah rekahkan pintu halaman
Untuk menghadang, meski tak mengerti: semacam aspal jalan
Semacam kotak surat - atau relrel suram kemerlap
...
Sisa sedihkan ini senyap
Dalam getar separuh senja
Antara deru mobil, huruf berlampu kerjap
Sungai yang tak berkata-kata?
Dua kutipan ini dipetik dari sajak GM yang berjudul "Catatan-Catatan Jakarta"
(tahun penulisan 1961)
Untunglah sajak ini diberi nama "Catatan-Catatan Jakarta".Sebagaimana laiknya
sebuah catatan, sering-sering tidak selalu urut peristiwa yang tercatat dan
sering melompat lompat. Dan begitu pulalah kebiasaan GM dalam bersajak. Jadi
dari satu episode kita tidak perlu menghubungkannya ke episode yang lain.
Goenawan bersajak sangat lancar meskipun terasa terpotong-potong yang mungkin
inilah yang dimaksudkan oleh Prof. A. Teeuw sebagai kejutan-kejutan. Jadi kita
tak perlu terkejut dan bahkan bisa menikmati kejutan yang dibikin GM.
Dalam bait di kutipan pertama kita diberi gambaran tentang penduduk Jakarta
yang hidup dalam kota (ibu kota) yang begitu penuh tanda tanya akan nasib
mereka sendiri. GM mengibaratkannya sebagai "semacam aspal jalan - semacam
kotak surat - atau relrel suram kemerlap" Semacam kebegoan. Si bocah yang
ternganga tak mengerti apa yang akan terjadi. Dan GM mengumpamakannya sebagai
aspal jalan, yang hitam, sebagai kotak surat yang selalu ternganga menantikan
surat yang akan masuk, semacam relrel suram kemerlap tak bisa diketahui ujung
pangkalnya. Ini sungguh sebuah metafor yang luar biasa meskipun mungkin sulit
dihubungkan dan memang ini sebuah kejutan.Untuk itu hanya perlu satu, dua patah
kata. Tapi GM menggunakan jalan panjang melingkar yang sering-sering sulit
diterka. Tapi kita merasakan kepuitisan melalui jalan pintas yang berbelok
belok yang karenanya pula kita kembali pada filsafat: mengapa tidak dibikin
sulit kalau memang bisa dibikin indah?.
Pada bait kutipan ke dua kita menerima gambaran sebuah kota ramai dan sibuk
menjelang senja dalam kalimat indah : "Sisa sedihkan ini senyap
Dalam getar separuh senja"
Kehiruk pikukan sepanjang hari justru membuat kita menjadi sendu karena mereda
di menjelang senja. Rupanya Goenawan sudah sangat biasa dengan suasana hiruk
pikuk kesibukan kota besar yang bahkan ketika mereda terasa seperti kesedihan,
namun sebuah kesedihan yang juga indah tapi tak terbebas dari sebuah ironi yang
lain karena dalam dua baris terahir GM melukiskan Jakarta sebagai:
Antara deru mobil, huruf berlampu kerjap
Sungai yang tak berkata-kata?
Disamping ada Jakarta yang gemerlapan dan riuh rendah tapi juga ada "Sungai
yang tak berkata-kata?...Ciliwung yang mampet, bau busuk oleh sampah sarap yang
tak mengalir.
Goenawan Mohamad yang menurut Prof. Sapardi Joko Damono adalah berasal dari
"wong ndeso" telah mengembara ke kota-kota besar dunia dan mengaku dirinya
sebagai turis. Tapi seperti yang diakuinya sendiri dia adalah juga seorang si
Malinkundang dan juga sebagai turis yang bermuram durja dengan sajak-sajaknya
yang bersuasana sendu. Tapi dalam kenyataan Goenawan adalah seekor "burung yang
berbahagia", geluk vogel yang sukses sebagai penyair dan gemilang sebagai
pengusaha. Gambaran dirinya yang paradox ini membikin kita lebih sulit lagi
dalam memahami Goenawan Mohamad yang mungkin lebih sulit dari memahmi
sajak-sajak-nya. Belakangan ini GM menyatakan keluar dari PAN dan menyokong
pencalonan JOKO-JK untuk memenangkan kursi Presiden. Langkah politik positif GM
ini membuat saya berpikir: seorang seniman, penyair memang tidak seharusnya
masuk Partai politik. Seniman, penyair harus tetap menjadi orang bebas dan
berfungsi sebagai pengawal untuk seluruh Partai politik dan berada di luar
pasukan. Mereka adalah pengawas yang efektif bagi semua kecenderungan politik
dan tidak akan kehilangan kekritisannya bila mereka berada di luar Partai. Hal
itu dilakukan juga oleh Gabriel Garcia Maquez yang menolak jabataan duta besar
dan menolak setiap tawaran subsidi dan di bidang politik dia cenderung ke ide
Sosialisme. Tanpa masuk Partai.
Kutipan lengkap:
Pada Sebuah Pantai: Interlude
Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
Yakni ketika pasang berahir, dan aku menggerutu, masih terasa
harum lehermu" dan kau tak menyahutku
Di pantai, tapi memang tinggal terumbu,
hijau (mungkin kelabu)
Angin amis. Dan
di laut susut itu, aku tahu,
tak ada lagi jejakmu.
Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari sebuah
dongeng tentang jin yang memperkosa putri yang semalam mungkin
kubayangkan untukmu, tanpa tercatat, meskipun pada pasir gelap.
Bukankah matahari telah bersalin dan
melahirkan kenyataan yang agak lain?
Dan sebuah jadwal lain?
Dan sebuah ranjang & ruang rutin, yang
setia, seperti sebuah gambar keluarga
(di mana kita, berdua, tak pernah ada)?
Tidak aneh.
Tidak ada janji
pada pantai
yang kini tawar
tanpa ombak
(atau cinta yang bengal)
Akupun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan, berberes
dalam sebuah garis, dan berkata:"Mungkin tak ada dosa, tapi ada
yang percuma saja"
Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil
Dan itulah soalnya.
Di mana ada keluh ketika dari pohon itu
mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan
ketika kini tinggal panas & pasir yang
bersetubuh
Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
di mana mengentara dalam hati dan kalimat-
kalimat bisa berlarat-larat (setelah semacam
affair singkat) dan kita menelan ludah sembari
berkata: "Wah, apa daya".
Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk
menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.
Lagipula dalam sebuah sajak sentimentil hanya ada satu
dalil:
biarkan akal yang angker ini mencibir !
Meskipun alam makin praktis dan orang telah memberi
tanda DILARANG NANGIS.
Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan datang lagi padaku.
Kita mermang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin
Dan kita tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa
Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada
sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut pada
lokan
mungkin akan tetap saja di sana - apapun maknanya
1973
Sajak ini memang cukup panjang namun saya kutip selengkapnya dan juga berusaha
persis(semoga tidak salah ketik) seperti yang tercetak dan terlihat di dalam
buku kumpulan sajak Goenawan Mohamad "Sajak-Sajak Lengkap 1961-
2001".Dikarnakan kebiasaan GM yang menggunakan koma, titik dan bahkan komposisi
sajak begitu persis seperti yang dia maksudkan meskipun tampak remeh tapi
adalah juga subtiel. Umpamanya tanda -&- dalam sajak ini bisa kita artikan
sebagai sex( seperti dalam baris: "Dan sebuah ranjang & ruang rutin yang ") .
Atau dalam baris yang lain: "ketika kini tinggal panas & pasir yang
bersetubuh". Alasan lain mengapa saya kutip lengkaap adalah karena agar sajak
ini merupakan cerita atau "kisah" seutuhnya dari Goenawan Mohamad. Sebelumnya
pernah saya katakan bahwa Goenawan suka bercerita dan dia melakukannya dengan
cara bersajak ( kalau tak salah Goenawan tidak menulis cerpen atau novel).
Semua penyair suka bercerita dan disamping dia menulis prosa, dia juga
bercerita ketika menulis sajak. Penyair HR. Bandaharo menulis "10 sanjak
berkisah" disamping ratusan sajak-sajak lainnya yang tidak dia namakan sanjak
berkisah. Goenawan punya gaya spesifiknya dalam membangun sajaknya yang juga
bercerita. Antara cerita sajak GM dan sanjak berkisahnya HR Bandaharo tentu
sangat berlainan, sangat berbeda meskipun saya tidak bermaksud membandingkan
yang mengarah ke penilaian yang mana lebih bagus dan yang mana yang kurang
bagus. Antara GM dan Banda hanyalah soal selera. Rasa sendu dalam sajak-sajak
GM memang tidak terlalu berat hingga melankolik, namun rasa sendu yang mudah
ditanggungkan meski sulit dicerna (dimaknai). Saya merasakan semua sajak-sajak
GM diliputi suasana kesenduan dengan dosis yang berbeda-beda namun tak pernah
overdosis. Dalam sajak yang saya kutip lengkap sekarang ini kesenduan itu
diperingan penyairnya. Umpamanya dengan merelativir penyesalan dengan kata:
"Wah, apa daya". Dalam sajak panjangnya sekali ini sepertinya telah terjadi
peristiwa persetubuhan yang agaknya sejenis sex liar yang diberi nama : "Pada
sebuah Pantai: Interlude". Namun rupanya sebagai "Interlude", dia adalah
Interlude yang "unhappy Interlude". Dan sebagai penawar penyesalan ada baris
yang begini: " Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah memberi tanda
DILARANG NANGIS".
"Semacam affair singkat" yang tergambar kurang memuaskan itu juga diberi
ilustrasi dengan suasana pantai yang begini:
"Di pantai, tepi memang tinggal terumbu.
hijau(mungkin kelabu)
Angin amis. Dan
di laut susut itu, aku tahu
tak ada lagi jejakmu"
Warna, bau, pemandangan yang tidak menggembirakn ini begitu indahnya
digambarkan dengan irama dan paduan bunyi yang begitu harmonis.
Kata "sajak"dalam sajak ini harus kita artikan sebagai kata pengganti "cerita"
dan tentunya dalam cerita yang sebenarnya, bukan rekayasa. Sebuah larik lagi
yang:
"Lagi pula dalam sebuah sajak sentimentil hanya ada satu dalil:
biarkan akal yang yang angker itu mencibir! "
Dalam sajak ini banyak penekanan dalam bentuk pengulangan bahwa apa yang
terjadi(yang digambarkan sebagai sentimentil) adalah peristiwa tolol karna
kegagalan dalam pelaksanaan dan sebagai pelarian sang penyair mencoba berlari
ke filsafat peredam rasa kecewa,
Dalam bait-bait ini kataanya:
"Kita bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin
Kita bersandar pada angin
Dan kita tak permah bertaanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa"
Dan sambil menyedari rasa aib, rasa kurang, rasa menyesal dan bahkan hingga
rasa berdosa itu sang penyair menutup sajaknya dengan:
" Barangkali saja kita mencoba memberi harga pada
sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada kerang, lumut pada lokan.
mungkin akan tetap juga di sana - apa pun maknanya
Penutup
Tidak semua sajak bisa mudah dimengerti terutama sajak-sajak moderen yang
semakin sulit dipahami. Tapi bila timbul pertanyaan: lantas untuk apa kita
membaca sajak?
Jawabnya: Untuk bersenda gurau.
ASAHAN AIDIT. M.A Ph.D. .
filolog.