TATIANA YANG BAIK,

Dalam banyak hal saya setuju dengan Tatiana Lukman.
Tapi dalam beberapa hal saya sangat tidak setuju dengan Tatiana Lukman. Tidak 
akan saya katakan segra tapi dalam proses tulisan ini. Jokowi memang seorang 
borjuis Nasional. Tapi juga dia bukan "jagoan rakyat" tapi dia berusaha 
mendekatkan diri dengan rakyat atau kita katakan merakyat. Dan kitapun tahu 
seluruh pemimpin revolusi Indonesia adalah borjuis Nasional termasuk semua 
pimpinan PKI seluruh periode termasuk Ketua PKI periode 1961/1965. Tapi 
pemimpin revolusioner yang ingin melaksanakan cita-cita Solialisme ataupun 
membebaskan rakyat Indonesia itu semuanya gagal. Memang betul apa yang 
dikatakan Kalyanamitra: : PROLETAR KALAH TERUS. Dan mengapa kalah? . Jawabnya 
karena kaum Proletar dan kaum tani belun dibangkitkan secara sungguh-sungguh 
dan benar sedangkan para pemimpin mereka yang cenderung melaksanakan cita-cita 
sosialisme dan pembebasan rakyat Indonesia belum mengerti apa yang harus mereka 
perbuat, belum tepat dalam melaksanakan teori-teori revolusioner, belum 
mencengkam bahwa kekuasaan itu lahir dari laras senapang dan yang terpenting 
tidak pandai memilih waktu (tempo, kesempatan), kurang gigih menciptakan 
situasi revolusioner dan masih tetap subyektif dalam menentukan garis pokok 
revolusi Indonesia untuk memimpin rakyat. Lalu pertanyaan selanjutnya: Mengapa? 
 Karena para pemimpin revolusioner kita belum mampu melepaskan ideologi borjuis 
kecialnya,  dan gagal dalam memegang erat ideologi Peroletar atau klas buruh 
dan karnanya semua percobaan mereka r biasa besar dan pula sia-sia. Inilah 
kenyataan yang kita alami masa lalu. Tapi kalau kita belum mau melepasakan 
cita-cita kita yang semula itu, toh kita tidak bisa memulainya dengan tancap 
gas begitu saja karena kita harus hidup dalam realita politik, realita 
pemikiran rakyat, realita penguasaan bojuis beserta kekuatan riiel maupun 
semu-nya yang masih menguasai kehidupan rakyat Indonesia. Keluar dari realitas 
demikian dan langsung menuju revolusi pembebasan dan cita-cita sosalisme, akan 
hanya mengulangi kegagalan lama, mengulangi kesalahan lama dan mengulangi drama 
dan tragedi lama dan kita tidak mau semua itu terulang kembali, juga rakyat 
Indonesia tidak mau dan saya kira siapapun tidak mau.
Bung Karno sendiri gagal total dalam melaksanakan TRISAKTI yang dia ciptakan di 
dalam keuasaan dia sendiri padahal tujuan Trisakti itu bagus dan revolusioner. 
Mengapa Trisakti di jaman bung Karno gagal yang justru dilaksanakan dan 
dipimpin bung Karno sendiri?. Saya sependapat dengan pendapat bung Salim 
(Prof.Dr.Salim Said) yang mengatakan karena PERADABAN KITA   MASIH RENDAH atau 
perssisnya BELUM TINGGI. Dalam bahasa kita, kata-kata bung Salim itu 
sesungguhnya adalah kesadaraN politik rakyat masih rendah (jangan cepat marah 
dahulu) karena pendidikan yang diterima arakyatpun hampir-hampir tidak memadai 
bahkan tidak ada. Rakyat Indonesia yang masih miskin dan hanya dirangsang 
dengan materi yang dikuasai kaum borjuasi dan dari pembagian materi borjuasi 
yang luar biasa pelitnya itu, rakyat hanya memikirkan perut mereka dan itu juga 
benar tapi rakyat kurang dipersenjatai dengan modal  bagaimana semua materi 
bojuasi yang sesungguhnya milik rakyat itu harus direbut seluruhnya dan bukan 
hanya perjuangan minta bagian lebih banyak, lebih cukup hingga lebih adil. 
Materi kepunyaan rakyat yang dikuasai borjuasi atau kapitalis tidak bisa dibagi 
adil dengan borjuasi karena itu adalah sepenuhnya milik rakyat. Mereka dapat 
bagian atas pemabagian yang ditentukan rakyat dan untuk itu rakyat harus 
memegang kekuasaan sepenuhnya. Apakah ini yang kita tuntut sekarang? Hal itu 
tidak mungkin tanpa perjuangan keras, tanpa persiapan yang luar biasa teliti 
dan panjangnya, tanpa pengorganisasian rakyat yang sistimatis dan pimpinan yang 
cakap dan setia kepada ccita-cita rakyat. Apakah Trisakti bisa dijalankan 
secara semurni murninya?.Di sini kita tidak bicara tentang 
kemurniannya.Trisakti menuntut masa yang tepat untuk melakasanakannya. Masa 
sekarang hanya tepat untuk memulainya dan untuk memulainya harus mengadakan 
revisi di sana sini (jangan takut dituduh revisionist) agar  secara realis dan 
setapak demi setapak melakukannya dengan hati-hati, tidak terburu nafsu, tidak 
main asli-aslian tapi harus berani menukanginya karna ini barang "sakti" yang 
tidak otomatis melakukan tugasnya menciptakan segala yang menakjubkan tanpa 
pemikiran dan ketrampilan tangan kita sendiri. Jokowi (Pemerintahan Jokowi) 
nantinya bila menang, cepat atau lambat harus berurusan dengan IMF, dengan Bank 
Dunia, dengan  para kapitalis Amerika dan Eropah serta Asia bahkan hingga 
Afrika dan Amerika Latin. Untuk berdikari di bidang ekonomi perlu duit banyak, 
luar biasa banyaknya, dan kalau belum ada terpaksa harus pinjam dulu meskipun 
dengan bunga tinggi asal jangan sampai jadi budak atau menyerahkan atau 
menggadaikan Indonesia kepada bangsa asing. Tapi semua itu bisa diatur secara 
rasionil dengan ketegasan dan kejujuran tapi juga keberanian. Calon koruptor 
harus diawasi hingga ke ujung kukunya dan dihukum penjara dan dibikin miskin 
papa bila tertangkap.
Di jaman bung Karno, Trisakti lahir secara primatur dan diterapkan secara 
spontan untuk melawan Amerika.Trisakti baru bisa dilaksanakan secara penuh 
apabila Indonesia sudah makmur dan kuat di segala bidang. Indonesia bukan 
Tiongkok dengan semangat Da Chai, semangat bangsa besar, tekad besar dan 
keberanian besar. Dan ahirnya semangat Da chai-pun harus di lemari eskan oleh 
Teng Siauw Ping dan digantinnya dengan modernisasi dan duit(modal) asing. 
Hingga sekarangpun Tiongkok belum 100 persen bisa berdikari tapi dia sudah 
punya modal besar untuk ahirnya berdikari. Berdikari di tiga bidang yang 
dimaksudkan bung Karno itu hanya bisa kalau Indonesia sudah kaya dan 
makmur,berperadaban tinggi dan telah menemukan kepribadiannya sendiri. 
Berdikari berarti mengkonsolidasi kekuatan, kekayaan dan kepribadian di segala 
bidang agar tidak kembali runtuh karna mabok kepayang dan arogansi maupun 
chauvinisme. Indonesia yang masih setengah compang camping seperti sekarang ini 
tidak mungkin melaksanakan Trisaksi secara utuh. Tapi dengan kreativitas yang 
besar, selangkah demi selamgkah menuju ke berdikarian mungkin bisa terwujud. 
Ingin melaksanakan Trisakti secara utuh sekarang ini adalah UTOPIA, ILUSI dan 
SURIALISME dan itu pada hakekatnya penipuan.
Jokowi tidak sanggup melakukan itu dan diapun mengerti dan tahu bagaimana 
melaksanakan Trisakti secara bertahap dengan kreativitas dan keberanian melawan 
arus Neoliberal secara unik dan cerdas. Melawan Neoliberaalisme tidak bisa 
secara total memisahkan diri dengannya tapi tetap berada di dalamnya sambil 
memfaedahkan yang bisa difaedahkan untuk persiapan meniadakannya di masa depan. 
Trisakti bukan msaalah 5, 10 bahkan 20 tahun ke depan. Kita tidak tahu persis 
kapan akan terlaksana secara penuh karena, itu hanya akan terlihat dari usaha 
kita sejak sekarang ini. Karenanya mengharapkan kesaktian Jokowi untuk 
melaksanakan Trisakti secra penuh dan utuh sudah pasti akan kecewa. Kecewa 
besar. Sekarang kita hanya bisa melihat Jokowi jauh lebih baik dari semua 
saingannya. Orang boleh memujinya, mengaguminya tapi juga mengkrtiknya. Karna 
Jokowi bagaimanapun cuma manusia biasa , bukan supermen apalagi Tuhan.Tuhan  
saja boleh dikritik oleh nabi Daud, jadi mengapa Jokowi tidak boleh dikritik 
kalau dia punya kelemahan dan kesalahan. Tapi sambil mengkritikanya kita akan 
terus menyokongnya secara lebih kuat lagi karena dialah pilihan yang terbak 
untuk saat ini. Jadi hendaknya jika mengkritiknya jangan sampai 
meruntuhkankannya dan membikin dia kalah tapi justru untuk memperkuatnya. Juga 
mengaguminya atau memujinya setingggi langit, tidaklah diperlukan karna akan 
mengarah ke kultus individu dan Jokowi sendiri tidak memerlukan semua yang 
berlebihan dalam pujian dan sanjungan. Dia perlu sokongan dan dukungan kuat 
dari semua rakyat Indonesia menuju kemenangan. Jadi di sinilah yang saya 
maksudkan  hal yang tidak saya benarkan dari Tatiana yang tidak menyokong 
Jokowi dan mempermasaalahkn asal klasnya sebagai borjuis nasional .Hal ini 
hendaknya kita tunda dulu untuk membicarakannya. Kita tahu masaalahnya tapi 
tidak untuk mengutik-utiknya sekarang gini.
Juga soal GOLPUT. Sebelum Pemilu Legislatip 2014 saya selalu menyokong dan 
turut menganjurkan ber-Golput. Tapi sekarang situasi sudah berlainan. Saya 
tidak lagi menganjurkan ber-Golput. TAPI, saya juga tidak mencela Golput, 
terserah mereka karna Golput adalah pilihan mereka, hak mereka yang seharusnya 
dihormati setiap orang bila konsekuen menerima sistim demokrasi sekarang 
ini...suka atau tidak suka. Hingga sekarang kaum Golput terlalu banyak dicela, 
dimaki, diintimidasi, disingkirkan dan dipencilkan. Tentu mereka sakit hati dan 
merasa dendam yang mungkin terlebih lebih pada yang memaki dan memencilkan 
mereka(yang mugkin adalah juga teman-teman mereka juga) daripada yang mereka 
anggap musuh rakyat atau pemimpin palsu dan penipu. Hal itu wajar. Manusia 
punya perasan dan kalau harga diri mereka direndahkan karna pilihan mereka 
lain, itu sangat tidak baik bagi gerakan rakyat. Di dunia Barat kaum Golput 
yang mencapai hingga 50persen atau bahkan lebih, adalah biasa. Terutama di 
Belanda yang saya tahu benar dan juga saya punya hak pilih dan saya tidak 
Golput di Belanda. Tapi kaum Golput di Belanda tidak pernah dimaki, dikiritik 
apalagi dipencilkan. Kehormatan mereka tetap terjaga dan tidak seoragpun yang 
berhak mengusiknya. Hanya saja pada Pemilu Parlemen Eropah minggu lalu saya 
turut bergolput karna saya sudah muak dengan domonasi Uni Eropah terhadap semua 
anggotanya tapi patuh pada perintah Amerika. Kali ini saya bergolput tapi istri 
saya tidak dan tetap datang ke tempat pemungutan suara. Biasa. Sangat biasa. 
Golput itu sah, sama sahnya dengan tidak Golput. Mungkin itu hanya bisa terjadi 
di negeri yang lebih beradab. Demokrasi bagi mereka sudah bukan tuntutan tapi 
sudah menu sehari-hari. Jadi menolak menu juga biasa. 
Nah, Tatiana yang baik, demikianlah. Semoga perbedaan jadi pemikiran bersama 
dan bukan pengucilan masaal.
Salam,
ASAHAN.



  ----- Original Message ----- 
  From: 'Kalyanamitra' [email protected] [wahana-news] 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, May 31, 2014 7:22 AM
  Subject: RE: [wahana-news] Jokowi Jagoan Rakyat atau Borjuasi Nasional?


    
  INI TULISAN BISA MENYESATKAN,,,TAHUN 1999 PDIP MENANG PEMILU NAMUN MEGA
  TIDAK JADI PRESIDEN KARENA ADA KOALISI TENGAH AMIN RESEK DKK YG MENGUSUNG
  GUSDUR,,,JNG BICARA BORJUASI ATAU PROLETAR DI INDONESIA,,,KARENA YG MIMPIN
  DARI DULU SEJAK PENCARIAN INDONESIA YA BORJUASI,,,PROLETAR KALAH TERUS
  SAMPAI 1965,,,,

  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
  Sent: Saturday, May 31, 2014 12:04 PM
  To: [email protected]
  Subject: [wahana-news] Jokowi Jagoan Rakyat atau Borjuasi Nasional?

  http://www.teraspos.com/berita-jokowi-jagoan-rakyat-atau-borjuasi-nasional.h
  tml

  Jokowi Jagoan Rakyat atau Borjuasi Nasional?

  Sejak Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama berhasil memenangi Pemilihan
  Kepala Daerah dan memimpin DKI Jakarta, banyak penduduk yang gandrung pada
  pasangan ini.

  Kejujuran, keseriusan, dan gaya memimpin dengan blusukan ke segala pelosok
  Ibu Kota, kunjungan mendadak ke kantor-kantor bupati atau lurah, serta
  kegiatan "merakyat" lainnya yang tak pernah dilakukan para pejabat yang
  mendahuluinya telah menambah popularitas Jokowi.

  Di tengah kebobrokan dan kebusukan pemerintahan dengan para pejabat dan
  elite politik yang tak pernah "turun ke bawah", yang tanpa malu-malu
  menghamburkan dan merampok uang rakyat untuk foya-foya dan memenuhi
  pundi-pundi sendiri, sangat dimengerti jika orang terpikat atau bahkan
  menjadi pemuja dan pendukung fanatik Jokowi. Saya mengalami sendiri
  bagaimana sikap membuta orang-orang yang demikian.

  Ketiadaan partai politik yang sungguh-sungguh mewakili aspirasi rakyat juga
  mendorong orang beralih untuk menaruh harapan kepada "juru selamat", tokoh
  yang jujur, bersih, dan berbeda dari tokoh-tokoh yang sudah sejak lama
  membuat rakyat muak. 

  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pun tidak dianggap rakyat sebagai
  partai politik yang mewakili kepentingan mereka. Ini jelas terlihat pada
  hasil pemilu legislatif setelah tahun 1999, yang menunjukkan kedudukan PDIP
  di mata rakyat terus merosot.

  Diajukannya Jokowi sebagai calon presiden oleh Megawati adalah karena dia
  sudah dapat dipastikan tidak akan bisa memenangi pemilihan presiden. Rakyat
  sudah dibikin kecewa ketika dia menjabat presiden tahun 2002-2004. Kasarnya
  majunya Jokowi diharapkan meningkatkan suara bagi PDIP. Namun harapan ini
  pun gagal!

  Para pendukung Jokowi dan sebagian kader PDIP bicara tentang program yang
  ditawarkan Jokowi seandainya terpilih pada Pemilihan Umum Presiden pada Juli
  nanti. Program itu menerapkan Trisakti Bung Karno. Mereka mengharapkan
  penerapan Trisakti ini melahirkan sebuah perubahan mendasar: dari
  pemerintahan yang menjalankan neoliberalisme menjadi pemerintahan dengan
  ekonomi kerakyatan.

  Konsep Trisakti Bung Karno adalah: "Berdaulat dalam politik", "Berdikari
  dalam ekonomi", dan "Berkepribadian dalam kebudayaan". "Berdaulat dalam
  politik" tidak bisa dipisahkan dari "Berdikari dalam ekonomi". Ekonomi yang
  mandiri, tidak tergantung pada modal asing yang diselubungi kata "bantuan"
  adalah syarat yang harus dipenuhi untuk dapat berdaulat dalam politik.
  Konsep Trisakti sebetulnya tidak dapat dipisahkan dari penolakan Bung Karno
  kepada Exploitation de l'homme par l'homme atau eksploitasi manusia atas
  manusia.

  Masalahnya sekarang adalah dapatkah kita harapkan dari Jokowi sebagai
  presiden terwujud konsep Trisakti?

  Jokowi seorang borjuis nasional. Pengalaman sejarah menunjukkan kegagalan
  tokoh-tokoh nasionalis borjuis berbagai negeri, seperti Nasser, Nyrere,
  Nkrumah, dan Nehru untuk membangun negeri yang secara politik dan ekonomi
  bebas dari dominasi imperialis dan neokolonialis dan memberikan kemakmuran
  kepada rakyat. Mengapa?

  Pertama, dalam zaman kapitalisme monopoli dunia dewasa ini, kekuasaan
  kapital monopoli internasional yang didukung negara-negara imperialis serta
  semua lembaga dagang dan keuangannya, seperti WTO, IMF, dan Bank Dunia,
  sudah begitu besar dan kuat sehingga borjuis nasional tak mampu melawannya.
  Karena tidak berdaya, maka jalan yang dipilih borjuis nasional adalah
  menyerah dan tunduk pada kaum monopoli asing. 

  Kedua,kaum imperialis tidak akan pernah mengizinkan negara-negara Dunia
  Ketiga berkembang dan menjadi saingannya. Mereka sangat berkepentingan untuk
  mempertahankan kondisi negeri-negeri ini hanya sebagai sumber bahan mentah,
  tenaga kerja murah, dan pasar bagi barang-barang produksinya yang sudah
  kelebihan sebagai akibat over-production.

  Karena itu, setiap ada tokoh nasionalis borjuis suatu negara Dunia Ketiga
  ingin membebaskan diri dari cengkeraman dominasi dan membangkang, tidak
  menjalankan kebijakan yang didiktekan, datanglah kaum imperialis yang
  dikepalai Amerika Serikat dengan ancaman destabilisasi politik dan ekonomi,
  bahkan penggulingan pemerintahan seperti dialami Jacobo Arbenz di Guatemala,
  Joao Goulart di Brasil, Salvador Allende di Chile, termasuk pemerintahan
  Sukarno. Contoh yang lebih baru adalah perang Irak yang menggulingkan Saddam
  Hussein, Jenderal Khadafi di Libya, dan usaha penggulingan Bashar Al-Assad
  di Suriah.

  Sebagian orang menganjurkan kaum buruh, kaum tani, dan rakyat jelata umumnya
  untuk mendukung Jokowi sebagai presiden, karena mereka sadar akan lemahnya
  borjuis nasional dalam masyarakat setengah jajahan setengah feodal. Jokowi
  dianggap sebagai pilihan lebih baik daripada Prabowo Subianto, pelanggar
  berat hak asasi manusia, atau Aburizal Bakrie, tuan tanah dan kapitalis
  besar yang menggusur dan menghilangkan mata pencaharian ratusan ribu rakyat
  Porong, Sidoarjo. Orang-orang yang begini sama sekali tidak mau belajar dari
  pengalaman sejarah. 

  Borjuis nasional membutuhkan dukungan rakyat untuk diantar memasuki Istana
  Merdeka. Tapi, apakah borjuis nasional sungguh-sungguh mewakili kepentingan
  kaum buruh dan kaum tani?

  Berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi supaya dapat berdaulat dalam
  politik berarti harus berani melawan imperialisme yang berdiri di belakang
  modal monopoli asing dan semua lembaga dagang dan keuangan internasional
  serta semua perjanjian dan peraturan yang menghancurkan ekonomi nasional dan
  lingkungan yang sudah ditandatangani pemerintahan sebelumnya. 

  Berani berpihak pada kaum tani dengan mengembalikan tanahnya yang dirampas
  dan menjalankan reforma agraria sejati, berani berpihak kepada kaum buruh
  dengan memenuhi tuntutannya, seperti penghapusan outsourcing, jaminan sosial
  untuk seluruh rakyat yang ditanggung sepenuhnya oleh negara, melindungi
  hak-hak demokratis, berani melawan tuan tanah pemilik monopoli tanah, kaum
  kapitalis birokrat dan kapitalis komprador. Revolusi mental yang diinginkan
  Jokowi mustahil berhasil tanpa revolusi di bidang ekonomi. Bersedia dan
  mampukah Jokowi menghadapi secara konsekuen lawan-lawan kelas berat itu?

  Di samping itu patut dicatat kesediaan Jokowi untuk memfasilitasi penanaman
  modal majikan Foxconn dari Taiwan yang dikenal di dunia internasional
  sebagai perusahaan yang intensitas pengisapannya membuat puluhan buruhnya di
  Shenzhen, Tiongkok, bunuh diri. Jokowi menjanjikan kesejahteraan kepada
  buruh, tapi di sisi lain menyatakan akan terus berpegang pada undang-undang
  ketenagakerjaan yang mengizinkan outsourcing. Padahal penghapusan
  outsourcing adalah salah satu tuntutan kaum buruh. 

  Pengalaman sejarah menunjukkan, untuk mewujudkan kesejahteraan, rakyat hanya
  bisa bersandar pada kekuatan sendiri melalui berorganisasi, memobilisasi
  diri, memperbesar dan memperkuat kekuatannya. Untuk apa menyibukkan diri
  dengan pemilu kaum elite politik dan mengizinkan barisan rakyat terpecah
  oleh kepentingan calon presiden dan partainya? Sedangkan yang mendesak bagi
  kaum buruh, kaum tani, dan kelas pekerja adalah usaha peningkatan kesadaran
  kelas, usaha memperkuat dan memperbesar barisan melalui persatuan
  ormas-ormas, serta peningkatan perjuangan menuntut hak-hak sosial dan
  hak-hak demokratis. 

  Harus diingat bahwa secuil pun hak dan kesejahteraan rakyat tak pernah
  datang sebagai hadiah dari borjuis nasional atau kaum penguasa. Semuanya
  dihasilkan oleh perjuangan rakyat sendiri. Borjuis nasional hanya bersedia
  ikut dan mampu memperjuangkan kedaulatan politik dan ekonomi berdikari
  melawan kekuatan imperialis jika sudah ada gerakan kaum buruh dan kaum tani
  terorganisasi yang besar, kuat, dan perkasa. Tanpa kaum buruh dan kaum tani
  yang terorganisasi yang memimpin perjuangan anti-imperialis dan
  antineokolonialis, adalah ilusi mengharapkan pemimpin borjuis nasional
  menerapkan Trisakti yang sejati. Kecuali Trisakti yang sudah dikebiri atau
  direvisi.(*)

  Tatiana Lukman

  [Non-text portions of this message have been removed]



  
ya bisa dilaksananan

Kirim email ke