http://indonesia-web.blogspot.se/2013/08/rakyat-tak-percaya-elite-politik-2014.html


Rakyat Tak Percaya Elite Politik: 2014 Golput Menang



Tidak adanya kepercayaan rakyat kepada elite politik dan para pemimpin, baik di 
eksekutif maupun legislatif, akan mendorong masyarakat apriori, termasuk dalam 
menghadapi Pemilu dan Pilpres 2014. Rakyat diprediksi banyak yang tidak akan 
menggunakan hak pilihnya alias golput, bahkan bisa jadi golput akan menang.

“Kepercayaan rakyat terhadap elite politik hampir mencapai titik nadir. Ini 
karena para pemimpin tidak lagi berpihak kepada rakyat. Akibatnya, rakyat 
apriori. Golput akan meningkat, bahkan bisa jadi menjadi pemenang pada 2014, 
baik dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden,” ungkap pengamat politik 
dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta, Arbi Sanit menjawab Dialog di 
Jakarta, kemarin.

Saat ini, kata Arbi, rakyat dalam kondisi sengsara, namun para pemimpin seakan 
tak pernah hadir di tengah-tengah mereka. Ketika rakyat dihajar kenaikan 
berbagai harga kebutuhan pokok pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) 
serta menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1434 H, misalnya daging sapi 
sampai Rp115.000 per kilogram (kg), bahkan cabai rawit merah sampai Rp100.000 
per kg, ternyata para pemimpin tidak bisa cepat bertindak. “Respons pemerintah 
selalu terlambat, sementara rakyat terlanjur menderita,” ujarnya.

Pasca-Lebaran nanti, lanjut Arbi, masyarakat juga akan dihadapkan pada 
kesulitan-kesulitan baru, misalnya rencana kenaikan harga liquid petroleum gas 
(LPG) atau elpiji tabung kapasitas 12 kg, meskipun masih terjadi tarik-ulur 
antara Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan dan Menteri Energi dan Sumber 
Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik. “Bila harga elpiji jadi naik, beban masyarakat 
akan bertambah berat,” tukasnya.

DPR yang diharapkan menjadi pembela rakyat, dinilai Arbi justru menjadi semacam 
lembaga stempel bagi pemerintah, termasuk terhadap kenijakan-kebijakan yang 
melukai hati rakyat, dengan adanya Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi Parpol 
Pendukung Pemerintah yang dimotori Partai Demokrat. Tidak itu saja, perilaku 
para anggota DPR juga mengecewakan, misalnya bermewah-mewah di tengah 
kemiskinan rakyat. “Kekecewaan itu akan terakumulasi dan rakyat menemukan 
momentum pembalasan pada Pemilu 2014. Angka golput akan meningkat,” tegasnya.

Arbi lalu membeberkan data yang menunjukkan kecenderungan naiknya angka golput 
serta menurunnya partisipasi pemilih dari pemilu ke pemilu dan dari pilpres ke 
pilpres.

Tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 1999 mencapai 93,33%, Pemilu 2004 turun 
menjadi 84,9%, dan Pemilu 2009 turun lagi menjadi 70,99%. Pemilu 2014, 
diprediksi hanya tinggal 54%, namun prediksi optimis Lingkaran Survei Indonesia 
(LSI) masih pada angka 60%. Di pihak lain, Komisi Pemilihan Umum (KPU) 
menargetkan tingkat partisipasi pemilih 75% sesuai target pembangunan. Dari 
sekitar 236 juta penduduk Indonesia, kemungkinan calon pemilih Pemilu 2014 
adalah 191 juta orang.

Angka golput juga terus meningkat. Pemilu 1999 angka golput 10,21%, Pemilu 2004 
naik menjadi 23,34%, dan Pemilu 2009 naik lagi menjadi 29,01%. Bandingkan 
dengan angka golput pada pemilu era Orde Lama dan Orde Baru (1955, 1971, 1977, 
1982, 1987, 1992, dan 1997) yang tak pernah lebih dari 10%.

Untuk Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah, angka golput juga tinggi. 
Pilpres 2004 angka golput 21,5%, Pilpres 2009 naik menjadi 23,3% (angka 
partisipasi pemilih Pilpres 2009 sebesar 72,09%). Angka golput pemilukada 
rata-rata 27,9%. “Bila mereka yang tidak berpartisipasi dalam pemilu 
digabungkan dengan golput, bisa jadi mereka akan menang pada 2014,” tandas Arbi.

Sumber: hariandialog.com
- See more at: 
http://indonesia-web.blogspot.se/2013/08/rakyat-tak-percaya-elite-politik-2014.html#sthash.yxEvIQT7.dpuf

++++

http://www.jpnn.com/read/2014/07/10/245351/Golput-Menang-Telak-


Kamis, 10 Juli 2014 , 10:26:00
Golput Menang Telak



     
     
     

SUBANG - Dari hasil perhitungan suara, partisipasi warga Kecamatan Pagaden 
Barat, Subang,  di Pemilu Presiden sangat minim. Warga yang tidak menyalurkan 
hak pilihnya atau golput mencapai lebih dari setengah dari warga yang terdaftar 
dalam DPT.

Dari 28.109 orang yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kecamatan 
Pagaden Barat, hanya 9.999 orang saja yang menyalurkan hak suaranya. Semantra 
sisanya sebanyak 18.110 orang tidak menggunakan hak pilihnya.

Edi M, anggota PPK Kecamatan Pagaden Barat menuturkan, dari hasil rekapitulasi 
pihaknya untuk perolehan suara pasangan calon Presiden nomor urut 1 
Prabowo-Hatta memperoleh suara 4.741 suara, sedangkan pasangan calon presiden 
nomor urut 2 Jokowi-JK memperoleh 5.258 suara. Selisihnya 517 suara, dari DPT 
28.109 orang.

Dari sembilan desa yang ada di kecamatan pagaden barat Pasangan Joko Widodo- 
Jusuf Kalla menang di 6 desa, sedangkan pasangan pasangan Prabowo-Hatta menang 
di 3 desa yaitu Munjul, Bendungan dan Balingbing.

Dari hasik rekapitulasi di desa Munjul, pasangan Prabowo-Hatta menang dengan 
selisih 104 suara, Prabowo-Hatta mendapat 894 suara dan Jokowi-JK 790 suara.  

Dari 6 TPS yang ada di Desa Munjul, pasangan Prabowo-Hatta hanya kalah di satu 
TPS yaitu di TPS 2 yang berada di Kampung Tanjungjaya dengan perolehan suara 
nomor 1 80 suara dan nomor 2 sebanyak 118 suara.

Sementara itu di TPS 04 Desa Bendungan dimana ada anggota dewan terpilih yang 
mengusung pasangan calon Prabowo-Hatta yaitu Lutfi Isror dari PAN dan Nurul 
Mumin dari Partai Demokrat, pasangan nomor urut 1 menang dengan perolehan 125 
dan nomor urut 2 sebanyak 108 suara.(ded/man)



+++++
file:///C:/Users/torpedo/AppData/Local/Microsoft/Windows/Temporary%20Internet%20Files/Content.IE5/GWYO856R/ATT00151.htm



Golput menang, demokrasi tumbang?


A. Z. Muttaqin Rabu,  30 April 2014 09:00 


foto ilustrasi


Oleh Rudini (Lajnah Siyasiyah HTI Surabaya)

(Arrahmah.com) – Hampir bisa dipastikan angka golput untuk pemilu 
capres/cawapres 2014 masih tinggi. Berkaca dari pemilu caleg beberapa waktu 
yang lalu, angka golput bahkan mencapai 43,18%.Inilah fenomena ganjil di negara 
yang mendapat gelar paling demokratis. Demokrasi yang katanya “dari rakyat, 
oleh rakyat, dan untuk rakyat” seharusnya membuat rakyat bergairah.Rakyat pun 
akan semangat untuk menyukseskannya, demi masa depan lebih baik. Sebaliknya, 
rakyat cenderung apatis.Buktinya dari awal pemilu digelar sampai sekarang sudah 
sebelas kali diadakan, angka golput selalu naik dan diprediksi akan terus 
naik.Mengacu pada data tingkat partisipasi pemilih sejak Pemilu 1971, angka 
Golput terus merangkak hingga pesta demokrasi 2009 lalu. Pada Pemilu 1971, 
partisipasi pemilih mencapai 96,62 %. Pada Pemilu 1977 turun tipis menjadi 
96,52 %. Pada Pemilu 1982, menurun ke angka 96,47 %. Penurunan berlanjut pada 
Pemilu 1987 yakni menjadi 96,43 %. Di Pemilu 1992 merosot menjadi 95,06 %. 
Penurunan agak tajam terjadi pada Pemilu 1997 yakni menjadi 93,55 %. Pada 
Pemilu 1999, turun lagi ke angka 92,74 %. Kemudian pada Pemilu 2004, jumlah 
partisipasi pemilih menurun tajam menjadi 84,07 %. Nah, pada Pemilu 2009 lalu, 
terjun bebas ke angka 70,99 %. Jadi faktanya, Golput semakin berjaya dari masa 
ke masa.

Padahal pemerintah dan KPU sudah mensosialisasikan agar tidak golput.Ormas, 
para tokoh, pejabat dan parpol juga sudah jauh-jauh hari mengingatkan jangan 
golput. Bahkan mengeluarkan fatwa haramnya golput atas fenomena ganjil 
ini.Wakil Sekretaris MUI, Amir Syah mengatakan, ijtima’ ulama di Padang 
Panjang pada 2009 patut ‘digemborkan’ kembali. Dalam ijtima tersebut MUI 
mengajak masyarakat untuk memilih pemimpin.”Haram hukumnya jika pemimpinnya 
baik tapi tidak dipilih,” kata dia, Kamis (20/3).Amir mengatakan, pemilihan 
pemimpin sangat penting agar roda pemerintahan tetap berjalan. Pemerintahan 
yang baik nantinya akan membuat rakyat sejahtera. Menurut Amir, pemilihan 
imamah dalam Islam diwajibkan.(republika,jum’at, 21 Maret 2014,02:31 wib). 
Ketua umum Pengurus Besar Nahdalatul Ulama Said Aqil Sirajd juga angkat bicara 
sela-sela acara Harlah ke-64 Fatayat NU, di Gedung PBNU, Jalan Salemba Raya, 
Jakarta, Kamis (24/4/2014) “Insya Allah kita imbau warga NU menggunakan hak 
pilihnya di Pilpres untuk menentukan masa depan bangsa ini,”. Beliau berharap 
warga NU menggunakan hak pilihnya.

Wajar saja sejumlah pimpinan parpol dan ormas sangat khawatir peningkatan 
golput. Pasalnya, semakin besar angka golput menunjukkan bahwa demokrasi yang 
katanya akan menjadikan kehidupan lebih baik, meningkatkan kesejehteraan dan 
keadilan dipertanyakan oleh pengikutnya sendiri. Masyarakat sudah mulai 
memahami dan mengerti bahwa demokrasi adalah sistem yang rusak dan 
merusak.Sebuah sistem yang tidak akan berpihak kepada rakyat dan mereka mulai 
mengetahui bahwa dibalik ini semua adalah para kapitalis dan kongmelarat hitam 
bermain. Rakyat hanya dijadikan korban, tumbal nafsu kekuasaan mereka.

Menurut juru bicara (jubir) Hizbut Tahrir Indonesia Ustadz Ismail Yusanto, 
bahwa “Banyak faktor mengapa orang tidak memilih. Ada karena masalah teknis. 
Sebutlah golput teknis, misalnya karena sakit, hujan atau TPS-nya jauh di 
kampung sana, dan sebagainya. Ada juga masalah psikologis (golput psikologis), 
yakni kekecewaan seseorang pada partai-partai yang ada akibat perilaku korup, 
abai terhadap kepentingan rakyat dan sebagainya. Bisa juga karena masalah 
politik dan ideologi (golput ideologis). Partai-partai yang ada dinilai tidak 
sesuai dengan pandangan politik dan ideologi yang dianut. Apapun latar 
belakangnya, golput adalah juga hak rakyat yang tidak bisa atau tidak boleh 
dipersoalkan.”

Sehingga tingginya angka golput tiap pemilu patut menjadi perhatian seluruh 
rakyat negeri ini, khususnya umat Islam. Dana puluhan triliyun sudah dihabiskan 
oleh pemerintah, parpol, para kontestan caleg yang bertarung. Sebaliknya tidak 
menghasilkan apa-apa.Malah semakin menyuburkan angka golput, dari hasil 
rekapitulasi diberbagai daerah baik tingkat kota/kabupaten maupun propinsi 
terlihat angka golput selalu bersaing dengan angka pemilih. Ini membuktikan 
bahwa golput sudah merata dan menjadi pilihan sebagian besar rakyat indonesia. 
Umat Islam yang mayoritas menghuni negeri patutnya mulai bertanya-tanya apa 
maunya rakyat indonesia.Apakah sistem yang sudah dijalankan puluhan tahun sudah 
saatnya diganti dengan sebuah sistem yang memang benar-benar akan mewujudkan 
kesejateraan dan keadilan yang rakyat inginkan. Sebuah sistem yang sesuai 
dengan fitrah manusia dan berasal dari yang Maha Segalanya.

Demokrasi tumbang

Pilihan untuk tidak memilih alias golput merebak diberbagai daerah bukan tanpa 
alasan. Janji manis para caleg dan capres/cawapres selama ini hanya bualan 
belaka. Jauh panggang dari api. Janji hanyalah tinggal janji, tapi yang pasti 
rakyatlah dikibuli. Demokrasi digembar-gemborkan sebagai pemerintahan yang 
kedaulatanya terletak ditangan rakyat.Rakyat bebas menentukan keinginan dan 
kehendaknya, ditangan rakyatlah berkuasa. Semua itu adalah kebohongan yang 
diumbar oleh pengikut demokrasi sebagai penutup kedok buruk mereka untuk 
berkuasa. Lihatlah pasca pileg, partai sibuk koalisi untuk suksesi menuju kursi 
presiden. Lantas, di mana untuk rakyat?

Amerika Serikat sebagai negara pengekspor utama demokrasi ke berbagai negara. 
Membuktikan sendiri kebohongan mereka, presiden Abraham Lincoln (1860-1865) 
mengatakan bahwa demokrasi adalah, “from the people, by the people, and for 
the people.”.( dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Namun hanya 
sebelas tahun kemudian setelah sang presiden meninggal dunia. Presiden Amerika 
Serikat Rutherford B. Hayes, pada tahun 1876 mengatakan bahwa kondisi Amerika 
Serikat pada tahun itu adalah. ” from company, by company and for company”. 
(dari perusahan, oleh perusahaan dan untuk perusahaan). Presidennya sendiri 
mengakui kebohongan demokrasi.Kebrutalan mereka memaksa semua negera didunia 
untuk menerima paham sesat ini. Ada saja negara yang dengan senang hati dan 
bangga menerima dan memaksa rakyatnya untuk mengakui. Demokrasi hanya 
memberikan perubahan orang/ rezim. Bukan perubahan sistem. Justru demokrasi 
melanggengkan kapitalisme-sekuler dan liberalisme. Sekedar contoh, Indonesia 
dari awal kemerdekaan tetap menjalankan sekularisme. Memang, terjadi perubahan 
pendekatan mulai dari sosialisme pada orde baru, dan Noeliberalisme pada era 
orde reformasi. Sebaliknya, sistemnya tetapsekularisme. Perubahan yang terjadi 
hanyalah perubahan rezim penguasa. Dengan demikian, berharap adanya perubahan 
hakiki pada demokrasi ibarat punduk merindukan bulan, sangat utopis. Sungguh 
terlalu. Demokrasi pun menuju ketumbangan dan perlu ada sistem alternatif 
pengganti. Mempertahankan demokrasi, sama dengan mempertahankan kerusakan.

Kembali ke Islam, sistem dari Yang Maha Kuasa.

Ide kufur demokrasi, prinsip dasar yang tidak bisa dilepaskan adalah kedaulatan 
dan kekuasaan berada di tangan rakyat (as-siyadah wa as-sulthan li al-ummah). 
Kekuasaan di tangan rakyat tersebut diberikan oleh rakyat kepada wakil-wakilnya 
yang ada di parlemen sehingga mereka berdaulat guna membuat hukum-hukum sesuai 
dengan keinginan mereka. Di dalam Islam kedaulatan berda di tangan 
Asy-Syar’i, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala, artinya kedaulatan berada di 
tangan syariah (as-siyadah li asy-syari). Adapun kekuasaan berada di tangan 
rakyat, dalam demokrasi kekuasaan diberikan kepada wakil-wakil rakyat untuk 
membuat hukum (bukan menjalankan hukum dari Allah Subhanahu wa Ta’ala). 
Adapun dalam Islam, kekuasaan diberikan oleh rakyat kepada penguasa (khilafah) 
namun untuk menjalankan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni syariah 
Islam yang bersumber dari al-Qur’an, as-sunnah, ijma sahabat dan Qiyas 
syar’i.

Di dalam demokrasi, hukum yang dibuat untuk mengurusi rakyat adalah bersumber 
dari akal manusia yang lemah dan serba terbatas. Akal yang tidak bisa 
mengetahui apa kebutuhan manusia yang lain. Sebaliknya, di dalam Islam sumber 
hukum untuk mengatur persioalan setiap sendi kehidupan manusia berasal dari Zat 
yang menciptakan akal manusia itu sendiri. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, 
Zat yanh maha tahu apa saja yang dibutuhkan oleh manusia. Allah Subhanahu wa 
Ta’ala telah menurunkan Syariah Islam untuk mengatur semua persoalan tersebut 
(lihat:QS an –Nahl :89).

Saatnya menumbangkan demokrasi sistem kufur dengan sistem Islam yang berasal 
dari Dzat Yang Maha Tahu dan Maha Segalanya. Hanya dengan sistem Islam sajalah 
dapat menghantarkan kebahagian dunia dan diakhirat mewujudkan keadilan dan 
kesejehteraan, mengangkat harkat dan martabat, memanusiakan manusia. Sudah 
saatnya juga umat Islam bangkit dan bersatu menegakkan sistem Islam kaffah 
yaitu sistem Khilafah’ ala minhaj an –Nubuwwah. Semua itu hanya bisa 
dilakukan dengan menempuh thariqah dakwah Rasullullah Shallalahu alaihi wa 
sallam, bukan dengan jalan demokrasi.

Kirim email ke