Ada faktor tambahan untuk rekonsiliasi di Afrika yaitu peranan gereja, sedangkan di Indonesia kaum agama masih sangat konsertif zaman kegelapan dan ditambah lagi penghirup debu gurun pasir.
From: mailto:[email protected] Sent: Sunday, November 30, 2014 2:13 PM To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; PEMBEBASAN PAPUA ; INTI-NET ; Artculture Indonesia ; AKSARA SASTRA ; [email protected] ; [email protected] ; Rosianna Silalahi ; Christianto Wibisono ; Ichsan Loulembah ; Atmakusumah Astraatmadja ; Aristides Katoppo ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; alumnas-oot ; [email protected] Subject: [inti-net] Re: IBRAHIM ISA -- TENTANG FILM DOKUMENTER PENTING DAN HISTORIS "SENYAP" jila SAYA PERNAH BERTANYA PADA DIRI SAYA SENDIRI, SIAPAKAH YANG LEBIH MENGINGINKAN "REKONSILIASI": SANG KORBAN ATAU SANG PELAKU. SEKARANG ATAU BEBERAPA WAKTU LALU SAYA TELAH DAPAT MENJAWAB PERTANYAAN SAYA ITU. MEMANG JELAS YANG PALING INGIN "REKONSILIASI"ADALAH SANG KORBAN. Berbeda dengan rekonsiliasi yang terjadi di Afrika Selatan, pengambil inisiatif rekonsiliasi adalah Pemerintah Nelson Mandela yang ahirnya memenangkan perjuangan anti apartheid dan mendirikan negara merdeka sebagai pengganti negara apartheid yang dikalahkan. Di sini jelas, Nelson Mandela sebagai pemenang dan penguasa negara yang baru, melaksanakan rekonsiliasi bersama dengan musuh mereka yang sudah dikalahkan. Ini suatu akibat yang logis saja bahwa pihak musuh yang sudah dikalahkan harus menerima uluran tangan pihak pemenang untuk saling hidup damai sesudah mengalami masa perang yang sengit dan lama.Kedua belah pihak akan merasakan keuntungan meskipun yang satu kalah dan yang lain menang yang tentu saja dengan efek samping kerugiannya yang lain. Sekarang pertanyaannya, apakah pihak korban 65 telah memenangkan perang(melawan suhartO) dan telah mendirikan negara menurut cita-cita dan keyakinan politiknya sendiri?. Jawabannya adalah pasti dan tak terbantahkan : KORBAN 65 TIDAK PERNAH MENANG DAN MASIH KALAH HINGGA SEKARANG DAN TIDAK PERNAH PUNYA NEGARA MENURUT TYPE YANG MEREKA CITA-CITAKAN DAN YAKINI. Dipihak lain, pihak pelaku (rezim suhartO dan penerusnya) tidak pernah punya niat untuk mengadakan rekonsiliasi dengan pihak korban bahkan minta maaf saja mereka tidak sudi, bahkan dituntut dan didesak agar minta maaf, mereka tetap menolak. Jadi permohonan "rekonsiliasi" dari pihak korban yang diajukan berkali-kali, tidak lebih dari pengemisan atau mengemis "rekonsiliasi"pada pihak pelaku yang ternyata hingga detik ini selalu gagal. Apakah pengemisan ini akan dilakukan terus?.Kita tidak bisa melarang para pengemis mendapatkan rezekinya dari orang yang mereka perkirakan atau anggap murah hati. Silahkan diteruskan. Tapi para korban yang diam atau para KORBAN SENYAP, punya pikirannya masing-masing dan tidak turut mengemis. Saya belum melihat film "SENYAP" Joshua Openheimer. Tapi film "JAGAL" sudah pernah saya lihat dan saya tidak punya kesan sedikitpun bahwa film ini punya maksud agar korban 65 mengemis rekonsiliasi. Itu penafsiran saya. Karna kalau saya punya kesan film "JAGAL" baikpun film "SENYAP" mengesankan agar korban 65 mengemis rekonsiliasi, saya akan menolak ke dua film ini dan saya akan mengkritik dan menyebarkan krtitik itu semaksimal jengkauan yang mungkin saya capai. Saya tidak punya jiwa pengemis dan saya yakin tidak semua korban 65 punya jiwa pengemis, apalagi rakyat Indonesia. Rekonsiliasi harus punya martabat, kehormataan dan harga diri bagi kedua belah pihak yang setuju mengadakannya. Di luar itu hanya ada: SIAPA MENAKLUKKAN SIAPA dengan kwalitas 100 persen merdeka atau 100 persen budak. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Aristides Katoppo ; Atmakusumah Astraatmadja ; Ichsan Loulembah ; Christianto Wibisono ; Rosianna Silalahi ; [email protected] ; [email protected] Sent: Sunday, November 30, 2014 12:54 AM Subject: Fwd: IBRAHIM ISA -- TENTANG FILM DOKUMENTER PENTING DAN HISTORIS "SENYAP" ---------- Forwarded message ---------- From: isa <[email protected]> Date: 2014-11-30 0:16 GMT+07:00 Subject: IBRAHIM ISA -- TENTANG FILM DOKUMENTER PENTING DAN HISTORIS "SENYAP" To: DISKUSI KITA GOOGLE- GROUP <[email protected]> IBRAHIM ISA Sabtu Malam, 29 Nov 2014 ---------------------------------- PEMBACA YTC: Silakan baca sebuah artikel yg ditulis oleh Penulis CHALIK HAMID, Amsterdam, ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ TENTANG FILM DOKUMENTER PENTING DAN HISTORIS "SENYAP" ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ “Senyap” di Amsterdam Oleh Chalik Hamid Film “The Look of Silence”/Senyap adalah film dokumenter ke dua yang diproduksi oleh Joshua Oppenheimer setelah “The Act of Killing”/ Jagal. Ke dua film ini berbasiskan kejadian pembunuhan kejam di Sumatra Utara. “The Act of Killing”/Jagal tampil dengan tokoh (pelaku) utama Anwar Kongo bersama teman-temannya melakukan pembantaian terhadap orang-orang PKI dan para pengikut Bung Karno di kota Medan. Pembunuhan dilakukan dengan berdarah dingin, dengan mengikatkan kawat terhadap leher para korban dan menarik kawat tersebut di kedua ujung kawat hingga korban mati dengan tidak mengeluarkan darah. Dalam film ditunjukkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan di balkon sebuah rumah kantor Pemuda Pancasila kota Medan. “The Look of Silence”/Senyap menampilkan tokoh utama Adi Rukun, keluarga korban 1965 yang dituduh sebagai anggota PKI. Adi adalah adik kandung Ramli yang menjadi korban pembanataian Komite Aksi yang dikendalikan oleh Militer/ABRI. Adi mengetahui kejadian pembunuhan kejam itu dari penjelasan ibundanya yang sudah sangat tua. Adi yang menyadari bahwa pembunuhan itu merupakan pelanggaran HAM berat berusaha mendatangi dan bertemu dengan para pembunuh di masa lalu itu, yang sudah tua dan renta. Tujuannya untuk meluruskan sejarah masa lalu dan menyadarkan para pelaku agar mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada korban yang masih hidup, termasuk kepada keluarga Adi. Tentu saja tujuannya untuk rekonsoliasi agar penduduk bisa hidup rukun dan berdampingan menghadapi hidup masa depan. Adi pun berusaha mendatangi rumah-rumah para pelaku pembunuhan yang masih hidup. Dalam banyak adegan ditunjukkan bagaimana Adi berusaha mendatangi rumah para pelaku pembunuhan dengan berbagai hambatannnya. Adi berusaha meyakinkan bahwa penjagalan terhadap manusia di masa lalu itu adalah salah dan keliru. Dalam salah satu adegan, Adi berkunjung ke rumah seorang bapak yang sudah tua dan hampir pikun. Adi menanyakan pada bapak tua itu, apa yang sudah dia lakukan di masa lalu. Bapak itu dengan bangga menceritakan ulahnya di masa lalu itu. Dia menceritakan bagaimana ia membunuh seorang komunis dengan alasan tidak beragama. Dia menggorok leher orang itu dan menampung darah orang itu sebanyak dua gelas dan meminumnya. Adi bertanya mengapa meminum darah orang itu. Si Bapak menjawab dengan tenang, kalau saya tidak meminumnya, maka saya akan gila. Dalam adegan lainnya, ditunjukkan dua pelaku memperagakan bagaimana mereka membunuh dengan kejam dan memcampakkan korbannya ke dalam Sungai Ular yang terletak antara Medan dan Lubuk Pakam di Sumatra Utara. Menurut pengakuan pelaku, ribuan warga yang dituduh komunis dibantai dan ditenggelamkan ke Sungai Ular. Pada saat itu penduduk sekitar tidak mau dan tidak berani memakan ikan karena sepanjang sungai terapung mayat-mayat orang komunis. Sebuah adegan menarik ketika Adi berkunjung ke rumah seorang lelaki tua yang didampingi seorang anaknya perempuan. Adi mengajukan sebuah pertanyaan kenapa sang ayah turut melakukan pembunuhan di masa lalu. Sang ayah yang sudah pikun tidak tahu bagaimana memberikan jawaban, namun sang anak perempuan meminta maaf kepada Adi atas kesalahan/kesalah ayahnya di masa lalu. Adi Rukun pun memberikan maaf dan memang itulah tujuan melakukan kunjungan-kunjungan agar saling memaafkan untuk menghilangkan beban berat masa lalu. Namun demikian, ada sebuah keluarga besar yang ditemui Adi, malah menyatakan agar jangan mengungkit masa lalu, karena masa lalu itu sudah lewat dan tak perlu diingat kembali. Film `Senyap` selalu membawa penonton terhenyak atas debat-debat yang mencekam antara Adi dan para pelaku yang ia kunjungi. Namun oleh sang sutradara/regisor segera dibawa ke adegan humor alamiah, yang bukan chusus mewmbuka ruang untuk mengadakan humor. Misalnya Adi (sanga anak) yang sudah berusia 44 tahun menanyakan berapa umur ayahnya yang sudah tua bangka dan pikun itu. Berulangkali sang ayah menjawab hahwa umurnya baru 17 tahun, padahal umurnya sudah 103 tahun. Jawaban ini menimbulkan pecah tawa sepanggung oleh penonton. Demikian juga anak perempuan Adi yang bernama Aisyah ketika berbaring di kamar yang mengatakan bahwa ayahnya kentut sehingga membikin bauk di kamar, padahal ayahnya (Adi) sama sekali tidak mengeluarkan kentut. Nah, dengan demikian adegan-degan genting, terselingi adegan humor. Saya bersama dengan Aisah, Sulardjo dan Melia Srg menonton film ini mengikuti Fetival Film Dokumenter yang diselenggarakan di Amsterdam tanggal 20 s/d 30 November 2014. Film `Senyap`telah mendapatkan apresiasi dalam festival film di Venezia bulan Agustus yang lalu. Apa sebenarnya tujuan Joshua Oppenheimer memprduksi film `The Look of Silence`/Senyap? Dalam wawancaranya dengan Wartawan BBC Indonesia, Ging Ginanjar, Oppenheimer pada Sabtu (08/11), sebelum pemutaran perdana Senyap di Jakarta, mengatakan: ``Senyap sebenarnya mengambil sudut pandang dari keluarga korban dan menggambarkan akibat setelah setengah abad. Senyap dan ketakutan yang dirasakan satu keluarga – yang mencerminkan ketakutan jutaan orang di Indonesia yang terkena stigma sebagai keluarga korban pembantaian 1965, yang dituduh terlibat PKI. Film ini menggambarkan betapa dasyat kebutuhan rekonsiliasi di Indonesia sekarang``. Amsterdam, 29 November 2014. -- -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
