Waspada ! Ada Bahaya Perang Asimetris di depan mata
By ST Natanegara
Perubahan geopolitik di Timur Tengah jangan melenakan kita akan perubahan 
geopolitik di kawasan Asia Tenggara
“If you would understand world geopolitics today, follow the oil”, jangan 
salah, selain ikuti sumbernya ikuti juga jalur distribusinya, Barang siapa 
ingin memahami geopolitik maka ikuti fluktuasi oil dan telusuri sumber 
energi.... saya tambahkan ikuti juga jalur distribusinya, Maka dimana sumber 
energi itu melimpah, kepentingan banyak negara akan beradu kuat disana, 
termasuk pengamanan jalur distribusinya
Terkait konflik di Yaman tidak bisa dilepaskan dari kepentingan pengamanan 
sumber dan jalur distribusi energi, Banyak yang bertanya, kok negara2 di Timeng 
doyan banget berperang?  kawasan jantung dunia ini memang berhawa "panas", 
Sejak perang Teluk I, banyak analis menyatakan bahwa siapa saja yang ingin 
kuasai dunia maka hendaknya bisa kuasai Timteng
Tidak bisa dibantah bahwa Dunia sekarang bergerak tergantung asupan energi yang 
mana mayoritas disuplai oleh kawasan Timur Tengah, USA dalam hal ini telah 
menang langkah dengan berhasil membuat Timur Tengah tergantung padanya, 
termasuk penggunaan dolar dalam transaksi, Mayoritas negara-negara Timur Tengah 
berada dalam "kontrol" terbatas oleh USA, nuansa saling ketergantungan 
tercipta, Setelah sumber oil dan gas "bisa" diamankan, selanjutnya tentu saja 
menjamin keamanan jalur distribusinya, disinilah Indonesia terkait
USA tergantung Timteng, Rusia lebih bisa mandiri dan Tiongkok punya strateginya 
sendiri, ketiganya terkait dalam isu energy security, Geopolitik dunia semakin 
berkembang, tidak hanya dipengaruhi sumber energi tapi juga isu ketahanan dan 
jaminan pasokan energi, Bahkan sudah banyak makalah yang menyebutkan bahwa 
dunia sekarang sedang dalam kondisi perang memperebutkan sumber daya global, 
USA, Rusia, Tiongkok, India, Canada, Uni Eropa dan banyak negara besar lainnya 
sedang memperebutkan sumber energi
Dimana posisi Indonesia?
Kita termasuk negara penghasil energi walaupun terbatas dan negara yang 
menguasai jalur distribusi energi, Kita punya selat Malaka, Selat Sunda dan 
Selat Lombok yang sejatinya diperebutkan kontrolnya oleh banyak negara, Kita 
masih ingat bagaimana getolnya USA berusaha mengontrol keamanan di Selat 
Malaka.... hingga memamerkan kekuatan militernya di Singapura, Beberapa 
strategi telah dijalankan oleh USA untuk menegaskan keberadaannya di Asia 
khususnya Asia Tenggara dan Samudera Hindia
USA ingin secepatnya membangun sistem pertahanan rudal di Asia yang tentu saja 
ditujukan untuk mengimbangi dominasi Tiongkok dan India, USA juga telah 
menyatakan akan memperluas keikutsertaan militernya di Asia Tenggara dan 
Samudera Hindia dengan cover pengamanan laut, USA telah menyatakan akan 
meningkatkan kerjasamanya dengan Australia dan dibuktikan dengan penempatan 
pasukan di Darwin, USA juga telah memperkuat kerjasama militer dengan Singapura 
dan memang alutsistanya terlihat sering parkir di Singapura
Apakah hanya USA saja yang berkepentingan dengan Asia Tenggara khususnya 
Indonesia? tidak karena Tiongkok pun mulai masuk, Sebagai salah satu negara 
pengguna energi terbesar di dunia, sudah pasti Tiongkok mencemaskan keamanan 
jalur distribusi energi ke Tiongkok, Terkait jaminan pasokan energi, mau tidak 
mau Tiongkok harus menoleh ke Asia Tenggara khususnya Indonesia, Selat Malaka 
menjadi perhatian pemerintahan Tiongkok, mereka merasa berkepentingan untuk 
mengontrol keamanan jalur laut ini
Tiongkok dan USA menyadari pentingnya kontrol di Samudera Hindia dan Selat 
Malaka karena sangat strategis sebagai jalur distribusi, 70% perdagangan dunia 
melewati Samudera Hindia 25% perdagangan minyak dan gas melalui Selat Malaka, 
sangat strategis, Saya yakin bahwa pertemuan Presiden Jokowi dengan pemimpin 
Tiongkok kemarin pasti juga membicarakan isu yang ini
Tiongkok tidak mengutamakan pendekatan militernya, tapi sedang menerapkan 
strategi pendekatan ekonomi melalui investasi, Sudah pernah saya bahas mengenai 
strategi Tiongkok dengan konsep new silk roadnya yang mana bertemu dengan 
strategi Poros Maritim Jokowi, Mau tidak mau memang Indonesia akan berbenturan 
dengan kepentingan Tiongkok, sumber terpercaya mengatakan Indonesia jadi 
target, Indonesia menjadi salah satu terget yang hendak dikucuri miliaran dolar 
dalam bentuk investasi bercover kemitraan strategis, Bahkan Indonesia dipilih 
sebagai lokasi kantor pusat bank insfrastruktur yang mana Tiongkok sbg motornya 
dengan kucuran modal 50Miliar USD
Inilah kenapa saya sering mengingatkan Pemerintah mengenai penerapan visi dan 
misi Poros Maritim harus mempertimbangan geopolitik kawasan, Dalam 
mengaplikasikan strategi Poros Maritim, pengambil kebijakan harus memiliki 
pemahaman dan geopolitic awareness, agar tidak dilindas
Selat Lombok, Selat Malaka dan Selat Sunda adalah harta dan sekaligus modal 
yang sangat berharga dalam membangun wibawa negara, Australia, Tiongkok, New 
Zealand, Singapore, Malaysia, Korea, Jepang dan negara Timteng sangat 
tergantung pada perairan Indonesia, Dengan posisi demikian, tidak salah jika 
dikatakan hidup matinya Australia dan Singapura itu tergantung Indonesia, 
Bayangkan jika Indonesia punya pemimpin berkepala batu yang kemudian berani 
menutup Selat Malaka, Selat Lombok dan Selat Sunda?
Pemerintah mau tidak mau harus mempertimbangkan pergeseran geopolitik dari 
kawasan Timteng ke kawasan Asia Tenggara, Seyogyanya strategi Poros Maritim 
betul-betul memperhatikan isu geopolitik sebagai dasar penyusunan kebijakan 
teknis pendung Poros Maritim. Tidak boleh lagi Indonesia hanya dijadikan 
sebagai proxy economic war, diciptakan sebagai negara konsumsi bergantung 
impor, Poros Maritim harus mempertimbangkan masalah penempatan pasukan marinir 
USA di Darwin, mempertimbangkan keberadaan USA di Singapura, Mempertimbangkan 
penguatan kontrol USA di selat Malaka dan penguasaan udara oleh Singapura, 
Harus pula mempertimbangkan nilai strategis Selat Sunda, Selat Lombok dan 
selat2 lainnya apabila kita lepas kontrol di Selat Malaka
Bila Poros Maritim tidak bisa melihat perubahan geopolitik sebagai pijakan 
utamanya, maka tak ubahnya sebagai konsep setengah jadi, Tanpa mempertimbangkan 
perubahan geopolitik kawasan, Poros Maritim hanya enak didengar tapi sulit 
dipraktekkan, Mendekatkan diri ke Tiongkok menjadi hal yang dibenarkan selama 
dalam batas kerjasama strategis yang setara dan saling menguntungkan
Indonesia harus memiliki cara dan skenario yang cukup strategis sebagai panduan 
untuk membangun kerjasama strategis dengan Tiongkok, Kita harus waspada dengan 
yang ada di Selatan, juga Utara yang siap membelanjakan ribuan miliar Dolar 
untuk memperluas pengaruhnya, Jokowi dan JK harus punya pijakan yang kuat 
karena bila tidak maka Indonesia bisa masuk perangkap Tiongkok lewat skenario 
kerjasama ekonomi. Jika sebelumnya hanya Timur Tengah, sekarang siapapun yang 
menguasai Samudera Hindia, maka dapat menjadi pemimpin dalam percaturan dunia!
Dari uraian yang telah saya sampaikan, setidaknya anda bisa membayangkan apa 
sebenarnya yang akan kita hadapi di masa depan....
Perang Asimetris
Winning the hearts and minds of the people ini paling utama dalam perang 
asimetris seperti yang terjadi dewasa ini, Bagaimana cara si lemah mengalahkan 
si kuat? tentunya seluruh potensi si lemah harus digunakan untuk menekan titik 
lemah si kuat
Dalam perang asimetris, pemikiran maupun strategi yang digunakan memang tidak 
terpaku pada aturan perang yang selama ini ada, Contoh paling ekstrim adalah 
strategi digital media campaign yang dilakukan oleh ISIS maupun Al Qaedah.... 
menjadikan terlihat sangat kuat
IS maupun Al Qaedah tau betul yang namanya deterrent effect itu apa, rilis 
propaganda mereka jelas mampu menggetarkan banyak pihak, Dengan digital media 
campaign yang terorganisir rapi, baik ISIS maupun Al Qaeda mampu mengundang 
banyak simpatisannya bergabung
Perang asimetris memang selalu melibatkan si lemah melawan si kuat, si lemah 
ini bisa berupa sebuah negara, organisasi maupun kelompok, Keunggulan si lemah 
dalam perang asimetris adalah keleluasaannya untuk bergerak lebih dinamis, 
.Keleluasaan untuk bergerak adalah keunggulan ISIS dan Al Qaedah, mereka tau 
bagaimana memenangkan hati dan pikiran pendukungnya, Strategi propaganda 
melalui media dikombinasikan dengan aksi dilapangan menjadikan mereka 
melenggang leluasa memenangkan banyak palagan, Menghadapi si lemah yang tau 
bagaimana meracik strategi dalam perang asimetris sangatlah sulit, alih2 menang 
malah bisa jadi bumerang
Bagaimana dengan krisis di Yaman? konflik inipun menjurus ke perang asimetris 
antara si kuat koalisi Arab melawan pemberontah Houthi, Belum bisa diramalkan 
apa hasil dari kampanye perang yang dilakoni koalisi Arab pimpinan Arab Saudi 
ini dengan operasi "Decisive Strorm"nya, Pemberontak Houthi memiliki keunggulan 
sebagai aktor non negara dalam konflik ini, mereka bebas bergerak dan merilis 
propagandanya, Mereka berada di posisi yang lebih kuat dan unggul untuk 
pencitraan di media karena berada disisi dimana rakyat berada sebagai korban
Arab Saudi Cs. memang mengatakan target "Decisive Strorm" adalah mengembalikan 
kekuasaan Presiden Yaman dan menciptakan stabilitas keamanan,Walaupun mungkin 
target pertama tersebut bisa berhasil tapi operasi ini memunculkan kesan arogan 
dimata rakyat Yaman, Gerilyawan Houthi juga tau bagaimana berperan dalam 
konflik ini, rilis berita tentang korban sipil disebar luaskan, Dukungan dari 
negara yang sepaham pun dimanfaatkan, bahkan pendukung utamanya juga sedang 
memainkan peranan meraih dukungan internasional
Konflik Yaman ini banyak faktor yang menarik untuk dianalisis, mulai dari 
pertentangan agama sampai faktor geopolitik dan geostrategi, Setiap faktor 
tersebut memiliki andil sebagai pemicu pecahnya konflik antara koalisi Arab 
melawan Pemberontah Syiah Houthi, Analis banyak yang mengutarakan bahwa konflik 
Yaman ini hanyalah front baru tempat perebutan pengaruh seperti terjadi di Irak 
dan Suriah, Kemenangan Pemberontah Houthi bagaimanapun juga menjadi warning 
serius bagi negara2 sekitar Yaman terutama negara monarki Arab, Kemenangan 
Houthi ini menjadi warning meningkatnya pengaruh Iran dikawasan Timur Tengah 
menyusul peran aktifnya di Irak dan Suriah
Dalam perspektif koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, kemenangan militer Houthi di 
Yaman merupakan peningkatan ancaman bagi mereka, Perebutan pengaruh, konflik 
sektarian, kepentingan pengamanan jalur distribusi energi dan campur tangan 
negara besar jadi sumbu pemicu,Jika isunya adalah mencegah meluasnya pengaruh 
Iran, maka koalisi Arab seolah sedang ingin menunjukkan taringnya, Pengerahan 
kekuatan militer yang luar biasa ini dinilai cukup menggetarkan bagi Iran untuk 
ikut serta secara aktif dalam konflik, 
Tampak Houthi dan Iran sedang melakukan kampanye untuk winning the hearts and 
minds of the people, tak ingin tampak sebagai yang salah, Strategi Iran bahkan 
dikombinasikan dengan strategi untuk meraih kepercayaan internasional terkait 
isu Nuklir negaranya, Hal ini menjadi situasi yang cukup rumit bagi Arab Saudi 
dimana di internal negaranya sendiri mulai tampak seruan penghentian serangan, 
Yang pasti, jika kampanye Arab Saudi melawan Houthi di Yaman alami kegalalan, 
negara itu terancam aksi balasan serangan teror musuhnya, Sekali lagi, konflik 
di Yaman tak bisa lepas dari aspek Geopolitik dan Geostrategi negara-negara di 
kawasan Timur Tengah, Salah satu pemicunya selain ada beberapa pemicu yang lain 
semisal konflik sektarian dan perebutan pengaruh 
Masih melanjutkan tentang geopolitik.... karena ini penting.... ini ilmu kuno 
yang masih sangat relevan hingga kini....
Geopolitik itu singkatnya bisa diartikan pengetahuan tentang seluk beluk baik 
fisik maupun mental suatu wilayah beserta manusianya, .Kenapa geopolitik itu 
penting? Karena berkaitan erat dengan ketahanan nasional dan strategi 
pertahanan nasional, Bagaimana mungkin bisa menyusun pertahanan yang efektif 
jika tidak mengenal seluk beluk wilayah dan mental manusianya
Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya dalam penilaian saya, ilmu kuno ini acap 
kali diabaikan oleh elit2 negeri ini, Geopolitik Indonesia tak lagi dikelola 
dengan baik, potensi keunggulan yang dimiliki bangsa ini sudah lama tak bisa 
dimaksimalkan, Posisi strategis, sumber daya alam, keunggulan jumlah manusianya 
dan anugerah lainnya belum bisa mendorong negara dalam perannya di dunia, 
Padahal jika geopolitik suatu bangsa mampu dimanfaatkan dengan baik dipadu 
dengan geostrategi yang mumpuni, besarlah bangsa itu, Jika geopolitik mampu 
dimanfaatkan dengan baik, akan terwujud dalam geopolitik weapon yang sangat 
dahsyat efeknya bagi kemajuan bangsa
Geopolitik Indonesia adalah anugerah Tuhan, sayangnya elit bangsa sibuk 
bermanuver di permukaan dalam memperebutkan gengsi dan kedudukan, Keengganan 
mempelajari geopolitik membuat para elit terjebak dalam hiruk pikuk politik 
yang bisa jadi diciptakan oleh musuh negara, Kedangkalan pemahaman geopolitik 
akan membuat kita mudah jatuh dalam jebakan kepentingan asing yang ingin 
menghisap madu bangsa kita, Ada pepatah yang sering dilupakan "what lies 
beneath the surface",  kita silau dengan yang ada di permukaan,  sibuk berdebat 
& sikut2an, Jangan sampai kita terlambat membaca arah pergeseran konstelasi 
geopolitik dunia dari barat ke timur dari Timteng ke Asia Tenggara, Kita harus 
ingat bahwa bersinggungan dengan potensi konflik di LCS dan di Selat Malaka.... 
berbenturan dengan geopolitik negara lain, Arahnya sudah jelas, US punya 
kemitraan trans pasifik, Tiongkok punya new silk road, Konflik di LCS, 
perebutan pengaruh di Malaka, 
Sudah saya katakan bahwa konflik tidak hanya lekat di negara2 sumber energi 
tapi juga negara2 yang menguasai jalur distribusi energi, Dan fakta bahwa 
Indonesia memiliki ALKI serta berpotensi terlibat gesekan di LCS yang mana 
disinilah distribusi energi itu ada, Kita harus sadar bahwa US dan Tiongkok 
sama2 sedang mengincar penguasaan maupun pengaruh di LCS dan Selat Malaka, LCS 
sangat strategis bagi Tiongkok sedang selat Malaka adalah selat yang sangat 
sibuk dengan lalu lalang kargo dari berbagai negara
US sejatinya meyakini bahwa untuk membendung Tiongkok, US harus "kuasai" Selat 
Malaka dan LCS. Tiongkok sendiri sangat membutuhkan Selat Malaka karena 
mayoritas kargo energinya melalui Selat Malaka, Maka dari masalah inilah 
muncullah yang namanya Trans Pacifik Partnershipnya USA dan New Silk Roadnya 
TiongkokDua konsep ini sama2 membutuhkan dukungan militer yang kuat maka 
jadilah militer Tiongkok seperti sekarang, Kondisi inilah yang sedang dihadapi 
Indonesia, dilema antara kedaulatan wilayah dan kepentingan geostrategi negara2 
besar
Sebenarnya kita harus bersyukur, dalam posisi terjepit tiba2 kita punya 
pemimpin yang berani membawa konsep sendiri yakni Poros Maritim, Walaupun 
konsep ini masih belum teruji, setidaknya aspek geopolitik menjadi salah satu 
dasar munculnya konsep ini, Jika konsep Poros Maritim ini mampu diwujudkan, 
kita tidak hanya menjadi proxy atau kepanjangan tangan negara2 besar saja, Saya 
tidak hendak promosi tapi memang kita butuh konsep dan cara pandang yang kuat 
untuk menghadapi tekanan USA dan Tiongkok, Bagaimanapun juga letak geografis 
kita harus bisa jadi geopolitical leverage dalam menyusun strategi menghadapi 
benturan geopolitik kawasan
Saya bersyukur JSS dibatalkan karena ada kecurigaan motif tertentu berkenaan 
dengan strategisnya selat Sunda bagi Dunia, Saya juga bersyukur sejauh ini 
Pemerintah masih bisa memainkan strategi yang baik, tidak larut dalam permainan 
Tiongkok maupun USA, Geopolitik Indonesia haruslah dimanfaatkan dengan baik 
agar mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dimata negara lain di dunia. 
Sadarilah bahwa Indonesia berada ditengah2 benturan kepentingan geopolitik 
negara2 besar terkait isu energy security, Iran itu ngerti geopolitik makanya 
bisa dimaksimalkan jadi geopolitic weapon
Gaduh soal HAM, kebebasan berekspresi, anti korupsi, liberalisme, demokrasi, 
diskriminasi, intoleransi, politik dll, habis energi kita, Pasti ada saja yang 
berpikir jangan2 kegaduhan ini merupakan bagian dari geostrategi negara lain 
yang ingin menghisap potensi negeri ini
Pikiran demikian sah2 saja karena memang salah satu strategi dalam perang 
asimetris adalah mengobok2 internal negara yang jadi target, Sekarang sudah 
bukan jamannya lagi tiba2 melakukan serangan militer untuk menginvasi sebuah 
wilayah atau bangsa, ini jamannya soft power. Soft power atau smart power ini 
memiliki banyak bentuk atau modus, ibarat mendekati seorang wanita, pria bisa 
memiliki banyak modus,
Sudah ada contohnya yakni apa yang terjadi dengan arab spring atau yang terjadi 
di Amerika Latin, perang asimetris jelas terjadi, Arab spring susah untuk tidak 
diakui sebagai perubahan yang sangat terkait dengan jalur distribusi energi 
atau jalur sutera, Walaupun kemudian geostrategi yang dijalankan menemukan 
banyak ganjalan bahkan pembajakan. Pada intinya kita yang juga memiliki 
keterkaitan dengan jalur distribusi energi harus senantiasa waspada dan siaga 
walaupun dalam kegaduhan, Yang saya takutkan adalah sebenarnya kita ini sedang 
dalam posisi sebagai target perang asimetris negara lain., memang tanpa 
darderdor
Perang asimetris ini memang sulit disadari akibat pintarnya musuh menyusun 
strategi dan membuat banyak gaduh yang melenakan kita semua, Perang asimetris 
bisa melalui massa jalanan, rekayasa opini, gaduh politik dan berbagai isu yang 
mampu mendegradasi kedudukan pemerintahan
Sejatinya kita sudah pernah mengalami dasyatnya perang asimetris, hingga sistem 
bernegara kita banyak diintervensi asing, Kegaduhan diciptakan untuk melemahkan 
keyakinan warga negara akan ideologi berbangsa yang pada akhirnya merubah cara 
berpikir kita semua
Sistem ketahanan pangan dan energi dikacau balaukan, kita dipaksa mengalami 
ketergantungan dan jadi bangsa yang rakus membeli, Contoh nyatanya dibidang 
energi, coba anda nilai energy security kita, sangat lemah bahkan 
ketergantungan pada impor, Ke depan banyak hal yang akan kita hadapi karena 
Indonesia dinilai sangat strategis dalam peta geopolitik dan geostrategi bangsa 
lain
Dalam perang asimetris dibutuhkan komprador2 yang bisa bertindak sebagai 
proxy.... tugasnya melempar isu untuk ciptakan kegaduhan. Komprador ini bisa 
berbentuk organisasi maupun non organisasi, sendirian maupun berkelompok, 
memiliki media maupun tidak, Dengan biaya yang tak semahal perang konvensional, 
perang asimetris sekarang menjadi andalan, lebih murah tapi bisa lebih 
menghancurkan
Apa yang dituju negara yang menjalankan perang asimetris terhadap negara kita? 
Tiada lain tiada bukan hanyalah kontrol atas energi dan SDA. Ada ungkapan bila 
berhasil kontrol energi maka bisa mengendalikan negara, kontrol urusan pangan 
maka bisa kendalikan warga negaranya
Bagaimana mencegah jatuh dalam perangkap perang asimetris? Salah satunya adalah 
memperkuat pemahaman geopolitik dalam bingkai nasionalisme. Jangan sampai kita 
jatuh tersungkur seperti Syria dan Libya, hingga tak bisa keluar dari perangkap 
perang asimetris. Jangan sampai negara kita jadi korban smart power negara lain 
hingga negara kita mengalami self destruction....
Menghadapi ancaman perang asimetris maupun proxy war yang bisa berujung pada 
hybrid war, peran aktif badan intelijen sangat dibutuhkan. Badan intelijen 
negara harus menggelar operasi2 strategis dalam bingkai perundang-undangan 
untuk menangkal setiap serangan. Badan intelijen harus mampu menyajikan hasil 
analisis tentang ancaman2 baru apa saja yang akan menghadang dan menyasar 
kehidupan berbangsa. Setelah ancaman2 tersubut bisa diidentifikasi, maka 
Presiden selaku user bersama segenap alat2 negara harus menemukan "obat" yang 
tepatIntelijen ibarat guide bagi kita, ialah yang bertugas mencegah, menangkal 
dan menanggulangi setiap ancaman terutama perang asimetris. Mengingat peran 
sentral badan intelijen dalam menghadapi perang asimetris, kita seharusnya 
mulai menghilangkan intelijen phobia. Apalagi yang namanya perang asimetris 
pasti mengandalkan intelijen dalam prosesnya baik dengan subversi terbuka 
maupun tertutup
Salah satu modus yg dipakai dalam perang asimetris adalah melalui investasi 
baik di bidang ekonomi, SDA, politik, IT, sosbud maupun militer. Melalui 
kegiatan investasi ini masuklah agen2 intelijen yang kemudian menjadi maupun 
merekrut komprador2 di dalam negara sasaran
Menghadapi ini semua tidak bisa hanya dibebankan pada badan intelijen atau 
aparat pertahanan keamanan saja, seluruh warga harus berperan. Setiap warga 
sejatinya bisa ikut andil sesuai bidangnya masing2, perkuat kesadaran berbangsa 
dan pemahaman geopolitik
Jangan heran karena perang asimetris ini menyasar pada setiap aspek yang ada 
dalam kehidupan berbangsa, semua celah akan dimasuki. Pada pokoknya harus 
dipahami bahwa perang asimetris tak bisa dihadapi dengan cara2 konvensional 
atau hanya pendekatan militer saja, Semua warga negara dan alat2 negara harus 
bergandengan tangan mengerahkan segenap upaya memperkuat jati diri bangsa dan 
negara

Kirim email ke