APAKAH INDONESIA DI BAWAH JOKOWI AKAN JUGA TERJERUMUS SEPERTI YUNANI? INI BUKAN 
PERTANYAAN ISENG. HUTANG NEGARA TUMBUH SEPERTI JAMUR DI MUSIM HUJAN,PARA 
KORUPTOR INDONESIA JAUH LEBIH KAKAP DARI YUNANI,KETERGANTUNGAN EKONOMI 
INDONESIA TERHADAP MODAL ASING TIDAK LEBIH RINGAN DARI YUNANI .JOKOWI, DALAM 
LIMA TAHUN AKAN PERGI TAPI HUTANG DAN AKIBAT KRISIS YANG DIA TUMPUK  AKAN 
MELEBIHI TINGGINYA GEDUNG-GEDUNG PENCAKAR LANGIT DI JAKARTA DAN SEGALA MEGA 
PROYEK YANG DIA BIKIN DENGAN MODAL LASING.
ASAHAN

From: mailto:[email protected] 
Sent: Wednesday, July 8, 2015 8:33 AM
To: Sastra Pembebasan 
Subject: #sastra-pembebasan# 10 Fakta Perlu Anda Ketahui Tentang Krisis Utang 
Yunani

  

10 Fakta Perlu Anda Ketahui Tentang Krisis Utang Yunani
Minggu, 5 Juli 2015 | 1:00 WIB 0 Komentar | 1711 Views 

Di minggu pertama bulan Juli ini, semua mata dan perhatian warga dunia tertuju 
ke negara tertua di dunia: Yunani. Negeri para dewa-dewi yang melegenda itu 
sedang dirundung muram.
Krisis keuangan akut mendera Yunani sejak tahun 2010. Utang negara ini menumpuk 
sebesar 323 milyar euro—setara dengan 366 milyar USD. Jumlah utang tersebut 
mencakup 175 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya.
Utang itu sangat membebani rakyat Yunani. Pertama, Yunani diperhadapkan dengan 
kemampuan membayar utang. Dengan PDB yang terus menyusut, yakni 25 persen, maka 
peluang Yunani membayar utangnya makin tidak mungkin. Kedua, rakyat Yunani 
dipaksa menerima kebijakan ekonomi yang buruk. Sebagai misal, untuk mendorong 
PDB surplus, Yunani diharuskan menaikkan pajak dan memangkas belanja publik.
Situasi itu diperparah oleh intervensi Troika—sebutan untuk persekongkolan tiga 
lembaga, yakni Uni Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional 
(IMF)—telah membuat krisis utang Yunani bertambah buruk. Campur tangan Troika 
bukan hanya menambah tumpukan utang Yunani, tetapi juga pemaksaan serangkaian 
kebijakan neoliberal yang merontokkan standar hidup dan kesejahteraan rakyat 
Yunani.
Inilah yang dihadapi oleh pemerintahan baru Yunani di bawah Perdana Menteri 
Alexis Tsipras. Pemerintahan yang terpilih melalui Pemilu tanggal 25 Januari 
lalu ini mendapat mandat untuk menegosiasikan kembalikan utang tersebut beserta 
paket kebijakan yang menyertainya.
Sayang, setelah 5 bulan proses negosiasi yang alot, perjuangan Alexis dan 
Menteri Keuangannya, Yanis Varoufakis, di meja perundingan menemui jalan buntu. 
Troika dan para kreditur Eropa menolak proposal yang diajukan Yunani. 
Sebaliknya, para rentenir itu mengeluarkan ultimatum: jika tetap ingin berada 
di bawah naungan zona Eropa, Yunani harus tetap menjalankan paket kebijakan 
yang didiktekan oleh Troika.
Tetapi Yunani juga tidak menyerah. Hari Jumat (26/6) lalu, Perdana Menteri 
Alexis Tsipras menjawab ultimatum itu dengan senjata demokrasi: Referendum. 
Referendum yang akan dihelat hari Minggu (5/7) ini akan meminta sikap rakyat 
Yunani, apakah “Setuju” atau “Tidak”, terhadap paket kebijakan yang didesakkan 
oleh Troika.
Tetapi cerita tentang krisis utang Yunani, terutama yang berhembus melalui 
mulut media-media besar, juga mengalami banyak sekali distorsi. Mereka juga 
mengkambinghitamkan pemerintahan kiri Yunani sebagai pangkal masalah karena 
terlalu ngotot menolak proposal yang diajukan oleh Troika dan kreditur Eropa. 
Belum lagi, propaganda yang menebar ketakutan tentang bank-bank Yunani yang 
kehabisan uang dalam bentuk euro.
Berikut ini kami beberkan 10 fakta mengenai krisis utang di Yunani:
  1.. Dari total utang Yunani saat ini, ada utang yang diwariskan oleh 
kediktatoran militer dalam kurun waktu 1967-1974. Dalam kurun waktu 7 tahun 
tersebut, utang Yunani membengkak empat kali lipat. Sebagian besar utang itu 
adalah utang najis. (Eric Toussaint, 2015) 
  2.. Kekuasaan politik yang korup turut berkontribusi dalam penumpukan utang 
Yunani. Pada tahun 2009, lebih dari 1,9 milyar USD dibelanjakan untuk suap. 
Selain itu, banyak kontrak yang dibuat oleh pemerintah Yunani dengan korporasi 
swasta berujung pada skandal. Sebut saja: skandal kapal selam dari Jerman yang 
merugikan Yunani sebesar 5 milyar euro dan kontrak dengan perusahaan Siemen 
asal Jerman yang merugikan Yunani sebesar 1 milyar euro. 
  3.. Penyelenggaraan Olympiade Athena 2004 juga menyisakan skandal besar dan 
berkontribusi pada penumpukan utang Yunani. Menurut Dave Zirin, seorang penulis 
soal olahraga, pada tahun 1997 pemerintah Yunani mengklaim akan menggelontorkan 
anggaran sebesar 1,3 milyar USD untuk membiayai pekan olahraga dunia tersebut. 
Beberapa tahun kemudian, biaya yang digelontorkan naik empat kali lipat menjadi 
5,3 milyar USD. Setelah Olympiade usai, biaya resmi yang terpakai ternyata 
mencapai 14,2 milyar USD. Malahan sumber lain menyebut bahwa perhebatan 
olahraga terakbar di dunia tersebut menghabiskan 20 milyar USD. 
  4.. Pada tahun 2009, sebelum krisis keuangan global menghantam Yunani, rasio 
utang terhadap PDB 130 persen. Kemudian, dengan dalih menurunkan rasio utang 
tersebut, Troika mulai campur tangan dalam ekonomi Yunani dengan paket 
penghematannya. Yang terjadi, bukannya menurun seperti yang dijanjikan, rasio 
utang Yunani terhadap PDB justru meningkat sangat tajam menjadi 175 persen. 
  5.. Fakta membuktikan bahwa pembengkakan utang publik Yunani sebelum turunnya 
pinjaman dari Troika (tahun 2010 dan 2012) tidak disebabkan oleh belanja 
publik. Ini membantah cerita bohong yang selama ini beredar, bahwa utang Yunani 
disumbang oleh belanja publik. Sebuah studi menunjukkan, antara tahun 1995 
hingga 2008 total belanja publik Yunani lebih rendah dari rata-rata zona Eropa, 
yakni hanya 48 persen, sedangkan rata-rata zona Eropa mencapai 48,4 persen. 
Sebaliknya, studi itu menunjukkan bahwa penyumbang peningkatan postur utang 
Yunani adalah tingkat bunga yang sangat tinggi (Truth Committee on Public Debt, 
2015). 
  6.. Sebagian besar pinjaman yang diterima oleh Yunani dari Troika (tahun 2010 
dan 2012) digunakan untuk oleh rezim neoliberal sebelumnya untuk melindungi 
bank-bank swasta, terutama bank-bank swasta Eropa. Terutama lagi Bank asal 
Perancis dan Jerman. Catatan lain menyebutkan, dari 284 milyar USD dana 
talangan yang diterima oleh Yunani sejak tahun 2010, hampir 92 persen dipakai 
untuk kepentingan institusi keuangan Yunani dan Eropa, sedangkan yang sampai ke 
tangan rakyat Yunani hanya 8 persen. Dalam sebuah film dokumenter ARTE 
baru-baru ini, Paulo Nogueira Batista, salah seorang direktur eksekutif IMF, 
mengakui bahwa semua anggota Dewan IMF mengetahui bahwa sebagian besar pinjaman 
yang digelontorkan hanya untuk melindungi bank-bank asal Perancis dan Jerman, 
bukan rakyat Yunani (Truth Committee on Public Debt, 2015). 
  7.. Antara tahun 2005-2009, Bank-bank swasta Eropa berlomba-lomba memberikan 
pinjaman kepada pemerintah Yunani. Tercatat, pinjaman itu membengkak dari 80 
milyar euro menjadi 140 milyar euro. Penggelontoran pinjaman itu dilakukan 
tanpa memperhitungkan kemampuan Yunani membayar kembali pinjaman tersebut 
(Truth Committee on Public Debt, 2015). 
  8.. Pemberian dana talangan oleh Troika disertai ketentuan yang wajib 
dilakukan oleh negara penerima. Di Yunani, ketentuan ini disebut “Memoranda”, 
yang meliputi privatisasi perusahaan negara dan layanan publik, pemangkasan 
belanja publik, pengurangan tenaga kerja di sektor publik, kenaikan pajak, 
pemotongan dana pensiun, penurunan upah minimum, pasar tenaga kerja yang 
fleksibel, dan lain sebagainya. Ironisnya, Memoranda ini diterapkan tanpa 
mendapat persetujuan dari parlemen dan bertentangan dengan konstitusi Yunani. 
  9.. Penerapan Memoranda itu membawa bencana kemanusiaan bagi rakyat Yunani: 
Sekitar 2,5 juta dari 11 juta rakyat Yunani hidup di bawah garis kemiskinan, 
tingkat pengangguran mencapai 30 persen, sebanyak 18% dari penduduk kesulitan 
mengakses kebutuhan pangan mereka, angka bunuh diri akibat tekanan ekonomi 
meningkat 35 persen, pengangguran di kalangan kaum muda mencapai 60 persen, 300 
ribu rumah tangga hidup tanpa listrik karena tidak sanggup membeli, 3 juta 
rakyat Yunani hidup tanpa asuransi kesehatan, dan lain sebagainya. 
  10.. Sejak April lalu, Parlemen Yunani telah membentuk Komisi Kebenaran untuk 
Utang Publik (The Truth Committee on Public Debt) untuk menginvestigasi 
keseluruhan utang publik Yunani, termasuk mencaritahu potensi adanya utang 
tidak sah (illegitimate debt), utang ilegal (illegal debt), utang najis (oudius 
debt), dan utang tidak berkelanjutan (unsustainable debt).
Raymond Samuel

Sumber Artikel: 
http://www.berdikarionline.com/dunia-bergerak/20150705/10-fakta-perlu-anda-ketahui-tentang-krisis-utang-yunani.html
 
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Kirim email ke