memahamkan ilmu Islam itu bisa sulit, bisa gampang.
kesulitan penyampaian itu disebab 2 (dua) saja yaitu
dari sisi pemilik ilmu & yg hendak diajari,
1. yg berilmu pensifat pelit.
ekspresi pelit ini dlm Islam dibahasakan sbg org yg
nggak ikhlas. bentuk nggak ikhlas bisa macem-macem, dr
cara penyampaian yg setengah-hati, tidak
terang-terangan, agak ketus krn takut ilmunya
tersaingi oleh yg diajari atw hingga tak mau kasih
sama sekali.
dlm Qur'an org spt ini disindir oleh ayat
a'udzubillahimin asyaithaani rajiim
Katakanlah:"Kalau seandainya kamu menguasai
perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya
perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut
membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat
kikir. (al-Israa':100)*
bg org berilmu (ulama) yg tak mau bagikan sama sekali
ilmu yg dimiliki, yakinlah mereka ini khianat amanah.
org spt ini tak perlu disumpahi, dikutuk atw dido'ain
jelek. itu sdh urusan Allah SWT bgmana Dia mengganjar.
yg jelas mereka itu dhalim, munafik & masuk golongan
musyrik. apa dalilnya?
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada
langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan
untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik
laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin
laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
taubat orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(al-Ahzaab:72-73)*
2. yg hendak diajari ilmu.
syarat dasar sampainya ilmu pd pd sisi ini adalh
sebaiknya setiap insan itu tak boleh punya rasa tinggi
hati hanya kareana perbedaan status/martabat, hubungan
murid-guru, kyai-santri, tua-muda, kenal-tak kenal,
senior-junior, boss-kroco ... dlsbgnya. tapi
berpikiranlah mungkin ssorg tlh lbh tahu shg ada
khasanah ilmu yg unik & baru yg mungkin diri blm tahu.
posisikan diri bahwa semua berhasrat akn tambahan ilmu
& sampaikan yg diketahui. semua sama mengharap ridha
Allah SWT.
kalau saja yg mau menerima/menyampaikan ilmu mesti
lihat-lihat predikat, jabatan, usia, pantas
tak-pantas, yakinlah nggak ada sedikitpun bermanfaat
ilmu bg satupun manusia.
---
memahami ilmu itu seni antara kapasitas intelektual &
kejujuran dirinya.
bocah kecil, bersih & polos dari hal apa-apa, adlh
tggng jawab org tuanya mengukir dasar-dasar ilmu utk
dibekalkan pdnya. setiap bocah punya modal kejujuran
sbg fitrah manusiawi.
kejujuran adlh maunya menerima apa yg disampaikan
kedua org tuanya (pengetahuan). bocah yg berbuat
salah, tak dpt mengelak kekeliruan yg dibuatnya ketika
diketahui oleh org tuanya (org yg lbh tua). hanya
mereka blm pintar apakah perbuatannya itu jebakan atw
benar2 tak tahu sblmnya.
peran org tua pd anak lbh sekedar mengenalkan
nama-nama tiap sesuatu layaknya dulu Adam as
dikaruniai mengenal nama sesuatu yg meliput kata
sifat, benda, istilah dan segala sesutu yg nempel pd
hal yg disebut makhluk, BUKAN deskripsi al-Khaaliq spt
bgmana Allah SWT itu sebab itu hanya bisa dipahami
lewat 99 asma 'al-husna.
begitu cara meliaht kejujuran seorg anak, maka pd org
yg sdh dianggap baligh kejujuran itu diukur dari
komitmen & istiqamah dirinya pd hukum Allah SWT stlh
sampai pdnya ilmu. kalaulah bocah belajar dr yg
dewasa, yg dewasa berguru pd agama.
---
dua hal di atas itu lbh cenderung pd sisi kejujuran
antara pemilik ilmu & penerima ilmu. sedikit ingin
mengkorelasikan kejujuran dengan intelektual. namun
maaf kalau ada yg alergi pd kenabian Muhammad SAW.
A. dlm suatu ceramah, disampaikan pesan nabi SAW ttg
adab makan. disebutkan nabi SAW katakan '.. syaithan
makan dgn tangan kirinya'. (Subhanallah, org setingkat
nabi begitu peduli ttg etika spt itu semata-mata agar
ummatnya mengerti).
keraskah pernyataan itu? benarkah syaithan berbuat
demikian? percayakah dgn pernyataan nabi SAW itu?
bg yg gak percaya ya tak apa, tapi mematuhi dgn ikhlas
shg makan-minum dgn tangan kanan, itu sdh pembenarkan
nyata nasihat nabi SAW. sedang menolak hati/tidak akn
nasihat nabi SAW hanya kejujuran dirinya sendiri yg
tahu. yg pasti nabi SAW tak pernah bohong!
B. pd ceramah yg sama, tersebut lagi pesan nabi SAW yg
masih ttg adab etika, 'makan sambil berdiri itu spt
binatang'.
kalau syaithan makan dgn tangan kiri tertolak dgn
alasan tak dpt dibuktikan scr sains modern oleh
segolongan manusia yg cenderung mengagungkan akal
misalnya, menolakkah apa kata nabi SAW ttg 'penyamaan'
dgn hewan siapa manusia yg makan dgn berdiri?
pertanyaan yg sama, keraskah penganalogian manusia yg
makan sambil berdiri dgn hewan?
siapapun manusia yg waras, tidak gila, baik dibuktikan
dgn bantuan psikiater kesehatan jiwanya, medis atw dgn
rekayasa mesin kejujuran, seharusnya menerima itu dgn
ikhlas. lalu apakah ssorg akan terus makan dgn berdiri
relakan saja dirinya spt binatang, itu urusan lain.
mau jujur/tidak, org berintelektual tinggi pasti
membenarkan kalimat nabi SAW itu. begitupun org yg
kafir sangat kafirnya atw muslim pasti menerima. entah
lagi kalau ada menampik nasihat nabi sbg ini ajaran yg
keras utk cara beretika dlm makan! sentimen/alergi
brgkali?
---
sering manusia itu menanggapi ssorg lain sbg pensikap
keras ketika nasehat yg dikeluarkan tak disukainya
walau pun itu haq. namun sangat suka menerima ajakan
ssorg yg lain yg disampainkan dgn sangat lembut walau
itu bathil.
kalau diri tahu ada manusia spt itu maka benar apa yg
terungkap dlm Qur'an,
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka,
kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan,
mereka tidak juga akan beriman. Allah telah
mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan
penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang
amat berat. (al-Baqarah:6-7)*
lalu maklumlah sbgmana memaklumi bahwa org-org sblm
para nabi pun banyak sekali demikian.
kita hanyalah penyampai ...
salam,
Fahru
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page
http://www.yahoo.com/r/hs
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam