JAJANAN GAUL ANAK MUDA MASA KINI = JUNK FOOD ?
Anak muda perkotaan sudah tidak asing dengan jajanan seperti
fried chicken, french fries, hamburger, pizza dan sejenisnya. Termasuk juga
donat impor yang berukuran besar dengan macam-macam citarasa, cemilan
ekstruksi (semacam chiki), minuman bersoda, minuman kola, es krim,
milkshake, minuman kopi dengan "float" krim, coklat dan sebagainya.
Makanan-minuman keren tersebut memang sangat mudah ditemui di mall-mall,
plaza dan pertokoan besar di pusat dan pinggiran kota. Dan agaknya telah
membudaya dan menjadi santapan elit, terutama bagi kaum muda perkotaan.
Budaya konsumtif perkotaan diakui atau tidak telah melanda
juga anak-anak muda, termasuk bagaimana mereka memilih jajanannya. Siapa sih
yang nggak merasa wah dan "gaul" jika lunch atau dinner di McDonalds atau
KFC atau Pizza Hut atau Dunkin' Donuts ? Wow nggak ada yang nolak. Selain
rasanya yang nikmat, suasana restonya juga menyenangkan dan bergengsi.
Tapi tahukah kita bahwa jenis-jenis jajanan yang ditawarkan
resto-resto di atas termasuk atau sangat berpotensi sebagai junk-food? Alias
makanan sampah? Mengapa makanan sampah? Produk pangan disebut junk-food jika
kandungan nutrisinya sangat rendah atau kalorinya terlalu tinggi dan hanya
mengandalkan rasanya yang enak Umumnya yang termasuk dalam golongan
junk-food adalah makanan berkadar garam tinggi, bergula tinggi, berlemak
tinggi, namun kandungan nutrisi lainnya tipis, seperti protein, vitamin dan
mineral. Salah satu ciri junk food antara lain mengandung banyak sodium
(garam-garaman), lemak jenuh dan kolesterol. Junk food mengutamakan
citarasa, penampilan luar yang wah dan secara ekonomi menguntungkan karena
populer, sedangkan nilai gizinya prioritas ke sekian.
Akibat mengutamakan citarasa tersebut junk-food mengandung
banyak lemak, garam dan gula, termasuk bahan tambahan pangan atau aditif
sintetik untuk menimbulkan citarasa (seperti MSG). Maka junk-food berpotensi
menimbulkan banyak penyakit, dari yang ringan sampai berat, seperti
obesitas, rematik akibat penimbunan asam urat, tekanan darah tinggi,
serangan jantung koroner, stroke dan kanker.
Saat ini penyakit-penyakit degeneratif tersebut tidak hanya
monopoli diderita orang tua yang berumur, tetapi juga anak muda. Berdasarkan
data survai WHO umur rata-rata orang yang terjangkit jantung koroner di
dunia telah menurun dari 46 tahun ke 35 tahun. Suatu hal yang sangat
memprihatinkan.
From Junk Food to Smart Food
Bagaimana mengatasi akibat dari junk-food tanpa kita harus
meninggalkan sama sekali makanan-makanan trendy tersebut ? Ada banyak macam
cara, antara lain :
Jika makan fried chicken (tidak digunakan istilah ayam
goreng karena konotasi yang ditangkap akan sangat berbeda, fried chicken
alias ayam goreng impor menggunakan teknik penggorengan deep frying dimana
kandungan lemak bahan yang digoreng jauh lebih besar dibandingkan dengan
bahan yang digoreng dengan teknik penggorengan biasa) sebaiknya buang bagian
kulitnya. Kulit ayam, apalagi ayam ras, adalah sumber lemak jenuh dan
kolesterol.
Jangan ganti nasi dengan french fries. Kandungan lemak dan
sodium french fries sangat tinggi, mengkonsumsi nasi lebih baik.
Kalau beli burger, cari pilihan jenis burger yang lebih
banyak mengandung bahan nabati dibandingkan hewani. Jika memungkinkan
perbanyak isi sayurnya, seperti selada, tomat, mentimun dan sebagainya.
Sekarang mulai ngetrend coffee float, cola float dan
sebagainya. Ingat float banyak mengandung lemak dan gula. Sebaiknya beli
minuman tanpa embel-embel float.
Es krim kadang-kadang dipakai sebagai hidangan penutup,
selayaknya dihindari karena kandungan gula dan lemaknya cukup tinggi.
Sebaiknya ganti dengan yoghurt, puding atau jus buah. Jika tidak tersedia,
minum teh jauh lebih baik.
Imbangi dengan Smart Food
Tingkat kesehatan kita akan lebih baik jika kita
mengkonsumsi apa yang disebut dengan smart food. Smart food dapat dikatakan
sebagai kebalikan dari junk-food. Menurut pustaka, smart food adalah
pangan pemberi energi (energy food), pangan penyeimbang (balancing food),
pangan penyembuh atau peredam rasa sakit (soothing food) dan pangan
pembangun atau pembaharu (regenerating food). Dalam kata lain, smart food
adalah bahan pangan yang selain mengandung nutrisi (protein, lemak,
karbohidrat, vitamin, mineral) dan aman dimakan (tidak mengandung residu
pestisida, residu hormon, bahan tambahan sintetis misalnya pengawet, pewarna
dan penambah cita rasa), juga yang :
memiliki nilai tambah (mengandung anti oksidan)
memuat sebanyak mungkin bahan lokal (harga murah)
memenuhi standar mutu (kualitas kebersihan dan kaitannya
dengan analisis kimia dan mikrobiologi)
berpenampilan menarik (segar, dikemas menarik)
sarat teknologi (memiliki sentuhan teknologi)
Menurut Kantasubrata (2004) bahan pangan yang tergolong
"smart" antara lain adalah :
roti berserat tinggi, berkadar lemak rendah
beras, sayuran, teh, ayam (khususnya ayam kampung), madu
organik
makanan fermentasi tradisional (tempe, oncom), makanan
olahan (tahu, baso) yang tidak menggunakan aditif (pemanis, pengawet,
pewarna sintetis atau borax)
Juice buah-buahan tanpa tambahan gula atau pengawet
Selai yang tidak menggunakan bahan pengawet
Cuka yang berasal dari juice buah (bukan asam asetat glacial
yang diencerkan)
Minuman yang berkhasiat (teh hijau, lidah buaya)
Minyak canola, wijen dan olive (zaitun) dan minyak ikan.
Penutup
Saat ini mengkonsumsi makanan memang tidak hanya berfungsi
untuk memuaskan lapar atau keinginan makan tetapi sudah merupakan kebutuhan
pergaulan atau kontak sosial, yang tentu saja tidak dapat dipisahkan dari
trend sosial serta pengaruh-pengaruh eksternal lainnya, termasuk pengaruh
pemasaran global. Yang penting bagi kita adalah bagaimana mengelola konsumsi
makan kita agar makanan yang masuk ke tubuh benar-benar bermanfaat, bukan
justru sampah yang tidak berguna, apalagi yang justru membahayakan
kesehatan. Disarankan juga konsumsilah makanan yang bervariasi. Mengkonsumsi
makanan tertentu secara berlebihan dan terus menerus juga dapat memicu
penyakit degeneratif.
Richardus Widodo
Dosen Teknologi Pangan & Gizi
Universitas 17 Agustus 1945 SURABAYA
Tabel 1. Junk-food vs Smart-food
Junk-food atau
yang berpotensi junk-food Smart-food
Jenis Mengapa Jenis Mengapa
Minuman kola Kadar gula tinggi, sedikit nutrien, mengandung kafein,
senyawa adiktif Makanan berserat Mengenyangkan, mencegah
penyakit-penyakit sistem pencernaan
Makanan ekstruksi Mengandung banyak garam dan MSG, sedikit nilai gizi
Susu (low-fat) Memperkuat tulang dan gigi
French fries Kentang digoreng "deep frying", mengandung banyak lemak dan
garam Keju Mencegah osteoporosis dan gigi berlubang
Fried chicken Diproses "deep frying" kan-dungan lemak, garam tinggi Cabe
Melawan bronkitis, demam dan sinusitis
Minuman buah instan dlm. Kemasan Gula tinggi, mengandung bahan-bahan
sintetik flavor & pewarna, sedikit kandungan jus buah asli Yogurt
Mengandung mikroba yang baik, membantu member-sihkan usus dari penyakit
Mie instan Banyak mengandung MSG dan garam, nutrisi lain tipis. Awas
ada mie yang mengan-dung wax/lilin dan formalin. Tempe, oncom
Mengandung lisin dan asam amino esensial lain, mengandung isoflavon sebagai
phyto-hormon
Es krim Bergizi tinggi tapi kadar gula dan lemaknya juga tinggi,
Pisang Mengandung potasium, meningkatkan kekebalan
hanya cocok untuk anak dlm. masa pertumbuhan Mentimun
Dapat menghancurkan deposit kolesterol
Air murni Cairan terbaik bagi manusia, dapat "mencuci"
peredaran darah, jaringan dan sel
Sumber : Pearson Education (2004) (diolah)
Tabel 2. Kandungan nutrisi beberapa jenis makanan "fast food"
Kalori Fat Koles-
Terol Sodium Karbo-hidrat Protein Serat Gula
Cheese burger 270-310 9-13 35-45 600-770 33 15-18 2 7
Kentang goreng 240-247 10-13 0 100-114 33-40 2-4 0 0
Pizza (1 ptg) 180-250 4,5-6 0-5 140-200 28-29 3-4 1
18-20
Mie instan 80-113 1,2-2 20-45,5 304-850 10,7-20,4 6 1
0
Es krim 120-160 6-9 20-35 40-65 14-21 2-3 0 13-19
Coklat chips 100-340 1,7-6 3-10 50-240 16-48 2-4 1-3 5-29
Sumber : Tim Muda Kompas (Agustus 2004
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam