Sikap arif dan lembut adalah perilaku Rasulullah sholallaahu 'alaihi wa sallam.
Kearifan dan kelembutan (al liin, layyin) dan keramahan (rifq=lunak) adalah
pantulan keyakinan dan kesabaran atas taqdir Allah Azza wa Jalla.

= Wizh =

"Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut mencintai kelembutan, dan sesungguhnya Allah
akan memberikan dengan kelembutan apa yang tidak diberikan dengan kekerasan."
(HR. Muslim no. 2593 dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah dari Hadits Aisyah)





Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   [email protected]
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)

Subject:  [is-lam] Resonansi Buya Syafii: Cak Nur



"Pesan saya sebagai orang tua yang sudah berusia di atas 70 tahun adalah
agar orang beragama secara beradab, santun, dan arif dalam menyikapi
keadaan. Islam yang saya pahami adalah Islam yang sebangun dengan
nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, beradab, dan mulia." (Buya Syafii)

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=211544&kat_id=19

Selasa, 30 Agustus 2005

Cak Nur

Cak Nur (Prof Dr Nurcholish Madjid) adalah cendekiawan dan penulis
Indonesia yang sangat produktif sebelum mengalami pencangkokan hati di
Cina, kemudian dirawat di Singapura dan di Jakarta selama beberapa
bulan. Kondisi kesehatannya memburuk dan ia akhirnya wafat kemarin.

Sewaktu dirawat di Singapura dan di RS Pondok Indah, sudah banyak sekali
orang penting dan para sahabat menjenguknya demi menunjukkan simpati dan
empati yang amat dalam terhadap Cak Nur. Sewaktu saya dan istri
mengunjunginya di RS NUH (National University Hospital), Singapura,
beberapa bulan yang lalu, Cak Nur baru saja keluar dari ICU dalam
keadaan lemah sekali, tetapi dapat berkomunikasi melalui tulisan
Arab-Melayu yang tidak mudah saya baca. Kami hanya trenyuh dan tertunduk
hormat sambil berdoa untuk kesembuhannya.

Sebagai sahabat yang pernah bergaul selama lebih empat tahun di Chicago
dan mengaji Alquran pada Fazlur Rahman di kediamannya, sekitar 45 mil
dari kota itu, saya sampai batas-batas yang agak jauh telah mengenal Cak
Nur dari jarak yang dekat. Ketika berbicara, pembawaannya lembut, sopan,
serta mengeluarkan pendapat melalui argumen yang kuat dan teratur.

Perkara orang belum tentu setuju dengan hujah-hujahnya, adalah lumrah
belaka. Bukankah tafsiran menusia terhadap wahyu yang mengandung
kebenaran mutlak tidak pernah benar mutlak semutlak wahyu itu sendiri?
Oleh sebab itu, jika ada orang yang memonopoli kebenaran dengan jalan
memasung hak orang lain untuk berpendapat berbeda, sebenarnya (secara
tidak sengaja atau gegabah?) telah mengambil alih otoritas Tuhan sebagai
Sumber Kebenaran Mutlak. Cara berpikir semacam ini sangat berbahaya dan
dapat meluluhlantakkan persaudaraan antarmanusia.

Dengan sedikit wacana ini, saya akan langsung memasuki topik utama
Resonansi ini yang sumbernya dari saksi mata langsung dan otentik.
Demikianlah pada 26 Juli 2005, antara pukul 16.30 dan 17.30, beberapa
orang mendatangi Cak Nur di rumahnya, sementara Cak Nur sendiri belum
pulih kesehatannya, masih lemah. Menyaksikan kondisi fisiknya,
semestinya meluluhkan perasaan mereka yang berhati nurani.

Rombongan ini mengaku membawa pesan Abu Bakar Ba'asyir untuk Cak Nur.
Sumber pertama merekamkan: ''Apakah pikiran Cak Nur masih?'' Cak Nur
menjawab, ''Saya masih tidak bingung.'' Setelah basa-basi, salah seorang
bilang menyampaikan salam Ustadz Ba'asyir, dan bahwa beliau bertanya,
dalam buku Fiqh Lintas Agama ada nama Cak Nur dan berpendapat semua
agama sama. Cak Nur menjawab, ''Saya tidak berpendapat semua agama sama.''

''Ada tertulis kawin antaragama boleh. Ustadz Ba'asyir minta Cak Nur
menarik pendapat itu.'' Seorang lagi mengulangi pesan Ba'asyir, ''Itu
pendapat salah, minta Cak Nur mencabut pendapat agama sama dan boleh
kawin antaragama. Bagaimana pendapat Cak Nur?'' Cak Nur menjawab, ''Saya
tidak dalam kondisi untuk menjawab.'' (Ini informasi via SMS yang saya
terima pukul 22.35, pada 14 Agustus 2005).

Hampir serupa dengan yang pertama, sumber kedua antara lain merekamkan:
''Yang mereka sampaikan adalah (katanya) amanat dari Ustadz Abu Bakar
Ba'asyir dan M Thalib (dengan asumsi Cak Nur sudah sehat) tentang tiga
hal yang ada dalam buku Fiqh Lintas Agama.'' (SMS pukul 06.44, pada 15
Agustus 2005).

Saya tidak berminat mempersoalkan isi dialog itu. Sekiranya Cak Nur
sehat, dia akan bisa menjawab berjam-jam semua pertanyaan yang diajukan
itu. Yang menjadi keprihatinan saya adalah adab orang menjenguk si
sakit. Apakah dalam batas kesopanan Cak Nur diguyur dengan
pertanyaan-pertanyaan serupa itu dalam kondisi fisik yang mengundang
rasa iba itu?

Rombongan itu 'kan menyaksikan sendiri keadaan Cak Nur dari jarak yang
sangat dekat. Mengapa sampai hati ''meneror''-nya dengan berlindung di
balik amanah Ba'asyir? Saya sungguh gagal memahami cara orang membawakan
pesan agama demikian kasar. Sepengetahuan saya, Ba'asyir bukanlah tipe
manusia garang yang suka memaksa-maksa orang lain. Sewaktu saya dan
istri menjenguknya di RS PKU Solo pada waktu yang lalu, dia memeluk saya
dan mohon doa. Tetapi, mengapa mereka yang menyebut diri pengikutnya
seperti tak terkendali, khususnya sewaktu mengunjungi Cak Nur?

Pesan saya sebagai orang tua yang sudah berusia di atas 70 tahun adalah
agar orang beragama secara beradab, santun, dan arif dalam menyikapi
keadaan. Islam yang saya pahami adalah Islam yang sebangun dengan
nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, beradab, dan mulia.

Cak Nur telah wafat. Saya dan keluarga menyampaikan belasungkawa yang
sangat dalam dan dalam sekali. Semoga khusnul khatimah.
(Ahmad Syafii Maarif )


_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam






_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke