Send is-lam mailing list submissions to
[email protected]
To subscribe or unsubscribe via the World Wide Web, visit
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
or, via email, send a message with subject or body 'help' to
[EMAIL PROTECTED]
You can reach the person managing the list at
[EMAIL PROTECTED]
When replying, please edit your Subject line so it is more specific
than "Re: Contents of is-lam digest..."
Today's Topics:
1. Re: Mengingat Cak Nur (Iswan Abdullah)
2. Ekonomi Islam vs Ekonomi Neo-Liberal (A Nizami)
3. Pelajaran Dari Cuba & Venezuela (Raden Budiman)
----------------------------------------------------------------------
Message: 1
Date: Wed, 7 Sep 2005 08:48:42 +0700
From: "Iswan Abdullah" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [is-lam] Mengingat Cak Nur
To: "Milis is-lam" <[email protected]>
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1"
----- Original Message -----
From: "Djoko Luknanto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Yellow Submarine" <[EMAIL PROTECTED]>; "Octopus Garden"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Chicken Shack" <[email protected]>
Sent: Tuesday, August 30, 2005 1:20 PM
Subject: [is-lam] Mengingat Cak Nur
Howdy,
Beberapa catatan tentang Cak Nur. Enjoy!
Dari:
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=5505
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=5506
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=187011
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=187010
Howgh!
-- Djoko Luknanto, Jack la Motta, Luke Skywalker
"Nobody knows you when you're down and out" - Derek and the Dominos --
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=5505
Selasa, 30 Agt 2005,
Wasiat Terakhir Cak Nur
Oleh Utomo Dananjaya *
Enam hari sebelum berangkat berobat ke China, Cak Nur menulis surat
kepada
teman-teman pendukung Yayasan Wakaf Paramadina. Surat itu berupa usul
pengadaan usaha penyegaran yayasan dan peremajaan para pendukung
keorganisasiannya.
Untuk sebagian orang, surat itu dianggap sebagai wasiat terakhir yang
menggetarkan hati, yang menerima surat tersebut dan melihat kondisi
kesehatan Cak Nur di China dan kemudian di Singapura.
Apa yang dimaksud Cak Nur dengan penyegaran rupanya dapat dibaca pada
lampiran surat tersebut berjudul: Wawasan Paramadina dan Saran-Saran
Penyegaran Keorganisasian Lebih Lanjut.
Tentang wawasan Yayasan Wakaf Paramadina, Cak Nur menjelaskan bahwa
yayasan
merupakan lembaga yang dimaksudkan untuk mengemban dan mendorong
kebebasan
wacana, baik terbuka maupun tertutup, tanpa menjadi partisan eksklusif
untuk
suatu pendapat dari wacana bebas tersebut. Alasan Cak Nur bahwa kebebasan
adalah hak dan anugerah primordial atau primeval dari Sang Maha Pencipta,
sebagaimana dilambangkan dalam cerita kosmis ketika Tuhan mempersilakan
Adam
dan Hawa masuk ke dalam surga (QS, 2: 35).
Dalam pidato peresmian Kampus Universitas Paramadina dan setiap membuka
pra-training mahasiswa baru, Cak Nur selalu menjelaskan bahwa Universitas
Paramadina menyelenggarakan pendidikan dengan semboyan berdasar pada
kitab
dan hikmah seperti tercantum dalam QS 4: 113. Dalam proses pembelajaran,
dosen dan mahasiswa memerlukan semangat kebebasan untuk punya keberanian
menerobos batas.
Cak Nur sering mengungkapkan, hikmah atau ilmu adalah temuan para cerdik
pandai dan menjadi kekayaan peradaban kemanusiaan. Sebuah temuan adalah
terobosan dari temuan sebelumnya. Demikianlah terobosan demi terobosan
diciptakan menjadi etos cendekiawan. Terobosan hanya mungkin terjadi oleh
keberanian menembus batas.
Universitas Paramadina yang baru lahir delapan tahun lalu diharapkan
membangun budaya penemuan ilmiah. Universitas memuliakan penelitian dan
discovery. Mahasiswa dan dosen bukan hanya belajar, tetapi juga melakukan
penelitian, dan diharapkan mencapai prestasi ilmiah tertinggi.
Inilah yang dirumuskan sebagai universitas yang menawarkan pilihan atau
alternatif. Yang dimaksud adalah budaya universitas berbeda dari budaya
konvensional universitas di Indonesia. Hal ini dititipkan sebagai
tantangan
kepada sivitas akademika Universtas Paramadina. Kepada pimpinan dan dosen
pesan ini diarahkan. Bahkan, kepada mahasiswa yang menjadi salah satu
faktor
untuk membangun budaya baru akademis.
Dengan kebebasan positif itu, kata Cak Nur, manusia akan berkesempatan
berkenalan dengan berbagai pendapat. Manusia dipujikan Allah untuk
mendengarkan dan memperhatikan berbagai pendapat itu, kemudian memilih
mana
yang terbaik. "Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang
mendengarkan pendapat, kemudian mengikuti yang terbaik di antaranya.
Mereka
itulah orang-orang yang diberi petunjuk Allah, dan mereka itulah
orang-orang
yang berpengertian mendalam." (QS 39: 18).
Firman inilah yang menjadi dasar pandangan pluralisme yang dalam
pengertian
Cak Nur adalah mengakui perbedaan dan kesediaan bergaul secara beradab,
dengan mau mendengar, menghormati pendapat orang lain, walaupun tidak
sependapat.
***
Dalam sebuah diskusi seorang cendekiawan muda mengritik Cak Nur
berdasarkan
pendapat seorang ahli. Cak Nur memuji cendekiawan muda itu sebagai orang
yang punya disiplin ilmiah dengan mendasarkan pendapatnya pada pandangan
seorang ahli. Kemudian, Cak Nur menyampaikan pendapatnya sendiri.
Cendekiawan muda ini sesumbar bahwa dia telah menundukkan Cak Nur
dengan pendapatnya. Begitu pluralisnya, dalam arti sopan dan santunnya
Cak
Nur sehingga cendekiawan ini merasa Cak Nur telah menerima keyakinannya.
Begitulah pluralisme diejawantahkan dalam pergaulan. Lawan yang tidak
sependapat pun merasa menghormati pendapatnya, bahkan merasa pendapatnya
diterima Cak Nur. "Inilah makna pluralisme," kata Cak Nur.
Karena prinsip kebebasan itu, Paramadina bukanlah perkumpulan sektarian,
yang secara eksklusif mendukung pendapat tertentu. Lebih-lebih Paramadina
bukanlah gerakan kultus. Paramadina mendorong orang untuk dengan bebas
mengembangkan dan mendengar pendapat. Kemudian, setiap orang bebas pula
memilih yang terbaik di antaranya dengan bertanggung jawab dan tulus
mengikuti suara hati nurani.
Tanggung jawab setiap orang di akhirat adalah bersifat pribadi mutlak,
tanpa
ada jual-beli, persahabatan (kullah) ataupun perantara (syafaah). (lihat:
QS
2: 254).
***
Cak Nur meninggal dunia ketika orang takut kebebasan dan keberagaman
(liberal dan pluralisme). Pesan Cak Nur kepada teman-teman pendukung
Paramadina bisa juga menjadi seruan, sekaligus penjelasan bahwa paham
kebebasan dan pluralisme adalah hak dan anugerah primordial dari Sang
Maha
Pencipta.
Seorang Nurcholish Madjid, jejak pendapatnya selalu segar dan relevan.
Bukan
dan tak perlu diterima sebagai yang paling benar, tetapi patut
direnungkan,
dipertimbangkan untuk menjadi pilihan hati nurani. Semoga menjadi amal
soleh
yang diterima Allah.
*. Utomo Dananjaya, pengajar pada Universitas Paramadina di Jakarta,
dikenal
sebagai teman dekat Cak Nur saat mencetuskan Gerakan Pemikiran Keislaman
pada 1970.
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
------------------------------
Message: 2
Date: Tue, 6 Sep 2005 22:16:16 -0700 (PDT)
From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [is-lam] Ekonomi Islam vs Ekonomi Neo-Liberal
To: is-lam <[email protected]>
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
Ekonomi Islam vs Ekonomi Neo-Liberal
Ditulis oleh M. Arif Adiningrat dan Farid Wadjdi
Sabtu, 21 Mei 2005
IMF membunuh umat manusia tidak dengan peluru atau
rudal, tetapi dengan wabah kelaparan (Andres Perez,
Mantan Presiden Venezuela, The Ecologist Report,
Globalizing Poverty, 2000).
Banyak yang tahu dan paham bahwa baik neo-liberalisme
maupun liberalisme adalah kebijakan ekonomi dunia yang
berbahaya yang harus dilawan dan dicegah. Akan tetapi,
tidak banyak yang tahu sistem ekonomi seperti apa yang
bisa membendung kebijakan neo-liberalisme ini.
Berharap pada sistem ekonomi Komunisme tentunya tidak
bisa. Alih-alih sebagai pengganti, sistem ini sendiri
sudah nyata-nyata ambruk. Pilihannya tinggal satu:
Sistem Ekonomi Islam. Bagaimana sistem ini mampu
menjadi lawan seimbang bagi Kapitalisme global?
Kebijakan yang Bertolak Belakang
Secara ideologis Islam dan Kapitalisme bertolak
belakang. Islam menjadikan akidah Islam berikut
syariatnya sebagai landasan sistem ekonominya.
Sebaliknya, dasar sistem ekonomi Kapitalisme adalah
sekularisme, yang menghalangi agama terlibat dalam
ekonomi. Akibatnya, kebijakan ekonomi kapitalis lebih
didasarkan pada hawa nafsu manusia yang rakus.
Lalu bagaimana pandangan dan solusi Islam terhadap
kebijakan ekonomi neo-liberal ini?
1. Persoalan ekonomi: distribusi atau produksi?
Kalangan ekonomi kapitalis (liberal) percaya bahwa
persoalan ekonomi terletak pada masalah produksi.
Maksudnya, persoalan ekonomi terletak pada tidak
terbatasnya keinginan manusia, sementara sumberdaya
yang diperlukan untuk memenuhinya terbatas. Untuk
menghilangkan gap ini harus dengan peningkatan
produksi. Karena itu, hitungan angka rata-rata
statistik seperti GDP (Gross Domestic Product) dan GNP
(Gross National Product) adalah persoalan penting;
tanpa melihat orang-perorang, apakah mereka sejahtera
atau tidak.
Sebaliknya, dalam Islam, persoalan ekonomi terletak
pada masalah distribusi kekayaan. Sebenarnya terdapat
sumber-sumber yang cukup untuk menyediakan
kebutuhan-kebutuhan pokok 6 miliar penduduk dunia.
Masalahnya adalah pada pendistribusian. Tidak sahihnya
pendistri-busian inilah yang menyebabkan terjadinya
kesenjangan yang luar biasa antara negara maju dan
Dunia Ketiga (yang ironisnya mayoritas negeri-negeri
Islam).
Sejak 1994-1998, nilai kekayaan bersih 200 orang
terkaya di dunia bertambah dari 40 miliar dolar AS
menjadi lebih dari 1 trilun dolar AS; aset tiga orang
terkaya di dunia lebih besar dari GNP 48 negara
terbelakang; 1/5 orang terkaya di dunia mengkonsumsi
86% semua barang dan jasa; 1/5 orang termiskin dunia
hanya mengkonsumsi kurang dari 1% saja (The United
Nations Human Development Report, 1999).
Di sinilah peran negara, yang dalam pandangan ekonomi
Islam, wajib melakukan pendistribusian kekayaan ini
dengan mekanisme tertentu yang sesuai dengan syariat
Islam sehingga setiap orang terpenuhi kebutuhan
pokoknya.
2. Peran negara: perlu atau tidak?
Konsekuensi dari keyakinan tentang persoalan ekonomi
di atas, penganut ekonomi neo-liberal percaya bahwa
pertumbuhan ekonomi dicapai sebagai hasil normal dari
kompetisi bebas. Harga barang dan jasa selanjutnya
menjadi indikator apakah sumberdaya telah habis atau
masih banyak. Jika harga murah, berarti persediaan
memadai. Sebaliknya, jika harga mahal, berarti
produknya mulai langka. Dalam keadaan harga tinggi,
orang akan menanamkan modal ke sana. Oleh sebab itu,
harga menjadi tanda apa yang diproduksi. Itulah
alasannya, mengapa negara tidak perlu campur tangan;
serahkan saja pada mekanisme dan hukum pasar untuk
berkerja.
Sebaliknya, dalam Islam negara memiliki peran yang
sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sandang,
pangan, dan perumahan tiap individu rakyatnya;
termasuk pelayanan publik seperti kesehatan,
pendidikan, dan jaminan keamanan. Ini merupakan policy
mendasar ekonomi Islam. Bisa jadi seorang individu
tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dengan berbagai
alasan seperti cacat tubuhnya atau lemah akalnya,
sementara keluarganya tidak cukup untuk membantu.
Di samping itu, negara (Daulah Khilafah Islam) harus
berperan untuk menjamin pendistribusian kekayaan
berdasarkan syariah seperti: memungut dan membagikan
zakat; melarang penimbunan kekayaan, investasi pada
bank ribawi untuk mendapatkan keuntungan dari bunga,
penimbunan emas dan perak, penimbunan barang yang
mengancam kewajaran harga pasar, pemilikan harta milik
umum oleh individu/swasta, dan sebagainya.
Negara juga bertanggung jawab untuk mengelola
kepemilikan umum (milkiyah 'âmah) untuk kepentingan
rakyat banyak, memanfaatkan sumber-sumber pendapatan
negara untuk rakyat, menciptakan situasi perekonomian
yang kondusif seperti keluasan lapangan kerja dan
kemampuan yang tinggi dari para pekerja
(profesionalitas).
3. Subsidi bagi rakyat: penting atau tidak?
Menurut ekonom liberal, subsidi adalah racun bagi
rakyat. Karena itu, subsidi harus dicabut. Alasannya,
selain bertentangan dengan prinsip menjauhkan campur
tangan negara dalam perekonomian, subsidi juga
bertentangan dengan prinsip pasar bebas. Ini pula
alasan mengapa dalam kebijakan ekonomi neo-liberal
harus ada privatisasi perusahaan yang dikelola negara
agar tidak menghalangi terjadinya persaingan bebas
dalam pasar bebas.
Sebaliknya, dalam Islam, karena prinsip politik
ekonominya adalah menjamin kebutuhan pokok tiap
individu rakyat, adalah wajar bahkan wajib negara
memberikan bantuan secara gratis kalau memang ada
rakyat yang tidak terpenuhi kebutuhan pokoknya. Adalah
tanggung jawab negara juga menyediakan fasilitas
kebutuhan kolektif masyarakat yang vital seperti
kesehatan, pendidikan, transportasi, dan keamanan
secara murah. Karena itu, hasil tambang seperti
minyak, emas, perak, dan lain-lain, memang milik umum
(milkiyah 'âmah) dan digunakan untuk kepentingan
rakyat.
Terbukti pula bahwa pencabutan subsidi dalam kebijakan
ekonomi neo-liberal telah menyengsarakan rakyat.
Kebutuhan pokok rakyat pun terabaikan. Beban mereka
semakin berat akibat negara lepas tangan. Biaya
pendidikan dan kesehatan yang semakin mahal akibat
diserahkan ke mekanisme pasar (privatisasi).
4. Pasar bebas atau tidak?
Jelas, dalam pandangan neo-liberal harus ada
liberalisasi perdagangan dalam bentuk pasar bebas.
Agenda utama liberalisasi perdagangan adalah
penghapusan hambatan non-tarif (proteksi) dan
penurunan tarif perdagangan dalam transaksi
perdagangan internasional. Tujuannya, masih menurut
ekenom neo-liberal, untuk memacu semakin meningkatnya
volume perdagangan antarnegara di seluruh dunia.
Mereka berharap, kalau volumenya bertambah akan
menjadi motor penggerak bagi percepatan pertumbuhan
ekonomi dunia yang berkelanjutan (Kruman dan Obstfeld,
Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan, 2002).
Persoalannya, persaingan ini tidak seimbang. Dengan
perbedaan struktur, perkembangan ekonomi, dan
ketimpangan kemampuan sains dan teknologi, negara
terbelakang tidak akan mampu bersaing melawan negara
maju. Yang terjadi adalah dominasi negara-negara maju
dalam perdagangan dunia yang membuat mereka semakin
untung; negara terbelakang hanya jadi obyek dalam
pasar bebas ini. Celakanya lagi, sektor-sektor
industri yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat
seperti pertanian dan sektor informal disikat habis
akibat ketidakseimbangan persaingan ini. Tanah
pertanian mereka pun digusur menjadi industri pabrik
pemilik modal besar.
Apalagi kalau perusahan-perusahan transnasional ini
masuk pada industri yang sebenarnya termasuk dalam
kategori milik umum (milkiyah 'âmah) seperti minyak,
air, atau tambang emas; pastilah negara terbelakang
akan kalah bersaing. Akibatnya, lewat keunggulan modal
dan teknologi, kekayaan alam negara-negara terbelakang
itu disedot habis oleh negara maju. Perdagangan bebas
dan investasi asing menjadi senjatanya. Negara
terbelakang pun semakin termiskinkan. Mereka menjadi
kuli di tanah air mereka sendiri.
Dalam Islam sendiri, dibedakan antara perdagangan
dalam negeri dan luar negeri.
Perdagangan dalam negeri berkaitan dengan aktivitas
antar rakyat (warga) negara Daulah Khilafah sendiri.
Aktivitas ini tidak butuh campur tangan negara. Hanya
saja, aktivitas ini tetap membutuhkan pengarahan
secara umum agar tiap individu yang melakukan
perdagangan terikat pada hukum syariat dalam
jual-belinya; termasuk memberikan sanksi terhadap
pihak-pihak yang melanggar (Taqiyuddin an-Nabhani,
Membangun Ekonomi Alternatif Persfektif Islam, hlm.
325). Berkaitan dengan perdagangan dalam negeri ini
negara tidak boleh mematok harga tertentu untuk
barang, apapun alasannya. Harga barang diserahkan
kepada pasar.
Adapun perdagangan luar negeri adalah aktivitas
jual-beli yang berlangsung antara bangsa dan umat.
Oleh karena itu, negara akan campur tangan.
Hubungan-hubungan antarbangsa seperti ini harus tunduk
pada kekuasaan negara; negaralah yang mengatur dan
mengarahkan perdagangan tersebut secara langsung.
Islam dalam konteks ini menolak perdagangan bebas.
Negara Khilafah Islam akan melarang dikeluarkannya
beberapa komoditi dan membolehkan komiditi lain sesuai
dengan pertimbangan syariat. Negara Khilafah tentu
saja akan melarang warganya yang menjual senjata
kepada pasukan musuh, misalnya. Negara juga tidak
membolehkan pihak asing untuk melakukan investasi
untuk menguasai sektor-sektor yang berhubungan dengan
pemilikan umum, seperti minyak dan tambang emas.
Perusahan-perusahan multinasional tidak akan
dibolehkan memanfaatkan apalagi memiliki sumber-sumber
alam negara Khilafah.
Negara juga akan campur tangan dalam pelaku bisnis
kafir harbi atau mu'âhad. Sebab, prinsip yang diadopsi
oleh negara Khilafah dalam aktivitas perdagangan ini
adalah prinsip asal-muasal (kewarganegaraan)
pedagangnya, bukan asal-muasal komoditasnya. Dalam hal
ini, Negara Khilafah tidak akan mengadakan hubungan
dagang dengan negara-negara yang memerangi kaum Muslim
secara langsung (muhâriban fi'lan) seperti AS,
Inggris, dan Israel. Intervensi negara tersebut bukan
sebatas kepentingan ekonomi, tetapi juga untuk
tujuan-tujuan politik sekaligus mengembang dakwah.
Negara Khilafah pada prinsipnya akan menolak setiap
perdagangan yang justru memberikan jalan bagi pihak
luar untuk menguasai dan mendominasi negara seperti
yang terjadi sekarang ini. Setiap warga negara
berkewajiban mengamankan negara sehingga tidak
bergantung pada produk-produk asing yang mengancam
kemandirian negara. Warganegara didorong untuk
memperkuat dan memanfaatkan produk lokal serta
mendorong ekspor. Dalam hal ini, negara boleh
memproteksi pasar dalam negeri dari masuknya
barang-barang yang justru mengancam industri dalam
negeri seperti dalam bidang pertanian.
5. Liberalisasi keuangan: diterima atau ditolak?
Pada dasarnya liberalisasi keuangan dalam kebijakan
ekonomi neo-liberal ditujukan untuk mendorong
pengintegrasian sebuah negara secara penuh ke dalam
sistem perekonomian dan keuangan internasional. Dengan
demikian, akan terbentuk jalan bebas hambatan bagi
berlangsungnya transaksi keuangan dan perdagangan
antar negara di seluruh dunia (Singh, Memahami
Globalisasi Keuangan, 1998).
Persoalannya, akibat liberalisasi ini negara-negara
miskin sangat rentan terhadap berbagai gejolak dan
spekulasi moneter yang dilakukan spekulan
internasional dari negara kaya tertentu. Banyak pihak
yang percaya, krisis moneter di Asia pada 1997, yang
kemudian juga menguncang Indonesia, merupakan
permainan para spekulan internasional ini.
Apalagi liberalisasi keuangan berarti menjadikan dolar
sebagai mata uang yang dominan di dunia internasional.
AS memegang kendali nilai mata uang dunia dan dengan
mudah mempengaruhi perekonomian negara lain. Dolar
kemudian menjadi alat penjajahan AS di dunia
internasional.
Dalam hal ini, Negara Khilafah akan menerapkan sistem
mata uang dengan standar emas dan perak, bukan dolar.
Dengan demikian, sistem moneter internasional akan
terjadi secara adil. Siapapun yang ingin mencetak uang
kertas harus mengupayakan persediaan emas dan perak
yang setara. Berbeda dengan saat ini, AS hanya tinggal
mencetak uang kertas, sementara negara lain harus
melakukan jual-beli untuk mendapat dolar. Percetakan
uang kertas dalam jumlah yang berlebihan dan tidak
diimbangi dengan kekayaan real juga telah menjadi akar
penyebab inflasi.
6. Ihwal privatisasi BUMN.
Kebijakan privatisasi BUMN sesungguh-nya menjadi
agenda utama kebijakan ekonomi neo-liberal. Tentu saja
hal ini menyebabkan dieksploitasinya kekayaan negara
yang seharusnya digunakan untuk rakyat oleh perusahaan
swasta, terutama perusahaan transnasional. Kekayaan
yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan
rakyat, memenuhi kebutuhan pokok rakyat, pendidikan
dan kesehatan gratis justru jatuh ke
individu-individu. Wajarlah jika Indonesia yang
kekayaan alamnya luar biasa, rakyatnya harus hidup
miskin.
Dalam Islam kepemilikan dibagi tiga: individu, umum,
dan negara. Yang termasuk dalam kategori kepemilikan
umum adalah:
(1) segala sesuatu yang menjadi kebutuhan vital
rakyat, yang ketiadaannya akan menyebabkan kehidupan
masyarakat tidak berjalan baik seperti air dan sumber
energi (gas, listrik, minyak bumi, tambang batu bara,
dan lain-lain);
(2) berbagai komoditas yang secara alamiah tidak bisa
dimiliki secara pribadi seperti lautan, sungai, taman
umum, masjid, jalan umum, termasuk kereta api maupun
alat transportasi lainnya;
(3) barang tambang yang depositnya melimpah dalam
jumlah besar seperti sumberdaya mineral (garam, besi,
emas, perak, timah dan lain-lain).
Semua yang termasuk dalam kepemilikan umum tidak boleh
dimiliki oleh individu atau swasta (seperti perusahan
multi nasional) dan bukan pula milik negara. Negara
hanya mengelolanya saja; hasil pendapatannya
diserahkan ke Baitul Mal yang digunakan untuk
kepentingan rakyat. Jadi, bisa kita bayangkan, betapa
banyaknya sumber kas Baitul Mal.
Agenda ke Depan
Tentu saja, kebijakan ekonomi Islam di atas harus
dijalankan secara komprehensif. Karena itu, agenda
umat Islam ke depan adalah membangun sistem politik
untuk itu, yaitu Daulah Khilafah Islam. Negara global
inilah yang akan menggeser dan menundukkan arogansi
dan kerakusan negara-negara kapitalis lewat kebajikan
ekonomi neo-liberalnya yang merugikan umat manusia
saat ini.
Wallâhu a'lam.
http://majelis.mujahidin.or.id/kolom/ekonomi/ekonomi_islam_vs_ekonomi_neo-liberal/
Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
______________________________________________________
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
http://store.yahoo.com/redcross-donate3/
------------------------------
Message: 3
Date: Wed, 07 Sep 2005 15:50:28 +0700
From: "Raden Budiman" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [is-lam] Pelajaran Dari Cuba & Venezuela
To: [EMAIL PROTECTED]
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset="ISO-8859-1"; format="flowed"
Cuba adalah rivalnya USA.
Begitu juga Venezuela, negara yang anti kapitalisme
(terutama USA).
Kedua negara ini membangun poros sosialisme untuk
memerangi kapitalisme.
Adalah sebuah langkah politik yang cantik dimana mereka
menawarkan bantuan
kepada musuhnya tatkala musuhnya mendapat musibah bencana
alam.
Mengapa menawarkan bantuan ?
Karena merasa bisa membantu, pastinya.
Tak akan ada tawaran bantuan bila tak bisa membantu.
Sosialisme menawarkan sistem yang berpihak kepada rakyat
dan anti kapitalisme.
Cuba adalah negara yang stabil dalam ke-sosialisme-an nya
dan Venezuela adalah
negara kedua yang akan mendukung Cuba mengembangkan sistem
sosialisme.
Kembali kita renungkan diri kita, Republik Indonesia, yang
telah begitu bejibun
mendapat bantuan dari USA. Apa dan bagaimana nasib kita ?
Negara kecil Cuba yang anti Amerika bisa berdiri sendiri
dan berani menawarkan
bantuan kepada USA.
Mungkin kita sudah lebih kecil dari Cuba.
Pada kemana wahai para mujahid Indonesia ?
Venezuela, Cuba Offer America Aid
Iran Daily, HAVANA, Sept. 3--Two Latin American countries
that are often singled out for criticism by administration
of US President George W. Bush have offered humanitarian
assistance to the United States struggling with the effect
of Hurricane Katrina, AFP reported.
Cuban President Fidel Castro offered Friday to help his
longtime nemesis to the north by sending 1,100 doctors and
medicines to treat the victims of Hurricane Katrina.
Some 100 doctors could board a flight to Houston, Texas,
as soon as Friday and 1,000 could arrive Saturday and
Sunday, Castro said in a nationally-televised address.
Cuba would also send 26.4 tons of medicines.
"Cuba is ready to help immediately," he said. "We offer
concrete things: doctors to the site of the tragedy, which
is exactly what is missing now."
Meanwhile, the Venezuelan government contacted the US
Embassy in Caracas, offering money and fuel to help the
United States recover from the monster hurricane.
In a diplomatic note, oil-rich Venezuela repeated
President Hugo Chavez's offer to send aid to the United
States.
Caracas offered to Louisiana Governor Kathleen Blanco
"immediate aid" of one million dollars through Citgo, the
US subsidiary of Venezuela's state-owned Petroleos de
Venezuela (PDVSA).
It also offered to send 120 rescue specialists with
first-aid teams.
In addition, Venezuela said it could send two rapid
deployment medical units that can each treat 150 people,
10 water purifiers, eight power generators, 20 tons of
water, 50 tons of canned food and 5,000 blankets.
The United States and Venezuela have had a testy
relationship under Chavez, a leftist who has accused
Washington of wanting to assassinate him.
Chavez also criticized Bush this week over his handling of
the hurricane disaster.
The Cuban president said Cuban doctors have a lot of
experience working in difficult conditions and he did not
expect anything in return for his humanitarian gestures.
========================================================================================
Semarakkan Ulang Tahun Kemerdekaan RI dengan mengikuti TelkomNet Netkuis
17-an
Dari 17-08-2005 s.d 17-09-2005. Dan dapatkan hadiahnya..!! hanya di
http://netkuis.telkom.net
========================================================================================
------------------------------
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
End of is-lam Digest, Vol 10, Issue 11
**************************************