Assalamualaikum wr wb, Di berbagai pengajian sering didendangkan doa, Yaa robbi bil musthofaa balligh maqoosidana waghfir lana ma maadlo... Artinya adalah: Ya Tuhanku dengan perantaraan Musthofa (Nabi Muhammad) sampaikanlah maksud kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang lalu...
Doa tersebut tidak ada di Al Quran mau pun hadits. Para ulama besar seperti Imam Syafiie, Imam Maliki, dsb juga tidak pernah mengajarkan doa seperti itu. Lalu apakah karena itu doa tersebut tidak boleh ? Tentu tidak. Doa bisa dilakukan dengan bahasa apa saja serta kata-kata kita sendiri. Tapi tetap ada aturannya misalnya tidak boleh berdoa kepada selain Allah dan juga tidak boleh berdoa yang bertentangan dengan syariat seperti meminta agar orang-orang kafir yang telah meninggal diampuni dan dimasukkan ke sorga atau meminta agar orang yang tidak berdosa ditimpa kecelakaan. Yang jadi masalah adalah doa tersebut tidak meminta langsung kepada Allah. Tapi memakai perantaraan Nabi. Ini tentu saja sudah seperti kelakuan orang-orang kafir Quraisy yang memakai berhala untuk mendekatkan diri kepada Allah meski mereka tidak menyembah berhala: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. [Az Zumar:3] Karena memakai perantaraan itulah mereka disebut musyrik. Itu juga seperti kelakuan orang-orang Nasrani yang memakai perantaraan Yesus untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Allah. Padahal di dalam Al Quran dan Hadits, Allah dan Nabi mengajarkan untuk meminta langsung kepada Allah. Uduuni astajib lakum. Mintalah padaKu niscaya Kukabulkan, kata Allah. Dalam surat Al Ikhlas disebut Allahush Shomad. Allah tempat meminta. Doa-doa yang berasal dari Al Quran dan Hadits serta yang diamalkan oleh para imam Madzhab tidak ada yang pakai Bil Musthofa (dengan perantaraan Musthofa). Coba perhatikan doa sebagai berikut: Robbighfir lii (ya Allah ampunilah aku). Bukan Robbi bil musthofaghfir li (Ya Tuhanku dengan perantaraan Musthofa ampunilah aku) Robbana aatina (Ya Tuhan kami berilah kami). Bukan Robbana bil musthofa aatina. Allahumma inni audzubika (Ya Allah sesungguhnya aku berlindung padaMu). Bukan Allahumma bil Musthofa... Allahumma nawwir quluubana..., dsb Tidak ada satu pun doa yang diajarkan Allah lewat Al Quran dan Nabi lewat hadits-haditsnya yang menganjurkan doa dengan perantaraan Musthofa. Tidak pula para imam Mazdhab. Oleh karena itu hendaknya kita tidak ikut taqlid (membeo) sesuatu yang tidak kita ketahui. Dengan memakai bil Musthofa ada kesan kita telah mengangkat posisi Nabi Muhammad seperti orang Nasrani mengangkat posisi Nabi Isa menjadi sekutu Allah. Padahal dalam surat Al Ikhlas disebut wa lam yakun lahu kufuwwan ahad (dan tidak ada sekutu bagi Allah). Itu tentu sudah musyrik. Kaum Nasrani menganggap hanya dengan perantaraan Yesus lah mereka bisa selamat. Nah jika kita berkata hanya dengan perantaraan Nabi Muhammad bisa selamat, apa bedanya kita dengan ummat Nasrani. Ummat Nasrani hanya menganggap Yesus sebagai anak Tuhan meski Al Quran menegaskan lain: Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). [Al Maaidah:75] Nah, Nabi Muhammad juga merupakan manusia biasa: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [Ali Imran:144] Meski Allah menganjurkan kita bershalawat kepada Nabi Muhammad, namun hendaknya sholawat yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan yang diberikan Allah dan Rasulnya. Tidak berlebih-lebihan: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah [1230] kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya [Al Ahzab:56] [1229]. Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad. [1230]. Dengan mengucapkan perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi. Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita untuk teguh berpegang kepada Al Quran dan Hadits dan tidak menyimpang dari ajaran Imam Madzhab yang 4. Wassalamualaikum wr wb === Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] http://www.media-islam.or.id ____________________________________________________________________________________ Finding fabulous fares is fun. Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains. http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097 _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
