Para ahli sufi (tasawuf) memang sangat menjaga sekali dengan apa yang mereka
makan.
Membaca tulisan dibawah saya jadi teringat ketika saya beberapa hari lalu ber
silaturahim ke rumah salah seorang kyai tasawuf yang konon katanya beliau
adalah ahli sufi yang tersisa di wilayah Banten (maksudnya Banten ketika tanpa
Tangerang) dimana terjadi diskusi antara saya dengan beliau yang maksud awalnya
adalah saya minta tausiyah pada beliau dan salah satu poin nya adalah masalah
makanan yang masuk kedalam perut.
Kyai : manusia itu yang disebut manusia kalo makan sehari hanya 1x dan 9 suapan.
saya : kyai, bukankah para sahabat r.a. ketika puasa makan 2x saat sahur dan
berbuka.
Kyai : 2x itu yang 1x dan 9 suapan di bagi 2.
saya : kyai kalo saya makan masih 3x, itu bagaimana menurut agama.
Kyai : kalo makan 3x sehari itu sama dengan setan!., kalo 2x saja kaya hewan!.
Dan suapan nya menggunakan 3 jari.
saya : [EMAIL PROTECTED], kyai bukankah apa yang Allah ciptakan itu tiada yang
sia-sia, termasuk jari ini ada 5 kalo normal, jadi apa salhnya kalo di pake
nyuap makanan dengan 5 jari.
Kyai: tidak ada salahnya, hanya saja nabi mencontohkan seperti itu, dan makanan
yang dimakan hanya dengan 1 lauk saja, lebih dari itu bukan manusia.
saya : bagaimana bila seseorang tidak kuat "mendirikan" sholat karena makanan
yang dimakan kurang asupan gijinya/tidak ada tenaga.
Kyai : yang memebrikan kekuatan mah bukan makanan tapi ALLAH, kalo meyakini
kekauatan yang ada di badan karena makanan yang di makan maka kita menjadi
musyrik.
saya : [EMAIL PROTECTED], bukankah dalam ISLAM itu tidak menafikan
perantara/sebab akibat.
Kyai : betul, tapi tidak boleh meyakini kita menjadi kuat/bisa bergerak karena
makanan yang kita makan, itu syirik besar.
Beliau memang makan makanan yang diolah sendiri, dan para santrinya pun makan
hanya dengan satu jenis lauk saja, waktu itu saya liat makand dengan kulit
tangkil yang direbus.Hanya saja saya pada waktu itu tidak berani menanyakan
apakah kyai membuat sendiri sarung dan kaus yang di pakai.
Dialog pun berakhir pukul 23.30 karena beliau harus ke masjid melaksanakan
sholat bersama para santrinya dan tinggal di masjid sampe sholat subuh.
Kisah diatas tidak ada maksud lain sekedar menguatkan cerita di bawah bahwa
seperti itulah ahli sufi menyikapi makanan yang dimakan.
Wassalam.
a.s.
gazelle run <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pandangannya Syaikh Naqshbandi Terhadap Makanan
Dari The Golden Chain, Naqshbandi Way
Mawlana Syaikh Hisyam kabbani ar-Rabbani
www.mevlanasufi.blogspot.com
Bismillah hirRohman nirRohim
Mawlana Syaikh Bahaudin Naqsyband, Imam at Tariqah
(semoga Allah swt mensucikan jiwanya) Beliau
mengikuti jalan yang shaleh, terutama dalam hal tata
cara makannya. Beliau mengambil segala jenis
pencegahan sehubungan dengan makanannya. Beliau hanya
mau makan dari barley yang ditanamnya sendiri. Beliau
akan memanennya, menggilingnya, membuat adonan,
menanak dan memanggangnya dengan tangannya sendiri.
Semua ulama dan para pencari di masanya membuat jalan
mereka menuju rumahnya, agar bisa makan di mejanya dan
mendapatkan berkah dari makanannya.
Syaikh Naqshbandi mencapai suatu kesempurnaan dalam
hal penghematan; di musim dingin, beliau hanya
meletakkan selembar karpet tua di lantai rumahnya dan
ini tidak memberi perlindungan dari udara dingin yang
menusuk. Di musim panas beliau meletakkan tikar yang
sangat tipis di lantai. Beliau mencintai orang yang
miskin dan membutuhkan. Beliau mendorong para
pengikutnya untuk mencari nafkah dengan cara yang
halal, yaitu dengan membanting tulang.
Beliau mendorong mereka untuk membagikan uangnya
kepada fakir miskin. Beliau memasak untuk fakir
miskin dan mengundang mereka untuk makan bersama.
Beliau melayani mereka dengan tangannya sendiri yang
suci dan mendorong mereka agar tetap berada di
Hadirat Allah. Jika salah seorang di antara mereka
memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan cara yang
tidak baik, beliau akan menegurnya, melalui pandangan
spiritualnya terhadap apa yang telah mereka lakukan
dan mendorong mereka untuk tetap ingat kepada Allah
swt ketika sedang makan.
Beliau mengajarkan bahwa, Salah satu pintu yang paling
penting menuju ke Hadirat Allah adalah makan dengan
Kesadaran. Makanan memberikan kekuatan bagi tubuh,
dan makan dengan kesadaran memberikan kesucian bagi
tubuh.
Suatu saat beliau diundang ke sebuah kota bernama
Ghaziat di mana salah seorang muridnya telah
menyiapkan makanan baginya. Ketika mereka duduk untuk
makan, beliau tidak menyentuh makanannya. Tuan rumah
menjadi terkejut. Syah Naqsyband berkata, Wahai
anakku, Aku ingin tahu bagaimana engkau menyiapkan
makanan ini. Sejak engkau membuat adonan dan
memasaknya sampai engkau menyajikannya, engkau berada
dalam keadaan marah. Makanan in bercampur dengan
kemarahan itu. Jika kita memakan makanan itu, Setan
akan menemukan jalan untuk masuk melaluinya dan
menyebarkan seluruh sifat buruknya ke seluruh tubuh
kita.
Di waktu yang lain beliau diundang ke kota Herat oleh
rajanya, Raja Hussain. Raja Hussain sangat senang
dengan kunjungan Syah Naqsyband dan memberikan pesta
besar baginya. Raja mengundang semua mentrinya,
Syaikh-Syaikh dari kerajaannya dan seluruh tokoh
terhormat. Beliau berkata, Makanlah makanan ini.
Ini adalah makanan yang murni, yang dibuat dari uang
yang halal yang kudapat dari warisan ayahku. Semua
orang makan kecuali Syah Naqsyband, hal ini mendorong
Syaikh ul-Islam pada saat itu, Qutb ad-din, untuk
bertanya, Wahai Syaikh kami, mengapa engkau tidak
makan?
Syah Naqsyband berkata, Aku mempunyai seorang hakim
tempat Aku berkonsultasi. Aku bertanya kepadanya dan
hakim itu berkata kepadaku, Wahai anakku, mengenai
makanan ini terdapat dua kemungkinan. Jika makanan
ini tidak halal dan engkau tidak makan, bila engkau
ditanya engkau dapat mengatakan Aku datang ke meja
seorang raja tetapi Aku tidak makan. Maka engkau akan
selamat karena engkau tidak makan. Tetapi bila engkau
makan dan engkau ditanya, maka apa yang akan kau
katakan? Maka engkau tidak akan selamat.
Pada saat itu, Qutb ad-Din begitu terkesan dengan
kata-kata ini dan tubuhnya mulai bergetar. Beliau
harus meminta izin kepada raja untuk menghentikan
makannya. Raja sangat heran dan bertanya, Apa yang
harus kita lakukan dengan semua makanan ini? Syah
Naqsyband berkata, Jika ada keraguan mengenai
kesucian makanan ini, lebih baik berikan kepada fakir
miskin. Kebutuhan mereka akan makanan akan membuatnya
halal bagi mereka. Jika seperti yang engkau katakan,
makanan ini halal, maka akan lebih banyak lagi berkah
dalam pemberian makanan ini sebagai sedekah kepada
mereka yang membutuhkan daripada menjamu orang-orang
yang tidak benar-benar membutuhkannya.
Sebagian besar hari-harinya dijalani dengan berpuasa.
Jika seorang tamu mendatanginya dan beliau mempunyai
sesuatu yang bisa ditawarkan kepadanya, maka beliau
akan duduk menemaninya, membatalkan puasanya dan makan
bersamanya. Beliau berkata kepada para pengikutnya
bahwa para Sahabat Rasulullah saw biasa melakukan hal
yang sama. Syaikh Abul Hasan al-Kharqani qs berkata
dalam bukunya, Prinsip-Prinsip Thariqat dan
Prinsip-Prinsip dalam Meraih Makrifat,
"Jagalah keharmonisan dengan para sahabat, tetapi
tidak dalam berbuat dosa. Ini berarti bahwa jika
engkau sedang berpuasa, lalu ada seseorang yang
berkunjung sebagai teman, maka engkau harus duduk
bersamanya dan makan bersamanya demi menjaga adab
dalam berteman dengannya. Salah satu prinsip dalam
puasa, atau ibadah lainnya adalah menyembunyikan apa
yang dilakukan oleh seseorang. Jika seseorang
membukanya, misalnya dengan berkata kepada tamunya
bahwa dia sedang berpuasa, maka kebanggaan bisa masuk
ke dalam dirinya sehingga menghancurkan puasanya.
Inilah alasan di balik prinsip tersebut.
Suatu hari beliau diberikan seekor ikan yang telah
dimasak sebagai hadiah. Di sekitarnya terdapat banyak
orang miskin, di antara mereka terdapat seorang anak
yang sangat shaleh dan sedang berpuasa. Syah
Naqsyband memberikan ikan itu kepada orang-orang
miskin dan mengatakan kepada mereka, Silakan duduk
dan makan, demikian pula kepada anak yang sedang
berpuasa itu, Duduk dan makanlah. Anak itu menolak.
Beliau berkata lagi, Batalkan puasamu dan makanlah,
lagi-lagi anak itu menolak.
Beliau bertanya kepadanya, Bagaimana jika Aku
memberimu salah satu di antara hari-hariku di bulan
Ramadhan? Maukah engkau duduk dan makan? Sekali
lagi dia menolak. Beliau berkata kepadanya,
Bagaimana jika Aku memberimu seluruh Ramadhanku?
Namun masih saja dia menolak. Beliau berkata,
Bayazid al-Bistami pernah suatu kali dibebani orang
sepertimu. Sejak saat itu anak itu terlihat
berpaling untuk mengejar kehidupan duniawi. Dia tidak
pernah berpuasa dan tidak pernah beribadah lagi.
Wa min Allah at Tawfiq
wassalam, arief hamdani
Rabbani Sufi Institute of Indonesia
www.rabbani-sufi.blogspot.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
__._,_.___
Messages in this topic (36)
Reply (via web post) | Start a new
topic
Messages
Padhang mBulan Net - Padhang mBulan
mailing list
* Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
* Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
* rangkuman dari beberapa e-mail :
[EMAIL PROTECTED]
* tidak ingin menerima sebuah e-mail pun :
[EMAIL PROTECTED]
* Individual Email :
[EMAIL PROTECTED]
Informasi: [EMAIL PROTECTED]
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms
of Use | Unsubscribe
Recent Activity
8
New Members
Visit Your Group
Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.
Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
.
__,_._,___
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam