Assalammu'alaikum wr wb, Selama ini mail box saya kebanjiran [email protected] bermuatan berita-berita perang Tim-Teng dan US politics controversions. Nggak apa-apa sih, setidaknya dapat mengenal macam-macam sajian berita yang kadang-kadang patut disimak. Nah alhamdulillahirobbi al-'alamiin ada kiriman pak IPD Wiska Susetio yang telah membuka ruang pemikiran.
Pendapat IPD Wiska Susetio tentang "Subject: Sikap yang proporsional" memang perlu suatu kejelasan bagi semua fihak. Maksud saya perlu dilakukan study akademis (usul research) tidak hanya dari segi Islamic theology tetapi juga dari berbagai bidang kajian ilmu-ilmu sosial dan kesejarahan. Sebab rasululloh Muhammad saw di atas panggung sejarah perkembangan masyarakat manusia yang belum menjadi MANUSIA (kapital letters sebagai interpretasi kata Arab Qurani: holiifatan fii al-ardzh) telah menjadi tokoh internasional selama hampir satu setengah millenium. Beberapa 'ulama Islamic theology dan Islamic history Muslim dari aba-abad ke IX AD hingga kini telah menulis buku-buku tentang bleger (bio-personality) beliau maupun tentang spiritual equilibrium beliau. Disamping itu juga banyak sarjana "ahli Islam" non-Muslim yang menulis pendapatnya tentang beliau. Kesemua pandangan dan "penilaian" terhadap pribadi, character dan integritas sebagai seorang pembaharu masyarakat dan pemikiran di Tim-Teng dan yang kemudian menjagad (berskala global) bagaimanapun juga telah berperanan di dalam mencabik-cabik "kemanunggalan, kesatuan organisatoris" kaum Muslimin (jika kita serius dan jujur terhadap diri sendiri dan ilmu pengetahuan sebenarnya masyarakat Muslimin pertama yang diorganisasi oleh rasululloh Muhammad saw di Madinah adalah suatu masyarakat yang tidak homogen di mana ikatan kaum-kerabat masih sangat kuat). Sehingga di dalam masyarakat Muslimin muncul berbagai aliran pemikiran, aliran politik, aliran spiritual dan aliran ekonomi yang kesemuanya berdasarkan interpretasi kepada Al-Dinu al-Islam. Apakah fakta sejarah demikian ini tak terhindarkan, seandainya sesudah wafat beliau ada tokoh pengganti yang sekharismatis beliau (katakan seandainya Ali ditunjuk rasululloh Muhammad saw menjadi pengganti beliau secara resmi di hadapan semua sahabat-sahabat beliau atau Fatimah putri beliau)? Jika dikaji sejarah dunia dan sejarah Indonesia sendiri, maka idealisasi di atas akan dijawab sebagai suatu ketidak mungkinan peristiwa dan statistik kejadian. Lantas bagaimana bersikap bagi kita seyogyanya? Kita kembalikan kepada Allah swt semua persoalan dan pemecahannya, setelah kita tidak mampu memahami persoalan dan jalan pemecahannya. Yaitu kepada firman Allah swt yang menyatakan bahwa "Seseorang tidak memikul dosa orang lain" dan "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya". Dengan demikian maka kita akan mampu memperhatikan diri agar tidak melanggar kadar yang ditetapkan bagi kita, sehingga dapat hidup dalam keadaan relatif seimbang. Sudah tentu ini semua menuntut waktu yang tersedia dan kemampuan bagi kita untuk seumur hidup dapat BELAJAR guna mengakses sebanyak mungkin ilmu pengetahuan yang menjadi sarana bagi kehidupan kita yang dinamis dan mengalir seperti kata Socrates: Phantare! Kata-kata Socrates ini, walaupun dia seorang musyriq, sesungguhnya bersesuaian dengan realitas fayakuun yang berada hingga saat ini, termasuk manusia sebagai mahluk yang diciptakan oleh Allah swt masih terus berkembang secara micro-biologis pada DNA, sebagaimana ditunjukkan dari study lapangan ahir-ahir ini atas kelompok bangsa-bangsa Asia-Timur, Eropa dan Yoruuban Nigeria. Masalah kultus terhadap rasul dan pemlotarian (peng-egalitarian) terhadap beliau sebagai manusia awam di dalam masyarakat Muslimin yang ada akan secara perlahan menjadi tak berarti apabila kaum Muslimin semakin mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Implikasi penguasaan iptek akan mempromosi peningkatan kesadaran manusia alami ke kesadaran manusia ilmu pengetahuan. Kesadaran manusia ilmu pengetahuan akan memperhalus dan menyeimbangkan fluktuasi bolak-balik qolbu manusia yang entah berapa kurun waktu lagi yang diperlukan pada gilirannya akan mendorong peningkatan kesadaran manusia ilmu pengetahuan ke kesadaran manusia berahlaq yang mulia atau al-ahlaqu al-kariimah. Pada tahapan kesadaran manusia al-ahlaqu al-kariimah inilah manusia berubah kwalitasnya menjadi MANUSIA atau holiifatan fii al-ardzh. Tingkat setinggi ini adalah tingkat yang telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul Allah swt yang pada gilirannya harus kita teladani tanpa tawar-menawar. Jika kita sadar akan tantangan realitas di luar kesadaran kita ini maka tidak ada jalan kompromi apapun terhadap semua kelemahan intelektual dan kelemahan spiritual kecuali Bismillahi al-Rohmani al-Rohiim merubah ahlaq kita manusia alami ke ahlaq (MANUSIA) holiifatan fii al-ardzh. Wassalam, A.M > An HTML attachment was scrubbed... > URL: > http://abangadek.com/pipermail/is-lam/attachments/20070124/d1ef9fa0/attachment-0001.htm > > ------------------------------ > > Message: 2 > Date: Wed, 24 Jan 2007 14:06:11 +0700 > From: "IPD Wiska Susetio" <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Sikap yang proporsional (was Re: [is-lam] Tasawuf dan > Pengkultusan Rasulullah SAW) > To: Milis is-lam <[email protected]> > Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]> > Content-Type: text/plain; charset=us-ascii > > > > > Emang sulit ya bersikap yang proporsional terhadap kanjeng Rasulullah > sholallaahu 'alaihi wa sallam. > Satu sisi terdapat sikap esktrim yang berlebihan dalam memuja beliau. Dan di > sisi yang lain ada orang yang mengaku muslim namun bersikap acuh dan kurang > menghormati / apresiasi terhadap kemuliaan beliau. > > Bagi yang memuja, yang rindu remuk karena kecintaan yang sangat terhadap > beliau, > terkadang kerinduannya tersebut diekspresikan dalam karya-karya sastra, karena > simbol-simbol dianggap lebih bisa menampung suasana yang tak terlukiskan > dengan > rangkaian kata-kata biasa. Dalam sastra dan puisi, kata-kata tidak bisa > dipahami > secara denotatif polos begitu saja. Sebab terdapat beragam gaya bahasa, > seperti > hiperbolisme, ironi, sarkasme, dll, yang bisa menimbulkan kesalah pahaman bila > dipahami polos begitu saja sesuai makna kamus. Maka dalam sastra terdapat > kaidah-kaidah, terdapat rumus-rumus, yang merupakan kunci untuk memahami > simbol-simbol yang diungkapkan. Tapi kenyataan sejarah yang barangkali tak > terelakkan, karya-karya sastra tersebut memang akhirnya disalah pahami, baik > oleh orang-orang bodoh yang tidak punya kunci, maupun orang-orang yang tidak > kenal mereka. > > Namun di sisi lain, kadang kita terlalu kasar terhadap beliau. Saya pernah > mendengar ceramah yang membawakan suatu hadits, oleh penceramah hadits > tersebut > barangkali dicoba "dibumikan" agar lebih akrab bagi pendengar. Maka > dibawakanlah > riwayat tersebut dengan setting kekinian pakai bahasa gaul "Eloe", "Gue", dsb. > Tapi akibatnya gambaran Rasul yang muncul adalah seperti orang kebanyakan, > kayak > ke teman sejawat saja. Padahal Rasulullah meskipun fisiknya adalah manusia > biasa > yang bahannya dari tanah, tapi kualitas ruhaninya adalah bagai cahaya (Al > Qur'an > menggambarkannya Siroojan Muniiro) yang menyilaukan yang membuat orang yang > bisa > memandangnya akan tertunduk takzim. Bukankah bahan dasar penciptaan manusia > bukan hanya tanah. > > Sholawat dan salam bagi Rasulullah, serta bagi para syuhada yang tidak pernah > mati. "Innal anbiya ahyaanan fii qubuurihim yushollun" (Para Nabi itu hidup di > qubur mereka dalam keadaan sholat - hadits shohih, dishohihkan Syaikh Al > Albani > rohimahullah dalam Irwa'ul Ghalil). Eh ... hadits ini bertentangan dengan > Qur'an > nggak ya (QS. Az Zumar : 30) , atau kelihatannya bertentangan tapi sebenarnya > tidak bila kita bisa mendudukkannya ? > > Wallaahul musta'an, > > = Wizh = > > > > > Please respond to Milis is-lam <[email protected]> > > To: is-lam <[email protected]> > cc: (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv) > > Subject: [is-lam] Tasawuf dan Pengkultusan Rasulullah SAW > > > > http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=394 > TASAWUF DAN PENGKULTUSAN RASULULLAH Shalallahu?alaihi > Wassallam > Selasa, 10 Oktober 2006 - 01:28 PM, Penulis: Buletin > Islam Al Ilmu Edisi 49/II/III/ 1426 > > Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam adalah > sebaik-baik manusia, tidak ada yang melebihi beliau > dalam hal kemuliaan dan kehormatan. Oleh karena itu, > Allah Subhanahu Wa Ta?ala menjadikan beliau sebagai > suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Allah > berfirman (artinya): ?Sungguh telah ada pada diri > Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam itu suri > tauladan bagi kalian.? (Al Ahzab: 21) > > Beliaulah yang harus kita cintai melebihi kecintaan > terhadap diri kita sendiri, orang tua, anak, istri dan > seluruh umat manusia. Namun Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam melarang umatnya dari > sikap berlebihan, terkhusus sikap pengkultusan > terhadap diri beliau Shalallahu?alaihi Wassallam. > Sebagaimana beliau bersabda: > لاَ > تُطْرُوْنِيْ > > كَمَا > أَطْرَتِ > النَّصَارَى > ابْنَ > مِرْيَمَ > ، > إِنَّمَا > أَنَا > عَبْدٌ ، > فَقُوْلُوا > عَبْدُ > اللهِ > وَرَسُوْلُهُ > > > ?Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana > orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. > Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: ?(Aku > adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.? (H.R Al Bukhari) > Sangatlah disayangkan ternyata kaum Sufi merupakan > kaum yang paling gencar melanggar perintah Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam tersebut. Sekian banyak > bukti pengkultusan mereka terhadap Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam > terdapat dalam karya tulis tokoh-tokoh tersohor > mereka. Sampai-sampai pengkultusan tersebut > menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesyirikan, baik > dalam hal rububiyah, uluhiyah, ataupun asma? wa sifat. > > > DIANTARA BUKTI PENGKULTUSAN KAUM SUFI TERHADAP RASUL > Shalallahu?alaihi Wassallam > > Gambaran pengkultusan kaum Sufi terhadap Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam sangatlah beraneka ragam, > yang kesemuanya bermuara dari kedustaan, khayalan atau > kebodohan. Dapatlah kita simak gambaran-gambaran > tersebut melalui bukti-bukti berikut ini : > 1. Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam Diciptakan > Dari Nur (Cahaya) Allah Subhanahu Wa Ta?ala > > Diantara tokoh Sufi yang berpendapat demikian adalah > Ibnu Arabi di dalam Al Futuhat Al Makkiyyah 1/119, > Abdul Karim Al Jaili di dalam Al Insaanul Kaamil 2/46 > dan beberapa yang lainnya. > Demi memudahkan penyebaran aqidah sesat ini, mereka > memunculkan hadits yang tidak diketahui asal usulnya > yang didustakan atas nama Rasulullah Shalallahu?alaihi > Wassallam yaitu: > أَنَّ > اللهَ > تَعَالى > خَلَقَ > نُوْرِ > نَبِيِّهِ > مِنْ > نُوْرِهِ > ?Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta?ala menciptakan > cahaya nabi-Nya dari cahaya-Nya? > Allah Subhanahu Wa Ta?ala membantah keyakinan keji ini > dengan menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu?alaihi > Wassallam adalah seorang manusia sedangkan manusia itu > diciptakan dari tanah bukan dari cahaya. Allah > berfirman (artinya): > ?Katakanlah (wahai Muhammad) :? Maha Suci Tuhanku, aku > tidak lain adalah seorang manusia dan rasul.? (Al > Israa?: 93) > > Dia juga berfirman (artinya): ?Dan Allah menciptakan > kalian (manusia) dari tanah, kemudian nuthfah lalu > menjadikan kalian berpasang-pasangan.? (Faathir: 11) > > Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan > bahwa Nabi Shalallahu?alaihi Wassallam diciptakan dari > unsur tanah dan tidak ada satupun manusia yang > diciptakan dari cahaya. Disamping itu, keutamaan > sebagian makhluk dibanding makhluk lainnya bukanlah > karena unsur diciptakannya. Bahkan Nabi Adam beserta > anak keturunannya yang shalih itu lebih utama dari > malaikat walaupun malaikat tersebut diciptakan dari > cahaya. (Disarikan dari Majmu? Fatawa 11/94-95) > > 2. Seluruh Alam Semesta Diciptakan Dari Nur (cahaya) > Muhammad (Aqidah Nur Muhammadi) > Abdul Karim Al Jaili berkata: ?Dan tatkala Allah > Subhanahu Wa Ta?ala menciptakan seluruh alam semesta > ini dari nur Muhammad, maka hati Muhammad > Shalallahu?alaihi Wassallam itu merupakan bagian yang > malaikat Israfil diciptakan darinya ?lalu dia > mengatakan? sesungguhnya Al Aqlu Al Awwal yaitu > Muhammad Shalallahu?alaihi Wassallam, Allah > ciptakan darinya Jibril sehingga Muhammad > Shalallahu?alaihi Wassallam adalah ayah Jibril dan > asal usul dari seluruh alam.? (Al Insaanul Kaamil > 2/26-27). > Dari dua jenis keyakinan kufur ini, dapat disimpulkan > bahwa Allah menciptakan Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam dari cahaya-Nya, kemudian > dari cahaya tersebut terciptalah seluruh alam semesta. > Sehingga tidaklah yang ada di alam semesta ini > melainkan bagian dari Dzat Allah Subhanahu Wa Ta?ala. > Muncullah dari sini keterkaitan kedua keyakinan itu > dengan aqidah Manunggaling Kawula Gusti. Sebuah > skenario yang benar-benar keji. Wallahul Musta?an!! > > 3. Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam > Memiliki Beberapa Sifat Ketuhanan (Rububiyyah) > Sehingga Berhak Diibadahi > Keyakinan kufur ini tidaklah terlepas dari konsekuensi > yang diraih ketika mereka menyatakan tentang aqidah > Manunggaling Kawula Gusti. Dan inilah yang ditegaskan > sendiri oleh pujangga-pujangga syair tersohor mereka. > Al Bushiri berkata di dalam syairnya yang terkenal: > Maka sesungguhnya diantara kedermawananmu (Muhammad) > adalah adanya dunia dan akhirat > Dan diantara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfudh > dan Al Qalam (yaitu ilmu tentang segala takdir di alam > semesta ini) > (Burdatul Madiih hal. 35 yang terkenal dengan Qasidah > Burdah). > Yusuf An Nabhani menukil perkataan Syamsuddin At > Tuwaji Al Mishri: > Wahai utusan Allah, sesungguhnya aku ini lemah > Maka sembuhkanlah aku karena sesungguhnya engkau > adalah pangkal kesembuhan > Wahai utusan Allah, bila engkau tidak menolongku > Maka pada siapa lagi menurutmu aku akan bersandar > (Syawaahidul Haq hal. 352) > Betapa jauhnya penyimpangan mereka dari aqidah yang > benar?!!, padahal Allah Subhanahu Wa Ta?ala berfirman > (artinya): > ?Katakanlah (wahai Muhammad): ?Aku tidaklah memiliki > manfaat atau dapat mencegah bahaya dari diriku sendiri > kecuali yang Allah kehendaki. Kalau seandainya aku > mengetahui yang ghaib maka tentunya aku dapat > memperbanyak kebaikan untukku dan tidak ada satupun > bahaya yang menimpaku?. (Al A?raaf:188) > > ?Dan bila Allah menimpakan kepadamu suatu kejelekan > maka tidak akan ada yang dapat menghilangkannya > kecuali Dia saja. Dan apabila Dia mendatangkan > kebaikan kepadamu maka Dia Maha Kuasa atas segala > sesuatu?. (Al An?aam:17) > > 4. Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam > Dapat Dilihat Di Dunia Dalam Keadaan Terjaga (Setelah > Beliau Meninggal Dunia) > Keyakinan ini mereka ambil berdasarkan hikayat-hikayat > dusta yang berasal dari tokoh-tokoh tarekat mereka. > Asy Sya?rani menyatakan bahwa Abul Mawaahib Asy > Syadzali berkata: ?Aku pernah melihat > Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam lalu > berkata kepadaku tentang diri beliau: ?Aku sebenarnya > tidaklah mati. Hanyalah kematianku (sekarang ini) > sebagai persembunyianku dari orang-orang yang tidak > mengerti tentang Allah.? Maka akupun melihat beliau > dan beliaupun melihat aku.? (Thabaqatul Kubra 2/69 > karya Asy Sya?rani). > Bahkan dengan tegas Abul Mawaahib membawakan sabda > Nabi Shalallahu?alaihi Wassallam > dengan dusta bahwa barangsiapa yang tidak percaya > dengan pertemuan dirinya dengan beliau, kemudian dia > mati, maka dia mati dalam keadaan sebagai seorang > Yahudi, Nashrani atau Majusi!! (Thabaqatul Kubra 2/67) > Sebagian murid Khaujili bin Abdirrahman (seorang tokoh > Sufi jaman ini) menceritakan bahwa gurunya ini pernah > melihat Rasulullah sebanyak 24 kali dalam > sehari sedangkan dia dalam keadaan sadar. (Thabaqat > Ibni Dhaifillah hal. 190) > Hikayat-hikayat yang mereka ceritakan ini sebenarnya > mengandung beberapa perkara yang batil, diantaranya: > a. Jasad Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam yang > ada di kubur dapat kembali ke alam dunia. Padahal > Allah Subhanahu Wa Taala berfirman (artinya): > ?Dan di belakang mereka terdapat dinding (pemisah > antara alam kubur dengan alam dunia) sampai hari > mereka dibangkitkan (hari kiamat)?. (Al Mu?minuun: > 100) > b. Rasulullah sekarang ini tidak meninggal > dunia. Allah Subhanahu Wa Taala membantah hal > ini dengan firman-Nya (artinya): ?Sesungguhnya engkau > (Muhammad) akan mati dan merekapun akan mati (pula).? > (Az Zumar: 30) > Kedua kandungan ini cukuplah sebagai bukti tentang > sikap berlebihan (pengkultusan) mereka terhadap > pribadi Rasulullah Shalallahu?alaihi > Wassallam. > > Ketika aqidah rusak mereka ini mulai terkuak, maka > muncullah beragam pendapat lagi di dalam mengkaburkan > maksud kalimat ?melihat Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam dalam keadaan terjaga?. > Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa > Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam bisa > dilihat dengan menjelma sebagai seorang syaikh terekat > mereka, bahwa Rasulullah Shalallahu?alaihi > Wassallam bisa dilihat dengan mata hati bukan mata > kepala, Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam > bisa dilihat dalam keadaan antara tidur dan terjaga > ataupun yang dilihat itu adalah ruh beliau bukan > jasadnya. Pendapat terakhir ini diucapkan oleh tokoh > Sufi jaman sekarang yaitu Muhammad Alwi Al Maliki > dalam kitab Adz Dzakhaa?ir Al Muhammadiyah hal. 259 > (Khasha?ishul Musthafa hal. 217-218). > > Ternyata keyakinan ini ?yang sebenarnya telah terkuak > kebatilannya? dijadikan kaum Sufi sebagai salah satu > jembatan untuk memunculkan ajaran-ajaran baru (bid?ah) > yang belum pernah diajarkan Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam di masa beliau masih > bersama para sahabatnya dahulu. Satu lagi skenario > jahat untuk menodai ajaran agama suci ini. > > Demikian pula pernyataan sesat yang dilontarkan Umar > Al Fuuti bahwa Ahmad At Tijani (pendiri tarekat At > Tijaniyah) pernah diijinkan Rasulullah > Shalallahu?alaihi Wassallam untuk mengajari manusia > setelah bersemedi, kemudian beliau menetapkan sebuah > wirid tertentu kepada dirinya, yang sebelumnya beliau > mengabarkan tentang kedudukan Ahmad At Tijani yang > tinggi, keutamaan wirid tersebut dan janji Allah > kepada siapa saja yang mencintai Ahmad At Tijani dari > kalangan pengikutnya (Rimaahu Hizbirrahiim 1/191). > > Muhammad As Sayyid At Tijani mengungkapkan bahwa > Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam bersama para Al > Khulafaur Rasyidin pernah menghadiri majelis wirid > Ahmad At Tijani. Lalu beliau Shalallahu?alaihi > Wassallam memberikan syafa?at kepada hadirin ketika > itu. (Al Hidayah Ar Rabbaniyah hal. 12) > > > WIRID-WIRID BID?AH KAUM SUFI > Mereka tidak hanya menuangkan pengkultusan > Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam melalui > pendapat ataupun untaian-untaian syair saja, tetapi > juga melalui wirid dalam bentuk shalawat nabi. Bahkan, > dengan shalawat inilah banyak sekali kaum muslimin > ?walaupun tidak terikat dengan ajaran mereka? terjatuh > ke dalam jeratan mereka. Hal ini disebabkan beberapa > perkara, diantaranya: > > a. Mereka tidak jarang membawakan ayat-ayat ataupun > hadits-hadits shahih yang masih bersifat umum yang > menganjurkan seorang muslim untuk bershalawat atau > berdzikir. > b. Hikayat-hikayat dusta yang menceritakan tentang > keutamaan-keutamaan membaca shalawat tertentu. > > Di antara shalawat yang sangat terkenal di tengah kaum > muslimin adalah shalawat Al Faatih yang apabila > membacanya mendapatkan keutamaan seperti membaca Al > Qur?an sebanyak 6000 kali, shalawat Nariyah yang > apabila membacanya sebanyak 4444 kali maka hajatnya > akan terpenuhi atau terlepas dari kesulitan, dan juga > beberapa shalawat lainnya yang kental dengan nuansa > kesyirikan di dalam kitab Dalaailul Khairaat karya > Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli yang sering dibaca > sebagian kaum muslimin terutama pada hari Jum?at. > (Untuk lebih rincinya, insya Allah akan diangkat topik > ?Sufi dan Shalawat-shalawat Bid?ah Mereka?) > > HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU YANG TERSEBAR DI > KALANGAN UMAT > Hadits Ibnu Umar  : > مَنْ > زَارَ > قَبْرِيْ > وَجَبَتْ > لَهُ > شَفَاعَتِيْ > > ?Barangsiapa yang menziarahi kuburku maka berhak > baginya syafa?atku? > Keterangan: > Hadits ini mungkar karena di dalam sanadnya terdapat > seorang perawi yang bernama Musa bin Hilal Al ?Abdi. > Beberapa ulama ahli hadits seperti Abu Hatim, Al > Bukhari, An Nasai, Al Hakim, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu > Hajar dan Al Baihaqi sendiri (yang meriwayatkan hadits > tersebut) mengkritik perawi tersebut. Asy Syaikh Al > Albani menyatakan bahwa hadits tersebut mungkar. > (Irwa?ul Ghalil no. 1128) > > Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas > kerapkali dibawakan para tokoh Sufi didalam mengajak > kaum muslimin untuk meyakini adanya keutamaan tertentu > di dalam menziarahi makam beliau, sampai akhirnya > mengkultuskan beliau seperti bertawasul atau berdoa > kepada beliau dan mengkeramatkan makam beliau. > Adapun ziarah ke kubur beliau dan juga selain beliau > maka hal ini diperbolehkan selama dengan tujuan dan > cara yang diajarkan Rasulullah Shalallahu?alaihi > Wassallam. > > (Sumber : Buletin Islam Al Ilmu Edisi 49/II/III/ 1426, > Jember. > Dikirim via email oleh al Al Akh Hardi Ibn Harun.) > > > > > > ------------------------------ > > _______________________________________________ > is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > End of is-lam Digest, Vol 26, Issue 86 > ************************************** > > > -- > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG. > Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.16.13/634 - Release Date: 1/17/2007 > 4:45 PM > >
_______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
