Ikhwah fillah,

Melengkapi postingan mas Nizami,
Kira-kira apa ya yang ada dalam bayangan ketika mendengar kata doa ?

Biasanya yang terbayang ialah perbuatan menengadah memohon dengan lisan.


Padahal permohonan itu salah satu saja dari makna doa.


Doa berasal dari bahasa Arab yang berarti menyeru. Istilah dakwah pun berasal
dari akar kata yang sama.

Hanya secara khusus, istilah doa memang cenderung lebih dikaitkan dengan seruan
permohonan, SOS. Ketika kesulitan datang mendera, orang biasanya menyeru,
berteriak memohon pertolongan.


Tapi menyeru dengan apa ? Apakah hanya dengan lisan ?


Bagaimana sikap manusia ketika ada orang yang menyeru kepadanya meminta
pertolongan ? Terlebih apabila yang menyeru itu lisannya saja yang memohon tapi
tingkah lakunya tidak menunjukkan kesulitan ? Biasanya yang muncul malah curiga,
jangan-jangan di balik batu ada udangnya.

Maka seruan doa berdimensi lebih luas dari sekadar permohonan dengan lisan.

Al Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rohimahullah menjelaskan bahwa doa itu tidak
hanya bermakna permintaan. Tapi lebih luas lagi sebenarnya doa itu bermakna
ibadah (yang dilakukan segenap komponen diri tidak terbatas hanya pada lisan).
Karena dalam hadits ditegaskan "Do
'a itu ibadah"(H.R. Abu Daud, Tirmizi, Nasai
dan Ibnu Majah).

Jadi barangkali doa itu adalah kesatuan seruan yang integral dari segenap
komponen-komponen diri. Dimulai dari hati yang pasrah, lisan yang menyerah, dan
sikap ekspresi anggota badan yang sungguh-sungguh.

Pertama dari hati, harus ada pengakuan dan penyerahan hati terhadap yang diseru
dan dimintai pertolongan. Hal ini menuntut pengenalan, orang yang menyeru harus
benar-benar kenal sehingga yakin bahwa yang diseru itu bisa menolongnya. Dalam
hal doa kepada Allah, berarti menuntut ma'rifat yang menhunjam. Kalau ada firman
Allah, "Wa lillaahi Asmaa'ul Husna fad'uuhu bihaa" (Kepunyaan Allah lah Asma-ul
Husna maka berdoalah dengannya - QS. Al A'rof) maka secara tersirat dalam ayat
ini telah terkandung perintah untuk ma'rifat kepada Allah dengan Asma dan
Sifat-SifatNya.

Kemudian lisan, sebagai pernyataan dari apa yang ada dalam hati. Tanpa
pernyataan permohonan tersebut "tidak resmi" sehingga boleh dijawab boleh tidak.
Tapi kalau ada pernyataan, permohonan tersebut menjadi "resmi" yang perlu untuk
dijawab. Tapi sesungguhnya lisan itu bukan hanya lisan fisik berupa daging yang
dinamakan lidah. Lisan itu bisa berupa lisan jiwa yang tak terucapkan. Dan dalam
kaitannya terhadap doa kepada Allah, Allah itu Maha Mendengar, tidak tuli
terhadap setiap ucapan yang tidak terdengar telinga. Maka berdoa pun tidak perlu
teriak-teriak. Terkadang malah celetukan-celetukan nafsu yang tak terlontarkan
pun bisa dikabulkan.

Lalu tidak boleh luput adalah sikap ekspresi anggota badan, gestur, dan apa-apa
yang ada di atasnya. Maka kepasrahan kepada yang diseru perlu dibuktikan ke
dalam tingkah laku. Dalam hadits beliau menyebutkan ada seseorang melakukan
perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya
ke langit seraya berkata : Ya Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram,
minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang
haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. (Riwayat
Muslim). Pembuktian ini tentu tidak hanya dinilai pada saat doa itu terucap
saja, tapi harus terlihat dalam segenap aspek keseharian.

Dalam Al Qur'an, ada istilah lain untuk doa, yakni sholat. Sholat itu ada dua :
kepada Allah dan kepada Rasul (disebut sholawat). Maka sholat ini pula mencakup
dimensi-dimensi yang disebutkan tadi, bahkan lebih luas ke kehidupan
sehari-hari. Maka sholawat kepada Rasulullah membutuhkan pengenalan (ma'rifat
kepada Rasul), dan pembuktian dalam perjuangan meneladani jejak beliau.

Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan bagi semua yang menempuh jalan menuju
keharibaanNya.

Barokallaahu lakum,

= Wizh =
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke