Biar seger di hari Jum'at.

Alllahumma sholli 'ala Muhammad.

= Wizh =

Kita Harus Mulai Revolusi Mental
7 Februari 2007 00:30:32

Selama bangsa Indonesia tidak melakukan Revolusi Mental, maka selama itu kita
tidak akan bisa mengatasi masalah yang dihadapi bangsa ini.  Demikian petikan
perbincangan Gus Mus dengan para aktivis muda NU yang berkiprah di majalah
"Afkar" PCI NU Mesir di tahun 2004. Berikut kutipan lengkap perbincangan
tersebut.

Afkar: Adakah pengertian yang baku untuk sebuah kebudayaan?

GM: Waduh, saya itu paling nggak bisa kalau ditanya soal definisi. Apalagi
tentang kebudayaan. Ya, ringkasnya, kebudayaan itu adalah hasil cipta, karsa,
dan karya manusia.

Afkar: Bertolak dari definisi tadi, bagaimana Gus memandang budaya kita, yang
menurut opini dunia adalah budaya orang-orang terjajah dan tertindas?

GM: Jadi, seperti yang kita ketahui dari sejarah, kita itu mulai dijajah
semenjak zaman raja-raja, lalu dijajah Belanda, dijajah Jepang, selanjutnya
dijajah bangsa sendiri. Karena terlalu lama di jajah, maka budaya keterjajahan
itu menghasilkan dua dikotomi dalam tatanan masyarakat kita, yaitu terdapatnya
dua jenis manusia di Indonesia. Yaitu manusia terjajah dan manusia penjajah.
Kalau yang punya kekuasaan itu cenderung bermental penjajah, dan rakyat
mentalnya mental terjajah. Itu dalam ranah intern bangsa Indonesia. Kalau
dikaitkan dengan dunia, maka penguasa Indonesia pun mentalnya mental terjajah.
Sehingga, kalau anda amati dalam kehidupan berbangsa kita, ketika kita akan
bertemu camat saja, ia akan serupa penjajah di mata rakyat walau pun pada
hakikatnya adalah abdi masyarakat. Dan tidak pernah kita melihat perilaku
pejabat-penguasa yang mencerminkan abdi masyarakat dalam pengertian masyarakat
dianggap majikan. Tetapi sebaliknya, sok kuasa mulai dari lurah sampai ke
atasnya. Nah, sehingga kalau ini tidak dihentikan, artinya bangsa kita tidak
akan pernah merdeka sebagai bangsa! Sebab secara negara kita sudah merdeka,
secara formal kita telah proklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945. Tapi, dari
segi perilaku, kita tak pernah kunjung merdeka, karena kita mempunyai mentalitas
keterjajahan itu.

Dan, satu-satunya yang bisa memerdekakan hanyalah La ilaha illallah. Hanya orang
yang mau dijajah oleh Allah saja yang mau merdeka. Kalau orang tak mau dijajah
oleh Allah, maka ia akan dijajah oleh segala apapun. Oleh isme-isme. Oleh siapa
saja. Nah, sebab inilah, yang akan melahirkan kita menjadi budak-budak. Kalau
kita tidak merdeka, bagaimana kita bisa kreatif, bisa menyikapi dunia dengan
benar....

Afkar: Lalu bagaimana pembacaan Gus atas kemerdekaan bangsa kita, kaitannya
terhadap pengaruh kapitalisme global ?

GM: Ya, seperti yang sudah saya katakan tadi, kalau kita tidak merdeka secara
menyeluruh, ya kita tetap saja, tetap kalah dan tak bisa berbuat apa-apa. Jadi,
dari dulu saya berpendapat kalau bangsa kita belum La ilaha illalah, ya sulit.
Wong mereka (negara imperial-kapital) mau membuat kita seenaknya sendiri, kok.
Mau biru, hijau, merah, itu terserah mereka. Kenapa? Karena kita masih bermental
budak. Makanya kita harus merdeka dulu, baru berfikir menanggulangi itu semua.
Kalau kita belum merdeka, ya, sulit sekali. Apalagi kita itu kan, serupa orang
desa melihat orang kota. Dunia ketiga ini desa, dan negara adikuasa itu kota.
Ya, gambarannya persis orang desa kita yang melihat orang kota itulah. Orang
kota modelnya gini, orang desa ikut-ikutan. Silau. Pokoknya kalau yang kota
pasti hebatnya. Dan, terhadap negara-negara maju pun kita begitu, seperti orang
desa melihat orang kota tadi. Silau dulu. Dan kalau silau, ya nggak bisa lihat
apa-apa. Apa saja ditiru. Termasuk Orba ketika mau membangun ekonomi, dia
melihat orla yang panglimanya politis, dirubah dengan panglimanya ekonomis. Dan
ketika mau membangun ekonomi yang menjadi contoh negara-negara maju, dan itu
wajar. Cuman yang menjadi tidak wajar, Indonesia kalau meniru, pokoknya meniru
tidak perduli pantas atau tidak. Jadi ketika Orde Baru meniru Barat ya
kapitalis, Sehingga hasilnya akan melahirkan manusia-manusia yang materialistis
dan hedonis. Materalistis atau hedonis kalau kaya ya... lumayan hasilnya, lha,
itu mlarat tapi meniru orang kaya. Jadi, kemarin-kemarin itu diskapitalis lah,
cuman dari dulu, sejak Soekarno sampai Soeharto mereka itu orang Jawa. Namanya
orang Jawa itu paling pinter eufemisme, memperhalus kata. Biar tidak ketahuan
serem lalu nangkap orang (menculik) dibilang mengamankan, naikkan harga terlalu
serem lantas menyesuaikan harga, kapitalis dibilang ekonomi pancasila. Sekarang
ini manusia Indonesia mulai dari yang paling bawah sampai ke atas, di bawah
sadar semuanya materialistis, ngaku atau tidak. Sampai pada manusia-manusia
'agamis
'. Contohnya Modin. Modin itu asalnya dari imamuddin, pemimpin agama di
desa. Tapi di batok kepalanya itu meterialis, kalo di undang tahlilan orang
melarat, tahlilnya cuma dua kali atau tiga kali, bahkan kadang-kadang langsung
dungo (do'a). Tapi kalau diundang orang kaya tahlilnya bisa sampai seribu kali.

Afkar: Dengan demikian bagaima-nakah konsep yang lebih menuju pada pergerakan
atau beberapa hal yang bersifat realisme sosialis sebagai counter budaya
terhadap hegemoni kapitalisme global tadi ?

GM: Kita kan punya falasafah yang sangat bagus sekali, Ketuhanan yang Maha Esa.
Falsafah itu menjiwai semuanya. Lailahaillah itu yang pertama, baik itu berupa
pergerakan ataupun pemikiran. Jadi gerakan apapun kalau tidak didahului dengan
Ketuhanan yang Maha Esa dalam pengertian Lailahaillah maka, akan sia-sia. karena
sekarang kita itu dijajah oleh materi berarti kita tidak dijajah oleh Tuhan
saja. Kalau Tuhan kita jadikan satu-satunya penjajah kita otomatis yang lain
menjadi budak kita. Maka kalau kita tidak mau hanya dijajah oleh Tuhan, semuanya
akan menjadi Tuhan. Jadi sekarang kepentingan menjadi Tuhan, bahkan kepentingan
orang banyak yang berbeda-beda, jadi Tuhannya banyak.

Afkar: Terus bagaimana kaitannya dengan budaya murni Indonesia sendiri, yang
dalam sejarah panjangnya pernah bergaul dengan berbagai bentuk agama?

GM: Hindu, Budha, Islam semuanyakan mengenal ketuhanan. Itukan universal, bahwa
yang berkuasa itu Allah. Cuman masalahnya hal itu tidak diimplementasikan dalam
kehidupan. Sehingga kita berlebihan dalam memandang dunia, yang kata orang jawa
dunia itu cuma mampir ngumbe (minum). Dan sekarang, pepatah itu tidak laku, yang
laku dunia itu malah sebagai tempat ngebrok (tinggal) bukan sekedar mampir. Nah,
ketika dunia itu menjadi tujuan, ya menjadi ro'su kulli khoti'atin, karena
sumber dari segala malapetaka kita adalah ketika dunia, materi sudah dianggap
Tuhan (baca: ghoyah).

Sehingga kita harus berani membikin gerakan, atau kalau istilah saya selama ini
harus ada revolusi mental dari Tuhan banyak (polytheisme) menjadi Tuhan satu
(monoteisme). Dari tuhan-tuhan berupa materialisme, rasialisme, dan isme-isme
yang lain dilebur dan diganti hanya dengan Allah yang kita Tuhankan.

Saya dalam berkesenian, setiap ditanya bagaimana konsep kesenian saya, saya akan
jawab konsep kesenian saya yaitu Lailahaillah. Saya tidak akan terikat oleh
apapun ketika membuat puisi, dan ketika melukis saya tidak mau diperbudak oleh
cat, kuas, komposisi, dan isme-isme. Akan tetapi selama saya tidak dilarang oleh
Allah saya akan melakukan itu, karena semuanya adalah budak, Tuhan saya cuma
Allah. Dan kira-kira konsep itu bisa menjadi gerakan apa tidak? Dimana
menjadikan semuanya materi budak. Dan saya masih mempercayai itu, sedang
teori-tori yang lain silahkan lah, saya tidak mau kalau teori tersebut
menghambat kemerdekaan saya. Dan saya selalu mengatakan, selama kita tidak
melakukan revolusi mental kita akan mengalami masalah terus dalam membina bangsa
dan negara ini.

Afkar: tentang revolusi mental tersebut, banyak dari berbagai kalangan seperti
budayawan yang mengarah kesitu, dengan menitik beratkan pada pendidikan. Lebih
tepatnya lagi pendidikan yang membebaskan terhadap kapitalisme global. Nah
bagaimana dengan pesantren sebagai model klasik sistem pendidikan NU, apakah
telah mengarah atau memberikan kesadaran kesana?

GM: Jadi NU itu bagian dari bangsa indonesia. Ketika bangsa Indonesia di bawah
penguasa orde baru 32 tahun lamanya. Dari situ, saya sering menggunakan istilah
kalau Pak Harto itu sebagai guru besar, kita ini siswa didik Pak Harto selama 32
tahun. Bayangkan aja selama itu kalau di perguruan tinggi, sudah sampai 'S'
berapa? Selama itu kita dididik untuk mencintai dunia sedemikian rupa. Dan
metode Pak Harto Cs itu metodenya Rasulullah, metode ketauladanan. Jadi kalau
mencintai dunia ya ditunjukkan dengan keteladanan. Mengajak orang kaya ya
diteladani diri sendiri, "aku kaya ini!". Contohnya gampang, Pak Harto kaya,
anaknya kaya, semuanya kaya, rakyat jadi berpikir, "oiya ya ternyata kaya itu
memang enak"(Gumam rakyat). Nah seperti tadi saya katakan, hal itu dari mencotoh
negara kapitalis tanpa melihat ukuran, potongan kita. Cocok tidak kita
menggunakan sistem kapitalis, kalau tidak cocok ya rusak.

Semua itu termasuk dalam tubuh NU, tapi kita tidak boleh menggeneralisir
terhadap sebuah sekelompok manusia di Indonesia. Artinya yang tidak begitu juga
ada, di sini mungkin kaum muda yang belum begitu tercemar, ada juga orang yang
bisa membentengi diri, ada juga yang bisa memotong sejarahnya. Namun jika
dilihat secara keseluruhan jumlahnya itu sangat sedikit. Maka diperlukan gerakan
itu tadi (revolusi mental). Sekarang kan sulit untuk menjadi sederhana, hidup
bergaya sederhana saja sudah sangat tidak sederhana, sangat mewah sekali. Jadi
kayak pondok-pondok pesantren segala macem tidak lagi menjadi simbol
kesederhanaan, kemandirian. Namun sekarang harus mewah, harus wah segala macem.

Afkar: Jadi pesantren sendiri sudah mengalami semacam reduksi kalau begitu?

GM: Extrimnya begitu, jadi pesantren itu bukanlah sesuatu yang berada terpencil
pada suatu pulau, namun pesantren itu hidup bersama-sama. Bahwa ia akan kena
pengaruh itu jelas. Cuma sekarang tinggal pesantren sendiri seberapa kuat dia
mempertahankan diri dari pengaruh tersebut. Sebetulnya kita punya suatu ungkapan
yang luar biasa, yaitu almukhafadlatu ala al-qodimi sholikh wal akhdzu bil
jadidi al-ashlah. (kira-kira : memelihara peninggalan lama yang baik dan
mengambil yang baru yang baik - Wizh ) Itu tidak ada yang punya, kita punya itu
sebetulnya luar biasa. Jadi, adagium itu mejadi semacam filter. Harus ada, bahwa
ini pengaruh baru yang lebih baik, tidak mengapa kalau kita ambil, tapi jangan
membuang hal-hal yang sangat baik untuk ditukarkan dengan sesuatu yang tidak
jelas baiknya. Kita ambil contoh, kolonialis Belanda lama mencekoki kita sampai
pada pola pendidikan yang tertuang dalam bentuk sistem pendidikan nasional kita.
Sistem tersebut mendikotomikan antara pendidikan agama dan non agama/umum. Ini
betul-betul skenario Belanda untuk membikin kita terpecah. Yang formal gak tahu
agomo (agama), yang sekolah agama seperti di pesantren gak ngerti ndunyone
(dunia). Akhirnya yang pinter umum ngakali (membodohi) orang pesantren, karena
tidak tahu dunia. Dan sekarang ini di pesantren sudah ada kesadaran. Kita kalau
lihat di kitab-kitab kuning itu di Ihya' misalnya, gak ada ilmu agama ilmu non
agama, yang ada ilmu fardlu 'ain dan ilmu fardlu kifayah. Tapi cekokan sekian
lama itu membuat kita lupa ajaran kita sendiri, kita terima sebagai sesuatu
kebenaran yang kita ikuti terus. Selanjutnya berangkat dari kesadaran tersebut,
para kiyai atau pengasuh ada yang bilang " ini lho madrasah saya ada umumnya ",
atau " ini lho sekolah umum tapi ada pelajaran agamanya". Hal ini sudah menjadi
kesadaran bahwa pesantren tidak mau kolot lagi. Cuman kemudian ada yang
berlebihan ketika misalnya pendidikan pesantren itu mengandung dua hal, yaitu
ta'lim wa tarbiyah (pengajaran dan pendidikan). Pesantren itu keunggulannya ada
di segi tarbiyah (pendidikan). Dari segi pengajaran (ta'lim) menurut ilmu modern
pesantren dinilai jelek sekali. Tidak ada kurikulum yang jelas, silabus , sistem
jenjang kelas dan sebagainya, semuanya itu dulu selalu dikritik. Lha itu apa?
Nulis aja di bangku, di geger (punggung) kawannya duduknya di tembok, ngajinya
kadang kiayainya, terlebih santrinya sambil ngantuk-ngantuk.

Karena dikritik ini pesantren akhirnya bangkit, sekarang setiap pesantren
memiliki madrasah yang bagus-bagus, ada kurikulum, silabus, ruang kelas yang
representatif, tenaga didiknya juga bagus. Tapi sayang banyak pesantren itu yang
kemudian menghilangkan keunggulannya tadi, memperbaiki ta'limnya, tapi
meninggalkan tarbiyahnya. Begitu pesantren sudah bagus secara tarbiyah maka
pendidikannya diabaikan. Ini namanya tidak mukhafadzoh atas alqodimis sholikh
tapi hanya al-akhdzu bil jadidi al-ashlah. Dan tidak jarang kiyai apabila
pondoknya sudah bagus maka tidak begitu peduli sama santrinya. Padahal
pengajaran itu hanya pemberian (transfer) informasi saja, tidak bisa merubah
perilaku manusia. Dan yang bisa bisa merubah itu adalah tarbiyah. Karena itu,
maka banyak jebolan dari pesantren tapi mereka tidak terdidik. Orang alim banyak
dan bervariasi namun prilakunya gak karu-karuan, berjibun orang pandai di
Indonesia, baik umum atau agama tapi yang terdidik sangatlah sedikit. Sampeyan
lihat sekarang, di sekolah formal
 itu hampir-hampir tidak ada pendidikan , kecuali di TK. Dari SD keatas terlihat
siswa di biarkan begitu saja, tidak ada kontrol yang edukatif, efektif dan
konstruktif.

Afkar: Dari situ saya melihat, bahwa hubungan antar agama dan budaya tampak
kurang akur, atau bahkan pada emosi tertentu sering terasa kontradiktif. Padahal
keduanya sama-sama menjadi penyokong sebuah peradaban, kenapa bisa demikian?

GM: Ini juga akibat dari dikotomi agama dan umum. Lihat di APBD dan APBN, agama
menyempit hanya menjadi sektor. Ada sektor ekonomi, sektor pilitk, terus, ada
sektor agama. Jadi agama itu sektor. Dan dengan itu orang Islam bangga sekali.
Bahwa mereka masuk dalam GBHN, padahal itu dalam sektor kecil. Dan anda lihat
isinya itu, sejak zaman Soeharto dilantik menjadi presiden sampai ia lengser,
itu isinya ya, bantuan untuk bangun mesjid, untuk bangun madrasah, untuk bantu
pesantren. Lalu, kalau masjid dibangun, jalan raya tidak, lalu bagaimana? Jadi
agama ini yang ini apa yang apa? Kita selalu mengatakan agama dan budaya, agama
dan politik, seolah-olah agama ini tidak meliputi seluruhnya. Menurut saya tidak
begitu, semuanya itu ya harus ada agama. maka tidak perlu lah agama masuk GBHN
segala. Artinya, semuanya harus agamis, setiap perencanaan dan pelaksanaan itu
harus dijiwai takwa kepada Tuhan YME. Cuma hal itu tidak pernah dijelaskan
bagaimana penjabarannya. Karena kita sudah bangga dengan yang namanya agama
duluan. Adalagi, agama masuk ke sekolah-sekolah, ada demonstrasi segala macam,
ingin mengadakan dari mulai TK sampai perguruan tinggi harus ada pelajaran
agama. Orang tidak pernah memikirkan, apa sih pelajaran agama itu? Pernah anda
lihat apa yang terjadi? Saya itu pernah lihat, ujiannya anak-anak sekolahan,
berapa syarat rukunnya shalat? kalau angka dan jawabannya sudah benar, ya sip.
Dalam prakteknya shalat dikerjakan atau tidak itu bukan urusan. Apa itu yang
kita inginkan? Maka menurut saya gak usahlah memberi embel-embel agama, sebab
akan mempersempit agama itu sendiri, selanjutnya agama jadi sektor.

Afkar: Apa itu tidak menjadikan campur aduk?

GM: Lha, ya harus campur aduk. Wong agama itu ya mengaduk-aduk perilaku manusia.
Jadi apapun harus diaduk agama

Afkar: Sebagai moral begitu?

GM: Bukan hanya sebagai moral. Sampeyan kalau jadi seniman, sampeyan harus
Islami kalau orang Islam. Jadi tidak perlu ada sastra religius dan segala macam.
Orang religi, ya sastranya harus religius dong. Kalau tidak, ya, berarti imannya
kurang, begitu saja, harus otomatis.

Afkar: Kembali pada permasalahan awal, tentang counter budaya. Bahwasannya
realita yang ada, seluruh aset bangsa kita itu ternyata bukan lagi milik kita.
Tetapi milik asing, bagaimana Gus?

GM: Tentu saja sebab kita tidak berkuasa. Sejatinya, kita adalah hamba Tuhan
yang diperintah untuk menjadi penguasa, bukan untuk jadi budak. Kita diciptakan
oleh Tuhan kita untuk jadi khalifah. Tetapi kita itu lucu, kepada Tuhan kita
tidak memperhambakan diri, tapi justeru kita memperhambakan diri pada selain
Allah. Itu keliru! Kalau kita tidak memperhambakan pada Allah, dan
memperhambakan pada siapa saja, maka kita tidak punya nilai apa-apa. Akhirnya
kita akan jadi budak. Sebab budak itulah tidak punya apa-apa. Kalau
permasalahannya bangsa kita tidak memiliki apa-apa, ya, sebab bangsa kita bangsa
budak. Cara satu-satunya agar memiliki sesuatu, ya harus jadi penguasa. Supaya
jadi penguasa dia harus tidak menyembah yang lain, dia hanya menyembah Tuhan
saja.

Afkar: Tapi, melihat fenomena zionisme Yahudi, itu ternyata 'menjadi penguasa'
dunia berikut asetnya. Sedangkan kita yang merasa memiliki, dekat dengan Tuhan
kok ternyata belum ada gerakan ke sana. Bagaimana Gus menyikapi hal ini?

GM: Andai saya tidak punya Tuhan, saya pesimis melihat Indonesia. Tapi sebab
saya punya Tuhan, ya saya jadi optimis.

Ada yang menarik dari teladan nabi kita. Bahwa beliau memiliki dua konsep dalam
menyikapi 'kekayaan'. Yaitu terdapat kaya dari dalam dan kaya dari luar. Nabi
punya do'a yang ternyata umatnya-terutama zaman sekarang-yang malah tak berani
berdo'a dengan itu. Allahumma ahyina miskinan wa amitnaa miskinan. (Ya Allah
hidupkanlah kami dalam keadaan miskin dan wafatkanlah kami dalam keadaan miskin
- Wizh )Kenapa tidak ada yang berani berdo'a dengan do'a ini, kenapa? Kenapa
nabi berdo'a dengan itu sedang kita tidak? Sebab nabi berada dalam posisi bisa
memilih. Memilih antara kaya dan miskin, beliau ketika melarat dia bisa kuat,
miskin pun bisa kuat. Sehingga bisa memilih. Kalau kita? Melarat tak kuat, kaya
juga tak kuat. Padahal, intinya kaya kan ajaran kita. Maka, ketika kita tak bisa
kaya dari dalam, ya kita kaya dari luar. Tapi kita tidak kuat. Kaya dari dalam
kita tidak bisa, dan kaya dari luar kita tidak kuat. Akhirnya kita melarat
total. Ketika kita melarat total, ya tidak bisa berbuat apa-apa, jadi budak
terus.

Afkar: Tetapi fenomena di dunia ini, ternyata Eropa dan negara-negara Barat, itu
bisa maju tanpa 'adanya' Tuhan?

GM: Peradaban itu maju atau tidak, itu menurut pandangan siapa dulu. Ketika
peradaban kapitalis dikatakan maju, ya yang mengatakan pasti orang kapitalis
juga. Apakah peradaban yang maju itu ketika orang punya mobil, teknologinya
maju, dan segala macam atau yang seperti apa? Sekarang saya tanya, peradaban
rasul itu peradaban tinggi atau rendah? - Tinggi pada zamannya,- (sela Afk).
Nah...! Pada zaman itu, kehidupan sangat sederhana sekali. Menempatkan dunia
pada sesuatu yang sebetulnya. Hanya wasilah. Nah, sekarang kan berbalik, dunia
menjadi tujuan. Ketika dunia menjadi tujuan, maka berbalik lah pemikiran
manusia. Yaitu peradaban yang hebat, adalah peradaban yang bersifat duniawi.
Saya menolak tesis demikian. Menurut saya malah itu bukan peradaban. Biar semua
orang mengatakan peradaban saya tidak. Saya bebas. Wong saya hanya tunduk pada
Allah kok. Ya, kuncinya di situ itu. Apakah namanya peradaban jika manusia
dianggap mesin, jika manusia dianggap tidak mempunyai ruh, jika manusia dianggap
sumber daya? Kita itu latah juga mengatakan kita itu sumber daya, kayak alam
aja, yang kesananya untuk apa? Untuk produksi. Apakah namanya peradaban kalau
mereka menciptakan teknologi canggih padahal merusak dunia, lebih mengerikan
lagi untuk membunuh. Saya tegaskan tidak!!! [Darjie/Atceng]

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke