Bismillaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim. Bermewah-mewah (baik untuk memewahkan masjid atau rumah pribadi maupun untuk memewahkan penampilan pribadi) dan memakmurkan masjid adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah suatu hal yang harus dijadikan "warning" bagi manusia. Sebab hal itu akan melalaikan manusia dari mengingat (dzikir) tentang dan kepada Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta manusia. Jika manusia sudah lalai kepada Allah, hal itu akan berlanjut kepada "tidak mentaati" Allah dan apa pun yang berasal dari-Nya. Bermewah-mewah adalah hal yang bisa berakibat fatal ! Sebaiknya jangan begitu ! Dengan ilmu yang ada, sesungguhnya mereka bisa mengetahui kebenaran kefatalan itu. Karena dengan ilmunya itu, mereka bisa melihat "neraka jahim" yang mengancam itu. Bahkan pada suatu saat kelak, mereka pasti akan menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Sedangkan "memakmurkan masjid" adalah hal yang menjadi indikator "adanya orang-orang yang beriman". Adalah hal yang tidak pantas bila ada orang-orang kafir diajak serta atau bahkan memprakarsai untuk "memakmurkan masjid". Sebab mereka memang telah menyatakan dirinya kafir kepada Allah, di mana masjid adalah suatu tempat pemujaan kepada Allah bagi seluruh manusia yang beriman. Secara hukum alam yang normal, maka tidak akan ada orang yang tidak beriman untuk memakmurkan masjid. Atau bisa juga kalimatnya dibalik !, mereka yang tidak memakmurkan masjid Allah, mereka pastilah tidak beriman kepada Allah. "Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang akan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS 9:18) Para pembaca di Indonesia, mungkin dapat melihat fakta empiris ini. Hanya plus minus 10% orang-orang yang datang dan shalat di masjid di sekitar rumah tinggal mereka, meskipun secara statistik 100% penduduk di sekitar masjid itu mengaku beragama islam. Nah dari yang 10% ini, berapa persennya lagi, jika kepada mereka ditawarkan agar berani menunjukkan diri "saya adalah orang islam" dengan sikap dan prilaku yang benar-benar islam ? Jika hal ini terjadi terus menerus di tengah kita, kapan cita-cita kita bisa terlaksana agar seluruh orang yang mengaku beragama Islam dapat diterapkan "syari'at Islam" atau kapan "hukum Islam dapat diterapkan bagi para pemeluk-pemeluknya" ? Di Republik ini, saat ini lebih kurang 80% rakyatnya mengaku "saya beragama Islam". Jika hanya kepada yang 80% ini akan diterapkan syariat islam, apakah reaksi mereka ? Saya yakin, berdasarkan fakta empiris yang hanya 10% penduduk muslim yang shalat rutin dan tetap di masjid Allah, maka akan sebanyak 100% - 10% atau 90%nya tentu akan menolaknya ! Belum lagi ditambah dengan suara keras dan lebih keras lagi dari penduduk yang non muslim, yang corong suaranya memang lebih kuat dan keras. Nah "Siapa berani terima tantangan" untuk membalikkan angka fakta empiris ini, dari 10% menjadi 90% ? Demikian, mohon maaf wa salamun alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Syaifuddin Ma'rifatullah - Medan. SMS +628527 567 0043 ----- Original Message ----- From: "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]> To: "is-lam" <[email protected]> Sent: Monday, April 30, 2007 9:28 AM Subject: [is-lam] Memakmurkan Masjid VS Memewahkan Masjid > Assalamu'alaikum wr wb, > Berikut satu artikel yang menarik sekali. Dari > berbagai hadits disebutkan bahwa kita dilarang > bermewah-mewahan dalam menghias masjid sebab itu > adalah satu tanda dari dekatnya kiamat. Dan orang yang > hidup dekat kiamat adalah manusia yang bobrok > akhlaknya dan rusak agamanya > > Allah melarang kita bermewah-mewahan dan menghamburkan > uang. > > "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu" [At > Takatsuur:1] > "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat > akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam > perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan > (hartamu) secara boros. > Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah > saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat > ingkar kepada Tuhannya." [Al Israa':26-27] > > Hendaknya uang diberikan kepada keluarga dan fakir > miskin. Bukan dipakai untuk menghias masjid secara > mewah seperti melapis kubahnya dengan emas. > > Masjid seharusnya kuat, besar (cukup untuk > jama'ahnya), bersih, rapi dan wangi di mana orang > bebas beribadah kepada Allah di dalamnya. > > Percuma masjid mewah jika masjid lebih sering terkunci > karena pengurus takut masjidnya kecurian sehingga > orang tidak bisa beribadah menyebut nama Allah. > > Wassalam > > http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/05/0108.htm > Memakmurkan Masjid > Ir. H. BAMBANG PRANGGONO, M.B.A, I.A.I. > > KEGIATAN Rasulullah saw. yang pertama ketika hijrah ke > Madinah ialah membangun sebuah masjid. Dindingnya dari > tanah liat, tiangnya batang kurma, lantainya pasir dan > atapnya pelepah kurma. Apakah karena kondisi ekonomi > masih prihatin? Ternyata tidak. > > Dalam kitab Dalail Al-Nubuwwah, Al-Baihaqi > meriwayatkan dari Ubadah ibn Shamit bahwa kaum Ansar > mengumpulkan harta dan mendatangi Rasulullah saw. > seraya berkata "Wahai Rasulullah, bangunlah masjid dan > hiasilah seindah-indahnya dengan harta yang kami bawa > ini. Sampai kapan kita harus salat di bawah pelepah > kurma?" > > Beliau menjawab, "Aku mau seperti saudaraku Nabi Musa > a.s., masjidku cukup seperti arisy (gubuk tempat > berteduh) Nabi Musa a.s. Hasan menjelaskan bahwa > ukuran arisy Musa a.s. adalah bila Rasulullah saw. > mengangkat tangannya maka atapnya akan tersentuh. > Kisah itu membuktikan bahwa kesederhanaan arsitektur > Masjid Nabawi yang asli di Madinah bukanlah karena > kurang biaya. Tetapi memang disengaja oleh Rasulullah > saw. untuk diteladani umat Islam. > > Beliau bersabda. "Aku tidak diutus untuk menghias-hias > masjid". Dalam Hadis lain beliau bersabda, "La taqumu > al-sa'ah hatta yatabahannasu bil masajid" tidak datang > saat kehancuran sampai manusia berlomba > bermegah-megahan dengan masjid-masjid. Masih banyak > lagi hadis serupa, misalnya yang terdapat dalam kitab > At-Targhih wa at-Tarhib bahwa sahabat Anas r.a. pernah > keluar menyertai Rasulullah saw. Lalu tampak oleh > beliau bangunan tinggi berkubah. > > Beliau bertaya, "Apa itu?" Para sahabat menjawab bahwa > itu adalah kubah milik si Fulan, orang Ansar. > Rasulullah saw. bersabda, "Semua bangunan megah akan > menjadi beban bagi pemiliknya di hari kiamat." Maka > sahabat Ansar tadi dengan patuh meruntuhkan kubah itu. > Lantas Rasulullah saw. mendoakannya dua kali, > "Yarhamullah, yarhamullah" Semoga Allah merahmati dia. > Prinsip bangunan masjid sederhana ini dipegang teguh > oleh beliau sampai wafat. > > Ini diteruskan oleh empat Khulafa'ur rasyidin, Abu > Bakar, Umar, Usman, dan Ali r.a. Mereka adalah para > khalifah yang paling saleh dan paling paham tentang > Islam. Di zaman merekalah wilayah Islam meluas dengan > pesat meliputi kerajaan Mesir, Persia, dan Rumawi. > Tetapi di tengah melimpahnya harta dari segala > penjuru, arsitektur masjid Nabawi tetap sederhana > sesuai pedoman Rasulullah saw., walaupun ukuran masjid > mengalami perluasan berkali-kali. > > Baru setelah Muawiyah, anak Abi Sufyan menjadi > khalifah, negara diubah menjadi kerajaan dan ibu kota > pindah dari Madinah ke Damaskus. Dia dan keturunan > hidup bermewah-mewah membangun istana pribadi berkubah > hijau dan juga masjid Umayah yang megah. Pelanggaran > prinsip ini berkelanjutan sepanjang sejarah Islam. > Masjid-masjid mulai dibangun dengan arsitektur semakin > mewah di seluruh dunia. > > Bila sejarah diteliti, maka akan terungkap bawah > sebagian besar istana masjid-masjid monumental itu > dibagun oleh penguasa yang perilakunya tidak terlalu > islami. Barangkali untuk mengimbangi rasa bersalah > kemewahan hidupnya, mereka membangun juga masjid yang > megah. Raja-raja yang saleh biasanya tidak > meninggalkan arsitektur masjid mewah. Arsitek masjid > megah tedapat dari Maroko sampai Spanyol. Dari Turki > sampai India, Iran, sampia Asia Tenggara. > > Termasuk masjid Nabawi di Madinah sendiri saat ini > dibangun super mewah, dan sangat boros energi. Saking > mahalnya sampai pintu dikunci jam 10 malam, takut ada > pencuri hiasan emas murni di dalamnya. Dan anehnya > kita ikut berbangga untuk hal yang dikecam oleh > Rasulullah saw. Alasan klasik biasanya ialah, demi > syi'ar Islam, bangunan masjid harus melebihi megahnya > gereja dan kuil. Tetapi adakah hal itu diperintahkan > dalam Alquran atau hadis atau ucapan sahabat? > > Sayang sekali perintah itu tidak ditemukan, yang ada > justru kecaman. "Alhakum at-takatsur hatta zurtumu > al-maqobir". Kalian dilengahkan oleh berlomba > kemegahan dan kuantitas, sampai ke tepi liang > kubur.(At-Takatsur 1,2). Memang ada hadis, "Inna'llaha > jamilun yuhibbu al-jamal" Allah itu indah dan Dia > cinta keindahan. Namun ketika keindahan itu harus > dibayar mahal perbuatan itu bisa masuk kategori isrof > (berlebihan), yang justru dibenci Allah dalam Alquran > Al-An'aam: 141: "Innahu lau Yuhibbu al-musrifin". > Sesungguhnya Dia Allah tidak mencintai orang yang > berlebihan. > > Kita hanya mengagumi tampilan fisik tetapi lupa akan > jiwa dan niat dan aktivitas masjid. Padahal Rasulullah > saw. bersabda, "Inna 'Illaha la yandzuru ila suwarikum > wala ila amwalikum. Walakin yandzuru ila qulubikum wa > a'alikum" Sesungguhnya Allah tidak melihat > penampilanmu dan kekayaanmu. Melainkan Dia melihat > hatimu dan amalmu. Bila prinsip ini diterapkan kepada > penilaian masjid, maka yang dinilai seharusnya bukan > hal fisik keindahan luar seperti tingginya kubah dan > menara, mengkilatnya lantai granit dan empuknya > permadani. Mahalnya lampu kristal. Indahnya ukiran > ornamen di mimbar dan kaligrafi di dinding. Melainkan > hal yang lebih abstrak berupa ketulusan niat membangun > masjid, keikhlasan pengurus. > > Kemakmuran salat berjama'ah sejak salat subuh, > kreativitas pemuda, kesucian sumber dana, kejujuran > penyaluran dana, dan efektivitas dakwah yang dirasakan > oleh masyarakat sekitarnya. Kebersihan fisik memang > dianjurkan oleh Rasulullah saw., dengan melarang > meludah dan makan sejenis bawang bila masuk masjid. > Tetapi kebersihan batin juga disyari'atkan, dilarang > berjual beli dan mengumumkan barang hilang di masjid. > > Niat juga penting. Allah SWT memerintahkan > menghancurkan masjid dlirar yang bagus di Madinah, > hanya karena niat buruk kaum munafik yang membangunnya > untuk memecah belah kaum Muslimin. Paradigma > arsitektur masjid harus dikoreksi. Tampilan fisik > masjid tidak penting. Keindahan bukan prioritas > pertama. Fungsi pokok masjid harus didahulukan. > Tegaknya syari'at di lingkungan sekitar masjid, > kekompakan persaudaraan Islam, Kepekaan terhadap > kesenjangan sosial adalah standar yang dicontohkan > oleh Rasulullah saw. dan para penerusnya. Setelah > sasaran itu terlaksana, barangkali tidak mengapa sisa > dana dipakai memperindah masjid. Wallahu a'lam.*** > > Penulis Ketua Korps Mubalig, Dewan Masjid Indonesia, > Jawa Barat. > > > === > Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? > Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] > http://www.media-islam.or.id > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > _______________________________________________ > is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
