Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

Urusan akidah adalah urusan antara diri sendiri dengan Allah. Artinya yang
paling bertanggung jawab terhadap akidah dan keyakinan diri ini ya adalah diri
ini sendiri juga, bukan orang lain.

Di hadapan Allah nanti, tak bisa misalnya kita mengkambing hitamkan orang lain
atau takdir Allah sebagai alasan kemurtadan diri kita.

Misalnya takdir Allah yang dinubuatkan Rasulullah sholallaahu 'alaihi wa sallam
bahwa umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan, tidak bisa dipakai alasan
bahwa dengan demikian orang bisa jadi murtad. Sebab mau murtad atau tidak,
takdirnya umat ini adalah berpecah belah, ini adalah fixed constrain. Adapun
variable constrain-nya ya KETAHANAN AKIDAH diri kita sendiri.

Allah Azza wa Jalla telah berfirman : "Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya
teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa
yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya
sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu
mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu."
(QS. Yunus).

Sehingga akar permasalahannya jelas, yang jadi titik lemah ialah KETAHANAN
AKIDAH umat Islam itu sendiri.

Pertanyaan berikutnya : Kenapa ketahanan akidah ini bisa lemah ? Apa mau
menyalahkan takdir lagi ?

Jelas sebabnya bermacam-macam, diantaranya ialah maksiat yang dilakukan oleh
diri kita sendiri. Kata Imam Syafi'i Ilmu itu Cahaya Allah dan Cahaya Allah
tidak diberikan pada orang yang bermaksiat. Barangkali karena maksiat yang kita
lakukan maka ilmu Allah itu tidak bisa meresap dan menghunjam di dalam hati
sehingga ketahanan akidah menjadi lemah dan mudah dimurtadkan.

Atau memang karena kita sendiri sudah malas untuk belajar ? Padahal sabda
kanjeng nabi sholallaahu 'alaihi wa sallam, innamal 'ilmu bit ta'allum, jadi
cahaya Allah yang memperkuat ketahanan akidah hanyalah bisa masuk ke dalam hati
bila diundang dengan proses belajar. Kalau kita tidak pernah atau malas-malasan
belajar (ngaji)nya, bagaimana akidah bisa kuat ?

Sekarang ada kasus menarik yang diutarakan, kenapa guru ngaji atau lulusan PT
Islam bisa jadi murtad ? Perlu diteliti ketahanan akidah dari korban. Sebab
ternyata belajar PENGETAHUAN agama banyak-banyak tidak menjamin seseorang
menjadi selamat akidahnya. Pengetahuan agama baru bisa memperkuat akidah apabila
menjadi ILMU (Beda lho antara "pengetahuan" dengan "ilmu") yakni yang
menimbulkan keyakinan dalam hati.

Semoga diri ini masih layak menerima limpahan cahaya Nya.

Wallahul musta'an,

= Wizh =



Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   is-lam <[email protected]>
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)

Subject:  [is-lam] 41 Lulusan PT Islam/Pesantren Dimurtadkan



Assalamu
Æalaikum wr wb,
Berikut SMS dari pak Diki Candra dari Forum Arimatea.
Meski jumlah ummat Islam mencapai 80% dan non Muslim
hanya 20%, namun ummat Islam saat ini terpecah-belah
dan sering bertengkar satu sama lain mengklaim
kelompoknya paling benar sambil menyalahkan kelompok
lainnya.

Akibatnya jika terpecah jadi 10 kelompok saja pecahan
ummat Islam jadi tinggal 8%. Jika satu sama lain
saling menyerang bisa jadi kekuatannya= 8-8 jadi 0%
saja.

Tak heran jika ummat Islam saat ini tertinggal di
bidang ekonomi, politik, atau pun penguasaan media
massa. Bahkan banyak yang dimurtadkan oleh agama lain.

Wassalam

YANG PAHITPUN HARUS DISAMPAIKAN
Sampai hari ini, kami mencatat sudah ada 41 lulusan
Perguruan Tinggi Islam/Pesantren/Guru ngaji yang
murtad menjadi Pendeta/Missionaris/aktifis gereja.
Yang terakhir bernama Saefuddin Ibrahim 43 thn, S1
Ushuludin UMS (Universitas Muhammadiyah Solo), S2 nya
Sastra Arab, pernah mondok di Pesantren Mahasiswa
Sobran Solo. Berasal dari Pemuda Muhammadiyah Bima
NTB.
Terakhir 7 th sebagai Dewan Guru di Al Zaitun (Diki
Candra / ARIMATEA/081807013328/0818866978)

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke