Dengan atas nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, marilah kita semua 
berserahdiri sepenuhnya kepada apa pun yang dikehendaki Allah untuk kita 
melakukannya.

Kita semua manusia, dari awal sengaja diciptakan oleh Allah untuk menjadi 
"Khalifah"-Nya di bumi ini. Menjadi Khalifah Allah adalah "bertindak dengan 
atas nama Allah". Bertindak dengan atas nama adalah suatu kegiatan di mana kita 
hanya melakukan sesuatu itu sesuai dengan apa yang dikehendaki fihak yang kita 
atasnamakan.

Mengatasnamakan adalah tindakan mewakili. Bila seseorang "disuruh" oleh 
seseorang lainnya melakukan sesuatu atasnama-nya. Bagaimana bila kita sebagai 
manusia yang diciptakan Allah "disuruh" Allah untuk melakukan sesuatu, bolehkah 
kita disebut "pesuruh Allah" ?

Apa yang dimaksud dengan "pesuruh Allah" ?

Mohon maaf, saya hanya ingin mengajak kita semua berjalan di jalan yang lurus 
dan berlaku lurus saja, jangan terpengaruh bujukan2 yang membuat kita tidak 
lurus berjalan.

Jika demikian halnya, maka semua manusia seharusnya adalah juga pesuruh Allah, 
karena mereka adalah "Khalifah Allah" dan mereka harus selalu bertindak dengan 
atas nama (baca: bukan dengan menyebut nama saja) Allah, kapan pun dan di mana 
pun.

Terim kasih atas perhatiannya - Selamat menunaikan shalat Jum'at pada hari 
"Raya Jum'at Hari ini".

As-Salamun alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 
-----------------------------------------------------------
Mau Langganan Pulsa Keluarga Murah, Isi Sendiri, Mudah dan Cepat: 
Klik http://www.xez-pulsa.uni.cc

----- Original Message ----
Wrom: EJGDGVCJVTLBXFGGMEPYOQKEDOTWFAOBUZX
To: is-lam <[email protected]>
Sent: Friday, January 25, 2008 8:17:53 AM
Subject: [is-lam] Ahmadiyah Mengakui Ghulam Sebagai Rasul



            Majelis
Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa baru akan mencabut fatwa
Ahmadiyah sesat jika Ahmadiyah mau mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad
bukan Nabi dan bukan pula Rasul.

 

Namun
dari 12 pernyataan Ahmadiyah, tidak ada satu pernyataan pun yang
menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi dan bukan Rasul. 

 

Sebaliknya
di poin 3 disebut bahwa Ghulam adalah Pembawa Berita Gembira dan
Pemberi Peringatan (bukan sekedar Guru). Padahal Pembawa Berita Gembira
dan Pemberi Peringatan itu adalah Nabi/Rasul.

 

Pernyataan
Ahmadiyah bahwa Nabi Muhammad adalah Khaataman Nabiyyiin juga tidak
berarti karena pengertian Khaataman Nabiyiin antara para ulama Islam
dengan kelompok Ahmadiyah berbeda. Kalau menurut para ulama Islam
Khaataman Nabiyiin adalah Penutup Nabi-Nabi dan tidak ada Nabi dan
Rasul setelah Nabi Muhammad SAW, menurut Ahmadiyah artinya adalah
Cincin (penghias para Nabi) dan Ahmadiyah beranggapan ada Rasul setelah
Nabi Muhammad di antaranya adalah Mirza Ghulam Ahmad. 

 

Tak
heran jika MUI menyebut 12 pernyataan Ahmadiyah sebagai 12 Pasal Karet
karena bisa ditafsirkan bermacam-macam. Menurut MUI sebetulnya
Ahmadiyah cukup mengeluarkan pernyataan yang tak bisa ditafsirkan
macam-macam seperti Mirza Ghulam Ahmad BUKAN Nabi dan BUKAN pula Rasul.

 

Banyak
ayat Al Qur’an di bawah yang menyatakan bahwa Nabi adalah pembawa
berita gembira dan peringatan. Jadi jika Ahmadiyah menyatakan hal
serupa, maka Ahmadiyah tetap kekeh berpendapat Ghulam adalah Rasul.

 

Tindakan
Pakem (Polisi dan Jaksa yang awam agama Islam) yang tidak melibatkan
para ulama dalam menentukan apakah satu aliran sesat atau tidak sangat
disayangkan karena para ulama yang mewakili ummat Islam sama sekali
tidak terwakili.

 

Berikut
ayat-ayat Al Qur’an yang menunjukkan bahwa Pembawa Berita Gembira dan
Pemberi Peringatan itu adalah Rasul seperti halnya Nabi Muhammad:

 

“Sesungguhnya
Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan” [Al Baqarah:119]

 

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita
 gembira dan pemberi peringatan” [Al Fath:8]

 

“Dan
Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu
telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu,
melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al
Israa’:105]

 

“Dan
tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir
membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap
kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-
peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.” [Al Kahfi:56]

 

“Hai
Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami,
menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman)
rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami
baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi
 peringatan.”
Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Al Maa’idah:19]

 

“(Mereka
Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah
sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi
 Maha Bijaksana” [An Nisaa’:165]

 

“Dan
Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan manusia tiada mengetahui” [Saba’:28]

 

Jika
Ahmadiyah tetap ingin menjadi bagian dari Islam, sudah seharusnya
Ahmadiyah mengamalkan ajaran Islam seperti ummat Islam lainnya. Bukan
merusak ajaran Islam dari dalam seperti menganggap Mirza Ghulam Ahmad
sebagai Rasul karena menganggap ajaran Islam tidak sempurna.

 

”Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
 bagimu…”
[Al Maa-idah:3]

 

Jika
Ahmadiyah tidak mengimani kesempurnaan ajaran Islam sebagaimana disebut
ayat Al Qur’an di atas sehingga merubah-rubah/menambah-nambahnya
 dengan
alasan memperkuat segala macam seraya berusaha menyesatkan ummat Islam,
Ahmadiyah harus berani mengakui bahwa mereka bukan Islam.

 

Tulisan
Djohan Effendi, mantan petinggi Departemen Agama, yang dituduh sebagian
orang sebagai Ahmadiyah, tentang solusi bagi Ahmadiyah juga terlalu
bertele-tele.

 

Solusi bagi Ahmadiyah sebenarnya sederhana:

Tetap
dalam Islam dengan konsekuensi menerima seluruh ajaran Islam termasuk
tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad atau yang lain sebagai Nabi dan Rasul
setelah Nabi Muhammad SAWKeluar dari Islam seperti di Pakistan di mana
      Ahmadiyah dinyatakan sebagai minoritas Non Muslim
 

Sesungguhnya
bukan hanya Ulama MUI yang berfatwa Ahmadiyah sesat. Para ulama seluruh
dunia seperti Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Dunia) juga menyatakan
Ahmadiyah sesat karena menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul.
Silahkan lihat informasinya di:
http://syiarislam.wordpress.com/category/aliran-sesat


                        
 
===
Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS 
Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 
 
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari
 Telkomsel 
http://www.media-islam.or.id





    
  
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.
  http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam






      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke