benar akhi, tuturan bbrp ulama terkadang bisa dibilang 'berlebihan' berkenaan 
dgn anjuran agr jadi org kaya. anjuran spt itu umumnya keluar dr ulama yg 
kedudukannya sdh mapan shg 'ringan' saja menyampaikannya. sementara definisi 
kaya sendiri sangat amat relatif. 

apakah yg namanya kaya itu harus berwujud? apakah dgn kaya & byk harta akan 
serta merta dpt bersedekah lbh byk? apakah utk dpt bersedekah 'byk' itu harus 
kaya dulu? jawaban utk semua pertanyaan itu TIDAK!

mensikapi anjuran muslim itu mesti kaya agr bisa byk sedekah itu spt jelaskan 
beda makan utk hidup atw hidup utk makan? org pasti jawab makan utk hidup. lalu 
makanan spt apa? yg halal & thayyiban. bgmana dgn keterbatasan2 yg ada? ... 
etc, etc ... ujung-ujungnya utk makan yg halal & thayyib saja susah, gimana 
kaya? 
 

kalo kaya dijadikan patokan agr bisa byk bersedekah, nabi SAW punya 3 (tiga) 
bentuk: 

1. ajarkan/sampaikan ilmu/nasehat yg manfaat, ini gak perlu kaya dulu.
2. bersedekah sebentuk segenggam pasir utk masjid, jalan raya .. misalnya juga 
tak perlu kaya dulu.
3. dan yg paling murah & mudah senyum ... :)



salam,
Fahru

A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamu’alaikum wr wb,

Pandangan Islam terhadap Harta, Kaya dan Kesederhanaan

Saya membaca satu tulisan dari seorang ustad yang
cukup terkenal tentang “Pandangan Islam terhadap
Harta.” Isinya cukup bagus, di antaranya mengajarkan
pembaca untuk jadi kaya sehingga bisa menggunakannya
untuk kebaikan.

Meski demikian ada beberapa hal yang sepertinya kurang
pas dan mengganjal di hati saya. Misalnya karena ingin
kaya akhirnya begitu melihat rumah dan mobil bagus
lalu mengelus-elus rumah dan mobil bagus milik orang
lain yang diinginkannya (syukur-syukur kalau pagar
rumah itu tidak dialiri listrik atau dipanggil satpam
oleh yang punya) atau gaya hidup mewah seperti punya
pesawat jet pribadi, naik pesawat first class, mobil
mewah, dan makan makanan enak. Begitu pula dengan
beberapa bacaan penulis Barat seperti Robert Kiyosaki
yang meski sempat saya baca cukup bagus, namun tidak
semuanya bisa jadi pegangan karena akhirnya mengarah
pada spekulasi saham dan MLM (Buku-buku seperti itu
memang jadi pegangan aktivis MLM).

Beberapa panutan yang ditonjolkan juga merupakan
orang-orang kaya yang bermasalah di mana ada yang
merupakan penghutang BLBI trilyunan rupiah dan juga
keluarganya melakukan penundaan pembayaran hutang
ganti rugi rumah dan tanah kepada warga Porong yang
mereka rugikan, serta menjual media TV yang mereka
miliki kepada konglomerat media Yahudi, Rupert
Murdoch. Padahal ini tidak sesuai ajaran Islam:

Orang kaya yang menunda-nunda (mengulur-ulurkan waktu)
pembayaran hutangnya adalah kezaliman. (HR. Bukhari)

Seorang ulama harusnya mewarnai ummatnya dengan
sibghatullah. Bukan justru diwarnai ummatnya terutama
dengan hal-hal yang kurang sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagai orang Islam, pedoman kita adalah Kitabullah Al
Qur’an dan Sunnah Nabi. Insya Allah, Al Qur’an itu
Haq dan Nabi itu maksum terjaga dari dosa dan
kesalahan. Ada pun manusia biasa termasuk ulama tidak
lepas dari salah dan lupa.

Dari berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits yang saya
baca, saya mengambil kesimpulan bahwa Islam itu
menganjurkan ummatnya untuk memberi. Bukan untuk
menjadi kaya. Contohnya kita disuruh membayar zakat
dan juga bersedekah.

Mungkin ada yang bertanya, ”Apa bedanya
”Memberi” dengan ”Menjadi Kaya”? Bukankah
untuk memberi kita harus kaya?”

Meski sekilas ”Memberi” sama dengan ”Menjadi
Kaya”, tapi tidak serupa. Betapa banyak orang yang
kaya tapi tidak mau bayar zakat atau bersedekah?
Sebaliknya berapa banyak orang miskin atau yang
hidupnya biasa saja tapi justru rajin berzakat dan
sedekah? Banyak orang yang kaya tapi tidak berhaji.
Sebaliknya banyak orang yang pas-pasan seperti TKI dan
TKW malah bisa naik haji.

Mungkin ada yang bertanya, ”Apa iya orang miskin
atau pas-pasan bisa sedekah/bayar zakat?” Jawabnya
bisa:

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW pernah
ditanya: Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling
mulia? Beliau menjawab: "Sedekah orang yang tak punya,
dan mulailah memberi sedekah atas orang yang banyak
tanggungannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.
Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan
Hakim.

Bukan cuma dari hadits, ini pengalaman saya sendiri.
Sebagai Ketua sebuah organisasi, beberapa orang
menyumbang melalui saya. Ternyata penyumbang terbesar
itu bukanlah orang yang kaya menurut pandangan ustad
tersebut. Luas rumahnya paling tidak lebih dari 30 m2,
mobil dan motor dia tidak punya. Namun dia menyumbang
laptop dan palmtop (paling tidak nilainya Rp 3 juta)
untuk ummat sambil memberi uang cash Rp 200 ribu. Dia
jamu saya dengan makanan dan teh botol.
Anggota-anggota lain yang punya mobil dan rumah bagus
belum tentu bisa begitu. Ustad yang menerima laptop
tersebut rumahnya dan sofanya jauh lebih bagus
daripada rumah teman saya yang menyumbang. Teman saya
bahkan tak punya sofa/kursi dan meja di ruang tamunya.

Sebalik ketika saya bersama teman-teman berkunjung ke
rumah orang kaya di bilangan Jakarta Selatan, masya
Allah. Meski lewat waktu makan malam cuma dihidangi
minum saja sehingga perut kelaparan. Sampai di rumah
sekitar jam 23:30 malam saya makan malam sambil
gemetaran...Padahal orang kaya ini (Direktur Utama
berbagai perusahaan besar di Indonesia) rumahnya
sangat besar, mobilnya mewah dan banyak.

Kalau disuruh memilih harus bertamu ke siapa, saya
tidak akan ragu untuk memilih bertamu ke rumah teman
saya yang biasa saja tapi gemar memberi ketimbang ke
rumah orang kaya namun ”hematnya” minta ampun...

Dalam Islam, yang diperintahkan adalah membelanjakan
harta untuk kebaikan. Bukan menjadi kaya. Misalnya
dalam rukun Islam tidak ada perintah jadi orang kaya.
Yang ada adalah membayar zakat dan pergi berhaji JIKA
mampu.

Saat ini saya melihat sebagian orang menganggap bahwa
Islam mengharuskan ummat Islam harus kaya dengan
alasan Nabi dulu kaya dan banyak perintah Islam
seperti Zakat, Haji, Sedekah mensyaratkan adanya
kekayaan.

Meski sekilas kelihatan benar, namun kiranya hal itu
kurang tepat. Apalagi jika akhirnya untuk menjadi kaya
semua cara dihalalkan dan membelanjakannya pun dengan
bermewah-mewah serta memandang hina orang miskin.

”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'” [Al
Baqarah:43]

”Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari
Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain
Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum
kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin,
serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,
dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu
tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil
daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” [Al
Baqarah:83]

”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan
kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu,
tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah.
Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu
kerjakan.” [Al Baqarah:110]

Ayat-ayat Al Qur’an di atas cukup jelas bahwa Islam
memerintahkan ummatnya untuk membayar zakat dan
bersedekah kepada kerabat dan fakir miskin. Bukan
menjadi kaya karena berapa banyak orang yang kaya tapi
tidak bayar zakat dan bersedekah.

Hadits Nabi ”Tangan di atas lebih baik daripada
tangan di bawah” adalah himbauan untuk memberi.
Artinya orang yang memberi lebih mulia daripada orang
yang meminta. Bukan orang kaya lebih mulia dari pada
orang miskin. Berapa banyak orang yang kaya tapi dari
hasil minta-minta suap atau komisi dan enggan
bersedekah.

Menjadi kaya bukanlah tujuan dalam Islam. Berapa
banyak orang yang kaya, tapi dilaknat Allah dalam Al
Qur’an. Contohnya Karun. Kekayaannya sangat besar,
namun karena sombong dan enggan menolong, dia mati
dibenamkan ke dalam bumi oleh Allah SWT.

Saking kayanya Karun, kunci-kunci gudang hartanya saja
sangat berat dipikul oleh sejumlah orang yang
kuat-kuat macam Ade Rai...:

”Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka
ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah
menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang
kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah
orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya
berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga;
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
terlalu membanggakan diri" [Al Qashash:76]

Bukan hanya Karun orang kaya yang disiksa Allah.
Sebelumnya banyak orang-orang yang lebih kaya juga
dibinasakan oleh Allah SWT:

Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta
itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak
mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah
membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat
daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan
tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa
itu, tentang dosa-dosa mereka.” QS 28.78  

Mengharap kaya seperti Karun bukanlah ajaran Islam:

”Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam
kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki
kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai
seperti apa yang telah diberikan kepada Karun;
sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan
yang besar".
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:
"Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah
lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh
orang-orang yang sabar".[Al Qashash:79-80]

Allah membenamkan Karun beserta hartanya ke dalam bumi
dan orang yang ingin kaya seperti Karun menyesal:

”Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke
dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun
yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia
termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan
kedudukan Karun itu. berkata:
"Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa
yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan
menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan
karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah
membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak
beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat
Allah)". [Al Qashash:81-82]

Ayat di atas jelas bahwa menjadi kaya bukanlah tujuan
dalam Islam. Untuk memperjelas saya tampilkan lagi
ayat yang lain:

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At
Takatsuur:1]

Harta/kekayaan tidak ada manfaatnya jika dari yang
haram atau tidak digunakan di jalan Allah:

”Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa
yang ia usahakan.” [Al Lahab:2]

Dalam hal mencari kekayaan, orang sering lupa sehingga
yang haram menjadi halal. Indonesia adalah merupakan
satu negara terkorup di dunia padahal mayoritasnya
ummat Islam. Karena ingin kaya, banyak ummat Islam
memilih jalan pintas dengan korupsi, mendapat komisi,
dan sebagainya. 

Banyak pejabat yang tidak mau kerja kecuali jika
diberi uang padahal sebetulnya itu memang pekerjaan
yang harus dia kerjakan. Sebagai contoh baru-baru ini
ada berita Gubernur BI memberikan uang milyaran rupiah
kepada DPR agar DPR membuat UU tentang BLBI. Untuk apa
DPR diberi uang padahal membuat UU memang tugas
mereka? Anggota DPR yang sebagian berasal dari Parpol
Islam kan sudah digaji besar untuk membuat UU, mengapa
harus diberi uang lagi? Inilah akibatnya jika kekayaan
jadi tujuan utama seorang Muslim.

Rasulullah SAW berkata: ”Demi Allah, bukan kefakiran
yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku
khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan
kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada
orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan
berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka
berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan
kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.”
(Shahih Muslim No.5261)

Dalam surat Al Maa’uun disebut bahwa orang yang
enggan menolong anak yatim dan fakir miskin dengan
barang berguna sebagai pendusta agama meski dia
sholat:

”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?  
Itulah orang yang menghardik anak yatim, 
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, 
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, 
orang-orang yang berbuat ria.  
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” [Al
Maa’uun:1-7]

Allah tidak memandang apakah orang itu kaya atau
banyak harta:

”Dan orang-orang yang di atas A'raaf memanggil
beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka
mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan:
"Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu
sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu." 
[Al A’raaf:48]

Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan:

”Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu)
bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir
miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.” [Al An’aam:141]

Orang yang hidup mewah secara berlebih sulit untuk
bersedekah. Sebagai contoh, orang yang hartanya Rp 10
milyar, jika dia hemat dia hanya memakai Rp 1 milyar
untuk kebutuhan hidupnya dan Rp 9 milyar dibelanjakan
di jalan Allah. Tapi orang yang hidup boros, misalnya
ada orang yang barang-barang melekat di badannya
(pakaian, sepatu, jam tangan) saja sudah Rp 2 milyar,
bisa menghabiskan Rp 10 milyar untuk bermewah-mewahan
sehingga tidak ada lagi uang tersisa untuk zakat dan
sedekah. Bahkan bisa jadi pengeluarannya berlebih
hingga terbelenggu hutang.

Mengenai pandangan hidup mewah untuk ”meningkatkan
kualitas hidup”, adakah itu sesuai Al Qur’an dan
Sunnah Nabi? Allah melarang kita menghambur-hamburkan
harta secara boros. Sebaliknya memerintahkan kita
untuk bersedekah:

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat
akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam
perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(hartamu) secara boros.  
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat
ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Nabi Muhammad sendiri selaku Nabi dan pimpinan negara
di mana kerajaan Romawi dan Persia sudah hampir jatuh
di tangannya meski kaya menolak hidup mewah. Pada
zaman Sahabat kedua kerajaan besar itu takluk di
tangan Islam. Tidak seperti Raja Romawi dan Persia
yang hidup mewah bergelimang harta, beliau hidup
sederhana. Nabi tidur hanya beralaskan pelepah kurma
sementara perabot rumahnya sedikit sekali sehingga
membuat Umar ra menangis terharu:

Kisah Umar ra: Aku (Umar) lalu segera masuk menemui
Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah
tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan
kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang
menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar
telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku
melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau.
Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira
seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah
satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang
belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku
meneteskan air mata tanpa dapat kutahan. Rasulullah
bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra
Khathab? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku
tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu
dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa
yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi)
dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan
sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan
hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar
pengasingan seperti ini. Rasulullah saw. lalu
bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela,
jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi
bagian mereka? [Muslim]

Keluarga Nabi tidak pernah 3 hari berturut-turut makan
dengan kenyang. Selalu ada saat kelaparan setiap 3
hari. 

‘Aisyah melaporkan: Tidak pernah keluarga Muhammad
(SAW) makan sampai kenyang dengan roti gandum untuk
tiga malam berturut-turut sejak kedatangan mereka di
Medina hingga wafatnya” [Muslim]

Inilah sunnah Nabi kita. Kaya, tapi memilih
menyumbangkan kekayaannya untuk kejayaan Islam. Bukan
menumpuk-numpuk kekayaannya untuk bermegah-megahan
seperti dalam surat At Takatsuur. 

Para sahabat seperti Usman bin Affan menyumbang
sepertiga hartanya untuk jihad di jalan Allah. Umar
bin Khothob menyumbang separuh hartanya. Dan Abu Bakar
menyumbang seluruh hartanya. Mereka menggunakan
hartanya untuk memperkuat Islam sehingga persenjataan
ummat Islam kuat dan lengkap dan bisa membiayai
tentara yang tidak mampu secara finansial. Bukan untuk
kepentingan pribadi secara berlebihan. Nah, semangat
memberi, semangat berinfak inilah yang harus kita
tiru.

Sempat para sahabat dalam 7 peperangan sampai makan
belalang karena lapar. Pernah juga mereka makan seekor
kambing yang dimakan beramai-ramai. Meski hidup
prihatin, namun Nabi dan para sahabat dalam berjihad
justru luar biasa hebatnya sehingga dua super power
dunia waktu itu, Romawi dan Persia tidak dapat
menaklukkan pasukan Islam. Justru merekalah yang
tunduk. Harta yang ada digunakan bukan untuk
kepentingan pribadi atau hidup mewah, tapi digunakan
untuk melengkapi kendaraan, senjata, dan juga logistik
untuk jihad.

Coba bayangkan pasukan mana yang akan menang? Jenderal
yang memilih dana yang ada untuk membeli mobil mercy
dan jaguar sementara panser amfibinya dibiarkan tua
(buatan tahun 1962) dan bisa tenggelam dilaut dengan
sendirinya atau jenderal yang memilih mobil yang
sederhana dan membeli mobil tank yang canggih untuk
anak buahnya?

Mana yang lebih baik? Jenderal yang memakai uang yang
ada untuk beli pesawat pribadi yang mewah sementara
anak buahnya naik pesawat tua Hercules yang umurnya
hampir setengah abad sehingga belum kena peluru lawan
sudah jatuh dengan sendirinya atau jenderal yang
sederhana dan naik pesawat terbang dinas yang dipakai
bersama-sama rekannya kemudian menggunakan sisa
uangnya untuk pesawat tempur yang canggih?

Banyak orang-orang Arab yang kaya, tapi mereka tidak
mampu mengalahkan Israel karena mereka lebih memilih
menggunakan kekayaannya untuk hidup mewah. Bukan untuk
membeli persenjataan yang bagus dan lengkap guna
berjihad di jalan Allah. Orang-orang Arab yang
jumlahnya 200 juta orang tak mampu mengalahkan orang
Israel yang hanya 4 juta orang.

Satu penyebab mundurnya ummat Islam adalah Wahn: Cinta
Dunia dan Takut Mati:

Tsaubah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan
kalian seperti menyerbu makanan di atas piring.
Berkata seseorang: Apakah karena jumlah kami sedikit
waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu
itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di
lautan. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu
terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu
penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah,
apakah wahn itu? Beliau bersabda: Cinta dunia dan
takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad
V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Di Indonesia banyak orang miskin dan senjatanya
sedikit serta antik-antik. Apakah kita kekurangan
uang? Tidak juga. Para pejabat kita umumnya tidak
mempergunakan uang yang ada untuk mensejahterakan
rakyatnya. Tapi untuk memperkaya pribadi. Tak heran
jika hartanya puluhan milyar rupiah dan sering tidak
sesuai dengan gaji yang mereka terima. Banyak yang
menghabiskan Rp 2-3 milyar rupiah untuk satu
pernikahan anaknya. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk
memberi rumah tempat berteduh 80 orang.

Tentu saja ini bukan berarti ummat Islam harus malas
mencari rezeki dan hidup miskin. Sebagaimana Sunnah
Nabi dan contoh para sahabat, Nabi bisa kaya dan hidup
mewah jika mau. Tapi beliau lebih memilih untuk
bersedekah dan membelanjakan hartanya di jalan Allah:

Istri Nabi, ’Aisyah berkata bahwa pernah Nabi
pagi-pagi mendapat hadiah yang banyak. Namun sebelum
petang tiba harta tersebut sudah habis dibagikan untuk
fakir miskin. Itulah akhlak Nabi sesuai ayat Al
Qur’an di bawah:

Allah SWT berkata, ”Engkau tak akan mendapatkan
kebaikan apa pun hingga kalian menyedekahkan sebagian
harta yang paling kalian cintai.Ketahuilah, apa pun
yang kalian infakkan, Allah pasti mengetahuinya.”
(Ali ‘Imran: 92).

”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah,
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al
Baqarah:195]

Nabi memiliki rumah untuk berteduh, kendaraan untuk
dakwah dan jihad, baju zirah dan pedang untuk
berperang. Idealnya para Muslim memiliki hal itu. Nabi
memilih yang terbaik manfaatnya, tapi bukan yang
termewah/mahal. Sebagai contoh Nabi memilih cincin
perak untuk stempel ketimbang cincin emas. Nabi juga
memilih baju zirah dan pedang dari baja yang kuat
ketimbang emas 24 karat yang lunak.

Bukankah ketika kita mencari rezeki, akan terlihat
perbedaannya antara orang yang niatnya hanya untuk
kaya sehingga bisa punya rumah dan mobil mewah serta
makan enak dengan orang yang ingin membelanjakan
hartanya di jalan Allah lillahi ta’ala?

Jadi luruskan niat kita lillahi ta’ala. Masih banyak
orang miskin di sekitar kita, bahkan banyak yang bunuh
diri karena kemiskinan. Bantu mereka. Jangan habiskan
harta kita karena gaya hidup kita yang boros.

Dari Umar bin Khottob ra dia berkata: ”Aku pernah
mendengar Rosululloh SAW bersabda: ’Sesungguhnya
seluruh amal tergantung kepada niat, dan setiap orang
akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu,
barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya,

=== message truncated ===

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke