Assalamu'alaikum wr wb,
Artikel di bawah mengingatkan kembali prioritas dan awal dakwah yang dilakukan 
oleh Nabi Muhammad SAW. Sesuai dengan ayat-ayat pertama Al Qur'an yang berkisah 
tentang keberadaan Allah beserta sifat-sifatnya (mis: Al 'Alaq yang 
menceritakan Allah pencipta manusia), Nabi menanamkan Tauhid. Yaitu keberadaan 
Allah beserta sifat-sifatnya.

Begitu ummat Islam yakin akan Allah dan mencintainya, insya Allah segala 
perintah Allah akan ditaati dan laranganNya akan dijauhi. Jadi bukan justru 
mengenalkan masalah-masalah furu'iyah dan khilafiyah yang tidak membawa dampak 
apa-apa bagi ummat yang masih dangkal aqidahnya dan justru membawa perpecahan.

Berikut artikelnya.

Wassalam

http://whasid.wordpress.com/2007/07/03/awal-awal-agama-mengenal-allah/
Awal-awal Agama Mengenal Allah
Dalam era kebangkitan Islam yang ke dua di akhir zaman ini, kita wajib meniru 
apa yang Rasulullah SAW lakukan hingga beliau berjaya dalam kebangkitan Islam 
kali pertama. Hal yang Rasulullah SAW perjuangkan pertama-tama adalah persoalan 
tauhid, yaitu memperkenalkan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang layak 
disembah.

Rasulullah SAW berjuang selama tiga belas tahun di Makkah. Itulah masa 
Rasulullah berdakwah dan mengumpulkan pengikut-pengikutnya. Mula-mula secara 
sembunyi-sembunyi dan kemudian secara terang-terangan. Dalam masa tiga belas 
tahun itu, Rasulullah hanya ‘membawa Tuhan’ kepada para Sahabat dan 
memperkenalkan para Sahabat kepada Tuhan. Dalam majlis yang resmi atau tidak 
resmi, dalam majlis keramaian, apabila berjalan-jalan dengan para Sahabat, 
bahkan pada setiap waktu Rasulullah menceritakan tentang Allah dan hari 
Akhirat. Tentang kebesaran, kesucian dan kekuasaan-Nya. Tentang kasih sayang, 
keampunan dan belas ihsan-Nya. Tentang kuasa dan iradah-Nya dan tentang segala 
sifat yang ada pada Tuhan.

Segala sifat-sifat Allah itu sangat dihayati oleh para Sahabat sehingga mereka 
menjadi cukup kenal dengan Tuhan. Bukan sekedar tahu, tetapi cukup kenal. 
Mereka menjadi orang-orang yang arifbillah. Hati-hati mereka cukup dekat dengan 
Tuhan, cukup sensitif dan peka dengan Tuhan. Mereka cukup terangsang dengan 
kebesaran dan keagungan Tuhan. Akhirnya jadilah para Sahabat, orang-orang yang 
sangat cinta dan takut kepada Tuhan. Dalam hidup mereka, Allah-lah yang menjadi 
perkara utama. Allah-lah yang bertakhta di hati-hati mereka. Banyak di kalangan 
Sahabat yang menjadi mabuk dengan Tuhan karena terlalu takut dan rindu. 
Perasaan mabuk, takut dan cinta ini sangat kuat dan mendalam hingga adakalanya 
hati-hati para Sahabat tidak dapat menanggung bebannya. Ada Sahabat yang terus 
mati karena mengingat kebesaran Allah. Ada yang mati apabila ada orang menyebut 
nama Allah. Sedangkan yang jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri lebih banyak 
lagi. Bila disebut nama Allah,
 gemetar hati-hati mereka. Namun, dengan hati yang begitu mabuk dan rindu pada 
Tuhan, mereka tidak mempunyai jalan atau cara untuk melepaskan perasaan mereka. 
Mereka tidak ada cara untuk berhubung atau berinteraksi dengan Tuhan. Maka 
mereka terpaksa menanggung dan memendam rasa mabuk dan rindu itu. Mereka 
seolah-olah orang yang begitu dahaga tetapi tidak mendapat air untuk diminum. 
Mereka seperti orang yang sangat lapar tetapi tidak ada apa untuk dimakan. 
Mereka seperti orang yang sangat rindu kepada Kekasih Agungnya tetapi tidak 
dapat bersua dan bertemu untuk memuji-muji dan meluahkan segala perasaan yang 
terpendam dan terbuku di hati. Allah biarkan saja mereka jadi begitu.

Pada tahun yang kesebelas, baru berlaku peristiwa Israk Mikraj. Jadi, pada 
tahun kesebelas baru datang perintah sholat. Itulah satu hadiah yang sangat 
besar yang Allah karuniakan kepada para Sahabat supaya mereka dapat 
berinteraksi dan berhubungan dengan-Nya. Supaya mereka dapat melepaskan segala 
perasaan rindu dan dendam yang selama ini mereka tanggung. Supaya mereka dapat 
mengadu, berbicara, berbisik-bisik dan meminta-minta kepada Tuhan. Supaya 
mereka dapat meluahkan segala isi hati mereka dan bermanja-manja dengan Tuhan. 
Sungguh sholat itu satu karunia yang sangat besar bagi para Sahabat. Ia ibarat 
air di kala dahaga. Ia ibarat makanan di kala lapar. Ia ibarat pertemuan dengan 
kekasih yang sangat dirindu. Sholat menjadi buah hati Rasulullah dan para 
Sahabat. Sholat adalah istirahat mereka. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Maksudnya: “Sembahyang adalah penyejuk mataku.”

Baginda juga pernah menyuruh Sayidina Bilal r.a. untuk adzan dengan berkata:

Bermaksud “Wahai Bilal, berilah kerehatan kepada kita semua!”

Demikianlah kedudukan sholat di hati Rasul dan para Sahabat. Tidak heran mereka 
tenggelam di dalam sholat. Mereka ‘mikraj’ di dalam sholat. Tidak heran juga, 
ketika sholat, mereka lupa tentang dunia ini dan segala isinya baik yang berupa 
nikmat maupun kesusahan. Mereka asyik dan masyuk dengan Tuhan dalam sholat. 
Sayidina Ali k.w. lantaran begitu khusyuknya di dalam sholat, tidak terasa 
apa-apa ketika dicabut anak panah dari betisnya. Sholat mereka yang seperti 
inilah yang telah menjadikan mereka pribadi-pribadi agung. Agung keimanan 
mereka. Agung keyakinan mereka dan agung akhlak mereka. Allah memberikan 
karunia kepada mereka 3/4 dunia dan semua bangsa bernaung di bawah kekuasaan 
mereka. Mereka membawa kedamaian dan keselamatan. Mereka penuhi dunia ini 
dengan keadilan dan kebahagiaan.

Di sini kita dapat melihat konsep pendidikan Rasulullah, yaitu awaludin 
makrifatullah. Awal-awal agama mengenal Allah. Para Sahabat dikenalkan kepada 
Allah hingga mereka menjadi orang-orang yang arifbillah, yaitu orang-orang yang 
sangat takut, cinta dan rindu kepada Allah dan orang-orang yang mabuk dengan 
Allah. Dalam keadaan seperti itu, barulah mereka diperintah untuk melaksanakan 
sholat dan menegakkan syariat Allah. Keseluruhan perintah syariat yang 
beribu-ribu jumlahnya diturunkan di Madinah. Ia hanya memakan waktu 10 tahun, 
berbanding memperkenalkan Tuhan yang satu itu yang memakan masa selama 13 tahun 
di Makkah.

Orang-orang yang menegakkan syariat Allah di Madinah itu sebenarnya ialah 
orang-orang yang takut, cinta dan mabuk dengan Tuhan. Orang-orang yang 
arifbillah. Hanya orang-orang seperti ini saja yang mampu menegakkan syariat 
Allah. Yang mampu memperjuangkan agama Allah. Yang mampu berkorban ke jalan 
Allah. Itulah kelemahan umat Islam hari ini. Sebatas tahu tentang Tuhan. 
Sebatas memiliki ilmu tentang Tuhan. Sebatas alimbillah. Tuhan masih di akal, 
belum di hati. Belum ada rasa bertuhan. Belum ada rasa kehambaan. Jauh dari 
rasa takut rindu dan cinta pada Tuhan. Lebih-lebih lagi belum mabuk dengan 
Tuhan. Oleh karena itu, mereka disogok dengan sholat dan syariat. Disuruh 
dirikan sholat. Disuruh tegakkan syariat. Diperkenalkan hukum hudud dan 
sebagainya. Orang yang belum kenal Tuhan dan orang yang tidak ada rasa takut 
dan cinta pada Tuhan, tidak akan mampu mendirikan sholat dan menegakkan 
syariat. Kalau pun mereka berbuat, ia dilakukan secara terpaksa.
 Melakukan pekerjaan dengan terpaksa memang pahit, sakit dan perit. Sukar untuk 
istiqomah.

Kenapa tidak dibawa Tuhan kepada mereka? Kenapa tidak perkenalkan Tuhan kepada 
mereka? Kalau manusia betul-betul kenal Tuhan, mereka tidak akan dapat mengelak 
dari jatuh cinta dan rindu kepada-Nya. Mereka tidak akan dapat mengelak dari 
mau berbakti kepada-Nya untuk merebut cinta dan kasih sayang-Nya. Bagaimana 
mungkin kita tidak sayang dan tidak jatuh hati kepada Allah yang begitu 
berbakti, begitu menjaga, begitu mengawasi dan memenuhi segala kehendak dan 
keperluan kita. Yang penuh kasih dan belas kasihan kepada kita. Yang menyayangi 
kita lebih dari ibu kita sendiri. Yang menjaga kita siang dan malam tanpa 
istirahat dan tanpa tidur. Yang tidak pernah melupakan kita. Marilah kita 
kembalikan manusia kepada Tuhan. Marilah kita perkenalkan Tuhan itu kepada 
manusia supaya manusia kenal akan Tuhan. Karena awal-awal agama mengenal Tuhan.

Selagi kita belum kenal Tuhan, selagi itu kita belum mampu untuk beragama atau 
untuk menegakkan agama. Mengenal Tuhan itu tidak cukup sekedar tahu tentang 
Tuhan atau tahu tentang sifat-sifat Tuhan secara ilmunya, tetapi merasakannya 
di hati. Hati rasa bertuhan, hati merasa Tuhan senantiasa melihat, hati merasa 
Tuhan itu Maha Mendengar, hati merasakan Tuhan itu berkuasa berbuat apa saja 
kepada hamba-Nya, hati merasakan Tuhan itu pengasih dan penyayang yang 
senantiasa mencurahkan rezeki kepada hamba-Nya.

Setelah hati ada rasa bertuhan, secara otomatis hati akan dipenuhi rasa 
kehambaan, yaitu rasa lemah, rasa berdosa, rasa bergantung harap kepada-Nya. 
Hati rasa takut dan cinta dengan Tuhan sebagaimana yang dirasakan oleh para 
Sahabat yang dididik oleh Rasulullah lebih 1400 tahun dahulu.

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke