Banten, Hikayat Kerbau di Ladang Pabrik
 
Sabtu, 16 Agustus 2008 | 05:19 WIB KOMPAS.
Oleh Anita Yossihara dan Ahmad Arif

JALAN itu mulus. Aspal hitam melapisi permukaannya. Asap cerobong pabrik kimia 
memagari tepiannya. Seorang lelaki renta menggiring lima kerbau di sana. 
Seorang anak muda memungut botol bekas di saluran air. Lelaki renta menyapa, 
kemudian berlalu. Ia bergegas mengiringi kerbau-kerbaunya. Jalan mulai 
menanjak. Sukra, nama lelaki itu, berhenti di rumahnya. Rumah renta, setua 
usianya yang 84 tahun. Dari beranda rumahnya, jantung Kawasan Industri 
Pancapuri, Cilegon, Banten, terlihat jelas. Saat malam, cahaya lampu pabrik 
berpendar seperti bintang. Pabrik-pabrik itu teramat dekat dengan Sukra, tetapi 
terasa jauh. Sukra tak pernah mencicip legit kerja di proyek, apalagi bekerja 
di pabrik. Janji-janji kemudahan lapangan kerja pada awal pendirian pabrik 
hanyalah pepesan kosong.

Pada kerbau-kerbau itulah harapan Sukra disandarkan. Seekor kerbau miliknya, 
empat ekor milik orang lainnya. Sukra tak pernah membedakannya. Melihat Sukra 
dengan kerbau-kerbaunya mengingatkan pada fragmen Saijah dan Adinda dengan 
kerbau-kerbau mereka, seperti yang ditulis Multatuli-nama samaran Douwes 
Dekker-dalam Max Havelaar, tahun 1860. "... kemudian larilah ayah Saijah 
meninggalkan desanya. Sebab, ia merasa sangat takut dijatuhi hukuman jika 
sampai ia tidak membayar pajak tanahnya. Padahal, ia sudah tidak mempunyai 
peninggalan apa-apa lagi untuk membeli kerbau baru," tulis Douwes Dekker. 
Berulang kali, kerbau-kerbau ayah Saijah dirampas oleh Kepala Distrik 
Parungkujang, Lebak. Dalam pelariannya, ayah Saijah kemudian ditangkap dan mati 
di penjara. Pada akhir fragmen, seluruh tokohnya mati.

Fragmen itu menuturkan kemiskinan dan penderitaan rakyat Banten karena diisap 
penguasa pribumi yang bersekutu dengan penjajah Belanda. Penderitaan yang 
bermula dari diambilnya kerbau, harta paling berharga bagi petani. Tanpa 
kerbau, mereka tak bisa menggarap ladang. Tanpa panenan, mereka tak bisa 
membayar pajak. Hampir 150 tahun kemudian, fragmen itu terasa masih relevan 
untuk menggambarkan satu sisi wajah Banten. Bahkan, sering kali fragmen itu 
menemukan bentuknya yang lebih pedih. Jika dulu yang dirampas adalah kerbau, 
saat ini petani kehilangan tanah.

Tanah
Bojonegara, pesisir barat Banten, siang itu sangat panas. Matahari kemarau 
mencipta tanah retak. Ramsiah (45) menyiram tanaman timun suri dari sumur gali 
di tengah sawah. Bulan puasa hampir tiba, bulan di mana Ramsiah bisa menjual 
timun suri sebagai makanan berbuka. Ramsiah berpeluh, tetapi tak mau berhenti. 
Sawah warisan satu-satunya itu sudah bukan miliknya lagi. Ramsiah menunggu 
waktu sebelum ladangnya diambil untuk diubah menjadi pabrik.

Kesenjangan
Dua ratus tahun sejak Herman Willem Daendels menginjakkan kaki di tanah Banten, 
Januari 1808, wajah luar kawasan di ujung barat Pulau Jawa ini berubah banyak. 
Dimulai ketika tahun 1970-an ketika pemerintah membangun kawasan industri di 
sana. Pabrik raksasa menjamur, sebagian di antaranya perusahaan asing. Hingga 
akhir tahun 2007, sedikitnya ada 1.500 industri di Banten. Pendapatan domestik 
regional bruto (PDRB) di Banten pun terdongkrak dengan maraknya industri. Tahun 
2002 nilai PDRB Banten Rp 60,35 triliun. Setahun kemudian meningkat menjadi Rp 
66,87 triliun. Tahun 2004 melompat menjadi Rp 75,56 triliun, tahun 2005 naik 
lagi menjadi Rp 83,77 triliun. Setahun kemudian semakin tinggi, Rp 94,41 
triliun. 

Namun, pesatnya pertumbuhan industri yang diiringi PDRB Banten tak berbanding 
lurus dengan kesejahteraan warganya. Sebagian besar warga belum terserap ke 
industri. Mereka yang bekerja di sektor industri kebanyakan juga di level 
rendah, seperti tenaga buruh, petugas satpam, dan pegawai rendahan. Banten 
tetap menjadi salah satu provinsi termiskin di Pulau Jawa. Data Survei Sosial 
Ekonomi Nasional tahun 2006 menunjukkan, jumlah penduduk miskin di Banten 
mencapai 904 keluarga (9,79 persen). Dari sekitar 6,1 juta pekerja, 51,39 
persen bekerja di sektor informal dan 26,91 persen di antaranya bekerja di 
sektor pertanian. Industri pengolahan yang merupakan penyumbang terbesar PDRB 
hanya bisa menampung 22,85 persen tenaga kerja. Angka ini lebih kecil 
dibandingkan pengangguran yang mencapai 28,01 persen. Kondisi itu terjadi 
karena rendahnya tingkat pendidikan dan kompetensi penduduk Banten. Dari 7,1 
juta penduduk usia kerja, 32,18 persen di antaranya hanya lulus SD. Sebanyak 
26,8 persen tidak tamat SD, lulusan SMP 17,54 persen, lulusan SMA 15,7 persen, 
lulusan SMK 3,89 persen, diploma 1,89 persen, S-1 1,86 persen, serta S-2 dan 
S-3 0,1 persen. Jika sebagian besar warga menggantungkan hidupnya pada 
pertanian karena memang tak sanggup masuk ke sektor industri, apa jadinya jika 
lahan pertanian rakyat itu terus menipis karena diambil alih industri?

Alkhori M
Al-Khor Community
Qatar
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke