Kalau kita sudah tahu bahwa: SEJARAH ADALAH CERITA REGIM YANG MENANG, maka
artikel dibawah ini bukanlah hal yang baru, tapi mendesak dilakukan adalah
perlunya penulisan ulang untuk meluruskan sejarah yang telah direkayasa oleh
ORBA.

 

PENULISAN SEJARAH INDONESIA PENUH REKAYASA

Jumat, 12 September 2008 | 23:35 WIB

MEDAN, JUMAT--Penulisan sejarah Indonesia dalam buku-buku sejarah penuh
dengan rekayasa dan upaya ini telah dilakukan pemerintah Orde Baru sejak
awal berdirinya rezim sampai jatuhnya pemerintahan Soeharto, ujar sejarawan
Dr. Asvi Warman Adam. "Dalam hal ini Nugroho Notosusanto dan Pusat Sejarah
ABRI sangat berperan besar dalam penulisan rekayasa sejarah itu," kata
sejarawan dari LIPI itu pada seminar dan bedah buku "Ketika Sejarah
Berseragam: Membongkar Ideologi Militer Dalam Sejarah Indonesia" karya Katha
McGregor (Australia) di Medan, Jumat. Menurut McGregor dalam bukunya itu,
ujar Asvi Warman, terdapat tiga proyek utama Nugroho Notosusanto. Pertama
adalah mengenai sejarah percobaan kudeta tahun 1965. McGregor mengatakan
bahwa buku 40 Hari Kegagalan G/30S/PKI mungkin proyek penulisan sejarah yang
penting yang dibuat oleh Nugroho Notosusanto. "Menurut hemat saya, meskipun
tim yang diketuai Nugroho mengerjakan penelitian kilat tersebut, inisiator
atau penanggungjawab buku itu adalah Jenderal AH Nasution," katanya. Yang
kedua adalah mengenai de-Soekarnoisasi. Asvi mengatakan, ia sering mengutip
sejarawan Perancis Jacques Leclerc bahwa Soekarno telah "dibunuh dua kali"
(21 Juni 1970 ia wafat setelah sakit dan tidak memperoleh perawatan
sebagaimana semestinya serta sejak 1 Juni 1970 peringatan hari lahir
Pancasila dilarang oleh Kopkamtib). Ketiga, adalah tentang Pendidikan
Sejarah Perjuangan Bangsa yang merupakan proyek nasional dalam bidang
pendidikan yang bermula dari apa yang terjadi di kalangan ABRI. Jenderal
Jusuf selaku Panglima ABRI melaporkan kepada Presiden Soeharto bahwa banyak
taruna AKABRI yang tidak kenal dengan pahlawan bangsa. Bahkan dapat
ditambahkan pula bahwa buku pedoman sejarah ABRI merupakan model atau
dilanjutkan dengan buku pedoman sejarah nasional yang kemudian dikenal
sebagai SNI (Sejarah Nasional Indonesia). "Untuk keperluan ketiga hal itu,
selain dari penulisan sejarah nasional Indonesia, juga dibangun beberapa
museum dan monumen bersejarah beserta dioramanya di samping pembuatan
berbagai film. Jadi semua penulisan sejarah Indonesia, sudah tidak murni
lagi dan dipenuhi dengan rekayasa militer demi kepentingan dan nama besar
mereka,"katanya. (ANT).

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke