Bung Chant CT, bung Tantono Subaryo dan kang Sur yang baik,
 
Saya sekedar memberikan pendapat dari sudut pandang yang berbeda....
Di negara yang kita atau setidaknya saya cintai ini, - sadar tidak sadar - 
diakui atau tidak diakui- masih ada diskriminasi dan penzaliman kepada 
komunitas minoritas, apakah karena asal usul keturunanannya maupun agama dan 
kepercayaan yang dianutnya...
 
Mengenai fakta ini, ada yang percaya dan ada yang tidak,  kalau dibilang iya 
yang gak setuju akan menolak dengan segala dalih alasan, sedangkan yang 
merasakan sendiri diskriminasi itu hanya bisa ngelus dada. Karena dia merasakan 
sendiri... (banyak contoh, tapi contoh yang paling konkrit adalah 
perkawinan penganut Konghucu perkawinannya tidak bisa dicatatkan di kantor 
catatan sipil)
 
Memang menjadi komunitas minoritas bisa tidak menyenangkan, tapi itulah 
kenyataan yang harus kita terima dengan lapang dada. Yang penting kita tidak 
boleh membalas hal-hal  buruk (termasuk perlakuan diskriminatif) dengan hal-hal 
buruk lainnya.
 
Karena kalau mau jujur perlakuan diskriminatif untuk komunitas minoritas tidak 
hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di banyak tempat di dunia ini.ke dalam. Ia sampaikan kondisi dan penderitaan
orang miskin tadi kepada keluarganya. Dengan hati lapang, mereka semua
memberikan sepotong roti yang hendak mereka makan kepada orang miskin itu.
Tinggallah mereka semua, hanya berbuka dengan beberapa teguk air putih saja,
dan pada malamnya mereka semua kelaparan. Pada hari kedua, juga pada saat
berbuka, hanyalah sepotong roti yang tersedia bagi keluarga yang lapar itu.
Roti itu baru saja hendak disorongkan ke mulut mereka. Lalu terdengarlah
ucapan salam dari mulut seorang bocah di balik pintu rumah mereka. Ali Ra
pun bangkit lalu pergi ke sumber suara. Di sana ia menjumpai seorang bocah
yang mengaku yatim dan berkata bahwa dirinya lapar karena ia tidak memiliki
orang tua yang memberinya makan. Hati Ali Ra terenyuh mendengarnya, namun ia
sadar bahwa keluarganya pun lapar. Mungkin Allah Swt telah memberikan
ketetapan hati pada keluarga itu. Roti yang hampir disorongkan ke mulut
tadi, akhirnya pun diberikan kepada bocah yatim yang malang itu. Malam
kedua, mereka pun merasakan rasa lapar yang bertambah berat. Hari terakhir
berpuasa untuk memenuhi nazar pun mereka jalankan. Kondisi tubuh sudah
semakin parah. Perut melilit dan sering kali terasa perih. Namun sedikit pun
mereka tiada mengeluh, bahkan mereka berharap ganjaran pahala berlebih dari
Allah Swt Yang tiada pernah terpejam. Saat berbuka sudah dijelang, hanya
sepotong roti yang hendak mereka santap berlima. Kali itu, pintu pun diketuk
dan ucapan salam terdengar.  Hati mereka was-was karena sudah begitu lapar.
Sekali lagi Ali Ra bangkit dan pergi ke luar. Di sana ia temui, ada seorang
tawanan yang baru saja dilepaskan. Seperti tawanan lainnya, ia selalu
disiksa dan tidak diberi makan. Ia datang dengan perawakan kurus kering,
wajah lusuh dan hampir ambruk karena tidak bertenaga. Ali Ra pun merasakan
penderitaannya. Sejurus ia pergi ke dalam, ia sampaikan kondisi manusia
malang itu. Dengan sukarela mereka sekeluarga mengikhlaskan roti yang hendak
mereka santap. Malam itu pun mereka lalui dengan rasa lapar yang menggila.
Namun, mereka sekeluarga telah memenangkan perjuangan. Ya, perjuangan! Demi
mendapatkan kecintaan dan keridhaan Allah Swt sehingga mereka semua dikenang
dan diabadikan dalam kitab suci yang dibaca oleh milyaran manusia. Dialah
keluarga Ali Ra yang termaktub dalam surat Al Insan ayat 8-10 di atas.
Itulah kisah keluarga yang mampu berinfak dari harta terbaik yang mereka
miliki sehingga mengundang kekaguman Sang Khalik.

Kisah lain terjadi pada awal Desember 2005. Seorang pria siang itu hendak
kembali ke Jakarta. Ia baru saja menyelesaikan urusannya di Bandung. Siang
itu ia memilih lewat jalan tol Padalarang. Saat baru saja masuk tol,
perutnya terasa lapar. Terbayang di benaknya, bahwa ia akan mampir di sebuah
restoran yang berada di tempat peristirahatan tol. Mobil itu diparkirkan. Ia
masuk ke dalam. Setelah memilih meja yang kosong, ia pun duduk di sana.
Makanan yang enak baru saja ia pesan kepada salah seorang pelayan. Sambil
menunggu makanan yang dipesan, tiba-tiba datanglah seorang bocah menghampiri
dan berkata, "Bang... apakah abang mau beli kue saya ini?!" Tangan bocah itu
masuk ke dalam bakul seolah hendak memperlihatkan apa yang ia jual. Pria ini
lalu menyusul dengan sebuah kalimat sebelum bocah itu memperlihatkan
dagangannya, "Dek... abang baru saja pesan makanan. Kalo abang makan kue
adik, nanti makannya tidak lahap. Nanti saja ya, Dik!" Si bocah penjual kue
itu tahu bahwa jualannya ditolak. Ia pun beringsut pergi. Ia hampiri setiap
orang yang ada di rumah makan itu. Dengan sopan, ia menawarkan jajaannya.
Makanan sudah disantap dengan lahap oleh pria itu. Sebatang rokok tengah
diisap mendalam, lalu kemudian ia kepulkan dengan kenikmatan yang tak
tergambarkan. Sejurus kemudian, sang bocah penjual kue datang menyapa,
"Bang, enak ya makannya. Mungkin abang masih belum kenyang... silakan cicipi
kue saya!" Kali ini si bocah menunjukkan dua kue terenak yang dimilikinya.
Dengan enteng pria ini menjawab dengan sopan, "Dek... abang sudah kenyang.
Kayaknya udah nggak muat lagi nih perut. Maaf ya, Dik!" untuk kedua kalinya
tawaran itu pun ditolak. Setelah puas menikmati rokok, pria itu bangkit. Ia
pergi menuju kasir dan membayar semua apa yang ia nikmati di restoran itu.
Setelah itu, ia pun kembali ke mobilnya untuk melanjutkan perjalanan. Pintu
mobil baru saja ditutup, pria itu menunduk untuk memasukkan kunci ke tempat
starter. Belum lagi mobil tersebut dioperasikan, kemudian terdengar suara...
Duk..duk..duk! kaca mobil rupanya ada yang mengetuk. Pria itu kemudian
menurunkan jendela. Rupanya bocah penjaja kue yang datang. Bocah itu
berkata, "Bang... kalo abang sudah kenyang, mungkin abang mau bawa oleh-oleh
untuk keluarga di rumah. Kue saya ini enak lho, Bang!"  Bocah itu
mengatakannya dengan penuh semangat pantang surut. Demi melihat kegigihan
itu, pria tersebut lalu mengambil dompet yang terletak di antara dashboard
mobilnya. Ia pun mengambil selembar uang dua puluh ribuan. Uang itu kemudian
ia berikan sambil berkata, "Dek.... nih buat kamu. Abang dah kenyang dan gak
perlu kue itu. Simpan ya... atau ditabung!" Setelah menerima uang itu, bocah
tersebut mengucap terima kasih kemudian ia pun pergi. Mobil berjalan mundur
untuk keluar dari pelataran parkir. Pria itu membalikkan punggungnya. Ia
tidak terlalu percaya kepada 3 spion  yang ada dalam mobilnya. Saat kepala
memutar ke arah belakang... dan ketika ia masih mengeluarkan mobilnya. Ujung
matanya memperhatikan bocah penjaja kue itu menghampiri seorang pria buta
yang duduk bersimpuh di depan pintu masuk restoran. Ujung mata itu masih
tetap mengikuti, hingga akhirnya terbelalak sesaat ketika bocah itu
memberikan lembaran uang dua puluh ribuan kepada pengemis buta tadi. Demi
melihat kejadian itu, mesin mobil pun dimatikan dan pria itu kemudian turun
menghampiri bocah penjual kue. "Dek... kemari cepat!" pria itu menyuruh
dengan nada agak meninggi. Bocah penjaja kue pun dengan sigap menghampiri.
"Ada apa, bang?" ia bertanya. "Uang itu abang berikan untuk kamu. Kenapa kau
berikan untuk orang lain?!" si pria bertanya keheranan atas sikap yang telah
dilakukan bocah. "Bang.... uang itu terlalu banyak untuk saya. Emak di rumah
pasti bakal marah kalau dia tahu bahwa saya punya duit banyak sementara
dagangan nggak laku... Dia pasti mengira kalau gak mencuri pasti saya
mengemis. Emak ngasih tahu saya bahwa pantang kami mengemis...!" bocah itu
menjelaskan. "Nah..., karena saya tahu bahwa ada yang lebih membutuhkan dan
gak bisa berbuat apa-apa, makanya uang itu saya berikan kepada pengemis itu,
Bang.... pantang bagi saya untuk mengemis, Bang!" anak itu menyudahi
penjelasannya. Seolah diceramahi dan dipertontonkan dengan sebuah
kebijaksanaan yang tinggi, sang pria kemudian merasa paham lalu berkata,
"Hmmm.... kalo begitu berapa kuemu yang tersisa, Dik?!" Anak itu kaget
membelalakan mata kemudian berkata, "Emangnya abang mau beli kue saya?!"
"Ya... abang mau beli semua! Hitung dan bungkus ya...!" pria itu menegaskan.
Dengan semangat ia hitung semua dagangannya. Kemudian setelah dibungkus,
anak itu mengatakan, "Dua puluh tujuh ribu, bang! Saya korting jadi dua
puluh lima ribu aja deh!" anak itu berkata sambil tersenyum. Sang pria
kemudian mengeluarkan uang sejumlah yang disebut. Kemudian memberikannya
kepada anak itu sambil mengusapkan tangan di atas kepalanya. Pria itu
kemudian masuk ke mobilnya. Ia hidupkan mesinnya sambil melempar senyum
kepada bocah penjual kue tadi. Sejurus kemudian hilanglah mobil itu dari
pandangan. Sementara si anak berdiri kegirangan karena seluruh dagangannya
habis terjual. Ia dapatkan uang sejumlah Rp 25 ribu, karena sebelumnya ia
berhasil memberikan uang dua puluh ribu kepada pengemis. Infak dari harta
terbaik akan mendatangkan pertolongan Allah Yang Maha Pemurah!!!

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke