Saudara Kandung Berbagi Istri demi Warisan 

Sabtu, 25 Oktober 2008 | 15:07 WIB

 

HIMACHAL PRADESH,SABTU-Amar dan Kundan Singh Pundir adalah saudara kandung.
Amar bekerja sebagai pemecah batu, sedangkan Kundan, kakaknya, menggarap
lahan pertanian sempit warisan orangtua mereka di Himachal Pradesh, India.
Dua bersaudara berusia 40-an tahun ini selalu tinggal bersama. Mereka
berbagi apa saja, mulai rumah, pekerjaan, bahkan berbagi istri. "Sudah
menjadi tradisi kami sejak awal untuk memiliki keluarga dari lima atau 10
orang. Dua bersaudara dengan satu istri," ungkap Kundan. Praktik seperti ini
disebut fraternal polyandry, kakak beradik dari satu keluarga menikah dengan
perempuan yang sama. Biasanya, pernikahan seperti ini bermotif tradisi dan
ekonomi. Bagi kebanyakan orang, cara seperti ini memang nyeleneh, namun
tidak bagi 200-an orang yang tinggal di desa tersebut. Dan itu pula yang
terjadi pada Amar dan Kundan. Desa mereka berada di bibir jurang sebuah
bukit setinggi hampir 180 meter. Sebagian besar penduduknya hidup bercocok
tanam di lahan sempit. Di wilayah yang keras seperti itu, tak cukup lahan
yang bisa diolah atau ditinggali. Jadi, daripada mencari istri
sendiri-sendiri dan harus berbagi lahan warisan, kakak beradik seperti
mereka kemudian menikah dengan perempuan yang sama. Dengan begitu, tanah
warisan tidak terbagi-bagi lagi. Si istri, Indira Devi, mengaku hidup dengan
dua suami bukan perkara mudah. "Kami sering bertengkar," katanya. Sama
seperti keluarga lain, pertengkaran mereka biasanya karena masalah duniawi.
"Biasanya memang masalah sehari-hari, seperti mengapa kamu tidak melakukan
ini atau itu," bebernya. Satu hal yang selalu mereka setujui bersama adalah
punya anak. Dengan Kundan dan Amar, Indira memiliki tiga anak, dua laki-laki
dan satu perempuan. Bagaimana dengan kehidupan seks mereka? "Kami membuat
shift, bergantian tiap malam. Kalau tidak begitu, tak akan berjalan baik,"
kata Kundan. "Agar kehidupan berkeluarga berjalan dengan baik, kami harus
melakukannya. Bisa mengatasi halangan dengan baik. Juga mengendalikan hati
masing-masing agar tidak terlalu perasa," tukas Amar. Ketika ditanya ayah
biologis setiap anak, Amar dan Kundan mengaku tidak tahu. Anak-anak mereka
pun tidak peduli. "Sama saja. Karena ibu dan ayah adalah dewa bagi saya,"
kata Sunita Singh Pundir, 17, anak perempuan keluarga itu. 
Anak pertama dan ketiga Pundir yang laki-laki sepertinya ingin meneruskan
tradisi tersebut. "Tentu saja," kata Sonha, anak tertua. Dia dan adik
laki-lakinya mengatakan sudah membicarakan itu dan akan segera menikah
dengan perempuan yang sama. Namun tidak demikian dengan Sunita. Dia
menegaskan tak ingin meneruskan tradisi itu. "Saya ingin punya satu suami
saja," sahutnya. Hanya, ketika dihadapkan pada cinta dan tradisi, Sunita
mengaku memilih tradisi. "Saya tak akan pernah meninggalkan tradisi meski
harus mengabaikan cinta. Saya tak akan merendahkan martabat orangtua dan
saudara laki-laki," lanjut Sunita. Biasanya, pernikahan seperti itu sudah
diatur dan rata-rata para perempuan di desa itu juga memiliki dua suami.
Bahkan ada yang punya tiga atau empat suami, bergantung pada jumlah kakak
beradik pria yang dimiliki keluarga yang dia nikahi. Poliandri sebenarnya
tindakan melanggar hukum di India, meski secara sosial dapat diterima bagi
sebagian masyarakat di sana. Tak ada satupun pejabat pemerintah yang
terganggu dengan para penduduk yang melanggar hukum itu. "Sudah terjadi
sejak lama. Saudari tiri saya juga punya dua suami, begitu juga dengan ibu
tiri saya," kata Indira. cnn/van

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke