HIDUP TANPA TANTANGAN AKAN MASUK JURANG

 

Abstract,

Mungkin banyak orang yang sudah lupa, bahwa TANTANGAN itu adalah sangat
diperlukan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Maka setiap oarng harus
waspada dan super hati-hati jika dalam kehidupan ini sudah tidak ada lagi
tantangan berarti anda anda ini sedang turun kebawah, malahan mungkin akan
masuk ke jurang.

 

Di Puncak Jabbal Nur

Pada tgl 23 Juli 2000, kami bertiga (saya, spouse & son) lagi mendaki puncak
Jabbal Nur. Makin keatas makin terasa berat langkah kaki tersebut. Beberapa
kali saya harus berhenti, pada waktu berhenti tersebut saya coba lihat
keatas, masih sangat jauh sekali puncak Jabbal Nur. Tapi saya punya tekad
yang bulat yaitu saya insya Allah akan sampai dipuncak Jabbal Nur. Dengan
dibantu oleh tarikan tangan anak saya, walaupun berat sedikit demi sedikit
puncak Jabbal Nur makin dekat. Pada saat itu terlintaslah didalam pikiran
saya bahwa, JIKA TANTANGAN YANG DIHADAPI ITU MAKIN LAMA MAKIN BERAT BERARTI
KITA LAGI MENUJU KEATAS. Tidak lama kemudian tibalah saya, spouse & son di
puncak Jabbal Nur. Pada saat itu sambil duduk beristirahat dan minum air,
maka hilanglah TANTANGAN tersebut.

 

Tinggi Puncak Jabbal Nur

Pada saat itu jam tangan menunjukan 11:54:12 Waktu Makkah. Dipapan
pengumuman tertulis Altitude Jabbal Nur adalah 2500 Feet. Tapi pada alat GPS
yang saya bawa terbaca Altitude adalah 2150 Ft dari permukaan laut.
Sedangkan lokasi Jabbal Nur adalah Longitude: 21: 27: 499 North dan
Latitude: 39: 51: 547 East (dibaca 39 derjad 51 menit koma 547). Setelah
istirahat beberapa saat berada dipuncak Jabbal Nur, maka untuk menuju Gua
Hira' harus turun lagi kebawah disisi sebelahnya.

 

Berada di Gua Hira'

Sesuai nasihat kawan kawan dari negara Pakistan, harus super hati hati jika
turun kebawah, karena sudah ada yang pernah jatuh dan Allahyarham. Sewaktu
turun menuju ke Gua Hira' walau langkah terasa mudah (INGATLAH JIKA TIDAK
ADA TANTANGAN BERARTI KITA SEDANG TURUN KEBAWAH).  Tapi tidak perlu buru
buru, sewaktu berada di Gua Hira' tersebut, teringatlah bagaimana seribuan
tahun yang lalu nabi Muhammad SAW ber-I'tiqaf diatas batu tersebut hingga
akhirnya beliau menerima wahyu pertama Iqra'. Alhamdulillah, pada saat itu
tidak ada lagi orang lain di Gua Hira' tersebut, yang tinggal hanyalah kami
berdua (saya & spouse) sehingga isteri saya sempat shalat dan berdo'a
didalam Gua Hira' tersebut. Setelah hampir mungkin setengah jam di Gua Hira'
kami naik lagi ke puncak Jabbal Nur dan kemudian turun kebawah. Sewaktu
turun saya tidak perlu dibantu tarikan oleh anak, karena untuk turun
biasanya itu adalah pekerjaan MUDAH, jika kita tahu kapan harus turun.
Kadang kadang TURUN juga payah, kalau kita tidak tahu kapan harus turun.
Lihatlah bagaimana para PEMIMPIN yang tidak tahu kapan harus TURUN, sehingga
harus digunakan PEOPLE POWER untuk menurunkan mereka, itulah yang
dimaksudkan bisa masuk JURANG.

 

KESIMPULAN,

Jika masih dirasakan ada tantangan dalam hidup ini, itu berarti kita sedang
menuju ke puncak, contohnya ketika saya mendaki puncak Jabbal Nur. Tapi
sebaliknya jika tidak terdapat lagi tantangan berhati hatilah, itu
menandakan anda anda sedang turun kebawah. Dan yang sangat berbahaya, jika
anda seorang pemimpin tidak tahu kapan turun, bersiap-siaplah untuk
diturunkan dan mungkin akan terpeleset kedalam jurang.

 

SARAN,

Walau saya dan keluarga pernah naik ke Puncak Jabbal Nur, tapi tidak
dianjurkan dan juga itu bukanlah sunnah untuk naik ke puncak Jabbal Nur,
karena sangat berbahaya. Apalagi pada musim haji jama'ah cukup ramai sekali,
tidak usah dan tidak perlu untuk mendaki Jabbal Nur.

 

Note: Sayang fotonya tidak tahu dimana filenya tersimpan.

 

Salam kompak selalu dari Doha, State of Qatar.

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke